Sakura Rin adalah seorang wanita single berusia 27 tahun. Bukan tanpa alasan Rin sampai sekarang belum menikah seperti sahabat-sahabatnya. Alasan terbesar Rin belum menikah bahkan belum memiliki kekasih diusianya yang sudah matang adalah karena dia percaya jika jodohnya akan datang di waktu yang telah ditentukan oleh Tuhan seperti yang ada dalam novel-novel romantis dan komik yang sering dibacanya.
Terlalu menghayal memang tapi beginilah Rin yang memang sangat menyukai dan mengidolai karakter-karakter yang ada di dalam novel dan komik. Standar pria yang diinginkannya tentu tak akan lepas dari pria-pria yang ada di dalam novel dan komik romantis yang dibacanya. Satu hal lagi Rin sangat suka menonton anime dan drama Korea.
Rin bekerja di World Group sebagai asisten manajer di departemen keuangan. World Group merupakan salah satu perusahaan retail terbesar di Negara X dengan memiliki banyak cabang yang tersebar di seluruh wilayah X. Dia baru bekerja selama 1 bulan di perusahaan tersebut sehingga belum terlalu akrab dengan orang-orang di kantornya.
Hari ini Rin datang ke kantor lebih pagi dari biasanya karena harus mempersiapkan laporan keuangan yang diinginkan oleh atasannya. Dengan cekatan dia berhasil menyelesaikan laporan keuangan yang diminta oleh atasannya dalam waktu 1 jam.
"Tok...tok...tok"
"Permisi bu" ucap Rin sopan.
"Ya masuk" sahut seorang wanita paruh baya dari dalam ruangan tersebut.
"Ini bu laporan keuangan yang ibu minta siapkan, silahkan ibu cek" ujar Rin sopan sambil meletakkan laporan keuangan tersebut di atas meja wanita itu.
"Baik terimakasih Rin" jawab wanita itu.
"Oh ya hari ini perusahaan kita akan kedatangan Presdir baru jadi tolong kamu info ke rekan-rekan yang lain buat siap-siap menyambut presdir baru kita" ucap wanita itu panjang.
"Baik bu. Apa ada lagi yang ingin disampaikan???" balas Rin masih sopan pada atasannya.
"Tidak itu saja" sahut wanita itu singkat.
"Baik bu kalau begitu saya permisi" ucap Rin kemudian meninggalkan ruangan wanita tersebut.
Setelah dari ruangan wanita itu, Rin segera memberi tahukan informasi tersebut kepada para rekan kerjanya untuk bersiap menyambut presdir baru di perusahaan mereka. Banyak orang penasaran dengan sosok presdir baru yang akan mereka sambut beberapa menit lagi. Bu Wanda manajer dari departemen keuangan keluar dengan tergesa dan mengatakan kita harus bersiap.
Tak lama kemudian masuklah seorang laki-laki dengan postur yang sangat gagah dan berkharisma ke dalam ruangan departemen keuangan. Wajah tampan dari lelaki itu tak dapat dipungkiri oleh seluruh kaum hawa di dalam departemen tersebut.
"Selamat pagi semua, saya Zen presdir baru di perusahaan ini. Mohon kerjasamanya untuk ke depan" ujar laki-laki yang bernama Zen tersebut.
"Oh My God apakah dia laki-laki yang ada di dalam novel yang selama ini aku baca???" batin Rin girang.
Setelah kepergian dari presdir baru tersebut, Rin merasa sangat tertarik dengan laki-laki itu. Baginya dia adalah laki-laki yang selama ini ditunggu oleh Rin. Namun, Rin tetaplah Rin yang tidak tahu bagaimana cara mendekati seorang lelaki terlebih lelaki itu adalah bosnya sendiri. Sehingga dia hanya bisa pasrah berharap agar ada keajaiban datang padanya.
Saat jam makan siang, Rin pergi ke restoran sushi terdekat untuk membelikan makan siang untuk Bu Wanda dan untuk dirinya sendiri. Tanpa sengaja Rin bertemu dengan Zen di restoran tersebut.
"Siang pak" ucap Rin sopan.
"Kamu yang dari departemen keuangan kan???" tanya Zen memastikan.
"I...iya pak" jawab Rin gugup.
"Oke saya duluan ya" sahut Zen berjalan menuju kasir untuk membayar.
Ketika akan membayar di kasir, Zen baru menyadari jika dia lupa membawa dompet. Disisi lain Rin yang sudah selesai melakukan orderan dan kini berada di belakang Zen bingung melihat kegelisahan Zen.
"Ada apa pak???" tanya Rin sopan.
"Ehhhmm...itu bisa saya pinjam uang dulu???soalnya saya lupa bawa dompet" ujar Zen merasa tidak enak.
"Oh tentu pak. Billnya dijadi'in satu aja sama punya saya" ucap Rin menyarankan.
Akhirnya Rin membayar makanan Zen dan makanannya bersama Bu Wanda, kemudian kembali ke kantor.
"Kamu ke sini naik apa???" tanya Zen.
"Naik gojek pak soalnya malas jalan...panas" jawab Rin sopan.
"Kalau gitu sekarang bareng saya aja ke kantornya" ajak Zen.
Senang???tentu saja Rin merasa senang karena Tuhan akhirnya menunjukkan keajaibannya.
"Baik pak" jawab Rin sopan dan berjalan bersama menuju mobil Zen.
"Btw nama kamu siapa ya???" tanya Zen.
"Nama saya Sakura Rin pak, biasa dipanggil Rin" jawab Rin sopan.
Setelah menanyakan nama, tak ada obrolan lagi yang terjadi antara Rin dan Zen. Rin sebenarnya bisa saja memulai obrolan, akan tetapi dia takut akan dianggap tidak sopan atau sok akrab dengan bos barunya tersebut.
Sesampainya di kantor, Zen masuk ke kantor terlebih dulu, baru 3 menit kemudian Rin masuk ke dalam kantor. Ibarat drama, mereka sudah seperti pasangan yang diam-diam berkencan.
Keesokan harinya, Rin menerima telpon dari Zen untuk ke ruangannya. Sebelum pergi, tentu saja Rin berpamitan kepada Bu Wanda, sedangkan Bu Wanda yang dimintai ijin sedikit terkejut karena ini adalah pertama kalinya seorang presdir menyuruh asisten manajer yang ke ruangannya bukan sang manajer. Untuk menghilangkan rasa penasaran Bu Wanda, akhirnya Rin menjelaskan kejadian saat di restoran sushi kemarin.
"Tok....tok...tok"
"Masuk!" perintah Zen dari balik pintu.
"Permisi pak, ada perlu apa mencari saya ya???" tanya Rin basa-basi.
"Ini saya mau kembalikan uang yang saya pinjam kemarin" ucap Zen sambil memberikan Rin uang.
"Terimakasih pak" ucap Rin sopan.
"Saya permisi dulu pak" ujar Rin meninggalkan ruangan tersebut.
Beberapa hari kemudian, Rin kembali ke restoran sushi dekat kantornya untuk membeli makan siang. Kali ini dia membeli untuk dirinya sendiri dan makan di tempat. Secara kebetulan Zen dan Rin kembali dipertemukan di lokasi yang sama.
"Rin???sendiri aja???" tanya Zen.
"Eh...iya pak" jawab Rin.
"Saya gabung ya" pinta Zen.
"I...iya pak" jawab Rin gugup.
Akhirnya Rin dan Zen siang itu makan bersama di restoran tersebut.
"Kamu sering makan disini ya???" tanya Zen penasaran.
"Iya kalau saya lagi pingin makan sushi pasti ke sini pak biar deket" jawab Rin sopan.
"Aduh nggak usah formal gitu dong Rin, ini kan di luar kantor jadi panggil saya Zen aja" ujar Zen.
"Iya pak...eh Zen" sahut Rin gelagapan sehingga membuat Zen tersenyum.
"Pak..eh Zen saya mau tanya boleh???" ucap Rin mulai terbiasa.
"Nggak usah pake saya gitu pake aku kamu aja lebih enak Rin, kan diluar kantor. Tanya aja yang mau kamu tanya" ujar Zen lagi.
"Apa bapak eh kamu udah nikah???" tanya Rin to the point sehingga membuat Zen terkejut.
"Rin kamu???" ucap Zen yang tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
"Ma...maafkan pak eh Zen aku udah nanya nggak sopan gini" sesal Rin.
"Kamu pikir aku udah nikah ya???" tanya Zen balik.
"Ya nggak juga sih" sahut Rin.
"Aku belum nikah kok Rin, tapi kenapa kamu nanya gitu ke aku???" sahut Zen.
"Ya penasaran aja" jawab Rin malu.
"Kamu udah punya pacar???" kini giliran Zen yang bertanya.
"Belum pak" jawab Rin polos.
"Tapi kalau yang 2D dan imajinasi udah punya banyak" batin Rin.
"Ya udah jadi pacar aku aja gimana???" tanya Zen tiba-tiba sehingga membuat Rin terkejut.
"Jangan bercanda deh Zen, emang aku mau dijadiin pacar yang keberapa???" tanya Rin santai.
"Yang pertamalah" jawab Zen polos.
"Tapi kita baru ketemu beberapa kali" sahut Rin.
"Nggak kok sebelum pertemuan di perusahaan, kita udah pernah ketemu sebelumnya" ujar Zen.
"Masa sih???kapan ya???" ucap Rin sembari berpikir.
"Kamu inget nggak dulu pernah nolongin orang yang hampir di tabrak bis pas nyebrang jalan???" tanya Zen.
"Ya ingetlah soalnya gara-gara itu aku jadi telat bImbingan skripsi sama dosenku" ucap Rin sedikit kesal ketika ingat kejadian itu.
"Eh tapi kok kamu tahu kejadian itu???" tanya Rin polos.
"Ya karena aku orang itu Rin" ucap Zen santai sehingga membuat Rin melongo tak percaya.
"Oh jadi kamu orang aneh yang udah aku selamatin malah main peluk-peluk dan nangis di pelukanku segala???Kamu tahu nggak sih malunya aku diliatin sama semua orang di sana waktu itu" cerewet Rin.
Aslinya Rin memang sangat cerewet jika sudah dengan orang yang menurutnya sefrekuensi, contohnya seperti saat ini Rin menganggap jika Zen adalah orang yang sefrekuensi dengannya.
"Tapi berkat pelukan dan kata-kata motivasimu waktu itu aku jadi bisa bangkit dari keterpurukanku loh Rin" ujar Zen jujur.
*Flashback On*
Pagi itu Rin akan melakukan bimbingan skripsi dengan dosen pembimbing 1'nya. Saat sedang menunggu lampu penyebrangan jalan berubah warna menjadi merah, tiba-tiba ada seorang lelaki yang tanpa memperhatikan lampu penyebrangan langsung menyebrang jalan sampai akhirnya ada sebuah bis akan menabraknya. Rin dengan gesit menarik lelaki itu ke pinggir jalan, namun tiba-tiba lelaki tersebut memeluk tubuh Rin dengan erat. Tentu saja Rin memberontak dalam pelukan lelaki itu, namun semua orang yang ada di sekitar tempat tersebut menatap Rin sinis seolah jika dia adalah penyebab lelaki tadi ingin bunuh diri.
Ingin rasanya Rin menghajar lelaki yang memeluknya ini, namun saat memaksa melepaskan pelukannya, lelaki itu tiba-tiba menangis sedih.
"Bisakah kita seperti ini dulu untuk sementara???" pinta lelaki itu sedih. Rin yang merasa prihatin dengan lelaki itu hanya membalas pelukannya dan menepuk pelan punggung lelaki itu sebagai penyemangat.
"Kalau anda sedang dalam masalah tolong jangan sekali-kali berpikiran untuk bunuh diri, karena manusia hidup di dunia ini pasti penuh dengan cobaan yang akan diberikan oleh Tuhan. Tetapi satu hal penting yang perlu anda ingat, Tuhan tak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umat-Nya menanggung cobaan itu. Jadi anda harus semangat demi diri anda sendiri bukan untuk orang lain karena ini adalah hidup anda" ucap Rin panjang lebar sambil menepuk pelan punggung lelaki yang ada di pelukannya itu.
Setelah berhasil menenangkan diri, lelaki itu melepaskan pelukannya dan berterimakasih kepada Rin. Rin yang saat itu langsung teringat dengan janji temunya dengan sang dosen pembimbing buru-buru meninggalkan lelaki tersebut. Namun sayang, saat sampai di kampusnya sang dosen sudah tidak berada di tempat sehingga membuat Rin harus melakukan bimbingannya minggu depan. Hal itu berarti dia tidak bisa di ikut ujian skripsi minggu depan.
Kecewa tentu saja Rin sangat kecewa, tetapi dia tak ingin menyalahkan orang lain atas apa yang dia alami hari ini. Rin yakin jika kegagalan hari ini akan menjadi keberhasilan di masa depan.
*Flashback Off*
"Hei Rin...Rin" ucap Zen sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Rin.
"Eh ya???" sahut Rin kaget.
"Kok kamu jadi bengong gitu sih???" tanya Zen kepo.
"Ah aku cuma jadi inget kejadian waktu itu" jawab Rin polos.
"Jadi gimana Rin???kamu mau nggak???" tanya Zen lagi.
"Tapi kamu itu bos aku Zen, kalau nanti kita ketahuan pacaran di kantor, emang mau nanggung resikonya???" tanya Rin meyakinkan.
"Emang kenapa kalau kita pacaran di kantor??? it's ok for me" jawab Zen.
"Tapi aku masih ragu karena masa iya cuma karena kejadian itu kamu jadi langsung tertarik sama aku???" tanya Rin masih tidak percaya.
"Rin denger aku ya, asal kamu tahu setelah kejadian itu aku mulai bangkit dari keterpurukanku sehingga berhasil menjadi seorang presdir di usia aku yang sekarang. Dan selama aku berusaha bangkit itu aku terus cari'in kamu tapi susah banget ketemunya. Untung pas aku udah mau diangkat jadi presdir iseng-iseng main ke departemen HRD dan di sana aku liat surat lamaran kamu, makanya langsung aku suruh tim HRD buat nerima kamu kerja di perusahaan" jelas Zen pada Rin.
"Oh jadi aku bisa kerja di sini ternyata karena kamu, pantes aja aku heran kok aku bisa diterima kerja di perusahaan skala nasional dan internasional seperti ini. Padahal nilai kuliahku biasa aja dan nggak ada yang istimewa" jujur Rin.
"Tapi tunggu, waktu pertama kali ketemu di restoran ini kok kamu kayaknya biasa aja tuh terus pake nanya namaku segala, padahal kan kamu udah tahu namaku" kepo Rin.
"Ya kan kenalan secara resmi dan jaga image Rin" sahut Zen santai.
"Jadi jangan ragu lagi ya karena kamu orang yang udah nolong aku di saat terpuruk dan aku udah nyaman sama kamu dari pertemuan pertama kita waktu itu" jawab Zen meyakinkan.
"Eeehhmmm ok aku mau jujur sekarang, sebenarnya kamu itu cowok yang aku impikan selama ini karena kamu mirip banget sama karakter-karakter cowok di semua novel yang sering aku baca" aku Rin jujur.
"Hah???kamu suka baca novel sama komik ya???" tanya Zen kaget.
"Aku juga suka nonton anime sama drama korea, kenapa???nggak banget kan???" tanya Rin sedikit kecewa.
"Ya aku nggak nyangka aja ternyata orang kayak kamu suka baca sama nonton yang begitu hahahaha soalnya aku juga suka nonton anime" ucap Zen jujur.
"Seriusan???kamu gamer juga nggak???" tanya Rin kepo.
"Kok tahu aku gamer???" tanya Zen balik.
"Ya kan biasanya cowok kalau suka nonton anime juga suka main game" ucap Rin.
Setelah kejadian Zen menembak Rin, akhirnya mereka berdua berpacaran tetapi tanpa diketahui oleh orang-orang di kantor mereka. Tak terasa sudah 2 bulan hubungan cinta yang dijalani oleh Zen dan Rin yang masih tertutup rapi dari orang-orang di kantor mereka. Mereka sudah mulai mengenal sisi baik dan buruk masing-masing, keluarga dan lingkungannya.
Zen sudah tahu jika Rin adalah seorang wanita yatim piatu yang dulu hanya tinggal dengan neneknya, dan sekarang Rin tinggal sendiri di sebuah apartemen sederhana dekat kantornya karena sang nenek sudah meninggal 2 tahun lalu. Sedangkan Rin juga sudah tahu jika Zen adalah seorang lelaki yang ditinggal meninggal oleh ibunya dan ayahnya menikah lagi dengan kekasihnya sendiri. Ketika kejadian Zen diselamatkan oleh Rin itu, saat itulah seorang Zen ditinggal meninggal oleh sang ibu tercinta dan mengetahui jika kekasihnya selingkuh dengan ayahnya sendiri. Betapa hancur hati seorang Zen saat itu sehingga tidak salah jika dia ingin mengakhiri hidupnya.
Berkat Rin, Zen bisa bangkit dari keterpurukannya saat itu sehingga mampu mengambil alih perusahaan sang ayah dengan usahanya sendiri. Sang ayah tetap merasa sangat bangga pada Zen karena mampu membuat perusahaannya menjadi makin berkembang pesat di dalam dan luar negeri. Hubungan Zen dan sang ayah bisa dibilang cukup harmonis tetapi Zen tidak mau tinggal satu rumah dengan ayah dan mama tirinya. Dia lebih nyaman tinggal sendiri di mansion mewahnya dan sesekali ayah dan mama tirinya datang untuk berkunjung.
Seperti hari ini ketika kantor sedang libur dan Rin sedang berada di rumah Zen untuk menemani Zen bermain PS, orangtua Zen datang berkunjung ke rumah Zen.
"Zen ini siapa???" tanya sang ayah kepada Zen ketika melihat seorang wanita di ruang keluarga tengah asik bermain PS kesayangan Zen.
Rin yang mendengar ada orang bertanya pun menoleh ke arah Zen dan orangtuanya.
"Dia pacar aku pa namanya Rin dan Rin ini papa aku terus dia mama tiri aku" ucap Zen memperkenalkan.
"Kamu dari keluarga mana???kalau dari keluarga biasa aja mending sekarang kamu putus dari anak saya" ucap mama tiri Zen angkuh.
"Maaf sepertinya anda tidak berhak bicara seperti itu kepada saya jika mengingat cerita lalu Zen bersama keluarganya" jawab Rin santai.
"Kamu!!!" tunjuk mama tiri Zen emosi.
"Sudah-sudah kamu juga terlalu angkuh tadi bicaranya makanya jangan salahkan dia jadi bicara seperti itu ke kamu" ucap ayah Zen menengahi.
"Kok kamu jadi bela dia sih??? dia itu nggak pantas buat Zen pa" ujar mama tiri Zen lagi.
"Pantas dan tidak pantas itu aku yang nentuin bukan anda!!!" sahut Zen tegas sehingga membuat si mama tiri bungkam.
"Zen papa mau bicara bentar sama pacar kamu boleh???" tanya sang papa.
"Ya kalau Rin mau boleh aja kok" sahut Zen santai.
"Rin bisa kita bicara berdua sebentar???" tanya ayah Zen ramah.
"Bisa Om" ucap Rin tulus.
Rin dan ayah Zen pergi ke halaman belakang mansion Zen untuk berbicara.
"Awas nanti pacar kamu diambil sama papamu lagi loh" ujar mama tiri memanas-manasi.
"Pacar aku yang sekarang nggak sama kok kayak mantan aku yang selingkuh sama papa aku dulu" sahut Zen santai.
"Apa sih yang kamu lihat dari dia???kalau kamu emang pengen punya pacar nanti aku cariin yang lebih dari dia" ucap mama tiri.
"Ingat posisi anda dan saya seperti apa ya, tapi sepertinya anda memiliki banyak stok perempuan yang kualifikasinya sama seperti anda" ujar Zen meremehkan.
"Asal kamu tahu ya Zen waktu itu aku selingkuh sama papa kamu karena kamu itu nggak pernah mau aku sentuh padahal kan kita pacaran, jadi jangan salahkan aku kalau aku selingkuh" kata sang mama tiri membela diri.
"Ya tapi kan selingkuhnya nggak harus sama papa aku Dara. Udahlah lagian aku udah nggak masalah kamu nikah sama papa aku, tapi inget jangan pernah kamu ganggu hubungan aku sama Rin. Kalau sampai kamu macem-macem liat apa yang bakal aku lakuin ke kamu sama keluarga kamu" ancam Zen.
Disisi lain di halaman belakang mansion Zen.
"Rin tolong kamu jaga Zen baik-baik ya" pinta ayah Zen.
"Kenapa om minta saya yang jaga Zen???kan Zen bisa jaga dirinya sendiri" ucap Rin polos.
"Dia pasti udah cerita kan tentang masa-masa buruknya dulu, itu semua salah om. Jadi om pingin biar Zen bisa bahagia dengan kehidupannya sekarang Rin" ucap ayah Zen tulus.
"Saya tahu kok om sebenarnya merasa berasalah banget sama Zen karena udah ngambil pacarnya tapi itu semua nggak akan terjadi kalau si cewek menolak om" sahut Rin.
"Hahaha iya kamu bener juga Rin, ternyata kamu orangnya asik ya diajak ngobrol gini. Oh ya jangan dengerin omongan dari mama tiri Zen ya, saya tahu sebenarnya dia cemburu jika Zen memiliki kekasih" ujar ayah Zen.
"Itu berarti dia perempuan egois om, masa sudah nikah sama om masih pingin anak om juga itu kan memang dia yang udah nggak bener...oppss maaf om saya kelepasan hehehe" ucap Rin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hahaha iya tidak apa kok, ngomong-ngomong orangtua kamu kerja apa???" tanya ayah Zen lagi.
"Saya yatim piatu om dari kecil saya cuma tinggal sama nenek di kampung, tapi 2 tahun lalu nenek meninggal jadi saya pindah ke kota buat cari kerja" jelas Rin.
"Oh maaf Rin, sekarang kamu kerja dimana???" tanya ayah Zen masih penasaran.
"Saya satu kantor sama Zen om hehehe" ucap Rin cengengesan.
"Oh gitu...inget ya Rin saya udah merestui hubungan kamu sama Zen jadi tolong jaga dan buat Zen bahagia" ujar Ayah Zen tulus.
"Iya om saya usahakan" jawab Rin tulus.
Setelah menyelesaikan obrolannya, mereka kembali ke dalam mansion Zen. Dapat terlihat dengan jelas di wajah Zen jika dia sangat gelisah menunggu Rin selesai mengobrol dengan ayahnya.
"Kenapa lama banget sih???emang ngobrolin apa aja???" kepo Zen sambil memegang tangan Rin dan mendudukkannya di sofa.
Ayah Zen dan mama tirinya sangat terkejut melihat tingkah laku Zen yang seperti anak kecil mengeluh pada ibunya itu, bahkan sepengetahuan mereka Zen tidak pernah mau menyentuh wanita tetapi sekarang mereka melihat Zen menggenggam tangan Rin dengan posesif.
"Kita ngomoin asal usul aku aja kok Zen, ya kan om???" ucap Rin seolah menenangkan Zen.
"Iya Zen...emang kamu pikir papa bakal makan pacar kamu apa" protes sang ayah.
"Ya bisa jadi kan" celetuk Dara si mama tiri.
"Kalau itu sih juga tergantung si perempuan ya, kalau perempuannya mau baru bisa kejadian kan" sahut Ayah Zen.
"Papa kok jadi belain dia sih???" emosi Dara.
"Sudahlah ma aku tahu kok kamu sebenarnya nggak rela kalau Zen punya pacar lagi karena kamu pingin biar kamu aja yang ada di hatinya. Kamu itu egois Dar kamu udah nikah sama aku tapi kamu juga mau cinta anak aku!!!" ujar Ayah Zen tegas.
"Kamu kok tega sih ngomong gitu ke aku??"tanya Dara sedih.
"Karena semua itu benar adanya Dar, kalau kamu memang sudah nggak punya perasaan apapun ke Zen kenapa kamu nggak merestui hubungan mereka???" selidik ayah Zen.
"Ya karena menurut aku dia nggak pantas buat Zen" ujar Dara membela diri.
"Terus yang pantas itu siapa?? kamu???" tanya Ayah Zen lagi.
"Dari kesan pertama aku ketemu Rin aja aku udah bisa liat gimana kepribadian Rin. Asal kamu tahu aku udah merestui hubungan mereka, kalau kamu mau cerai sama aku ya silahkan kamu tetap tidak merestui mereka dan ganggu kehidupan cinta mereka" ancam ayah Zen sehingga membuat Zen melongo tak percaya.
"Kok kamu jadi sama kayak Zen ngancam-ngancam aku gini???" tanya Dara heran.
"Ya karena kita ayah dan anak" sahut Ayah Zen santai.
Karena ancaman dari ayah Zen akhirnya Dara merestui hubungan Zen dan Rin meskipun dengan tidak ikhlas.
Keesokan harinya karena sibuk menyelesaikan laporan keuangan, Rin tidak sempat membalas pesan dari Zen yang mengajaknya makan siang bersama. Sampai jam makan siang tiba pun Rin masih belum membalas pesan Zen, telpon Zen juga tidak diangkat oleh Rin. Akhirnya Zen kesal dan memutuskan untuk mencari Rin ke Departemen Keuangan.
Semua orang di departemen keuangan yang melihat kedatangan sang presdir di jam makan siang pun sangat terkejut.
"Rin dimana???" tanya Zen pada salah satu staf di sana.
"Di ruangan Bu Wanda pak sedang memperbaiki laporan keuangan yang salah, apa ada yang perlu dibantu pak???" ujar staf itu sopan. Zen tidak menghiraukan pertanyaan dari staf itu karena sudah sangat kesal pesan dan telponnya tak dihiraukan oleh Rin.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu Zen langsung membuka pintu ruangan Bu Wanda sehingga membuat Bu Wanda dan Rin yang tengah sibuk memperbaiki laporan keuangan sangat terkejut.
"Pak presdir??? ada apa pak???" tanya Bu Wanda heran.
"Apa staf disini sibuk sekali sampai melupakan jam makan siangnya???" sindir Zen kesal.
Rin yang tahu jika Zen sedang kesal hanya bisa pasrah jika hubungan mereka akan segera diketahui oleh orang-orang di kantornya.
"Maaf pak tapi ini harus segera diselesaikan karena minggu depan akan ada penandatanganan kontrak kerjasama dengan perusahaan dari luar negeri" jelas Bu Wanda pada Zen, tetapi Zen malah menjadi tambah kesal mendengar alasan yang seperti itu.
"Tak bisakah itu diselesaikan setelah makan siang???anda dan staf anda seharusnya memperhatikan kesehatan juga" ujar Zen tegas.
"Iya pak setelah ini kami semua akan makan siang" jawab Bu Wanda.
"Tidak!!!saya mau sekarang kalian semua yang ada di departemen keuangan makan siang!!! karena kekasih saya punya penyakit maag jadi dia tidak boleh telat makan" perintah Zen tegas.
"Kalau begitu silahkan bapak bawa kekasih bapak makan siang dulu, kami akan menyusul nanti" sahut Bu Wanda santai dan masih tidak peka.
Tanpa pikir panjang Zen langsung menarik tangan Rin ke sisinya.
"Kenapa asisten saya ditarik pak???" tanya Bu Wanda heran.
"Karena dia kekasih saya" ucap Zen polos kemudian membawa Rin pergi makan siang, sedangkan Bu Wanda masih ternganga mendengar atasannya berkata seperti itu.
Setelah kejadian Zen menarik tangan Rin keluar dari ruangan Bu Wanda, seluruh orang di perusahaan Zen menjadi sangat heboh karena bos mereka ternyata sedang berkencan dengan asisten manajer departemen keuangan. Tentu banyak wanita yang iri dengan hal tesebut sehingga mereka sering mencibir dan menggosipkan Rin, tetapi Rin tidak memperdulikan hal itu.
Hari ini saat ingin menyerahkan berkas ke departemen perencanaan, ada 2 orang wanita sedang membicarakannya secara terang-terangan.
"Ih itu kan pacar pak presdir yang dari departemen keuangan???" ucap wanita 1.
"Biasa aja tuh masih juga cantikan aku, heran deh apa sih yang diliat dari cewek kayak dia???" ujar wanita 2.
"Bener tuh paling juga dia duluan yang ngegoda pak presdir hahaha" sahut wanita 1.
"Kira-kira dibayar berapa ya???" balas wanita 2.
Begitulah percakapan yang bisa didengar oleh Rin, dengan santai dia berjalan ke arah 2 wanita itu.
"Kalau situ ngerasa cantik kenapa nggak coba sendiri buat ngegoda presdir??? kalau kerja mulut tuh harus dijaga biar nggak fitnah orang. Emang mau dilaporin karena udah nyebar fitnah tentang pak presdir???" ucap Rin santai.
"Kamu ngancam kami???" ucap kedua wanita itu bersamaan.
"Nggak kok cuma memperingatkan" sahut Rin dan berlalu meninggalkan 2 wanita itu.
Sore harinya sepulang kerja, Rin dan Zen belanja di salah satu supermarket milik Zen. Zen menyuruh Rin untuk menunggunya sebentar karena akan mengambil beberapa cemilan untuk nanti malam saat menonton anime favorit mereka di mansion Zen.
Ketika sedang menunggu Zen, tiba-tiba ada seorang lelaki mendekat ke arah Rin.
"Rin???" tanya lelaki itu.
"Kenzo???" tanya Rin balik.
"Lo sendirian???" tanya Kenzo.
"Nggak kok gue bareng pacar gue" jawab Rin santai.
"Udah deh lo nggak usah bohong, mana mungkin lo bisa move on dari gue" ucap Kenzo percaya diri.
"Sorry ya gue udah move on dari dulu kali, lo aja yang terlalu PD" cibir Rin.
"Lo makin seksi aja Rin, balikan lagi yuk" goda Kenzo.
"Idih ogah....gue tuh udah punya pacar ya!!!" ketus Rin.
"Gue nggak percaya, mana pacar lo sini tunjukkin!!!" bentak Kenzo.
"Rin ini siapa???" tanya Zen tiba-tiba.
"Mantan aku yang nggak percaya kalau aku udah punya pacar" sahut Rin kesal.
"Gue pacar Rin, ada perlu apa ya???" tanya Zen.
"Wah gue nggak percaya ternyata lo mau pacaran sama cewek aneh kayak dia, gue tahu lo pasti cuma pengen tubuhnya aja kan???" tanya Kenzo memulai aksinya.
"Dia nggak kayak lo ya yang cuma liat gue dari tubuh gue...Gue yakin lo pasti frustasi banget karena nggak bisa dapetin tubuh gue kayak lo bisa dapetin dengan mudah tubuh cewek-cewek lain di luar sana" ejek Rin sehingga membuat Kenzo emosi.
"Mulut lo masih pedes juga ya. Gue kasi tahu deh sama lo karena kita sesama cowok, mending lo putusin dia karena dia itu cewek aneh yang cuma suka sama kartun dan lelaki imajinasinya aja!!!" ucap Kenzo emosi.
"Emang ya ternyata lo bener-bener kurang ajar banget jadi cowok. Dulu lo putusin dia karena dia nggak mau bercinta sama lo tapi ternyata itu jadi tekanan sendiri buat lo. Cowok kayak lo ini nih yang merusak citra seorang lelaki" ujar Zen dingin.
"Kayak lo nggak suka sama tubuhnya aja" cibir Kenzo.
"Gue emang pacaran sama dia bukan karena tubuhnya tapi karena kenyamanan gue saat bareng dia" ucap Zen tenang.
"Udahlah Zen mending kita pergi aja, orang kayak gini emang susah diajak ngomong pake bahasa manusia" ujar Rin dan menarik tangan Zen.
Akan tetapi dengan cepat tangan Rin dicekal dan ditarik paksa oleh Kenzo. Tak terima wanitanya diperlakukan seperti itu, Zen menghajar Kenzo sampai tak berdaya. Itupun dengan usaha Rin yang harus menghalangi Zen agar tak menghajar Kenzo lagi karena jika dilanjutkan Zen bisa-bisa membuat Kenzo mati.
Kali ini Zen benar-benar emosi, semua tim manajemen di supermarket itu dipanggil oleh Zen untuk membereskan kejadian tadi. Sedangkan Rin terus menggenggam erat tangan Zen berusaha menenangkan emosinya yang terbangkitkan.
Beberapa bulan telah berlalu, tak terasa hubungan Zen dan Rin sudah berjalan 8 bulan. Malam ini Zen mengajak Rin makan malam di salah satu restoran paling mewah di kota tersebut. Rin tidak mengetahui jika Zen akan melamarnya malam ini sehingga dia mengira ini hanya makan malam biasa seperti yang sudah-sudah dia lakukan bersama Zen.
Suasana di restoran saat itu sangat sepi hanya mereka pelanggan di restoran tersebut.
"Zen kok restorannya sepi banget ya??? jadi berasa pelanggan spesial" ucap Rin polos.
"Mungkin kita emang pelanggan spesial mereka malam ini" sahut Zen enteng. Rin mengira omongan Zen itu hanya basa basi saja jadi dia hanya ber-oh ria saja.
Di waktu yang telah ditentukan, Zen pergi ke belakang panggung dengan alasan ingin ke toilet pada Rin. Ya restoran itu memiliki panggung yang cukup besar dan disana sudah ada sebuah piano. Tiba-tiba lampu di dalam restoran mati, tentu saja Rin sedikit panik dibuatnya karena Zen masih ke toilet dan dia sekarang tengah sendiri di dalam restoran tersebut.
Lampu sorot di atas panggung menyala dan menampakkan sosok Zen tengah duduk di kursi piano tersebut dan kemudian mulai memainkan lagu favorit Rin yaitu River Flows In You (Yiruma). Rin sangat terkejut sekaligus bingung dengan aksi Zen tersebut, karena dia tahu Zen memang sering melakukan hal-hal romantis untuknya terutama dalam hal-hal kecil. Tetapi ini adalah pertama kalinya bagi Rin melihat Zen benar-benar melakukan hal romantis yang menurutnya sangat maksimal.
Setelah menyelesaikan permainan pianonya, Zen berjalan ke arah Rin dan tiba-tiba berkata sambil menyodorkan sebuah cincin di dalam kotak kecil.
"Rin...you're my everything...aku nyaman banget bareng sama kamu, jadi aku pengen kalau kita bersama sampai maut memisahkan. Sakura Rin....will you marry me???" ucap Zen tulus.
"Yes I will Zen Alexander" jawab Rin tanpa pikir panjang.
Zen langsung memasangkan cincin yang sudah dipegangnya di jari manis Rin kemudian memeluk mesra kekasihnya tersebut.
Sebulan setelah Zen melamar Rin, mereka melangsungkan pernikahan dengan penuh kebahagiaan. Semua orang di perusahaan Zen, rekan bisnis, keluarga dan teman-teman Zen serta Rin diundang dalam acara pernikahan yang meriah itu. Senyum bahagia tampak jelas di wajah kedua sejoli yang kini sudah sah sebagai suami istri tersebut ketika sudah selesai dilakukan acara pemberkatan.
~~~~~~~~THE END~~~~~~~~
Suka menonton anime, drama korea, membaca novel dan komik itu bukanlah hobi yang aneh. Bahkan jika terkadang kita larut dengan karakter yang ada dalam cerita tersebut adalah hal yang wajar. (Sakura Rin)
Lelaki yang baik itu adalah lelaki yang tulus mencintaimu apa adanya bukan hanya dari tubuhmu saja, karena jika orang mencintaimu dari melihat keseksian tubuhmu, maka orang itu mencintaimu hanya berdasarkan nafsunya saja. (Zen Alexander)