Suatu hari, Azlen dan kakaknya, Alan, bermain di depan sebuah rumah kosong, dengan dinding bata merah yang tampak terbengkalai sekian lamanya, di dekat rumah mereka.
Tiba-tiba mereka mendengar suara bergemerisik dari dalam rumah. Kakaknya minta Azlen untuk tetap tinggal di luar dan dia masuk ke rumah merah itu sendirian.
Tiba-tiba kakaknya berteriak "Aahh..." dan kemudian tidak ada suara lagi. Keheningan sempat merebak sejenak sebelum akhirnya Azlen tersadar kalau mungkin sesuatu telah terjadi pada kakak-nya dan dia pun berteriak memanggil: "Kakak! Kakak!! Kak Alan, apakah kau baik-baik saja?"
Karena tidak ada jawaban, Azlen memberanikan diri mendekati pintu yang tadi dilewati kakaknya. Dengan jantung yang berdebar kencang dan perasaan was-was, Azlen mendorong pelan pintu depan yang berderit dan masuk ke rumah tersebut.
"Kakak.. apakah kau ada di sini?" bisiknya perlahan penuh ketakutan, sambil terus melangkah lebih dalam lagi dengan langkah berjinjit, mencoba sedikit mungkin mengeluarkan suara.
Tiba-tiba "Duuuaaarr.." suara kakaknya mengagetkan Azlen sambil menutup pintu keras. Lalu terdengar suara tawa kakaknya terbahak-bahak, tampak geli sendiri melihat ketakutan di wajah adiknya dengan mata berair.
Lalu setelah tawanya reda, Alan kembali berkata pajang lebar: "Maaf, aku tidak bisa menahan diri untuk menakutimu, kamu terlalu mudah merasa takut. Apakah masih ada monster-monster di pikiranmu yang kecil itu? Apakah kamu menangis adik kecil? Sudahlah.. Hayu kita pulang saja, hari sudah semakin gelap dan kalau tidak bergegas, mama akan memarahi kita".
Azlen memang sempat membayangkan beberapa jenis monster tadi, namun walau masih kesal dengan kelakuan kakaknya, dia akhirnya tetap berjalan mengikuti kakaknya pulang. Dia tidak menyadari sesosok mahluk mengikuti mereka pulang.
***
Malam itu, Azlen terjaga sepanjang malam sambil berkeringat dingin. Dia merasa ada monster di bawah tempat tidurnya.
Setiap malam terjadi hal yang sama.
Segera setelah Azlen memadamkan lampu di sebelah tempat tidurnya, monster itu mengeluarkan suara-suara aneh di kegelapan sepanjang malam.
Azlen tidak pernah berani untuk melihat ke bawah tempat tidurnya. Dia terlalu takut akibat membayangkan apa yang akan dia lihat. Mungkin monster itu punya banyak gigi taring yang tajam.. atau sepuluh mata dengan tatapan yang menyeramkan.. atau bulu-bulu kasar di sekujur tubuhnya.. atau sayap dan ekor yang runcing.. atau bahkan semuanya!
Di sekolah, Azlen tidak bisa menahan kantuknya. Seringkali membuat gurunya marah, terutama Mrs. Cora, guru yang mengajar Matematika di kelas Azlen.
"Ayo bangun Azlen! Ini sudah ketiga kalinya kau tertidur di kelas." Mrs. Cora menginginkan agar semua muridnya terjaga sepanjang pelajarannya.
Bahkan saat tidak mengantuk pun, Azlen tidak terlalu pandai dengan angka-angka. Saat dia mengantuk, semua jadi lebih sulit lagi.
"Pergi tidur lebih awal, anak muda!" seru Mrs. Cora dengan lantang setiap kali Azlen tampak mengantuk dan salah menjawab pertanyaannya.
Azlen berpikir kalau dia harus bisa menyingkirkan monster dari bawah tempat tidurnya, atau akan mendengarkan teriakan Mrs. Cora setiap hari.
Merasa 3L (lelah, letih dan lesu), Azlen berjalan pulang saat dia melihat sesuatu di etalase sebuah toko buku. Buku tentang Monster. "Mungkin di buku itu ada penjelasan tentang monster di bawah tempat tidur" batin Azlen. Dia pun membeli buku tersebut.
Segera setelah tiba di rumah, Azlen langsung membaca buku itu sampai selesai. Tapi tidak ada pembahasan sedikitpun tentang monster di bawah tempat tidur. Namun ada sedikit tulisan mengenai apa yang dimakan monster, yaitu:
- anak kecil;
- pemburu monster;
- binatang kecil yang berbulu; dan
- kue coklat kering.
Azlen pun mendapatkan ide untuk membuat perangkap. Dia mengambil kue coklat kering dari dapur dan jaring ikan dari kotak memancing ayahnya, mengikat kue tersebut ke mata pancing, menyusun jaring dan jika kue ditarik maka jala akan jatuh ke lantai, memerangkap dan menahan monster di bawah tempat tidurnya.
Lalu Azlen naik ke tempat tidur, memadamkan lampu dan menunggu.
Awalnya, kamar Azlen sangat sunyi, namun sesaat kemudian terdengar suara menggigit, mengunyah dan diikuti dengan suara wussss.. Perangkap monsternya berhasil.
Dengan gugup, Azlen menghidupkan lampu dan mengamati jaring itu. Tiba-tiba terdengar suara kecil berdecit: "Tolong jangan sakiti aku!"
Azlen melihat monster yang sangat kecil berwarna merah bata, terjerat di jaring, tampak seperti boneka saku.
"Aku tidak percaya kalau aku bisa takut padamu," kata Azlen beberapa saat kemudian sambil membantu si monster melepaskan diri dari jeratan jaring.
"Aku tahu," jawab monster itu lirih.
"Aku terlalu kecil untuk menakut-nakuti siapapun. Itulah sebabnya aku mengikutimu dari rumah merah itu dan bersembunyi di bawah tempat tidurmu. Aku tidak mau dilihat siapapun, terutama kakak mu yang iseng itu. Aku adalah monster paling tidak berguna yang pernah ada.. Aku bahkan gagal memperhitungkan perangkap yang kamu buat, padahal rumusnya sangat sederhana.." desah si-monster kecil sambil mulai menangis tersedu-sedu.
Azlen mulai merasa iba pada monster kecil itu, namun tertarik pada kata 'rumus' yang diucapkan si monster.
"Aku hanya asal saja waktu membuat perangkapnya, apakah benar ada perhitungannya?" tanya Azlen.
"Ya," jawab si monster "Aku mungkin kecil, tapi aku tidak bodoh!"
Azlen mendapat ide bagus, yang membuatnya tersenyum sepanjang malam, bahkan saat sedang tidur.
***
Azlen bahkan tetap tersenyum keesokan harinya di sekolah saat Mrs. Cora memulai pelajaran.
"Azlen," seru Mra. Cora, "Berapa sembilan kali delapan?"
"Tujuh puluh dua." jawab Azlen percaya diri.
Mrs. Cora tidak percaya pada apa yang dia dengar. "Oh, itu benar," katanya dengan lirih. Dia pun bertanya pada Azlen soal demi soal.
Azlen menjawabnya satu per satu dengan benar.
Mrs. Cora sangat kagum. "Bagus Azlen," katanya. "Benar-benar kemajuan yang mengejutkan!"
Azlen tersenyum sendiri.
Matematika menjadi jauh lebih mudah saat kamu punya monster pintar, yang bisa membisikkan jawaban soal, di kantong baju sekolahmu.
***
Semoga suka ya dengan imaji sederhana ini, sasip memang sangat tidak berpengalaman dalam membuat cerpen bergenre horor dan thriler, kalaupun memaksakan membuat cerita, maka akan seperti ini saja kisahnya.. 😅
Tolong kasih ❤ dan terima kasih.. 🙏🏻