Judul : Help Me!
Cuaca pagi ini begitu indah terlihat begitu indah, sekarang adalah bulan Maret yang mana sekarang adalah musim kemarau/panas.
Study kampus telah usai, kemarin adalah hari kelulusannya. Setelah membuat perjanjian di bulan lalu mereka sekarang mereka akan menepati nya. Terparkir dua mobil di halaman rumah tersebut. Terlihat sekelompok anak muda sedang bercengkerama sesama temannya.
“Hallo guys, hari ini kami akan mendaki di gunung Merapi yang terletak di Boyolali, Jawa Tengah. “ ucap seorang pemuda bernama Nando dengan kamera vlog nya.
“Ayo guys, say hay dulu ... “ teriak nya kepada teman-temannya.
Ia mengarah kan camera tersebut ke arah teman-temannya. Dengan senyum mengembang satu persatu mengucap kan hay/hallo ke pada benda tersebut.
“Stay tune terus di chanel you tobe ku, byee semua ... “ ucap nya segera menutup kamera nya tersebut.
“Nan, ayo buruan entar keburu siang” teriak wanita berambut sepundak yang tak lain adalah Rani.
“Okey, semua nya udah siap kan, makanan, minuman, tenda, alat masak dan kebutuhan lainnya seperti senter, powerbank ?” tanya Aksa selaku ketua di tim mereka.
Mereka semua mengangguk. Sebuah usulan terdengar dari salah satu dari mereka.
“Sebaik nya kita guna in satu mobil aja, biar gak ribet entar” ucap Putri.
“Oke lah kalau gitu guna in mobil Rani aja, oke teman-teman barang-barang yang di mobil Nando kita pindah kan ke mobil Rani” ucap Aksa, seraya meminta persetujuan dari Rani, anggukan dari rani menandakan bahwa Ia setuju. Setelah itu semua barang di pindah kan.
Mobil mereka jalan, mereka berlima sangat senang memang ini yang sudah di mimpikan sejak lama. Suara sahut-menyahut terdengar dari mulut mereka yang membuat riuh suasana mobil tersebut.
Setelah beberapa jam menembus jalanan, akhir nya mereka berada di tempat tujuannya.
“Ada baik nya sebelum berangkat kita berdoa dulu, “ saran Dilla.
Setelah berdoa menurut kepercayaan masing-masing mereka berjalan menembus hutan yang rimbun. Keeksotisan gunung tersebut terlihat saat sudah berada di dataran yang tinggi. Tak lupa mereka mengeluarkan satu persatu gadget mereka, mengabadikan momen yang indah tersebut.
Hari tampak sudah gelap akhir nya mereka menghentikan perjalanan mereka, membangun tenda di dekat sisi tebing gunung.
“Wah gila sunset nya bagus banget” Teriak Aksa kala takjub melihat pemandangan yang super indah nya.
Jam menunjukkan pukul 06:39 WIB. Aksa dan Rani mencari keberadaan sumber mata air dan Dilla, Putri, dan Nando membuat tenda. Setelah semua nya selesai dan mata air juga sudah di temukan masing-masing dari mereka segera membersih kan diri. Setelah itu mereka Shalat yang mana di pimpin oleh Nando. Sedang kan Aksa menghidupkan Api unggun karena ia merupakan seorang Non-muslim. Aroma makanan pun tercium di hidung mereka kala perempuan bertugas memasak, setelah itu mereka memasak. Setelah menikmati makan malam mereka berkumpul di sekitar api unggun.
Malam begitu gelap, hanya cahaya sang rembulan yang menyinari.
“Rani, belum tidur?” tanya Aksa saat ia melihat seseorang sedang menatap langit
“Belum nih, belum ngantuk gua lu nya sendiri?” tanya nya balik saat melihat Aksa duduk di samping nya
“Tadi niat nya sih mau buang air kecil, tapi udah siap kok” jawab Aksa kepada Rani
“Yaudah gua, deluan ya masuk. Udah ngantuk soal nya” pamit Rani meninggal kan Aksa, masuk ke dalam tenda teman-temannya.
Tak terdengar suara ayam, hanya kicauan burung kecil mengusik tidur panjang mereka, setelah membersih kan diri dan tempat tersebut mereka melanjut kan perjalanan mereka. Tujuan mereka adalah lereng bukit Gunung Merapi, yang kata nya ada danau indah di sana.
Masing-masing sibuk dengan aktivitas nya, Nando dengan kamera vlog nya, Putri yang bergelayut manja di tangan Aksa yang sedari tadi mengeluh, Dilla dengan muka datar nya memperhatikan hutan tersebut, dan Rani dengan sedikit takut pada hewan melata.
“Aksa, di badan lu ada ulat” teriak Rani dengan ketakutan. Aksa yang merasa geli tak henti-henti nya melompat hingga pada akhir nya ulat tersebut jatuh.
“Jangan injak, biar kan mereka hidup” teriak Dilla saat melihat aksi Aksa yang ingin menginjak hewan tersebut. Mati tak bergerak lagi, hewan tersebut sudah mati di injak nya deluan. Deretan gigi nya yang ia tunjukkan.
Aksa berpacaran dengan putri sudah dibilang cukup lama sekitar 2 tahunan, mereka yang selaly bermesraan tak kenal tempat dan Nando dan Dilla baru enam bulan, tapi aneh nya tak ada kesan romantis dari mereka tapi hubungan mereka tetap awet.
Saat di perjalanan Rani melihat benda berkilau ia segera mengambil benda tersebut yang hampir mirip dengan batu berlian. Kemudian ia kenakan, ia terkejut saat teman-teman nya memanggil nya dan ia posisi nya sangat jauh. Berusaha melepaskan benda tersebut namun tak berhasil ia segera berlari menuju teman-temannya. Sesekali mereka beristirahat sejenak melepas kan penat mereka.
Mereka sampai pada sore hari terlihat matahari condong ke Barat. Akhir nya mereka sampai di tempat tujuannya. Setelah itu mereka membangun tenda untuk istirahat. Ke elokan Gunung tersebut terlihat ketika sudah berada di atas puncak nya, sungguh indah ciptaan Tuhan semesta.
Karena per stokan kayu mereka tak cukup untuk nanti malam akhir nya Rani memutus kan untuk mencari kayu. Saat berada di tengah-tengah hutan rimbun ia melihat seorang perempuan lengkap dengan baju daki nya.
Setelah bercengkerama cukup lama perempuan tersebut pun menawarkan makanan kepada Rani. Tanpa ada sedikit pun ke khawatir ia menerima makanan tersebut. Malam telah menghampiri udara terasa begitu sejak, bunyi gamelan beralun-alun di telinga mereka membuat mereka sedikit merinding. Penampakan Kuntilanak membuat mereka berlari pontang-panting mereka semua berpencar. Rani tergelingsir, saat menyadar kan diri ia sudah berada di sebuah rumah.
“Pak saya di mana, teman-teman saya di mana?” tanya nya saat ia tersadar dari bangun tidur nya.
“mungkin mereka dalam perjalanan kemari” ucapan pria tua tersebut membuat diri nya sedikit tenang.
“Kita akan berangkat sebentar lagi” ucap nya meninggal kan Rani sendiri, suasana begitu ramai seperti pada umumnya ia tak dapat berpikir jernih sekarang, ia heran bukannya ia sedang berada di hutan.
“Maaf pak, saya tidak bisa masuk ke sana. Saya Islam pak” ucap nya menolak saat ia melihat kuil di depan nya.
“Tak apa masuk lah, ada seseorang yang perlu di kenal kan” ucap nya.
Rani mengikuti beberapa ritual di sana, katanya sebagai tamu baru di desa ini. Ia mengikutinya saja sebagai toleransi nya.
Setelah hari esok nya aku di ajak pergi lagi, yaitu kali ini merendam kan diri disungai dengan bunga menjadi aroma wewangian dan beberapa orang berpakaian putih mengucap kan mantra tersebut, saat ia tanya yaitu untuk pengusiran roh jahat dan membuka alam untuk kehidupan selanjut nya. Walau ia tak mengerti ia hanya mengikuti beberapa ritual nya.
Beda dengan teman-teman nya yang sudah berhari-hari mencari keberadaan Rani.
“Yaudah kita tinggal kan aja dia, mungkin dia udah di makan hewan buas” ucap Nando membuat Aksa naik darah, terjadi lah perkelahian.
“Kita pergi bareng Rani, pulang juga harus bareng dia” ucap Aksa melayang kan satu pukulan ke wajah Nando. Darah segar keluar dari sudut bibir Nando.
“Lu peduli sama dia karena lu cinta kan?” teriak Nando dengan senyum nya menghina Aksa
“Ini gak ada sangkut paut nya dengan masa lalu gua!” teriak Aksa
“Halah, bilang aja lu masih suka sama Rani” satu tinju an lagi mengenai wajah Nando.
“Kalau kalian berantem Rani ga bakalan ketemu!” Teriak Dilla melihat Nando sudah berlumuran darah. Setelah itu mereka melanjut kan perjalanan lagi.
Setelah pulang dari sungai tersebut Rani di ajak berkeliling Desa, sungguh indah desa ini terbilang masih begitu klasik. Hari berlanjut Rani di bawa ke kuil lagi, hari ini ia di minta mengikuti ucapan yang di lontar kan sang tetua. Gamelan terus beralun membuat diri nya semakin berat seperti seseorang yang ingin masuk ke tubuh nya untuk ikut menikmati alunan musik. Seperti orang kesetanan iya berjoget-joget di sekitar situ, dalam penglihatan nya semua berubah, manusia seperti zombi, bentuk mereka berubah ada yang seperti ular, macan, kuda dan ular tlsetengah monyet terlalu banyak variasi sangat menyeramkan makanan seperti bangkai, dan nasi seperti belatung, namun pada diri nya sekarang tak ada rasa takut sedikit pun seperti diri nya menjadi bagian dari mereka.
Setelah lelah diri nya terjatuh dan tak sadar kan diri. Ke esok hari nya ia di rias bak pengantin. Semua nya menjadi normal. Namun saat ia mau di nikah kan tak sedikit pun ada penolakan pada diri nya. Acara begitu ramai dan riuh alunan musik menggema Mengubah pandangannya seperti semula , manusia seperti zombi darah berceceran di mana-mana, dari kepala puntung, tanpa kaki, tanpa lengan sampai ada yang bola matanya copot namun masih menggantung. Setelah acara tarian musik sekarang adalah waktu nya ia mengucap kan janji suci supaya terikat pernikahan.
“Rani, plis jangan lanjut in” terdengar suara Aksa memanggil nya dari balik pohon. Ia yang tersadar dari tidur nyata nya melihat pemandangan yang begitu mengejut kan, bau darah yang begitu anyir dan sosok monster besar dengan wajah seram berada di samping nya, hampir saja Ia berteriak. Saat di pandangi nya Aksa meminta nya untuk diam. Badan nya bergetar hebat air mata satu persatu jatuh. Aksa mengisyarat kan untuk membuka cincin yang ia pakai, dengan berusaha tenaga ia membuka cincin tersebut dan melempar nya Ia pun berlari dari pernikahan tersebut karena rok yang ia gunakan ia mengangkat nya setinggi mungkin mereka berdua berusaha berlari beberapa orang mengejar mereka.
Rani begitu lemah tak sengaja kaki nya tersandung namun segera Aksa membantu nya. Jalanan buntu hanya ada jurang di depan mereka, siluman tersebut sudah hampir dekat
“Ayo lompat, “ teriak Aksa yang sudah ngos-ngos an
“ Gak “ jawab Rani ketakutan melihat jurang yang begitu curam
“Pliss Ran, sekali ini aja lu percaya gua. Itu satu-satu nya jalan keluar” Ucap Aksa meyakinkan.
Jarak para siluman tersebut udah hampir menyentuh mereka, seketika Rani menarik tangan Aksa ke dalam jurang tersebut. Membuat diri nya terkejut menyatukan rih nya ke dalam tubuh nya, kepala nya begitu sakit di lihat nya beberapa temannya sedang menatap nya. Rani langsung memeluk mereka, rasa takut nya begitu besar ia menangis tersedu-sedu.
“Di mana Aksa?” tanya Rani ketika merasa salah satu temannya hilang.
“Hanya ada dua kemungkinan lu selamat dia tidak” ucap Nando menunjuk ke arah gundukan tanah .Mata Rani berkaca-kaca buliran air mata ku terus keluar tak menyangka mantan ke kasih nya tersebut menyelamat kan diri nya.
Tak lama kemudian dari dalam gundukan tanah tersebut bergerak, mereka tak percaya bahwa Aksa juga selamat. Setelah itu mereka pulang sampai di rumah dengan selamat.
****
“Kami melihat sebuah gubuk dengan asap mengepul di atas bubung nya” Ucap Dilla mengingat kejadian itu
“di sana kami melihat tubuh elu yang sudah sangat pucat bagai mayat, kata nenek yang punya rumah itu arwah elu di ambil. Katanya kita Ngga boleh menerima makanan dari siapa pun dan cincin yang elu pakai itu cincin pernikahan genderuwo yang kehilangan pengantin nya” tambah Putri
“Desa itu juga kata nya desa siluman, kalau udah masuk gak bakalan bisa hidup lagi” ucap Nando yang bergidik ngeri membayang kan nya
“Disana gua di ajak ke kuil, terus di mandi kan di air mawar yang terakhir di suruh membaca beberapa mantra dan saat gua tanya kakek tua itu selalu bilang syarat masuk desa itu , kalau wajah nya seram banget bau nya anyir banget “ucap Rani berbicara mengingat kejadian yang pernah ia alami membuat mereka yang mendengar nya bergidik ngeri.
“Satu-satu cara menyelamati elu yaitu harus masuk ke dalam dunia mereka dulu yaitu dengan cara mengubur kan diri, tak ada yang berani karena risiko nya terlalu berbahaya jika elu selamat yang satu lagi akan mati. Kemudian Aksa berani in diri masuk ke sana berharap lu terselamat kan, sampai-sampai si ehem cemburu” ucap Putri dengan serius dan berdehem di akhir kalimat.
Orang yang di maksud sudah berubah ekspresi yaitu Putri, Rani senyum kepada Aksa yang telah menyelamat kan diri nya.
Ending
By: Adinda Putri
Semoga terhibur.