Sang bintang yang akan menjadi saksi jika rembulan merasa bahagia kala melihat sinarnya. Bantuan dari matahari membuat sangrembulan bersinar dikelepan malam.
Aku tanpa dirimu rasanya sangat hampa, Aku mencintaimu tulus dari hatiku. Cintaku begitu besar hingga aku tidak bisa menggambarkannya untukmu.
Untaian kata cinta masih terdengar ditelinga Saras, begitu merdu seakan-akan untaian itu sudah menjadi melodi indah dalam kehidupannya.
"Sayang, haruskah kita pergi berlibur?" tanya Rian sembari memeluk istri cantiknya yang berbalutkan hijab pasmina sehingga membuat penampilannya tampak sangat anggun.
"Boleh, tapi kemana?" tanya Saras penasaran
Saras mendekap tangan sang suami yang terus berada di pinggangnya. Rasa cinta suaminya terlihat masih sama saat mereka pacaran dulu.
Rian hanya tersenyum sembari memikirkan ide. Lalu tidak lama kemudian dia langsung menuntun istrinya untuk masuk kedalam kamar mereka.
Siang berubah menjadi malam dan malam kembali berubah menjadi siang. Itulah roda kehidupan. Waktu terus berputar tiada henti.
Seperti janji Rian dia membawa Saras pergi berlibur selama beberapa hari. Hingga tibalah saatnya mereka kembali pada aktivitas semula.
Siapa yang tidak shock jika ada orang lain yang mengatakan hidupnya tidak akan lama lagi. Seakan-akan dirinya TUHAN yang menentukan hidup dan mati seseorang.
"Mas kau sudah pulang? mas lembur lagi ya?" tanya Saras sembari membantu suaminya melepas jas kerjanya.
"Iya sayang, hari ini sangat melelahkan. Mas langsung istirahat saja" sahut Rian dengan raut wajah yang terlihat melelahkan.
Saras langsung tersenyum lalu kemudian ikut berbaring disamping sang suami.
"Peluklah aku. Aku merindukanmu suamiku" ucap Saras tiba-tiba hingga membuat mata Rian kembali terbuka.
Rian hanya menuruti keinginan istrinya dan memeluk istrinya sesuai keinginannya. Namun jantungnya kembali berdetak saat mendengar penuturan Saras.
"Rasanya duniaku akan hancur saat aku tidak melihatmu. Nafasku seakan berhenti sesaat saat aku mengetahui kau jauh dari pandanganku dan darahku seperti membeku dan berhenti mengalir kala mengingat kau tidak disamping ku"
"Sayang...." panggil Rian kemudian namun tidak ada sahutan dari sang istri lagi.
Sepertinya Saras sudah terlelap. Sementara Rian semakin mendekap istrinya dengan erat. Perasaan bersalah langsung menghantuinya tanpa dia sadari air matanya menetes begitu saja.
Mungkin selama ini dia terlalu larut dalam pekerjaan sehingga tidak paham akan keinginan sang istri. Setiap hari dia selalu pulang malam, terkadang dia bahkan lembur.
Walaupun begitu dia selalu mencurahkan kasih sayang pada istrinya dan memanjakan istrinya. Namun itu terjadi hanya pada saat malam hari yang tepatnya saat dia pulang bekerja.
Hari berganti Minggu dan Minggu berganti bulan. Tidak terasa usia pernikahan mereka sudah memasuki satu tahun.
Pagi ini Saras mendekati suaminya yang tengah sedang menikmati sarapan pagi sebelum berangkat kekantor.
"Hari ini mas ngak usah kekantor ya" ucap Saras tiba-tiba.
"Kenapa? apa kau butuh sesuatu sayang?" tanya Rian dengan lembut.
Rian menjadi heran karena sikap Saras yang semakin aneh belakangan ini. Bahkan tidak jarang kalau Saras mengatakan ingin ikut kekantor dan menemaninya bekerja.
"Apa pekerjaan kantor sangat banyak mas" tanya Saras hati-hati.
"Mas rasa malam ini mas lembur lagi. Kau tidurlah lebih dulu jangan menunggu mas pulang"
Saras lantas langsung mengangguk dan memberikan tas suaminya dan tidak lupa dia juga mengantar sang suami kedepan rumah.
Saat malam tiba. Benar saja jika Rian lembur di kantor.
Saras samasekali tidak bisa tidur. Seakan dirinya semakin resah saat suaminya belum pulang. Hanya satu yang dia inginkan, dia ingin memeluk suaminya dan mendekapnya dengan erat.
Suara dentingan jam yang terus berputar memebuat Saras semakin kalang kabut. Nafasnya semakin memburu dan dadanya semakin terasa sesak, darahnya berdesir hebat saat sang suami belum juga pulang.
Kreeekkk.... Seketika tubuh Saras langsung membeku saat melihat pintu terbuka.
Begitu Rian masuk Saras langsung berlari dan memeluk erat tubuh Rian.
Pyarrrr.... carrrrr..... suara petir langsung menyambar bersamaan dengan pelukan Saras yang semakin erat.
"Sayang kau kenapa?" panik Rian kemudian
"Aku merindukanmu mas. Rasanya aku akan mati saat tidak melihatmu di dekatku" tutur Saras dengan air matanya yang mulai menetes.
Pyarrrr..... petir kembali menggema di malam itu. Sepertinya akan turun hujan deras malam itu.
"Bawa aku ke kamar mas. Gendong aku" pinta Saras dengan menatap lekat mata Rian.
Rian menuruti keinginan istrinya dan menggendongnya memasuki kamar mereka. Dengan hati-hati dia menurunkan Saras dan membaringkannya ditempat tidur.
Tidak berselang lama Saras kembali meminta untuk dipeluk oleh sang suami.
"Peluklah aku mas dan jangan kau lepaskan"
Dan betapa terkejutnya Rian saat merasakan jika tubuh Saras bergetar hebat dan tubuhnya terasa membeku karena dingin.
Rasa takut langsung menghantuinya. Berkali-kali Rian mencoba membangunkan Saras namun hasilnya nihil Saras tak kunjung bangun kembali.
Air mata mulai membanjiri mata Rian dan tangannya semakin gemetar saat membelai wajah istrinya yang tampak sangat pucat.
Pyarrrr.... Petir terus menyambar seakan-akan menyaksikan ketakutan Rian kala ini. Dia terus mempercepat laju mobilnya hingga tibalah dia disalah satu rumah sakit.
"Saras bangunlah, Bagun sayang. Aku berjanji akan selalu memelukmu, bangunlah..." pinta Rian dengan terus menangis mendekap tubuh istrinya dan sesekali dia mengguncangnya
Kini hanya penyesalan yang terus menghantui Rian. Jika saja dia tidak melepas pelukan istrinya dan terus memeluknya. Jika saja dia tidak larut dalam pekerjaannya dan membagi waktu dengan istrinya. Jika saja dia menanyakan apa yang diinginkan istrinya. Jika saja ada hari dimana matahari masih terbit dan dia berada disampingnya. Mungkin ini semua tidak akan terjadi.
Selama ini istrinya ternyata sangat menderita. Istrinya melawan penyakitnya sendirian hingga menyebabkan dirinya harus kehilangan sang istri.
Andai waktu bisa diputar kembali, ingin rasanya dia kembali ke masa lalu dan meluangkan lebih banyak waktu untuk sang istri. Dia ingin menemani sang istri dan memberikan dukungan padanya.
Tapi kesibukannya didunia kerja membuat dirinya lupa akan keberadaan istrinya. Dia masih Ingat selama satu tahun pernikahan mereka baru satu kali dia mengajak sang istri untuk jalan-jalan.
Penyesalan memang selalu datang terlambat, kini dia harus hidup tanpa sang istri disampingnya.
.
.
.
.
.
.
Halo, ini murni dari pemikiran ummi sendiri, entah kalian suka atau tidak...
jika berkenan mampir di karya ummi yang lain ya..
"Hero in the shandows"
"Cinta sebatas angan-angan"