“Mi, aku lupa gak bawa duit, jajanin dong”
“Boleh”
“Mi, kemaren, aku lihat ada baju bagus keluaran terbaru di Mall, kamu pasti suka, lagi discount, beli dua gratis satu, beli yah, kamu beli dua gratisnya buat aku”
“Emmhh, boleh”
“Mi, bisa isiin dulu pulsa gak? Bayarnya kapan-kapan yah, kita ‘kan best friend”
“Oke, aku isiin”
“Mi, ada caffe baru buka, masih discount karena masih promo ke sana yuk, tapi kamu yang jajanin, anak-anak juga pada ngajakin kamu”
“Oh, berapa orang yang ikut? Ya udah yuk”
“Mi, nyontek dong, belum sempet ngerjain PR di rumah”
“Oke”
“Mi ...”
“Mi ...”
Aku bahagia ketika aku bisa mewujudkan ajakan dan keinginan mereka, para sahabatku, di besarkan dengan limpahan kasih sayang, semua keinginan selalu diwujudkan dengan mudah, dan hidup sebagai anak pertama dari dua bersaudara, dengan adik yang masih kecil membuatku merasa berada di atas angin, tidak kekurangan materi sama sekali, hingga apapun yang aku minta kepada kedua orangtuaku semuanya selalu langsung dipenuhi tunai, entah itu untuk hal yang penting, maupun yang tidak penting. Merasa menjadi anak emas, aku lupa bahwasannya ada hal yang jauh lebih penting dari pada permintaan mereka.
“Nia? Kenapa sendirian aja?” aku duduk di salah satu kursi di kantin, kala melihat teman sekelasku Nia tengah duduk sendiri.
“Gak apa-apa” dia menggeleng lesu, aku menatapnya sekilas, aku faham Nia pasti sedang memiliki masalah. Nia seorang anak penjaga sekolah, berparas cantik, lembut, terlihat bijaksana, namun selalu sendiri dan cenderung tidak ada yang menemani karena dia tidak seperti kami. Seringnya menutup diri, dan tidak ingin bergabung dengan kami yang selalu membicarakan kekayaan orangtua, atau kegiatan yang mungkin tidak pernah Nia lakukan.
“Kamu udah pesen?” aku mengedarkan pandangan, melirik pada penjuru kantin sekolah, jam istirahat, para siswa ramai memesan makanan.
“Enggak” ucapnya lirih, memegang perutnya yang terdengar keroncongan.
Aku tersenyum, mengangguk, lalu berjalan menuju penjaga kantin, memesan dua piring siomay untukku dan Nia.
“Aku gak pesen” Nia menggeleng sambil mengibaskan tangannya, matanya membulat seperti tengah ketakutan.
“Aku yang pesen, ini buat kamu” aku kembali menyodorkan sepiring siomay pada Nia, Nia hanya terpaku, lalu menatap siomay dengan air liur yang hampir menetes.
“Ayo di makan” aku tersenyum, memulai menyendokkan siomay dan memasukkannya ke dalam mulutku, aku mengunyah sambil menatap Nia yang terlihat lapar.
“Kamu gak gerah ya? Tiap hari pakai jilbab panjang kayak gituh?” tanyaku hati-hati.
“Enggak, memakai jilbab ‘kan kewajiban perempuan muslim yang sudah baligh” dia menggeleng dengan mulut penuhnya.
Deg
Hatiku rasanya tersentil, ku tatap penampilanku berulang kali, rok seragam di atas lutut, dengan atasan yang pas badan, aku tersenyum miris.
“Makasih ya Mi, udah traktir aku makan, kamu memang baik, tapi ...” Nia menggantungkan ucapannya.
“Tapi??” aku mencoba menatap iris mata Nia, memahami apa yang ingin dia ucapkan.
“Lain kali gak usah berlebihan” ucapnya ragu.
“Maksudnya?” tanyaku bingung.
“Gak apa-apa” dia menggeleng lagi.
“Mi!!”
Aku menoleh, teman-temanku sudah datang mereka duduk mengitari meja tempatku dan Nia duduk.
“Kita boleh pesan ya Mi?” tanya mereka kompak, aku mengangguk sambil tersenyum, ini hal yang biasa bagiku, pada akhirnya aku yang akan membayar mereka semua. Meskipun aku tahu, mereka adalah orang-orang berada, dan mereka pasti akan mampu jika hanya sekedar membayar sepiring makanan.
“Aku duluan” Nia bangkit lalu bersiap pergi.
“Mau kemana? Di sini aja” aku mencoba menahan Nia yang kini tengah menundukkan kepalanya, setelah beberapa temanku melontarkan kata-kata sindiran.
“Aku mau ke kelas dulu, makasih buat traktirannya Mi” Nia langsung bergegas, berlari menuju kelas.
“Mi? Ngapain sih deket-deket sama si Nia? Dia itu kek orang depresi tahu, kerjaannya cuman ngelamun sendirian, gak ada yang nemenin soalnya pada takut deket dia”
“Jilbabnya aja panjang banget, udah kek teroris aja”
Dan bla bla bla ... segala ucapan yang sedikit menusuk dari mulut mereka keluar, aku hanya diam membisu, memikirkan apa yang di ucapkan Nia sebelumnya.
***
“Nia, rumah kamu dimana?” tanyaku pada Nia yang sudah membereskan barang-barangnya di saat jam sekolah telah usai.
“Emmmhhh ...” Nia terlihat kikuk.
“Gak apa-apa, pulang bareng yuk” ajakku kemudian, sempat aku melirik para sahabatku, mereka mendengus kesal seperti tidak suka, apalagi tadi aku sempat menolak ajakan mereka untuk nonton bareng di sepulang sekolah.
“Eh? Eeemmmhh ...” Nia masih berpikir juga, gemas akhirnya aku menarik tangan Nia membawanya keluar kelas.
“Aku pulangnya naik angkot” ucapnya sambil celingukan mencari angkot yang lewat, saat kami berada di pinggir jalan raya.
“Aku ikut!” entah mengapa, tapi aku merasa sangat penasaran akan kehidupan Nia.
“Rumahku jelek” Nia menunduk lagi.
“Gak apa-apa, apalagi aku gak punya rumah” aku terkekeh geli.
“Rumah kamu bagus, kata temen-temen di rumah kamu ada bathup nya juga ya, kayak di tivi-tivi” Nia memandangku sekilas, aku tersenyum lagi.
“Itu bukan rumahku, itu rumah Ayah dan Ibuku” ucapku santai, Nia tertegun.
“Itu angkotnya datang” Nia melambaikan tangannya, menyetop angkot, lalu kami mulai menaikinya, angkot di jam pulang anak sekolah lumayan padat dan berdesakan, sopir angkot membawa penumpang dengan overdosis.
“Kamu pasti gak nyaman ya?” Nia menatapku yang sedang menekan hidungku karena bau yang di timbulkan dari keringat anak sekolah lainnya yang saling berjejal.
“Enggak kok, biasa aja” aku menggeleng lalu tersenyum.
***
“Ini rumahku” Nia melangkah di depan, membuka pagar sekolah SD. Aku mengernyit heran, kenapa Nia membawaku ke sekolahan?.
“Rumahmu? Bukannya ini sekolahan ya?” aku mengedarkan pandangan dengan jeli, mungkin ada yang aku lewatkan. Sembari sesekali melirik plang sekolah yang di pasang di depan bangunan.
“Aku dan keluargaku memang tinggal disini” Nia melangkah menuju belakang sekolah.
Aku berdiri mematung, ternyata di belakang sekolah ini memang ada sebuah bangunan kecil, tempat mereka tinggal, perlahan kakiku melangkah, bangunan kecil ini sudah lama di tinggali keluarga Nia, sangat sempit, adik Nia ada lima aku yakin jika malam mereka akan tidur berdesakan, karena di rumah ini hanya ada satu kamar.
“Kamu mau minum apa?” aku mengerjap, seketika lamunanku buyar.
“Eh? Apa aja” ucapku sambil duduk di lantai yang sudah di alasi karpet sederhana.
“Aku cuman punya air putih” Nia membawa segelas air putih dan menyimpannya di hadapanku.
“Kakak!”
Aku menoleh, di sana ada seorang gadis kecil berusia sekitar lima tahunan, aku tersenyum menatapnya, tanpa di duga tiba-tiba saja anak kecil itu duduk di pangkuanku.
“Kakak sudah shalat dhuha?” gadis kecil itu menatapku riang. Aku mengernyit bingung.
“Hah? Be belum” aku menggeleng, kikuk.
“Kenapa belum? Kata Ayah shalat dhuha itu bisa membuat uang kita banyak” ucapnya sambil melebarkan tangan, memberi tahu seberapa banyak uang yang dia hayalkan. Aku menatap Nia yang masih tersenyum di hadapanku.
“O ya? Kamu sendiri sudah shalat?” tanyaku menatapnya dengan senyuman.
“Sudah dong, aku kan mau banyak uang” ucapnya polos.
“Kalau punya banyak uang memang buat beli apa?” aku semakin senang mengobrol dengan bocah kecil itu.
“Buat beli makan enak” jawabnya semangat.
“Makan enak? Memangnya kamu mau makan sama apa?” tanyaku lagi semakin penasaran.
“Makan sama tahu, sama tempe” ucapnya lagi dengan sorot mata sendu.
Deg!
Bagai di tampar, dadaku terasa ngilu, perlahan buliran bening turun dari mataku, selama ini aku selalu merajuk kala di rumah Ibu tidak menyiapkan makanan kesukaanku, aku marah ketika Ayah tidak memberiku uang untuk mentraktir teman-temanku, tapi disini ada seorang bocah yang bahkan hanya memiliki cita-cita makan enak hanya dengan tahu dan tempe.
“Terus, aku juga mau beli sepatu baru buat Kak Nia, biar Kak Nia gak di ledekin temen-temen di Sekolahnya lagi” ucapnya menatap Nia yang sedang menatapnya juga dengan senyuman tipisnya.
Ya ... aku tahu, selama ini Nia selalu menjadi bahan bullyan karena menggunakan barang-barang yang sudah tidak layak pakai. Sepatu Nia sudah jebol tapi dia tetap memaksakan untuk tetap memakainya, sementara itu, di rumahku koleksi sepatu ataupun tas sudah menumpuk, beberapa bahkan belum terpakai sama sekali.
“Syita, mau gak makan di KFC sama Kakak?” tanyaku lirih, menahan getir.
“Enggak” ucapnya menggeleng.
“Kenapa?” tanyaku lagi, merasa heran, kebanyakan anak jika di iming-imingi makanan tersebut pasti akan langsung semangat mengangguk.
“Kata Ayah gak boleh berlebihan, ayam yang di jual Mang Jono juga enak, tapi aku belum pernah mencobanya” suara Syita melemah.
“Memang berapa harganya?”
“Lima ribuan”
“Ah ...” runtuh sudah tangisanku, aku seringkali menghamburkan uang untuk hal tidak berguna, sementara itu di tempat lain ada orang yang serba kekurangan.
***
“Yah ...” aku duduk di samping Ayah yang tengah menghitung uang hasil dari penjualan kambing hari ini, ya ... Ayahku memiliki beberapa perusahaan yang beliau rintis sedari dulu, usaha ternak kambing, ternak bebek, jual beli sayuran di pasar, bertani, memiliki usaha matrial, juga memiliki toko bangunan, kami tidak pernah kekurangan jika untuk masalah materi.
“Hmmhh? Mau minta hape baru lagi?” tanya Ayah tanpa memalingkan wajahnya padaku.
“Bukan” aku menggeleng.
“Lalu?” Ayah masih setia menghitung uang-uangnya.
“Aku mau minta uang buat beli seragam baru” ucapku lirih.
“Bukannya baru tiga hari yang lalu kamu beli seragam baru?” tanya Ayah menghentikan kegiatannya, lalu melirikku sekilas.
“Aku mau beli seragam panjang Yah, mau pakai jilbab ke sekolah” ucapku yakin.
Ayah menatapku tidak percaya, lalu kembali fokus pada uangnya.
“Kamu cuman mau ngikutin trend sekarang kan?”
“Enggak Yah, aku beneran mau berhijab mulai sekarang” ucapku mantap.
“Kamu yakin?” tanya Ayah lagi, kembali menatapku lekat.
“Yakin” aku mengangguk semangat.
“Ini uang buat beli seragam baru, sama hijabnya juga, Ayah mau kamu khusnul khotimah dalam menggunakan hijab” Ayah tersenyum lembut, lalu mengusap pucuk kepalaku sayang, menyodorkan uang sepuluh lembar berwarna merah yang tadi sudah di hitungnya.
“Ini kelebihan Yah, segini aja cukup” aku mengembalikan tujuh lembar uang pada Ayah, aku tersenyum lalu beranjak pergi meninggalkan Ayah yang masih kebingungan.
***
“Aku akan merawat mereka!” ucapku tegas, yakin dengan semangat yang menggebu.
“Kamu yakin? Merawat anak itu tidak semudah yang kamu pikirkan, kamu belum menikah, dan lagi usiamu masih delapan belas tahun” Ibu terlihat sangat tidak setuju dengan pendapatku.
“Tapi aku menyayangi mereka, aku yakin aku bisa” ucapku mantap.
“Biaya hidup mereka tidak murah, biaya makan, pakaian, apalagi pendidikan mereka, kamu mau membiayai mereka dari uang siapa? Uang Ayah? Uang Ibu? Maaf kami tidak akan membantu, kamu harus belajar dewasa, cari solusi sendiri untuk setiap masalahmu, Ibu hanya mengingatkan mengurus enam orang anak sekaligus tidaklah mudah, apalagi kamu masih kecil, di usiamu sekarang, harusnya kamu lagi asyik main, bukan ngurusin anak orang” Ibu seolah prustasi membujukku untuk membatalkan keinginanku, mengadopsi enam anak yatim sekaligus.
“Aku akan berusaha Bu, aku pasti bisa” ucapku semangat.
“Terserah” Ibu beranjak pergi meninggalkan aku dengan semangat yang masih menggebu.
***
“Huaaaaaaa!!! Ibuuuuuuu ...” anak laki-laki berusia lima tahun itu menangis memeluk leherku erat, aku berusaha menenangkannya selepas aku pulang kuliah, rasa penat dan lelah pasti ada, tapi aku lebih memilih memangkunya lalu menenangkannya.
“Fadli kenapa?” tanyaku bingung.
“Aku mau layangan! Aku mau main layangan! Tapi di laraaaannnggg!!” tangisnya kian kencang, aku mengusap punggungnya perlahan.
“Fadli memang tidak boleh main layangan, mata Fadli belum sembuh” ucapku lembut, meski hati begitu jengkel, inginnya aku langsung istirahat beberapa saat sebelum mengerjakan tugas-tugas yang diberikan dosen padaku.
Fadli, dia terlahir prematur, sejak lahir dia memiliki kelainan pada matanya, Fadli berbeda dengan anak lain, mata Fadli tidak bisa mengenai sinar matahari langsung, hingga untuk kegiatan sehari-harinya, Fadli di haruskan menggunakan kacamata khusus, agar menghindari sinar matahari langsung, begitu kata dokter.
Fadli bukan anak yatim piatu, dia hanya seorang anak yang memiliki orangtua dengan batasan ekonomi yang sangat minim, keluarganya jatuh bangkrut dan hidup terpuruk, aku mengurus segala kebutuhan Fadli, namun orangtuanya berjanji suatu hari nanti kala usahanya sudah mulai berjalan, mereka akan mengambil Fadli kembali, sementara kelima anak yatimku yang lainnya tinggal bersama sanak saudaranya, tapi aku tetap membiayai segala kebutuhan mereka. Saat ini, hanya Fadli yang tinggal bersamaku.
“Makan dulu Mi, nanti main sama Fadli, oya tadi Epul sama Linda bilang, katanya alat tulis mereka sudah habis, minta di belikan yang baru” Ibu datang menghampiri, meraih tas yang masih setia bergelantung di bahuku, aku tersenyum dan mengangguk, membawa Fadli yang masih dalam gendongan.
“Fadli mau makan?” tanyaku lembut.
“Gak mau! Maunya layangan!” ucapnya kukuh.
Aku menghela napas, rasanya begitu jengkel.
“Fadli makan yah” bujukku lagi.
“Gak!” tiba-tiba Fadli meraih ponsel yang aku letakkan di samping piring, dan melemparnya kesembarang arah, aku sempat ternganga tak percaya, menatap Fadli yang kini sudah menunduk ketakutan.
“Kok Fadli gitu sih?” kesal, aku menurunkan Fadli dari pangkuanku, meraih pecahan ponsel yang bertebaran.
“Huaaaaaa!!” Fadli menangis sejadi-jadinya.
Aku menghela napas dalam, lembut aku kembali meraih Fadli, menenangkannya, mengusapnya perlahan, membisikkan kata jika aku tidak marah.
***
Waktu berlalu, banyak waktu yang kuhabiskan bersama Fadli-ku, suka, duka, tangis, tawa, aku melalui banyak hari bersama Fadly, dia tumbuh dengan sangat baik meskipun jauh dari kedua orangtuanya, sebisa mungkin aku membimbing dan mendidiknya sebisaku, dengan bermodalkan naluri dan kasih sayang. Begitupun dengan kelima anakku yang lainnya, mereka hidup tanpa kekurangan. Aku memberikan biaya pada mereka dari hasil kerja kerasku sendiri, aku berusaha membuat usaha kecil-kecilan, membuat berbagai macam snack yang aku pasarkan di berbagai minimarket, alhamdulillah semuanya terasa lancar. Meski kadang ingin rasanya aku menangis karena jengkel sendiri, karena ketidak mampuanku sendiri, tapi sejauh ini aku baik-baik saja.
Setelah lulus kuliah, aku bekerja di salah satu perusahaan yang lumayan ternama, aku senang, karena aku di terima bekerja dengan mudah, dan dengan gaji yang lumayan, anak-anakku tumbuh dengan baik, mereka selalu membuatku bangga dengan menjadi juara kelas, aku merasa bahwa pengorbananku tidaklah sia-sia.
Kecuali Fadli, entah kenapa anak itu selalu memiliki nilai yang buruk ketika di sekolah, pernah aku bertanya pada gurunya langsung, tapi Guru Fadli bilang, Fadli hanya butuh belajar lebih giat lagi, segala usaha aku lakukan agar Fadli bisa menjadi seperti anak lainnya, hati Ibu mana yang rela melihat putranya menjadi paling buruk di lingkungannya. Meski lelah, meski jengkel, tapi dengan sabar aku tetap mengajari Fadli.
Sebisa mungkin aku mengajari mereka, bahwasannya kita harus selalu menghargai sedikit apapun rezky yang Allah berikan pada kita, selalu bersyukur, dan yang paling penting kita harus bisa membedakan mana yang penting dan mana yang tidak, mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa dikesampingkan, belajar dari pengalamanku, ketika kita merasa berkecukupan, jauh di luar sana ada banyak orang yang kekurangan.
***
Selang waktu, nilai-nilai Fadli mengalami sedikit kemajuan, meski jauh dari kata sempurna aku senang, aku bisa melihat Fadli-ku tumbuh besar, pertama kali mengenal huruf-huruf abjad bersamaku, pertama kali belajar membaca, berhitung, dan menulis bersamaku, juga pertama kali mengenal huruf hijaiyah bersamaku, aku begitu bahagia, kala untuk pertama kalinya Fadli bisa mengucapkan kata ‘A, BA, TA, TSA’ bersamaku.
Bahkan, ketika ada pria yang mendekatiku, dengan lantang aku mengatakan, jika aku sudah memiliki enam orang anak, jika ada pria yang mau menikahiku, maka mereka juga harus mau menerima anak-anakku, itu syaratnya.
Terkadang, ada masa aku khilaf melakukan kesalahan dengan membentak, memarahi, hingga aku terkesan galak, dingin dan kasar. Tapi, semua itu aku lakukan semata-mata agar anak-anakku faham, mana hal yang salah, dan mana hal yang benar, mana yang harus di lakukan dan mana yang tidak boleh di lakukan. Semua yang kulakukan adalah bentuk dari rasa kasih sayangku, agar mereka tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.
Aku tahu, ada banyak cara memberikan nasihat dengan cara yang lebih baik, tapi aku selalu berpikir, cara orangtua dalam mendidik anaknya tentu dengan beragam cara, tapi tujuanku tetaplah sama, yaitu demi kebaikan masa depan anak-anakku.
Suatu hari nanti, jika mereka sudah faham, aku akan meminta maaf pada mereka, bukan berarti karena aku lemah di hadapan mereka, tapi aku juga ingin mengajarkan bahwa meminta maaf dan saling memaafkan adalah cara yang baik untuk mengakhiri masalah.
“Bu! Aku juara olahraga!” teriak Fadli girang, dia berlari dari kejauhan memelukku erat.
“Olahraga apa?” tanyaku lembut.
“Juara Voly ball” ucapnya bangga, aku mengangguk, aku baru sadar Fadli memang tidak pandai dalam pelajaran sekolah, tapi dia memiliki keahlian lain, dia selalu juara ketika mengikuti lomba yang berhubungan dengan fisik, mungkin itu kelebihannya.
Aku bahagia, sangat bahagia, bahkan seringkali aku berfikir mungkin aku tidak butuh siapapun, aku hanya butuh anak-anakku ada di sampingku, itu saja sudah membuatku sangat bahagia.
Tapi ... rupanya bahagiaku bersama Fadli-ku hanya sesaat, setelah sekian purnama aku menghabiskan waktu bersama Fadli, orangtua kandung Fadli datang, mereka bilang usaha yang mereka jalankan sudah maju, dan mereka berniat untuk mengambil Fadli kembali, sakit? Iya itu yang kurasakan.
Ku tatap bocah kelas enam SD tersebut, ku belai dengan sayang kala dia tertidur, setetes air mata jatuh tepat di tangannya yang tengah aku genggam, ikatan kasih sayang itu nyata, aku ingin Fadli menjadi putraku saja, tapi ... aku tidak bisa egois, Fadli hanya titipan, kapanpun aku harus rela melepaskannya, untuk diserahkan kembali pada orangtuanya. Darah lebih kental daripada air, Fadli tentu saja ingin kembali pada kedua orangtuanya.
Masih teringat jelas kala Fadli sakit demam, aku menjaganya sepanjang malam, kala Fadli mengamuk di minimarket karena menginginkan mainan yang berharga lumayan tapi aku tidak memiliki uang, kami jadi bahan tontonan orang-orang, kala Fadli susah makan aku mengejarnya dengan sepiring makanan. Kala Fadli di khitan, dia menangis sepanjang malam, lalu mengatakan dia ingin hadiah dariku, saat aku tanyakan hadiah apa yang dia inginkan, dia bilang ingin pergi bulan madu ke Mini market buat beli kinderjoy, aku tersenyum dalam tangisku kala mengingat semuanya, aku harus ikhlas melepas Fadli, dia harus bahagia bersama orang yang lebih berhak dariku.
Kini, Fadliku sudah menginjak kelas dua SMA, dia sangat tampan juga ramah, begitu lembut juga sopan, sedewasa apapun Fadli sekarang, dimataku Fadli masihlah anak-anak, dia tetaplah Fadli-ku yang manja, yang selalu sulit diajari.
Kini, doa-doa itu tak pernah luruh dari bibirku. Harapanku, semoga Fadli dan jagoan-jagoanku yang lainnya, tumbuh menjadi orang yang berguna dan bisa membanggakan aku sebagai Ibu asuhnya.
.
.
Ruang Rindu, 11 Juni 2021
Untuk putra dan puriku tersayang, semoga kalian selalu ada dalam lindungan Allah SWT.