"Kalian tahu hewan kancil, anak-anak?" tanya seorang nenek kepada cucuk-cucuknya
"Tentu saja kami tahu, Nek. Kancil itu hewan yang cerdik sekaligus mempunyai tabiat jahil." terang salah seorang anak
"Sesekali juga ada yang menggambarkan karakter kancil sebagai tokoh yang licik karena akal cerdiknya." timpal anak yang lain.
"Benar, itulah watak umum seekor kancil. Tapi apakah kalian pernah mendengar kisah ''Kancil Bijak dari Hutan Sombren''?"
"Kancil bijak dari Hutan Sombren?" seru semua anak hampir bersamaan.
"Benar, ini adalah sebuah kisah yang sangat lama sekali, tapi juga sangat menarik. Sayang, jarang sekali orang-orang mendengarnya. Dari kisah ini pula, kalian akan mengetahui asal nama hutan ini diberi nama Hutan Sombren. Hutan Sombren kini terkenal dengan kisah-kisah menyeramkan, bahkan tak jarang ada orang yang mengarang cerita mengenai Hutan Sombren karena keberadaannya yang tidak memiliki satu pun hewan. Hutan Sombren itu unik, hutan ini memiliki dua gunung kembar yang berdiri kokoh di tengah-tengahnya. Namun ada yang lebih unik lagi mengenai hutan ini. Hal unik itu tidak lain ialah sebuah fakta mengenai keberadaan sesosok makhluk yang sebenarnya masih tinggal di hutan itu. Makhluk itu tidak lain adalah seekor kancil tua. Ia berada disana sudah lama sekali, beratus-ratus tahun lamanya. Ia tak pernah pindah ke hutan lain, ia menetap di sunyinya Hutan Sombren."
Nenek menghentikan ceritanya sejenak, memperhatikan cucuk-cucuknya yang mendengarkan dongeng dengan antusias.
"Nama kancil itu ialah Sol. Masih teringat jelas dalam pikirannya hal menakjubkan apa yang membuatnya menetap di hutan ini. Itu sudah lama sekali, sangat-sangat lama. Bahkan ketika nenek moyang kalian belum lahir, cerita ini telah berjalan seperti air yang tak henti-hentinya mengalir. Dan inilah kisahnya....."
Sore hari yang indah pada kala itu, Sol mudah yang masih terlihat gagah berjalan diantara tatapan para hewan yang memandang Sol dengan takjub. Sejauh apapun Sol melangkah, hewan-hewan di hutan tak pernah bisa mengalihkan pandangan mereka walau hanya sedetik saja darinya. Sol memang terkenal karena tubuh besarnya yang tidak umum bagi seekor kancil. Sol yang sudah terbiasa dengan pemandangan sedemikian rupa, hanya terus berjalan ke hulu sungai. Ia hendak minum air dari situ.
"Hei, Sol. Suasana hari ini tidak pernah berubah, ya! Lihatlah anak-anak kelinci itu. Lucu sekali mata mereka memandang mu bak seorang raja hutan." Teman Sol, yaitu seekor rubah yang bernama Rat, muncul di belakang Sol yang sedang asik minum. Bayangan Rat di air adalah salah satu alasan yang membuat Sol tidak terkejut dengan suara besar teman karibnya itu.
"Jangan berlebihan, Rat. Hati-hati jika King mendengar mu dari bola sihirnya. Ia bisa saja mengasingkan mu dari hutan." Sol menggoda Rat, ketika ia selesai minum.
"Oh, ayolah! King, sang raja hutan itu berteman baik denganmu. Kau bisa saja memohon pengampunannya, Sol." Rat tidak mengacuhkan nasihat Sol.
"Aku berteman dengan King bukan untuk memanfaatkan kekuasaannya, Rat. Kau temanku atau bukan, jika kau berbuat salah, maka hukuman tetaplah hukuman. Teman yang baik selalu tau kapan waktunya membela dan kapan waktunya untuk membenarkan." Sol mulai dengan perkataan bijaknya.
Rat memutar kedua bola matanya pasrah. Jika kawannya itu telah mengeluarkan kata-kata bijaknya, itu berarti ia sungguh serius, dan dia memang salah karena telah membantah ucapan Sol. Sebenarnya Sol marah bukan karena Rat menyebut kata 'bak raja hutan' melainkan sikap Rat yang ingin memanfaatkan dirinya untuk mendapat permintaan maaf dari King.
"Baiklah, Sol. Aku tahu aku salah. Aku tidak akan mengucapkan kata itu dengan sembarangan lagi. Dan maaf, King." Rat menengadah kearah langit dengan sedikit senyuman tipis. Ia juga menutup kedua telapak tangannya lantas meletakkannya diatas kepala sebagai wujud permintaan maaf pada sang raja hutan.
Sol yang melihat itu tersenyum senang. Rat memang banyak berubah dari awal ia berteman dengannya. Kini ia bahkan mengetahui cara meminta maaf yang benar jika berbuat salah.
Sol kembali berjalan, meninggalkan Rat yang kini sibuk meminum air di sungai. Begitu Rat menyadari bahwa Sol telah berada jauh darinya, ia bergegas bangkit dari posisi nyamannya dan segera menyusul kearah Sol pergi.
"Sekarang, kau hendak kemana, kawan?" Rat bertanya dengan menjilat sisa-sisa air di wajahnya.
Sol menatap sikap Rat dengan tajam. Rat menghela nafas pelan, dan membersihkan air diwajahnya dengan benar, baru kemudian ia bertanya dengan pertanyaan yang sama lagi.
"Ke Kerajaan Gua." Sol menjawab singkat.
"Untuk bertemu, King?" Rat menanyakan pertanyaan yang seharusnya ia sudah tahu jawabannya.
"Menurutmu, Rat?"
"Tentu saja aku tahu. Tak perlu kau jawab. Tak perlu." Rat menghembuskan nafas kesal. Sol hanya terkekeh melihat kelakuan temannya.
"Jangan lupa untuk meminta maaf lagi pada King, Rat. Mungkin kau beruntung ia tidak melihatmu tadi. Ini menjelang malam. Ia sedang menyiapkan makan malam untuk Kang, Kung, dan Kong." Sol melirik jahil kearah Rat. Sengaja betul ingin menambah kekesalannya. Sol hanya ingin menguji Rat.
"A-apa? Mengapa kau tak bilang itu sedari tadi? Kan aku jadi..... Ah! Sudahlah. Tidak ada gunanya berbicara dengan hewan bijak seperti dirimu, Sol."
Sol semakin tertawa mendengar kepasrahan dari kalimat Rat. Rat semakin kesal sehingga ia mencomot topik percakapan lain.
"Kau sudah mendengar kabar terbaru dari para hewan?"
"Belum. Apakah aku melewatkan sesuatu?" Sol menjadi tertarik dengan pertanyaan Rat.
"Katanya, penyihir hewan dari hutan sebelah sedang berkeliaran di hutan kita. Penyihir itu akan meracuni sumber sihir alam milik hutan." Jelas Rat, sok serius.
"Itu kabar atau gosip?" Sol berhenti melangkah, memajukan wajahnya untuk menatap Rat tajam.
"Santai sedikit, Sol. Kabar tidak jelas bisa dijadikan sebagai antisipasi, bukan?" Rat menjauhkan dirinya dari tatapan tajam Sol. Sol terkejut. Sejak kapan Rat menjadi bijak?
"Sejak berteman denganmu, Kancil bijak!" seru Rat dengan menggoyangkan badan Sol. Untung saja Sol berhasil menyeimbangkan dirinya. Berteman dengan Sol membuat Rat mengerti akan bahasa tubuh dan ekspresi Sol tanpa Sol harus memberitahunya. Mungkin salah satu kelebihan rubah itu yang sebelumnya tak diketahui adalah dengan cepat membaca ekspresi lawan bicaranya.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan ke Kerajaan Gua. Mereka tiba tepat saat matahari telah terbenam. Dan benar saja, King bersama ketiga anaknya, Kang, Kung, dan Kong sedang makan malam bersama diatas hamparan rumput tebal.
"Hei, Sol!"Sapa King yang melihat kedatangan Sol.
"Hai, King!" Sol balas menyapa
"Halo, Rat. Lama tak melihatmu." King ikut menyapa Rat yang baru saja muncul dari balik bayangan Sol.
"Maaf, King." ujar Rat tiba-tiba.
"Maaf?" King kebingungan.
Sol tertawa mengingat kejadian di hulu sungai, tentang apa yang dilakukannya pada Rat. Ya, kebijakan seekor kancil memang tidak mengurangi tabiat jahilnya.
"Ya, intinya maaf, King." Rat menelan ludahnya.
"Lupakan, King. Hanya kejadian kecil yang pasti tak kau anggap penting."
King langsung menyadari apa yang terjadi dan menjadi ikut tertawa.
"Ucapan bijak Sol tidak harus selalu kau anggap serius, Rat. Kemari, ada yang ingin aku bicarakan denganmu, Sol." King mengajak Sol untuk masuk kedalam bagian terdalam dari Kerajaan Gua. "Kau juga boleh ikut, Rat. Aku tidak segalak yang ada di bayanganmu."
Ketiganya berkumpul dalam satu ruangan yang cukup besar. Tanpa menunggu lama, King langsung memulai percakapan.
"Baiklah, Sol. Kau sudah mendengar kabar mengenai penyihir hewan dari hutan sebelah?"
"Sudah, King. Rat baru saja memberitahukannya padaku dalam perjalanan kemari."
"Bagus. Aku merasa itu bukan kabar sembarangan, Sol. Kita tidak bisa menganggap enteng penyihir hewan itu. Aku merasakan bahwa jantung Hutan Sombren melemah seiring berjalannya waktu."
King memperlihatkan gambaran jantung Hutan Sombren dalam bola sihirnya. Jantung Hutan Sombren berada diantara dua gunung kembar yang berada di tengah-tengah hutan. Jantung Hutan Sombren tidak lain adalah batu api yang mengambang diatas lautan api yang berada persis didalam perut gunung kembar. Sol dan Rat melihat bahwa sinar yang dipancarkan oleh batu api mulai sirna dan terlihat jelas sekali sinar itu memudar detik demi detik.
"Hutan kita berada dalam bahaya." ujar King dengan raut wajah sedih.
"Jangan risau, King. Aku dan Rat akan membantumu untuk memecahkan solusinya. Betul kan, Rat?" Sol menenangkan King dengan meminta dukungan Rat.
"Akan aku usahakan semampuku... Kau tentu tau, otakku tak secerdik dan sebijak dirimu, Sol." Rat berkata dengan sedikit keraguan.
"Tapi kau pernah menjadi rubah yang licik, Rat." Sol tertawa. King terkekeh.
"Maksud kalian?" Dahi Rat mengkerut
"Kau itu cerdik, Rat. Kecerdikan otakmu dalam menyusun rencana mungkin saja dibutuhkan di hutan kita."
"Benarkah? Rat menjadi salah tingkah. Ia menggaruk bagian belakang kepalanya."
Tiba-tiba dari luar gua terdengar teriakan panik dari seekor hewan yang memanggil-manggil King. King, Sol, dan Rat bergegas berlari untuk mengetahui apa yang sedang terjadi.
"King! Air sungai menjadi hitam. Daun-daun pohon di sekitar sungai juga mulai berguguran. Rumput ikut menghitam. Daerah sekitar sungai telah tercemar! Daerah-daerah yang telah menjadi hitam juga mengeluarkan kepulan asap hitam tebal yang meracuni para hewan. Situasi menjadi kacau balau." Yang datang adalah Gon, seekor kera kecil. Ia melapor dengan nafas tak beraturan.
King, Sol, dan Rat tanpa menunggu lama langsung berlari menuju sungai. Dan benar saja, begitu sampai, pemandangan yang mereka lihat sungguh menyedihkan. Hewan-hewan menggelepar meminta tolong. Nafas terasa sesak, asap itu hinggap dalam tenggorokan dan paru-paru mereka. Apalagi juga banyak dari hewan-hewan itu yang mulai kehilangan nyawa.
"SIAPA YANG BERBUAT SEMUA INI?! TUNJUKKAN DIRIMU SEKARANG!" King berteriak marah. Suaranya menggelegar memenuhi langit malam yang gelap. Tidak ada bulan pada malam itu, bulan ikut menghilang. Enggan memberikan cahayanya untuk menerangi malam yang suram.
"Sabar, King. Marah tidak menyelesaikan segalanya." Sol memperingatkan
"Bagaimana aku bisa sabar melihat hutan yang rusak ini, Sol? Lihatlah teman-teman kita yang malang itu. Bagaimana aku bisa sabar?"
"Yang berbuat akan merasa senang melihatmu sedemikian rupa, King. Mereka senang kehidupan hutan kita yang damai dan tentram rusak seperti ini." Sol berkata tegas.
"ARGHHHH!!" King meraung sangat kencang mengeluarkan rasa kesal serta amarahnya.
Dan saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, dari arah langit muncul sekawanan tiga burung elang dengan sayap bewarna hitam pekat serta badannya diselimuti bulu coklat. Matanya memancarkan sinar bewarna merah sebagai tanda ketajaman matanya, kakinya bewarna kuning keemasan dan kedua sayapnya mulai mengepak pelan, mengeluarkan senjata duri dengan asap hitam mengepul, siap diluncurkan kapan saja elang itu mau. Tidak salah lagi, mereka adalah penyihir hewan dari hutan sebelah yang dimaksud. Ketiga penyihir itu benar-benar telah meracuni sumber sihir alam milik hutan yang tidak lain adalah jantung hutan yang merupakan batu api yang berada didalam perut gunung kembar.
"Lawan kita adalah tiga ekor elang, Sol. Bagaimana kita menghadapi hewan sekuat itu?" Rat meringkuk cemas dibelakang badan Sol yang besar.
"Jangan khawatir, Rat. Kita sudah punya solusinya dari awal." Ujar Sol dengan raut wajah yakin.
"Apa itu, Sol?" King yang tidak sabaran sedari tadi mendesak Sol.
"Percayalah, King. Kita semua punya kekuatan itu. Kekuatan itu tidak berasal dari tempat manapun, itu berasal dari dalam diri kita. Kekuatan alam...."
"Apa yang kau maksud? Ini bukan waktunya untuk berkata bijak, Sol!" Rat mulai ikut geregetan sekaligus semakin gelisah melihat kawanan burung elang itu mulai membentuk formasi lingkaran di udara.
"Percayakan pada alam, teman-teman. Itulah senjata terkuat kita."
"Maksudmu kita harus berdiri diam disini melihat hutan ini hancur lebur dan tidak melakukan apapun?" King mulai ikut kesal dengan perkataan Sol yang tidak jelas sedari tadi.
Tetapi Sol justru mengangguk, membuat Rat dan King terkejut.
"Alam punya caranya sendiri untuk membalas perbuatan buruk seseorang kepadanya. Dengan percaya akan kuasa alam, kita sudah cukup membantu. Alam membutuhkan kepercayaan kita semua." Sol menatap ketiga burung elang itu tanpa ada rasa takut sama sekali.
"Tapi, Sol....." Rat dan King hendak menyela disaat yang bersamaan namun disela balik oleh Sol.
"Jika kita nekat melawan ketiga penyihir itu, kalian tidak akan sadar bahwa kita tidak ada bedanya dengan mereka. Dengan melawan serangan para elang itu, kita sama saja membantu merusak hutan ini. Merusak kepercayaan alam yang diberikan kepada kita. Tidakkah kalian menyadari itu?"
Penjelasan akhir yang diberikan Sol benar-benar menusuk adrenalin King dan Rat. Kedua hewan itu langsung sadar akan perkataan Sol. Kecemasan, Kegelisahan, Kemarahan, Kekesalan seketika musnah, berganti dengan keberanian hati yang baru. Sol benar! Mereka hanya harus percaya kepada alam. Percaya akan kekuatan alam. Tidak perlu melawan, alam akan melawan dengan caranya sendiri. King dan Rat menutup mata, menenangkan jiwa dan pikiran mereka. Kini keduanya siap dengan hati dan pikiran yang matang. Tidak lagi mereka menatap ketiga penyihir elang yang kini telah selesai dengan segala mantra formasi mereka itu dengan rasa takut atau marah. Mereka hanya perlu menunggu kekalahan musuh didepan mata.
Ketika para elang itu melepaskan formasi mereka dan siap menghujam hutan yang kacau balau serta Sol, Rat, dan King yang berada diantaranya, muncul awan hitam besar memenuhi langit malam yang tak ada bulan itu. Para elang yang mengira alam mendukung mereka tertawa jahat memandang kerusakan yang mereka perbuat. Awan hitam itu membesar, dan tanpa ketiga elang itu sadari, awan hitam itu hendak melahap buas mereka bertiga. Tidak ada waktu bagi para penyihir untuk segera menyadari kehendak alam, mereka menunda serangan senjata duri. Mereka dibutakan oleh kekuatan ilmu hitam. Mereka justru menunggu dengan sabar alam memberi mereka kekuatan baru. Dan, HAP! Begitu awan hitam besar itu melahap habis tubuh ketiga elang, petir menggelegar didalam awan itu. Ketiga elang tersambar telak oleh petir, mereka tumbang dan terjun bebas ke tanah.
BUM! BUM! BUM!
Tanah bergetar tak karuan begitu tubuh ketiga elang menyentuh tanah. Ketiga elang itu tentu saja tak sadarkan diri atau bahkan mungkin saja mereka telah mati. Kuasa alam telah bekerja sesuai yang diharapkan Sol, Rat, dan King. Ketiganya memandang takjub kearah langit. Awan hitam itu tidak lagi mengeluarkan petir, melainkan mengeluarkan rintik demi rintik air hujan. Hujan terjadi tanpa adanya sebuah pertanda. Gerimis berubah menjadi hujan yang sangat deras, membasahi rumput, sungai, dan pohon yang menghitam akibat racun dari penyihir elang.
Sol, Rat, dan King sengaja tidak mencari tempat berteduh. Inilah kuasa alam yang sesungguhnya. Mereka tak dapat mengalihkan pandangan dari hal menakjubkan yang baru saja mereka lihat. Mereka bersyukur, senang, dan semakin percaya akan alam. Ketika mereka melihat ke sekeliling, hutan yang awalnya mengeluarkan asap hitam mengepul, sedikit demi sedikit mulai berubah kembali ke warna asalnya. Asap hitam itu melayang menjadi satu ke udara, dan awan hitam menyerap energi dari asap itu.
Perlahan demi perlahan hutan mulai kembali normal. Sungai kembali jernih seperti sedia kala, pohon yang kehilangan daun mulai memunculkan satu demi persatu pucuk daun di setiap ranting dan dahan, rumput kembali tumbuh lebih tinggi dari yang seharusnya dan mengeluarkan begitu banyak macam bunga yang indah. Para hewan yang sebelumnya menderita kesakitan mulai berangsur normal dan bernafas lega karena akhirnya dapat menghirup udara segar. Meskipun juga tidak banyak yang selamat daripada yang telah pergi selamanya. Tapi alam akan memperbaiki semuanya, para hewan percaya akan hal itu.
Awan hitam juga memudar, menyatu dengan gelapnya malam. Bulan purnama muncul dan menyinari wajah Sol, Rat, dan King yang kini menangis bahagia. Kunang-kunang muncul, berada di setiap jengkal sudut hutan. Menerangi rumah-rumah hewan yang berada di segala penjuru. Indah sekali suasana pada waktu itu. Dengan diiringi suara alir mengalir dari sungai dan juga senyuman dari para hewan membuat hutan mereka yang tercinta menemukan kembali kejayaannya.
King menatap Sol dengan penuh rasa terima kasih. Begitu juga dengan Rat yang memandang kawan karibnya dengan rasa bangga tak terbendung.
"Kau tahu, alam tak pernah salah dalam memilih musuhnya. Alam selalu bijak dan selalu punya keajaibannya sendiri untuk kita." Sol tersenyum hangat memandang Rat dan King.
"Kau benar, Sol. Alam adalah teman kita dan sudah seharusnya kita mempercayainya seperti aku mempercayai kalian semua." ujar King terharu.
"Aku beruntung menjadi rubah dan tinggal di hutan ini!!!" seru Rat girang yang membuat Sol dan King dan juga hewan-hewan di hutan yang mendengarnya menjadi tertawa.
"Sombren...." gumam King.
"Sombren?" Tanya Rat dan Sol disaat yang hampir bersamaan
"Itulah nama hutan kita. So, artinya matahari yang bersinar memberi sebuah kehidupan, mbre artinya bayangan jahat yang pernah ada disini, kejadian hari ini saksinya, dan en artinya pelangi yang membahagiakan. Sama seperti kita yang bahagia tinggal di hutan ini. Dan jika digabung itu berarti, terang selalu akan berganti gelap dan gelap selalu akan kembali terang, selalu ada akhir bahagia di setiap akhir perjuangan dan diakhir segalanya."
"Itu nama yang indah sekali, King. Aku menyetujuinya. Benar kan, Rat?" Sol menyenggol lengan Rat dengan pantatnya.
"Yap!" balas Rat semangat.
"Dengan demikian aku tetapkan nama hutan kita ialah Hutan Sombren!" King berseru kepada seluruh penghuni hutan.
Riuh tepuk tangan memenuhi malam yang indah. Dengan berdiri memandang bintang yang tak terhitung jumlahnya, kini hutan itu punya nama yaitu Hutan Sombren. Hutan yang akan dipenuhi cerita-cerita seram di masa depan nyatanya memiliki kisah yang luar biasa.
Sebagai penghargaan atas kebijakan Sol, alam juga memberikan hadiah yang tak kalah istimewa kepada kancil bijak itu. Sol dijadikan sebagai pelindung hutan yang abadi. Hingga ia mati nanti, arwahnya akan terus bahagia, menyatu dengan indahnya Hutan Sombren. Dan benar saja, kancil tua yang kini menjadi satu-satunya makhluk di Hutan Sombren di masa depan adalah arwah Sol. Ia menyatu dengan alam Hutan Sombren dan menjadi salah satu jantung hutan itu di masa depan. Meskipun kini Hutan Sombren tidak memiliki satu pun hewan, keberadaan Sol sudah menjadi saksi sejarah yang menggambarkan akan adanya kehidupan yang indah pada zaman dahulu kala.
"Wahhh!!" decak kagum semua anak.
"Kalian tahu bahwa banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari kisah ini. Terkadang cara terbaik untuk melawan adalah dengan tidak melakukan apa pun, anak-anak. Cukup dengan sikap berani dan penuh kepercayaan kepada sesama, diri kalian sendiri dan juga alam tentunya. Tidak perlu selalu takut akan hidup sebab terang selalu akan berganti gelap dan gelap selalu akan kembali terang, selalu ada akhir bahagia dari setiap perjuangan dan di akhir segalanya. Sifat Sol yang jahil dan juga bijak juga ikut mengajarkan bahwa orang dengan sifat buruk tidak selalu adalah orang jahat."
"Ah! Seperti sifat Rat yang sebelumnya licik, Nek?" seorang anak perempuan mengacungkan jari.
"Ya, bisa dibilang begitu, tapi tidak cukup tepat, Anakku."
"Terus bagaimana, Nek?"
"Sudah malam, akan aku ceritakan kisah berikutnya besok."
"Yahhhh!!!" Anak-anak berseru kecewa.
"Sabar adalah kunci keberhasilan. Tidurlah yang nyenyak, maka besok malam aku berjanji akan menceritakan kisah Rat, si Rubah Licik." Nenek memeluk cucuk-cucuknya dengan tulus. Anak-anak itu kembali ke kamarnya masing-masing dengan riang. Hari esok telah menunggu mereka dan juga kisah baru menunggu untuk didengar.......
~TAMAT~