Tatapan mata yang penuh damba, senyum tulus dalam selengkung tipis yang tertampak begitu nyata.
Bahkan usapan lembut di pipinya yang terasa hangat, aroma kenangan yang dipenuhi kerinduan.
Dekapan yang menyelamatkannya, kecupan yang menyadarkannya, semuanya tampak nyata dan begitu jelas terasa.
Sosoknya yang kini berbaring miring menghadap kearahnya, akan terasa sangat kejam jika itu hanya ilusi semata.
Hanya saja, kenyataan yang menyentaknya langsung membuatnya tertampar, mengingatkan diri sendiri jika ini hanya ilusi.
Sebuah keinginan yang tersimpan rapi hingga membuatnya berada di alam mimpi.
Tangannya menggapai, berusaha meraih sesuatu yang tampak berkabut di hadapannya, meski sebenarnya itu hanya angin saja.
Hyuuga Hinata hanya terlihat begitu menyedihkan dan sengsara, dimana dirinya yang masih terjebak dalam dilema bernama nostalgia.
Matanya tampak tak berdaya, ada kabut kegelisahan yang begitu mengikatnya.
Bahkan saat renungan malamnya terganggu oleh suara berisik dari anak-anak dibawah sana, Hinata masih belum sepenuhnya tersadar dari lamunan panjangnya di pagi buta.
Menjadi kisah yang menyedihkan dalam sejarah, perasaan yang tumbuh rendah seiring berjalannya waktu yang nyatanya tak dapat mengubah apapun.
Ditinggalkan dan meninggalkan, dikhianati dan mengkhianati, adalah konsep paling lumrah saat kau mulai bermain-main dengan hati.
Hinata hanya terlalu belum siap untuk menyingkapi, dimana rasa tidak nyaman itu masih saja menggelanyuti sampai saat ini.
Menyisakan sesuatu yang terasa begitu perih tiap kali ingatan itu muncul dalam kepalanya, membuatnya tercekik oleh tangan tak kasat mata, hingga dadanya yang begitu sesak tanpa mampu ditahannya.
"Hinata, kau sudah bangun ?"
Suara ketukan pintu yang sedikit keras dari pemilik suara yang tidak lagi asing dalam ingatannya.
Beranjak dari tempatnya, dengan wajah malas membuka pintu rumahnya.
Dia adalah Ino, tetangganya yang berisik dan menggilai olahraga pagi lebih dari siapapun yang pernah dikenalnya.
Perempuan cantik yang akan dengan senang hati mengusik kenyamanan Hinata di waktu luangnya.
"Ada apa ?" Tanyanya dengan malas.
Senyum lebar Ino seperti sebuah kode berbahaya di ingatan Hinata, tidak mungkin salah.
"Eyy ... Kenapa wajahmu berantakan sekali ? Ayo ikut aku lari pagi."
Menggeleng dengan wajah berantakan itu, Hinata bukan penggila olahraga pagi, termasuk joging atau sejenisnya.
Dan memiliki teman seperti Ino sama saja seperti petaka untuknya, meski tidak bisa dipungkiri jika Ino adalah orang yang sangat baik.
"Tidak. Aku tidak mau. Pergi saja sendiri."
"Ckk, dasar. Kau butuh sedikit olahraga, Hinata. Aku tidak mau tau. Cepat ganti bajumu." Ino bersikeras dengan tampang galak di wajahnya.
Hinata terlihat ingin melemparkan sebuah penolakan, saat tubuhnya didorong paksa untuk masuk kembali ke kamarnya.
Menghela napas, mencoba mengambil sisi positif dari kedatangan Ino pagi ini.
Dan pada akhirnya, Hinata menyerah.
Memilih mengikuti ajakan Ino untuk lari pagi di sekitaran lingkungan perumahan mereka yang nyaman.
Jauh sebelum hari dimana Hinata memutuskan untuk tidak mau berolahraga lagi, ia termasuk seseorang yang gemar melakukannya.
Kematian tunangannya adalah sesuatu paling besar yang mampu mengubah hidupnya, mempengaruhinya sampai sekarang.
Sebagai seorang anak yatim piatu yang tumbuh besar di panti asuhan, memiliki seseorang untuk bersandar adalah sesuatu yang sangat luar biasa.
Menyadari jika ada seseorang yang mencintaimu adalah hal paling membahagiakan selama hidupnya.
Merasa dicintai, kunci utama yang membuatnya bisa bertahan selama ini.
Hinata hanya perempuan yang naif, yang berdiri diatas kakinya sendiri, yang bertahan hidup atas keringatnya sendiri.
Kenyataan yang terasa menghantam remuk dirinya, meski itu bukan yang terburuk.
Hinata tidak ingin meratap terlalu lama, meski ia belum benar-benar bisa berdiri seperti sebelumnya.
Ingatan traumatis yang tercetak di otaknya, sering sekali menjadi penghalang dan membuatnya merasa takut dalam seketika.
Hinata pikir, jika ia adalah pembawa sial.
Karena Naruto mencintainya, lelaki itu harus mati demi dirinya.
Itu bukan kehidupan yang adil, bukan sesuatu yang bisa membuatnya berterimakasih pada Tuhan.
Mengutuk Tuhan jauh lebih mudah dilakukannya, melimpahkan semua unek-uneknya dan ketidakadilan yang selama ini mengepungnya.
Hinata bukan orang suci, ia hanya pendosa yang tidak lagi percaya jika Tuhan itu ada.
Hanya pikiran sesat itu yang terus menerornya tanpa henti, seperti sebuah doktrin yang ditanamkan oleh seseorang untuk menumbuhkan kebencian.
"Hinata, mau berkencan dengan seseorang ?" Ino bertanya, tampak antusias.
"Lagi, lagi. Berhentilah mengurusiku, Ino." keluhnya.
Berdecak tak senang sebelum menepuk bahu Hinata yang kini berkeringat setelah melakukan tiga kali putaran.
"Kau butuh seseorang untuk menjadi motivasi atas hidupmu, Hinata."
"Ckkk ... bullshit !!" Dengusnya.
Menoleh pada Ino, tertawa ringan saat melihat bagaimana perempuan berambut pirang itu mencak-mencak karena perkataannya.
Ino adalah satu-satunya orang yang masih tersisa untuknya, setelah semua orang pergi meninggalkannya karena ia mendapat cap sebagai pembawa sial.
Ino memang sangat sering merecoki kehidupan pribadi Hinata, mengatur kencan buta untuknya dan bahkan secara terang-terangan mendorongnya untuk berkenalan dengan seorang lelaki yang dipilihkan Ino untuknya.
Selain sebagai sahabatnya, Ino mempunyai peran sebagai manajer dan kakaknya.
Mereka pernah tinggal di panti asuhan yang sama, sebelum Ino diadopsi oleh keluarga kaya.
Setidaknya, Ino tidak pernah melupakan Hinata.
"Sai punya teman yang cocok untukmu. Sekali saja, lakukan demi aku, Hinata." Merengek setelah mengomel, Ino sama sekali tidak mudah menyerah.
"Lupakan saja, Ino. Sai tidak pernah punya teman yang benar-benar cocok untukku."
Hinata masih ingat, bagaimana terakhir kali ia menyetujui tawaran Ino untuk berkenalan dengan teman Sai yang wujudnya sangat upnormal.
Hinata bahkan masih merasa ngeri tiap kali mengingat bagaimana tampang menyeramkan yang sangar itu.
"Kali ini berbeda, sayang. Tampan, mapan dan dewasa. Seribu persen, kau akan cocok dengannya." Katanya bersikeras.
Hinata menggeleng lemah, melihat Ino yang begitu keukeuh seperti sales panci ajaib yang biasa berkeliling di perumahan ini.
Sangat ngotot, pantang menyerah, hingga membuat orang lain sungkan menolaknya.
Benar. Tidak salah saat Ino ditempatkan di bagian promosi oleh boss perusahaan tempat mereka bekerja.
"Baiklah. Ini yang terakhir. Jika kali ini tidak benar, aku yang akan mencincangmu." ancamnya.
"Tentu saja. Kau akan suka kali ini."
Sekarang, Ino terlihat sangat senang karena tawarannya disetujui oleh Hinata.
Terkekeh dengan wajah heran, Hinata tidak tau lagi dengan apa yang dipikirkan Ino sekarang ini.
**
Namanya adalah Uchiha Sasuke, putra bungsu dari keluarga Uchiha yang terkenal sebagai terkaya nomor dua di Jepang.
Hinata menampar wajahnya berkali-kali, setelah mengomel panjang lebar kali tinggi pada Ino yang kini hanya tersenyum kaku.
Rasanya tidak ada yang benar, bahkan setelah Hinata memuntahkan unek-uneknya pada Ino yang tampak bersalah, tapi tidak ada rasa bersalah.
"Ino, bagaimana bisa kau mempermalukanku seperti ini ?" keluhnya dengan wajah pucat.
Hinata tidak berharap akan bertemu dengan seorang pangeran berkuda putih yang mungkin bisa menyelamatakannya dari kutukan ratu sihir.
Hinata akan puas hanya dengan seorang kurcaci penebang pohon yang levelnya setara dengan dirinya.
Lalu sekarang, dimana ada Uchiha Sasuke, sang pangeran berkuda putih berwajah datar dengan mimik dingin yang duduk dihadapannya, Hinata tak ubahnya seperti seorang upik abu sesungguhnya.
Ino dan Sai adalah dalang atas kekacauan hari ini, mereka yang seenak jidat merancanakan pertemuan seperti ini, tanpa berkoordinasi dengan Hinata.
Aughh ... benar-benar sialan.
Hinata tidak merasa curiga saat pasangan itu menjemputnya dan mengajaknya ke Red Sun Club, karena mereka memang sering kesana saat malam minggu.
Meski Hinata bukan penggemar alkohol, tidak masalah baginya berada diantara hingar bingar dunia malam yang menyilaukan.
Yang menjadi masalah sekarang, bagaimana itik buruk rupa sepertinya dipertemukan dengan seekor burung elang yang nampak menyeramkan.
Hinata hanya merasa rendah diri untuk berhubungan dengan seseorang yang derajatnya terlalu tinggi dibandingkan dirinya.
Rasanya seperti mendengar teriakan tukang parkir, mundur mundur mundur.
"Apa aku membuatmu tidak nyaman ?" Tanyanya.
Berbeda dari penampilannya, nada suara yang dikeluarkan lelaki itu tampak lebih manusiawi dengan aksen yang membuat Hinata nyaris gemetar.
"Tidak. Tidak begitu."
Ouhh baguss !! Sekarang Hinata menjadi gagu karena kegugupannya sendiri.
Sekali lagi, sialan memang.
Uchiha Sasuke terkekeh, rasanya lucu saat melihat bagaimana Hinata yang tampak salah tingkah dan tidak nyaman karena keberadaannya.
Itu wajar, seharusnya Sasuke maklum bahwa beberapa perempuan bisa bersikap demikian.
Hinata benar-benar merasa tidak ingin berada disini sekarang, terlebih dengan keberadaan Sasuke.
Bukan salah lelaki itu, hanya dirinya yang terlalu merasa sungkan pada orang baru yang bahkan belum pernah dikenalnya.
"Apa kau takut padaku ?" Tanyanya lagi.
Tersenyum simpul, menggeleng ringan saat mendengar pertanyaan yang tampak seperti sebuah hinaan untuknya itu.
"Tentu saja tidak. Jujur saja, kau tidak menakutkan sama sekali." Akunya sambil terkekeh remeh.
"Apa aku terlihat terlalu tampan ?"
Hinata bertanya-tanya, apa lelaki dihadapannya ini jenis narsistik ?
"Sepertinya begitu." jawabnya.
Mereka sama-sama tertawa, meringankan suasana tak nyaman yang dikeluarkan Hinata.
Ino dan Sai mengawasi dari kejauhan, menganalisis prospek pertemuan pertama mereka.
Menggeleng dengan wajah berpikir, sejak kapan seorang Hinata menjadi sekaku itu saat bicara dengan seorang lelaki ?
Itu bukan seperti Hinata yang dikenalnya, sama sekali bukan seperti itu sosok Hinata yang selama ini sering berhadapan dengannya.
"Hahh .. Kaku sekali." Ino mengeluh.
"Apa Hinata memang seperti itu ?" Sai bertanya.
Gelengan ringan menjadi jawaban Ino setelahnya.
Menggaruk leher belakangnya yang tidak gatal, Ino merasa ada yang salah dengan Hinata, entah apa.
Merasa tidak benar, Ino bangkit dari tempat duduknya untuk menghampiri Hinata dan Sasuke yang sedang berbicara dengan kaku.
"Hai, apa kalian bersenang-senang ?" Sapanya dengan ceria.
Hinata menahan senyum simpulnya, lewat tatapan matanya seperti mengatakan terimakasih pada Ino yang datang.
"Tentu saja." Sasuke menyahut ringan.
Mengerling pada Ino, bertelepati lewat tatapan mata yang hanya bisa dimengerti oleh kedua perempuan itu.
Hinata ingin pulang, itu saja.
Rasanya seperti mau muntah, saat Hinata terus bertahan di tempat bising dengan aroma alkohol kuat yang membuat perutnya bergejolak tak nyaman.
"Well, kami harus pergi. Ada yang harus kami bicarakan." Ino berbicara, ingin segera mengakhiri basa basi mereka.
"Sampai jumpa, Sasuke." Melempar senyum manis sambil melambai ringan pada Sasuke.
Lelaki itu melempar senyum tipis yang sangat irit, sambil menggumamkan sesuatu yang terdengar seperti sampai jumpa.
Ino mengambil mobilnya, setelah bicara dengan Sai bahwa ia dan Hinata akan pergi dulu, dan lelaki itu tidak mempermasalahkannya.
Pada akhirnya, Hinata bisa bernapas lega saat akhirnya keluar darisana.
Seperti benar-benar mendapat udara segar yang dibutuhkannya setelah sesak napas karena udara yang terkontaminasi karbondioksida.
"Ada apa denganmu ? Tidak seperti biasanya."
Mengerling pada Ino yang duduk di kursi kemudi, menggeleng lemah sebagai jawaban.
Hinata tidak ingin mengatakan apapun, ia hanya ingin pulang dan tidur.
"Maafkan aku, Ino. Aku membuat kacau semuanya." Katanya, merasa tidak enak hati.
Ino terkekeh mendengar permintaan maaf dari Hinata.
"Kau memang selalu mengacaukannya." Sahutnya dengan nada bercanda.
Ino tau, tidak sebaiknya ia memaksa Hinata untuk mengikuti kemauannya, meski dengan tujuan untuk kebaikan Hinata sendiri.
Setelah ini, jika Hinata memang tidak cocok dengan Sasuke, Ino tidak akan ikut campur terlalu jauh untuk masalah romansanya lagi.
Melihat Hinata selalu membuat hatinya sakit, Ino tau betul beban mental yang berusaha disembunyikan Hinata rapat-rapat.
Karena, mau bagaimanapun dikata, Ino tetaplah saksi hidup atas Hinata.
Tidak banyak yang diinginkannya, Ino hanya berharap agar Hinata bisa kembali seperti sebelum dirinya mengenal Naruto.
Lebih dari itu, Ino ingin melihatnya kembali menjadi Hinata yang bahagia.
***
Philophobia adalah kondisi dimana seseorang takut akan jatuh cinta atau menjalin sebuah hubungan.
Keadaan seperti itu bisa muncul setelah adanya kejadian traumatis yang terjadi saat menjalin hubungan dengan seseorang.
Tidak banyak yang tau, jika Hinata mengidap phobia itu setelah hubungannya dengan Naruto kandas dengan tragis.
Kisah romansa tidak selalu berakhir bahagia, Hinata sudah tau itu.
Tapi, mengikhlaskan sesuatu memang tidak semudah membalik telapak tangan, siapapun tau itu.
Beberapa orang terlihat begitu meremehkan kondisi seseorang yang mengidap philophobia, bahkan ada yang secara terang-terangan mengoloknya.
Tatapan mencemooh yang diterimanya, wajah sinis yang semakin menjatuhkan mentalnya.
Keadaan yang memberatkan hingga membuat Hinata nyaris mengakhiri hidupnya.
Bukannya ia tidak berusaha untuk menghentikan dirinya terjebak dalam masalalu dalam kepalanya, sudah ada banyak sekali cara yang dilakukannya.
Jatuh bangun yang dilewatinya untuk mengembalikan kesadarannya yang sempat terenggut akibat keterpurukannya, tidak ada yang pernah tau seberapa berat setiap hari yang dilewatinya.
Bahkan sampai sekarang, Hinata masih sering melakukan pemeriksaan kejiwaan, memastikan jika dirinya benar-benar waras.
Sangat konyol, bagaimana orang lain yang mengganggapnya berlebihan.
Kadang lucu saja melihat bagaimana orang lain bicara tentangnya, tanpa benar-benar mengetahui keadaan yang sesungguhnya.
Pertemuannya dengan Sasuke hari itu akan Hinata yakini sebagai pertemuan pertama sekaligus terakhir mereka.
Ketakutannya kembali muncul, hingga membuat nyalinya menciut tanpa sadar.
Hinata tidak mau lagi berurusan dengan seseorang yang kastanya berada begitu jauh diatasnya, karena itu berarti ia harus mengulang kenangan lama yang bahkan belum benar-benar bisa dilupakannya.
Hinata tidak akan siap untuk kembali memulai, setidaknya bukan sekarang, saat hatinya masih tertawan pada sosok tampan yang masih mendiami ingatannya.
Naruto adalah cinta pertamanya, kenangan yang tertanam dikepalanya sampai ia mati akan terus ada.
Sosoknya tidak akan tergantikan, tidak akan ada yang sama lagi, karena lelaki itu adalah satu-satunya.
~~~ END ~~~