Ganendra Anak Perkasa
Jawa Dwipa adalah tanah leluhur yang sangat kuat aura mistisnya. Sejak dahulu kala manusia dan bangsa lelembut atau siluman hidup saling berdampingan. Akan tetapi perselisihan antara bangsa manusia dan siluman tidak akan pernah dapat dihindari. Manusia menganggap siluman pembawa petaka dan menebar angkara murka. Sedangkan siluman beranggapan bahwa manusia adalah makhluk lemah yang tidak pantas ditasbihkan menjadi pemimpin di dunia. Berawal dari pemikiran seperti itu, dua kubu yang berbeda alam saling menyerang satu sama lain. Bahkan pertempuran terjadi hingga ratusan tahun.
***
Di sebuah pinggiran hutan, Desa Kademangan yang termasuk wilayah kekuasaan Kerajaan Majapahit. Seorang anak lelaki berkulit putih dengan mata bulat tajam sedang berlatih olah kanuragan. Usianya diperkiran sekitar 10 tahun. Anak lelaki itu berlatih dengan tekun. Meski keringat mulai bercucuran dan dengan nafas naik turun, Si anak lelaki masih memperagakan beberapa jurus. Baik memukul ataupun menendang. Tekadnya untuk belajar ilmu kanuragan terpancar kuat dari pancaran matanya. Di temani hembusan angin yang mendayu-dayu terdengar kidung sayup-sayup.
apan ikang pura len swawisaya kadi singha lawan sahana
yan rusaka thani milwa ng akurang upajiwa tikang nagara
yan taya bhrtya katon waya nika paranusa tekangreweka
hetu nikan pada raksan apageha lakih phala ning mawuwus
(Negara dan desa bersambung rapat seperti singa dan hutan,
Jika desa rusak, negara akan kekurangan bahan makanan,
Kalau tidak ada tentara, negara lain mudah menyerang kita,
Karenanya peliharalah keduanya)
“Hya! Hya!” suara semangat terlontar dari bibir mungil Si anak lelaki. Kuda-kudanya terlihat kokoh. Pukulannya begitu keras. Otot lengan, kaki maupun dadanya mulai terlihat bentuknya. Anak lelaki itu bernama Ganendra yang memiliki arti pasukan dewa. Ganendra dibesarkan oleh ayah angkatnya yang berkedudukan sebagai demang di daerah Kademangan, bernama Demang Adiwilaga.
Semenjak berusia lima tahun. Ganendra memiliki ketertarikan belajar olah kanuragan. Sang ayah angkat melatihnya sejak usia dini, karena melihat potensi dari seorang Ganendra. Anak yang cerdas, cepat menangkap kawruh (*pengetahuan) yang diajarkan oleh ayahnya. Kini, di usianya yang ke 10 tahun, Ganendra sudah menguasai beberapa jurus bela diri. Semangat dan keberanian seorang Ganendra tak lagi diragukan.
Hari itu, seperti biasa Ganendra terlihat berlatih ilmu kanugaran. Mengatur pernafasan dan mengendalikan gerak ritme tubuhnya. Sehingga dalam hitungan singkat ia dapat mempraktekan Ajian Saipi Angin. Ajian ini dapat membuat penggunanya dapat melayang di udara dan bergerak dengan cepat. Ganendra melayang dan melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Ia terlihat lincah bergerak dengan mudah ke sana kemari. Senyum mengembang dari sudut bibirnya. Seolah ia puas dengan hasil latihannya.
Ganendra yang merasa cukup berlatih, segera turun dari atas pohon dan menjejakkan kakinya ke tanah. Otot dadanya yang mulai terbentuk tercetak sangat jelas. Rambutnya yang hitam dengan sedikit bergelombang dibagian bawah dibiarkan tergerai. Kehidupan pada masa Kerajaan Majapahit tetap membiarkan rambut tetap panjang. Meski seorang lelaki sekalipun.
Bagian tubuh atas Ganendra tidak ditutupi kain atau dengan kata lain bertelanjang dada. Sementara bagian bawahnya ditutupi dengan kain yang memiliki motif seperti bunga. Untuk mengencangkan kainnya, digunakan kain tipis atau linen yang dikencangkan di sekitar perut. Kain semacam ini disebut selendang. Ia juga tak mengenakan alas kaki. Di kepalanya ia ikatkan sebuah kain berwarna putih.
Seusai berlatih, Ganendra beristirahat sejenak di bawah pohon sembari menegak minuman. Minuman yang airnya ia simpan pada sebatang bambu. Batang bambu yang sudah dibersihkan dan dibuat seperti wadah air. Lantas ditambah dengan tali yang bisa di selempangkan di bahunya. Saat Ganendra meneguk minumannya. Terdengar suara sayup-sayup seseorang meminta tolong. Telinga Ganendra yang sangat peka mendengar dengan seksama. Matanya yang bulat tajam mengamati sekitar. Tak jauh dari sana, di dalam hutan terlihat burung-burung tiba-tiba beterbangan. Ganendra waspada dan menggunakan Ajian Saipi Angin menuju tempat di mana burung-burung beterbangan. Gerakannya sangat lincah. Hingga ia bisa melompat dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat.
“Tolong! Tolong!! Tolong!” terdengar seorang lelaki sedang berlari di kejar siluman berwujud celeng (*babi hutan).
“Khu khu!! Manusia lemah, hendak lari ke mana kau? kemarilah akan aku jadikan kau santapanku ha ha ha!!” ucap siluman celeng yang bernama Bajradaka.
Lelaki yang dikejar Bajradaka merupakan salah satu penduduk Kademangan. Ia yang terjatuh karena tak melihat ada batu di depannya. Hanya bisa merayap-rayap di tanah. Wajahnya terlihat pucat pasi karena ketakutan.
“Dhuh…. Hyang Widhi, tolonglah hambamu ini.” lelaki tadi memohon pada Sang Pencipta untuk menolongnya.
“Ha! Ha! Ha! Sang Dewata Agung pun tidak akan mendengar permohonanmu, karena sejatinya manusia lemah sepertimu hanya akan menjadi santapanku!” suara Bajradaka menggema di dalam hutan.
Tangannya yang seperti cakar mengarah tepat di leher Si lelaki. Namun, belum sempat cakar itu mengenai sasarannya. Tiba-tiba sebuah tendangan mendarat tepat di punggungnya. Tubuh Bajradaka berdebum keras menghantam tanah.
“Kurang ajar!!!” umpat Bajradaka bergegas berdiri. Mencari siapa yang berani menendangnya seperti itu.
Matanya yang bulat lebar dengan siung panjang yang keluar dari hidungnya menyeriangi penuh amarah.
“Aku di sini siluman jelek.” ucap Ganendra tanpa rasa takut.
Bajradaka yang melihat di depannya hanya seorang anak lelaki. Hanya bisa tertawa terbahak-bahak. Perutnya yang tambun terlihat naik turun mengikuti suara tawanya. Lelaki desa yang tadinya di kejar Bajradaka segera bangkit dan bersembunyi dari balik pohon. Mengamati apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Wahai siluman jelek, kenapa kau tertawa? Apa kau merendahkanku?!” tanya Ganendra lantang.
“Ha! Ha! Bocah bagus…. Bocah bagus…. Sebaiknya kau ikut saja denganku. Jadilah santapanku untuk malam hari. Pasti kau akan menjadi makan malam penutup yang lezat untukku.” Bajradaka tertawa penuh kebahagiaan. Merasa dirinya sangat beruntung karena mendapatkan dua santapan sekaligus.
Ganendra hanya menyunggingkan senyum di sudut bibirnya. Lalu tanpa banyak bicara, ia segera menggunakan Jurus Saipi Angin dan bergerak dengan cepat menuju ke arah Bajradaka. Memberikan tendangan keras yang tepat mengenai mulut siluman celeng.
“Arghhhht!!!” Bajradaka terhuyung sambil meringis kesakitan memegangi mulutnya.
“Dasar bocah, aku akan melumatmu dan langsung menelan tubuhmu itu ke dalam mulutku.” ucap Bajradaka penuh amarah. Lantas merengsak ke depan dan bertarung dengan Ganendra.
Ganendra tak bisa dipandang sebelah mata. Ia mampu menangkis serangan Bajradaka. Bahkan memberikan serangan balasan. Bajradaka melihat Ganendra bukan sembarang bocah. Ia tak lagi meremahkannya. Keduanya bertarung dengan sengit. Saling memukul atau menendang. Saling mengeluarkan jurus andalan.
Bajradaka yang tak ingin kalah dari Ganendra si bocah ingusan, segera menggunakan Ajian Malih Rupa yang membuatnya kembali berwujud seperti celeng yang besar. Mulutnya lebar dengan siung panjang yang keluar dari hidungnya. Lalu dengan kekuatan penuh meluncur ke arah Ganendra dan menubruk dengan keras.
“Arghhtttt!!!” suara erangan Ganendra mengiringi tubuhnya yang terlempar ke udara dan kemudian membentur pepohonan dengan cukup keras.
Crat!!!
Ganendra memuntahkan darah segar. Ia memegangi dadanya yang kesakitan. Tepat di depannya, Bajradaka menggunakan Ajian Malih Rupa dan berubah menjadi manusia berwujud celeng. Sembari menyeriangi dengan bengis. Cakarnya siap meremukkan kepala Ganendra. Ganendra yang tak takut apapun, segera meluapkan emosinya. Tiba-tiba amarahnya memuncak. Darah dalam tubuhnya terasa menggelegak. Di saat bersamaan, di lengan kirinya muncul sebuah titik hitam. Lama kelamaan titik hitam berubah menjadi sisik-sisik seperti sisik ular yang merayap di seluruh lengan kirinya.
“Hyaaaaa!!!!” Ganendra berteriak keras dan matanya berubah merah. Rambut yang tadinya berwarna hitam perlahan berubah menjadi putih. Kepulan asap hitam yang penuh energi keluar dari tubuh Ganendra.
“Hyaaaa!!!” teriak Ganendra sampai kepulan asap itu mengenai tubuh Bajradaka dan membuatnya terpental keras.
Lelaki desa yang tadi hendak di mangsa Bajradaka hanya melihat dari balik pepohonan dengan perasaan takut. Kakinya tak dapat ia gerakkan sama sekali. Seolah kakinya berubah menjadi patung.
“Bocah kurang ajar! Siapa kau sebenarnya hah?!” umpat Bajradaka penuh amarah. Melihat perubahan tubuh dan kekuatan yang di alami Ganendra. Kekuatan ini bukan berasal dari kekuatan manusia melainkan dari kekuatan siluman yang begitu besar.
Ganendra tak menjawab, hanya pancaran mata penuh amarah dan kebuasan yang terlihat. Tubuhnya di penuhi kekuatan besar.
“Aku akan membunuhmu bocah tengik!”
Bajradaka menggunakan Ajian Malih Rupa dan berubah kembali menjadi celeng yang sangat besar. Kemudian mengerahkan kekuatannya dan berlari sekuat tenaga ke arah Ganendra. Ganendra dengan mata merah penuh amarah tak gentar sama sekali. Ia menahan serangan Bajradaka hanya dengan menggunakan tangan kirinya yang telah berubah seperti cakar naga.
“Hyaaa!!!”
Suara teriakan keduanya menggema di seluruh hutan. Adu kesaktian yang tak dapat dihindari. Keduanya memiliki kekuatan besar. Namun, Ganendra terlihat lebih unggul. Ia segera mengerahkan kekuatan di tangan kirinya dan kemudian mencekik leher Bajradaka. Bajradaka meronta sekuat tenaga. Namun itu sia-sia dan dalam hitungan kedipan mata. Ganendra melumat tubuh Bajradaka dengan tangannya. Hingga membuat tubuh Sang Siluman hancur berkeping-keping.
“Hyaaa!!!!” teriak Ganendra begitu keras.
Aura siluman sangat kuat menyelimuti hutan tersebut. Si lelaki desa semakin ketakutan menyaksikan peristiwa di depan matanya. Tanpa banyak berpikir lagi. Ia segera berlari meninggalkan tempat itu. Lelaki desa tadi hendak mencari bantuan Demang Adiwilaga.
Ganendra masih terlihat di selimuti asap hitam. Namun tiba-tiba tubuhnya terjatuh dan tak sadarkan diri. Perlahan, tangannya yang bersisik dan bercakar naga kembali seperti semula. Rambutnya yang memutih kembali hitam seperti sedia kala. Matanya yang memerah pudar dengan sendirinya. Ganendra terlihat memejamkan mata. Seolah tubuhnya belum mampu menerima kekuatan besar.
Siapakah sebenarnya Ganendra? Kenapa dia bisa memiliki kekuatan sebesar itu?