Hampir seminggu ini aku ada kelas extra. Bukannya aku bodoh, hanya kurang pinter aja. Aku nggak tau harus jawab apa disetiap pertanyaan yang diberikan padaku. Akhirnya pak Ilham memberikan kelas tambahan.
Aku, Zilong & Donald. Bukannya sombong masuk kelas extra, tapi memang tak ada yang bisa disombongkan.
Hari itu Zilong tidak masuk sekolah, katanya sih dia salah makan, akibatnya perutnya error. Kabar itupun aku dengar dari Donald karena mereka selalu berangkat sekolah barsamaan. Tapi aku nggak percaya mana ada perut error, setahu aku komputer yang bisa error.
Jam udah menunjukkan pukul 5 sore. Aku dan Donald yang sudah menunggu pak Ilham di dalam kelas extra mulai gelisah.
Sesekali kami melihat kearah jam dinding, sudah hampir sejaman pak Ilham tak kunjung datang. Kamipun mulai nggak tenang.
"Nal, balek yuk!"ajakku.
"Tunggu lima menit lagi, kalau pak Ilham nggak kesini kita cabut, " katanya.
"Emmm..," Aku mengangguk.
Sesaat kemudian....
"Nal, ke kantor guru yuk, tanya pak Ilham, hari ini ada kelas tambahan apa nggak," Kataku. Donal mengangguk setuju.
Kami berjalan menyusuri koridor yang mulai sepi. Tak nampak ada orang satupun di sepanjang koridor menuju ruang guru.
" Nal, kok sepi? "Bisikku.
" Iya. Coba lihat, jam berapa sekarang? "Suruhnya.
Aku menoleh jam yang melingkar di tangan kananku.
"Jam 5," Jawabku singkat. Donal berhenti dan menatapku aneh.
Aku bingung ada apa? Kenapa raut mukanya berubah.
"Ada apa Nal, " Tanyaku.
"Tadi kamu bilang jam 5 sekarang jam 5. Apa jam mu mati? " Tanya Donald.
"Loh... Iya mati, " Kataku tak berdosa.
"Bego, " Umpatnya. Kemudian dia mengambil HP yang ada di sakunya, expresinya tak aku sangka.
Matanya melotot, mulutnya mengangah cuman sayang rambutnya nggak sampai berdiri trus ada asapnya.
"Ada apa nal, " Tanyaku.
" Gila ... Ini udah jam setengah tujuh malam," Katanya tak percaya.
" Jadi kita disini udah 2 jaman, oh my god, " Aku ikut kaget dibuatnya.
Terdengar dari kejauhan lolongan anjing malam.
" Aaauuuuuuuuuwwwww...."
"Nal, kok aku merinding ya, " Bisikku sambil memegang tengkukku.
"Jangan ngomong sembarangan, " Bisiknya. Aku tau dia juga ketakutan g mana nggak. Di sekolah, malam malam, nggak ada orang. Wehhhh pasti banyak demitnya. Ya nggak? Iyalah...
Thuk... Thuk... Thuk... Terdengar suara langkah kali menghampiri. Semakin lama semakin dekat. Bulu kudukku merinding. Tanpa sengaja aku mencengkeram tangan Donal dengan kuat.
"Lee, sakit," Teriaknya sambil menghempaskan tanganku.
" Sorry..." Kataku.
"Kamu dengar suara nggak?" Aku berbisik lirih. Donal mengangguk dan merapatkan tubuhnya kearahku.
"Suaranya berhenti setelah kamu teriak, " Tambah ku. Donal mengangguk.
"Orang apa setan?" Bisikku kembali. Donal menggeleng.
Suara itu kembali terdengar mendekat.
Thuk... Thuk... Thuk...
Aku dan Donald saling berpandangan dan merapat. Kemudian pundak kananku serasa berat seakan ada yang mencengkeram dari belakangku.
Dan...
"Woiiiii.... Ngapain jam segini belum pulang?" Suara terdengar dari belakang. Perlahan kami menoleh.
"Pak Ilham??? " Kata kami hampir bersamaan.
" Ngapain kalian belum pulang, ini sudah larut, " Kata pak Ilham.
"Kita nungguin bapak , hari inikan ada kelas tambahan, " Kataku polos.
"Oh iya...Bapak lupa. Maaf tadi bapak sibuk, Kepala sekolah minta laporan hasil studi besok pagi diserahkan, jadi bapak harus menyelesaikan hari ini," Kata pak Ilham sambil menghela nafas panjang.
" Pak, wajah bapak pucat. Istirahat dulu pak," Kataku saat melihat kepenatan di muka pak Ilham.
" Nggak apa- apa, Bapak sudah terbiasa. Oh iya di rumah bapak ada acara selamatan. Kalian datang ya" Kata pak ilham.
"Kapan pak? " Tanya Donal.
"Wah makan makan nih, " Bisikku pada Donal. Pak Ilham tersenyum.
"Sekarang," Kata pak Ilham.
" Siap pak, kami akan kesana," Kataku lantang.
Setelah pak Ilham pamit pergi, aku dan Donal langsung pulang berganti pakaian dan lanjut menuju rumah pak Ilham.
Disana banyak sekali orang yang datang. Tapi entah mengapa aku dan Donal merasa sedikit aneh.
Semuanya memakai baju hitam-hitam hanya kami berdua yang masih menggunakan baju santai.
"Brooo kita salah kostum, " Bisik Donal padaku.
"Iya, tadi pak Ilham nggak ngomong kalau harus pakaian hitam, " Balas ku.
"Trus gmana, kita masuk?" Tanyanya.
"Masuk aja, entar kalau kita balik lagi pasti sudah kehabisan makanan, " Bisiku. Donald mengangguk setuju. Kemudian kamipun masuk dan bersalaman dengan beberapa orang disana.
Kembali hatiku merasa aneh. "Kenapa pada nangis, acara apa ini, "pikirku.
aku memandang Donald dan aku rasa pikiranya sama dengan apa yang aku pikirkan.
" Mungkin keluarga pak Ilham ada yang meninggal dunia. Coba lihat semua pakai baju hitam, dan lihat tuh ada yang berbaring ditutupi sama kain batik, dan semua pada nangis. Bisa disimpulkan kalau ada yang meninggal dunia, " Bisik Donald padaku.
"Inalillahi wainnailaihi roji'un, " Kata kami hampir bersamaan.
"Tumben hari ini kamu pinter Nal, " Pujiku.
" He.. He.. Aku kan emang pinter...Kamu aja belum tau, " Katanya sombong. Kemudian kami mendekati Lola dan berbisik padanya.
" Lol dari tadi kok pak Ilham nggak kelihatan? " Tanyaku pada Lola. Lola menoleh padaku dan tangannya menunjuk kearah tubuh yang ditutupi dengan kain batik dan disampingnya ada beberapa orang laki-laki yang komat-kamit.
Mataku tertuju kearah yang ditunjukkan Lola, tapi tetap aku tak bisa menemukan pak Ilham disana.
"Yang mana Lol, aku nggak bisa lihat, " Kataku pada Lola.
"Yang terbaring dan di tutupi kain, " Jelas Lola.
" Yang bener ...." Aku dan Donald menganga lebar, tak percaya.
" Tadi sore jam 5 pak Ilham kena serangan jantung waktu di kamar mandi trus kepalanya terbentur wastafel dan sekarang dia meninggal di tempat, " Kata Lola sambil menghapus air matanya.
"Hahhhh..."Kata ku dan Donald hampir bersamaan. Kami berdua saling tatap tak percaya apa yang baru kami dengar.
" Jadi yang kita temui di sekolah, Arwah pak Ilham, " Bisik Donald padaku. Aku menelan ludah kering. Muka kami memucat tak percaya apa yang baru terjadi pada kami.
Aku teringat saat aku di toilet sedang mengeluarkan hajat yang sangat sukar untuk ku keluarkan. Saat aku berkonsentrasi penuh, terdengar dari arah luar.
Bruakkk....
Seperti benda jatuh sangat keras. Aku yang didalam saat itu tak mampu keluar karena belum saatnya keluar, jadi aku diam saja di dalam toilet.
Tak berapa lama terdengar dari luar suara ribut-ribut. Aku masih diam saja ditempat.
Dan setelah suasana kembali lengang dan terkendali, aku pun beranjak dari tempatku berada.
Kubuka pintu dan ku dapati pak bon yang sedang mengepel di sekitar wastafel.
Tampak olehku warna merah menggenang disana.
"Mungkin tadi ada yang minum sirup cocopandan dan botolnya terjatuh disana,"Pikirku saat itu.
Dan sekarang aku baru sadar ternyata genangan warna merah itu adalah darah pak Ilham yang terbentur wastafel.
Tubuhku lemas tak berselera makan walau di depan ku sudah ada nasi rames kesukaanku.
#TAMAT#