MAIN CAST BACK TO THE PAST
1. Reon
Pria pemilik mata sipit ini berusia 22 tahun. Kuliah di jurusan Art Design. Memiliki tinggi 170 cm. Seorang anak yatim piatu. Kedua orang tuanya meninggal dunia dalam kecelakaan. Reon diam-diam memendam perasaan pada teman SMAnya yang bernama Irene.
2. Irene
Berusia 22 tahun memiliki wajah bak Dewi Kecantikan. Memiliki tinggi 160 cm. Saat SMA berteman baik dengan Reon. Namun, karena sesuatu hal mereka jadi saling berjauhan. Irene memiliki paras yang sangat cantik dan mempesona. Putri tunggal dari keluarga kaya raya dan ternama. Kuliah di jurusan Management Bisnis.
3. Yerim
Berusia 17 tahun, kelas dua SMA. Memiliki tinggi 160 cm. Dia memiliki wajah yang imut dan cute. Mengaku berasal dari masa depan. Pergi ke masa lalu, karena ingin bertemu dengan Reon yang diakui sebagai Ayahnya.
4. Jin
Berusia 25 tahun. Berasal dari keluarga kaya raya dan ternama. Dia adalah tunangan Irene. KIrene menyetujui pertunangan dengan Keluarga Jin karena sama-sama sepadan.
Pemeran Pendukung:
Joy dan Issei
Mereka berdua adalah teman Irene di kuliah. Joy adalah pacar Issei.. Dia menjalin cinta dengan Issei seorang idol muda yang cukup popular.

PROLOG
Narasi Reon
Apa kalian percaya dengan perjalanan waktu? Seumur hidupku aku tidak akan percaya dengan itu. Bagiku tidak ada keajaiban yang seperti itu. Namun, bagaimana jika tiba-tiba ada seorang gadis berusia 17 tahun muncul tepat di hadapanku dan mengaku dia dari masa depan? Akankah aku mempercayai ini? Mempercayai semua ucapannya? Tetapi bagiku yang paling mengejutkan adalah dia memanggilku Ayah….
Siapakah gadis itu sebenarnya??? Kenapa dia memanggilku Ayah, padahal aku belum menikah. Gadis itu mengatakan sesuatu yang membuat ku terkejut dan memberikan bukti jika benar dia putriku. Sebenarnya misteri apa yang akan terjadi dalam hidupku?
Narasi Yerim
Aku bernama Yerimi. Di usiaku yang tepat menginjak 17 tahun. Langit bermurah hati memberikanku kesempatan kembali ke masa lalu. Bertemu dengan Ayahku dan memperbaiki masa lalu yang berhubungan dengannya. Aku akan berusaha keras mengembalikan kebahagiaan Ayahku.
***
Malam hari yang gelap dan pekat. Mendung hitam sedang menyelimuti ibu kota. Reon masih berada di Toserba tempatnya bekerja.
“Ah, sepertinya akan turun hujan.” Kata Paman pemilik Toserba.
“Sepertinya begitu Paman.” Jawab Reon sambil mengecek barang-barang.
“Aku akan pulang duluan. Jangan lupa mematikan semua lampu dan mengunci pintunya.” Pesan paman pemilik Toserba.
“Tentu saja Paman. Saya akan menelitinya nanti.” Jawab Reon diiringi senyum ramah.
“Baiklah, kau memang bisa diandalkan. Nah, ini ada sekotak nasi untukmu. Makanlah ketika kau pulang nanti.” Kata si paman sambil meletakkan nasi kotak di meja kasir.
Mengetahui bosnya sangat baik hati dan memberikannya sekotak nasi. Membuat Reon berbinar.
“Paman, terimakasih banyak. Terimakasih.” Kata Reon sambil membungkukkan badannya dengan dalam berkali-kali.
“Ah, jangan sungkan. Baiklah aku pulang dulu. Sampai jumpa besok.” Kata si paman sembari keluar Toserba.
“Terimakasih banyak Paman. Hati-hati di jalan. Sampai jumpa.” Jawab Reon sambil membungkukkan badannya. Reon amat bersyukur jika dia mendapatkan nasi kotak dari bosnya. Setidaknya dia bisa menghemat pengeluaran dan bisa menabung nantinya. Untuk biaya di masa depannya kelak. Reon tersenyum lantas segera membereskan barang-barangnya. Mengecek satu persatu barang-barang di Toserba. Tiba-tiba terdengar suara petir bersahut-sahutan.
“Sepertinya akan turun hujan lebat.” Kata Reon lirih. Dia melihat jam di dinding sudah pukul 9 malam lebih. Dia harus bergegas agar tidak kehujanan nanti.
Namun, saat dia berkemas. Tiba-tiba lampu di Toserba berkedip-kedip. Mati… nyala… mati …nyala berulang kali.
“Ada apa ini? Apa lampunya rusak?” Tanya Reon pada dirinya sendiri. Dia terus mengamati lampu yang terus berkedip dan tiba-tiba…
Duar!!!!!
Terdengar suara petir keras sekali.
“Wuaaaa!!!” Teriak Reon sendirian sambil berjongkok di lantai sembari menutup telinganya. Tidak lama kemudian terdengar suara gemericih air hujan turun dengan deras.
Reon langsung melihat lagi jam yang tergantung manis di dinding. Sudah hampir jam 10 malam. Reon harus bergegas jika tidak ingin ketinggalan bus terakhir. Dia langsung memasukkan barang dan nasi kotaknya ke dalam tas. Lalu memakai jaketnya agar tidak terlalu kedinginan. Tidak lupa dia mengambil payung yang sudah disediakan bosnya. Untuk melindungi tubuhnya dari air hujan.
Kemudian mematikan semua lampu yang sekarang kembali normal. Lalu segera keluar Toserba dan mengunci pintunya. Di luar hujan semakin deras dengan kilat yang masih menyala menghiasi langit. Di luar benar-benar sepi karena orang-orang pasti memilih berada di rumahnya saat hujan deras seperti ini. Suasananya membuat Reon sedikit takut. Hujan yang deras, kilat yang terus nampak dan suasana yang semakin sepi. Reon buru-buru mengunci pintunya. Namun, karena dia sedikit panik dan ketakutan. Dia masih belum bisa mengunci pintunya dengan benar. Reon terus mencoba, hingga disaat berhasil mengunci pintunya.
Tiba-tiba ….kilat menyala dan DUAR!!!!
“Waaaaa!!! Astaga!!!!” Teriak Reon keras sambil menutup telinganya. Ia masih berdiri di depan pintu Toserba. Menutup kedua telinganya sambil memejamkan mata.
Saat kilat masih menyala. Tiba-tiba di belakang Reon berdiri seseorang. Di tengah derasnya guyuran hujan. Menatap dalam ke arah Reon. Reon belum menyadari itu.
“Jantungku hampir saja copot. Aku harus pulang sekarang. Sebelum ada lagi yang membuat jantungku lepas dari badannya.” Gerutunya lirih.
Namun, entah kenapa nalurinya merasa tidak enak. Seperti ada yang mengamatinya. Dia mulai merasa aneh seperti ada yang menatapnya. Dia berusaha memberanikan diri untuk menoleh ke belakang meskipun takut. Perlahan dia memutar tubuhnya ke belakang sambil menahan nafas. Pelaaaan sekali….hingga tepat saat dia berhasil memutar tubuhnya tiba-tiba kilat menyala dengan terang.
Lap..Lap…
Saat itu, tepat di depannya seorang gadis memakai seragam SMA tengah berdiri menatapnya. Di tengah guyuran hujan yang sangat deras. Reon langsung terlonjak. Ada seorang gadis tengah berdiri di depannya sambil hujan-hujanan. Reon mengamati dari kepala hingga ujung kaki.
Kakinya masih menginjak tanah. Berarti bukan hantu. Batin Reon merasa lega.
“Astaga!! Kau membuatku takut.” Teriak Reon sambil mengelus dadanya.
“Hei…Hei…apa yang kau lakukan malam-malam begini malah hujan-hujanan. Apa kau tidak takut sakit?” Tanya Reon diantara tetesan hujan yang sedikit demi sedikit mulai reda.
Tetapi gadis yang ada di depannya hanya terpaku menatapnya. Matanya terus memandangi Reon dengan dalam. Reon mengernyitkan keningnya.
“Hei, ada apa denganmu? Jangan membuatku takut.” Sapa Reon.
Namun, tanpa Reon duga. Tiba-tiba gadis yang sedang berdiri di hadapannya memanggilnya.
“Ayah…” Kata gadis itu sambil menatap Reon lekat-lekat.
Mendengar gadis itu memanggilnya Ayah. Reon langsung terbelalak. Dia melihat ke kiri dan ke kanan. Memastikan gadis itu memanggil yang lainnya. Namun tidak ada seorangpun di sana selain dirinya.
“A..Apa?” Tanya Reon pada gadis berseragam SMA yang berdiri tak jauh darinya.
“Ayah…Ayah!!!” Teriak gadis itu lagi.
Reon pikir dia salah dengar. Namun saat gadis itu memanggilnya Ayah dengan menatapnya. Seketika Reon terpaku di tempatnya. Tidak tahu ada apa ini sebenarnya.
“A…apa maksudmu?” Tanya Reon sambil menatap ke arah si gadis di depannya.
Gadis itu hanya menatapnya dan sedetik kemudian dia tersenyum.
“Ayah…aku merindukanmu.” Kata gadis itu lagi sembari tersenyum ke arah Reoni seperti memendam kerinduan yang mendalam.
Reon benar-benar tidak bisa berkata apa-apa selain diam terpaku di tempatnya.
Sebenarnya siapa gadis itu. Batin Reon.
... ***
...
...Bagaimana penasaran kan? Kalau penasaran tetap setia baca cerita author ya. Kalau cerita ini layak dibaca mohon dukungannya. Terimakasih.