Kelas yang menjadi saksi kedekatan mereka. Ravela dan Arka, mereka mulai dekat saat pertama kali masuk kelas VII A. Karena Ravela tak pandai dalam bergaul, ia sama sekali tak memiliki teman dekat dikelasnya. Berbeda dengan Arka, baru saja menjadi murid baru, namun namanya terkenal sampai seluruh penjuru sekolah. Terkenal tampan, kulitnya putih, dan rambutnya sedikit pirang. Yaa, Arka adalah anak blasteran antara Prancis dan Indonesia.
Sedangkan Ravela. Dia terkenal dengan sifat tertutupnya. Tak pernah menyapa kepada siapapun yang menemuinya. Dia selalu menunduk, karena tak percaya diri dengan penampilannya. Kaca mata bundar melekat di wajahnya. Disertai buku novel dengan cover berwarna hitam. Kutu buku, begitulah orang-orang menyebutnya.
SMP negeri 1 , merupakan SMP yang terkenal dengan murid-murid pintar dan berbakat. Perlu banyak usaha agar dapat masuk SMP itu. Bangku-bangku di SMP 1 , selalu menjadi rebutan semua orang setiap tahunnya.
-----------
Hari pertama masuk sekolah...
Seluruh siswa melaksanakan upacara di halaman sekolah. Para kakak kelas memandang wajah adik-adik kelas barunya.
"Lihatt!! Wajah adik kelas kita polos-polos. Astagaa, mereka semua imut sekali !!!" Seru kakak senior kelas VIII.
Yapp,,,, wajah polos mereka semua menjadi sorotan para kakak kelas. Seragam yang dikenakan masih seragam SD. Dengan memakai kalung nama di setiap siswa baru, mereka akan melaksanakan PLS (pengenalan lingkungan sekolah) selama satu minggu pertama.
Saat itu, Ravela dan Arka belum saling kenal. Mereka baru kenal ketika upacara usai dan masuk ke kelas barunya.
.
.
Di kelas VII A, selesai pelaksanaan upacara...
Ravela duduk sendiri sambil membaca buku novel kesukaannya. Kacamata bundar ia kenakan di wajahnya. Rambut bewarna cokelat keemasannya terurai panjang, tanpa diikat. Duduk menyendiri di kursi paling belakang, tanpa ada seorang pun yang mendekatinya.
Arka yang sedang berbincang dengan teman-teman barunya, melirik Ravela, lalu berjalan mendekatinya.
"Heyy Arka, lo mau kemana?" Tanya salah satu temannya.
"Haa? Emm aku mau ke sana sebentar," Jawab Arka, sambil menunjuk Ravela yang duduk sendiri itu. Tanpa pikir panjang, Arka memegang pundak Ravela dan membuat Ravela terkejut.
"Kyaaaa!!!" Jerit Ravela sambil memegang pundaknya. Buku novel yang dipegang, terjatuh ke lantai.
Arka mengambil buku novel milik Ravela dan memberikannya.
"Aduhh maaf mengagetkan mu." Pinta maaf Arka.
"Halo, kenalkan namaku Arka. Kalau boleh tahu, siapa namamu?" Tanya Arka sembari menyodorkan tangan kanannya. Ravela membenarkan kaca matanya, dan meraih tangan Arka.
"Emm, namaku Ravela," Jawabnya lirih. Arka adalah orang pertama yang berkenalan dengan Ravela, membuatnya gemetar karena takut jika Arka tak mau berkenalan dengannya.
Namun sebaliknya, Arka malah tersenyum dan memandang lembut wajah Ravela.
"Wahh namamu indah sekali. Bolehkah aku menjadi temanmu?" Pertanyaan kembali diberikan kepada Ravela. Sungguh, Arka adalah orang yang tampan dan sudah dikenal oleh banyak murid di sekolah. Tapi, kenapa ia memilih gadis culun yang sama sekali tak menarik untuk menjadi temannya? Apa maksud tawaran pertemanan Arka dengan Ravela?
"Tunggu, kenapa kau memintaku untuk menjadi temanmu? Aku, tak mau kau malu jika berteman denganku." Mendengar perkataan Ravela, Arka hanya menggeleng. Kedua tangan Arka, menggenggam tangan Ravela.
"Kamu tak sepantasnya mengatakan hal itu. Aku mau menjadi temanmu, dan berikan aku ijin agar dapat berteman denganmu." Arka memasang puppy eyes di wajahnya. Karena merasa imut, Ravela tersenyum menahan tawa.
Melihat senyum Ravela, Arka ikut tersenyum dan tertawa bersama.
=========
Hari-hari berikutnya, Arka dan Ravela semakin dekat. Keduanya bahkan terlihat lebih akrab. Banyak siswa yang heran dengan Arka. Namun, Arka sama sekali tak peduli dengan pandangan aneh orang-orang di sekitarnya.
Hampir satu bulan berlalu....
Saat itu, kelas sedang kosong pelajaran karena guru ada rapat mendadak. Guru meninggalkan tugas untuk murid-murid. Karena tugas Arka dan Ravela sudah selesai, mereka berdua berbincang.
"Heyy Ravela, kamu cita-citanya apa?" Tanya Arka sambil meyandarkan kepalanya menggunakan telapak tangan dan memandang wajah Ravela. Tempat duduk Arka berada di depan Ravela. Ia memandang Ravela yang ada di kebelakangnya.
"Hmm? Kalau aku mau jadi penulis. Berharap banget aku bisa jadi penulis yang hebat," Jawab Ravela dengan penuh semangat. Arka hanya tersenyum, matanya terpejam membuat ketampanan Arka berlipat-lipat.
"Aku do'akan cita-cita mu tercapai La. Semoga Tuhan mendengar doa dan harapanmu."
Ravela menganggukan kepalanya. Sesaat setelah senyuman terukir di wajah Arka, matanya sedikit mengeluarkan air mata.
"Lohh kamu kenapa nangis Arka?" Khawatir Ravela.
"La, kalau aku bilang besok aku pindah sekolah gimana?"
Mendengar perkataan itu keluar dari mulut Arka, Ravela menggengam tangannya dan wajahnya nampak sangat sedih.
"A-apa? Kamu mau pindah?"
Dengan berat hati, Arka menganggukan kepalanya. Jika ia harus berpisah dengan Arka, siapa yang akan menjadi temannya lagi? Siapa yang akan menemani hari-hari nya? Saking sedihnya, Ravela tak bisa berkata. Ia hanya menggigit bibir bagian bawah, menahan matanya agar tak mengeluarkan air mata. Kenapa, baru satu bulan bertemu, kenapa mereka harus berpisah?
"A-aku akan pergi ke Perancis. Aku kesana karena perintah orang tuaku. Kamu tahu kan, tempat ku lahir juga disana. Sudah hampir 7 tahun aku disini, namun secara tiba-tiba aku disuruh kembali. Aku mohon, kamu jangan sedih La,"
Arka memegang kedua pundak Ravela. Dengan cepat, Ravela memeluk Arka. Tak peduli dengan sorakan para penghuni kelas, karena keduanya kini sedang berelukan. Ia tak tega harus berpisah dengan teman akrabnya. Namun, ini adalah hak Arka. Hak yang sama sekali tidak bisa di ganggu gugat oleh siapapun. Ravela hanya berharap yang terbaik untuk Arka.
==========
Keesokan harinya, Arka mengurus surat perpindahan sekolah. Ravela meminta ijin agar tak sekolah karena ia ingin menghampiri rumah Arka dan mengucapkan salam perpisahan.
Saat Arka masuk ke mobil dan hendak menjalankan mobilnya menuju bandara, Ravela berdiri tepat di depan mobil dan hampir saja tertabrak. Namun sopir Arka berhenti tepat sebelum mengenai Ravela.
"Astaga, Ravela?"
Arka turun dari mobilnya dan menghampiri Ravela. Dengan cepat, ia meraih lengan Ravela dan menariknya ke pelukannya.
"Hikss,,, a-aku sedih kamu pergi. Siapa lagi yang mau jadi temanku?"
"Ravela, kamu jangan nangis. Cup cup, aku bakal terus jadi temanmu La."
Arka masih saja memeluk Ravela. Ia mengelus ujung kepalanya. Dengan berat hati, Ravela melepas pelukannya dan menyodorkan sebuah buku kepada Arka.
"I-ini buku novel kesukaanku. Yang sering aku bawa, dan aku baca. Aku harap kamu bisa terima ini, sebagai yang terakhir dariku."
Kalimat itu keluar dari mulut Ravela, tangannya menyodorkan sebuah buku novel dengan cover bewarna hitam. Itulah buku yang tiap saat melekat erat di kedua tangan Ravela.
"Aku mohon, kamu simpan dengan baik. Ini hadiah ku karena kamu, adalah orang yang pertama kali berteman denganku."
Arka menahan tangisnya, tangannya gemetar menerima buku pemberian Ravela.
"Baik Ravela, aku akan menjaga buku ini. Semoga kau sukses, semoga cita-cita mu tercapai La," Ucap Arka lalu mengusap pipinya.
Hari itu, langit siang yang terik menjadi saksi perpisahan Arka dan Ravela. Benar-benar diluar dugaan, mereka sudah saling dekat satu sama lain. Namun perpisahan, sudah terjadi di depan mata.
==========
10 tahun berlalu....
Kini, Ravela berusia 22 tahun. Pekerjaannya tak lain adalah penulis terkenal. Yaaa,,,, Cita-cita Ravela kini telah tercapai. Buku ciptaannya menjadi terkenal sampai sudah di terjemahkan lebih dari 5 bahasa yang berbeda.
Tentu saja Ravela bangga dengan pekerjaannya. Sudah lebih dari 10 judul novel ia ciptakan. Benar-benar, doa yang ia panjatkan bersama Arka 10 tahun lalu didengar oleh Tuhan. Hanya merindu, Ravela sangat rindu dengan sahabat lamanya, Arka.
.
.
Hari ini, adalah hari dimana Ravela akan bertemu dengan para fans nya. Yapp, para fans Ravela akan bertemu dengan penulis buku kesukaannya, dan meminta tanda tangannya.
Sudah hampir sehari full Ravela duduk sambil melihat wajah-wajah penggemarnya. Bahkan saat ini, antrian masih sangat panjang. Karena kelelahan, Ravela minta waktu sebentar untuk istirahat.
Saat berjalan menuju ruang istirahat, seorang lelaki yang tinggi dan tampan berjalan menghampiri Ravela.
"Halo Ravela, ternyata cita-cita mu benar-benar tercapai ya!"
Suara yang terdengar berat, Ravela perlahan menghadap ke belakang. Belum lama ia memandang, wajah ini sangat familiar. Tunggu, siapa dia?
"Kamu-- Kok tahu cita-cita ku? Jangan-jangan---"
Ravela menutup mulutnya yang menganga. Lelaki itu tak mungkin Arka kan? Sahabat lama Ravela, benarkah ini dirimu?
"Haha, kamu jangan terkejut begitu. Aku sudah membaca buku ciptaanmu lho. Saat aku mengunjungi toko buku di Perancis, aku melihat sebuah buku dengan namamu yang tertera di cover buku itu. Kuambil buku novel itu dan membelinya. Cerita mu, sangat mirip dengan kisah kita berdua. Persahabatan yang terpisah, kemudian bertemu lagi di masa depan. Aku terharu membacanya."
Arka menunjukkan buku yang ia beli di Perancis. Buku dengan terjemahan bahasa Perancis, sekarang berada di genggaman tangan Arka.
"Kalau boleh, bisakah aku minta tanda tanganmu, penulis hebat?"
Dengan cepat, Ravela berlari menghampiri Arka dan memeluknya erat. Arka Menggendong Ravela. Terlalu bahagia, Ravela meneteskan air mata bahagianya.
"Kamu-- benar-benar teman yang setia Arka. Kamu kembali pulang untuk menemuiku?"
Arka menganggukan kepalanya. Sesaat ia menurunkan Ravela yang di gendongnya, dan mengambil sesuatu dari saku jas nya.
Lalu, ia berlutut. Meletakkan buku novel itu di sebelahnya, dan mengeluarkan kotak kecil bewarna merah.
"10 tahun lalu kita bertemu sebagai teman. Waktu Berjalan begitu cepat. Aku sangat nyaman ketika berada di dekatmu dulu. Saat ini, aku butuh dirimu untuk menjadi teman hidupku, selamanya. Ravela, will you marry me?"
Rivera tersenyum tulus kepada Arka. Air mata bahagia tak bisa berhenti turun, dan terus membasahi pipi. Dengan cepat, Ravela menganggukan kepalanya dan berkata....
"Yess!! "
Arka sangat bahagia, lamarannya diterima oleh Ravela. Segera, cincin permata itu di pakaikan ke jari manis Ravela. Lalu, memeluk erat Ravela.
•
•
•
"Senang rasanya bisa bertemu kembali denganmu. Garis takdir benar-benar mempersatukan kita. Ayo hidup bersama! Aku akan menjadikanmu wanita paling bahagia. Ciptakan kenangan baru, dan tentunya lembaran hidup baru. Oh ya, cita-cita mu tercapai sekarang. Nama indahmu tertera sampai ke penjuru dunia. Aku terkagum, perjuanganmu berhasil dan membawamu sampai ke titik ini. Oh Cintaku~ aku sangat menyayangimu."
- Arka
"Pertama kali melihatmu, kau mengulurkan tangan mengajakku berkenalan. Kaulah satu-satunya teman. Dan tak kusangka kini kau berdiri di depanku, memasang kan cincin permata di jari manis ku. Ini mengejutkan, tapi juga membahagiakan di satu sisi lain. Beruntungnya diriku. Dan kisah kita, kini lengkap. Bahkan imajinasi yang kutuangkan di salah satu buku ciptaan ku, menjadi nyata. Aku takkan pernah berhenti bersyukur, ayo kita hadapi semuanya bersama!"
-Ravela
•
•
•
❤Tamat❤