‘’Dia yang Menyukai darah’’, ‘’Dia yang Diolesi Darah’’ dan ‘’Dia yang Menikmati Pengorbanan Darah’’.
Terdengar suara nyanyian yang membuatnya tersadar. Dilihatnya tangan dan kakinya terikat rantai di atas sebuah gambar segel di lantai tempatnya berdiri. Ia juga merasakan lehernya dipenuhi darah hingga sosok lelaki muncul tersenyum sambil memainkan rambut gadis itu.
‘’Eve.’’
‘’Mulai ritualnya!’’
DEG!
‘’Hhah? Mimpi itu lagi.’’
Pandangannya tertuju ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 07.20 pagi. Matanya membulat besar menyadari dirinya hampir telat ke sekolah. Dengan cepat, ia langsung menuju ke kamar mandi.
•Ruang Makan•
TING!
Bersamaan 2 buah roti muncul dari panggangan, gadis itu langsung menangkapnya sambil memakai sepatunya.
‘’Itte kimasu(Aku berangkat)!’’
Seorang wanita yang tengah memasak hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
‘’Itte irasshai(Hati-hati)!’’ ucapnya.
‘’Nee-chan pasti begadang lagi karena itulah dia kesiangan.’’ Kata adik laki-lakinya yang sarapan bersama Ayah mereka.
‘’Namanya juga masa remaja, kau jangan seperti kakakmu.’’ Tegur sang ayah yang membaca koran.
Selama di perjalanan, gadis itu berlari sambil menggigit roti dengan rambut panjang putih yang terurai. Telat sedikit saja, ia akan ketinggalan kereta.
‘’Haa, syukurlah masih sempat.’’
Ia pun memakan roti panggang tersebut di dalam kereta.
•Sekolah•
‘’Ohayou Kamiya-san(Selamat pagi, Kamiya).’’ sapa orang-orang di sepanjang koridor.
Kamiya yang merupakan pemilik nama gadis rambut putih itu tersenyum membalas sapaan mereka.
‘’Ohayou minna-san(Selamat pagi, semuanya).’’
•Kelas•
Kamiya masuk dan menuju ke bangkunya sambil menghela nafas.
‘’Ara? Sepertinya Ka-chan begadang lagi.’’ Kata Ono, sosok lelaki yang berjiwa pemimpin.
‘’Bagaimana Kamiya-chan? Apakah kaumenyukai kaset DVD yang aku pinjamkan?’’ tanya Inoue, gadis berambut pendek pirang.
‘’Kaset DVD apa?’’ tanya Taniyama, sosok lelaki berambut hitam bagian bawah dan coklat bagian atas.
‘’Kalau Inoue-san yang memberikan, sudah jelas pasti genre action.’’ Kata Ishikawa, gadis berambut panjang yang selalu memakai syal merah.
‘’Berikan sedikit!!’’ Kata Shimono, sosok lelaki botak merebut roti isi kentang.
‘’Tidak!’’ seru Kobayashi, gadis ikat rambut satu menerjang Shimono.
‘’Aduh, siapa yang berisik sepagi ini?’’ tegur Hosoya, sosok lelaki tinggi berambut pirang.
‘’Siapa lagi kalau bukan Shimono-san dan Kobayashi-san.’’ Kata Hashizume, sosok lelaki tinggi berambut hitam.
Tak lama kemudian, datang 1 sosok laki-laki yang bersama 4 sosok gadis.
‘’Oh? Selamat pagi semuanya.’’ sapa Oosaka, sosok lelaki pemalu.
‘’Sudah seramai ini.’’ tatap Fujita, sosok gadis berambut pendek yang diikat kebelakang.
‘’Kudengar ada murid baru, loh.’’ Kata Mikami, gadis pendek imut berambut pirang sebahu.
Semua langsung menatapnya.
‘’Benar, ‘kan? Shi-chan?’’ tanya Mikami ke gadis yang juga berambut pirang konde satu.
‘’Ya.’’ jawab Shimamura singkat.
‘’Shimamura-chan ini benar-benar dingin, hanya menjawab satu kalimat saja.’’ Kata Park, sosok gadis tinggi ikat rambut satu memakai kacamata.
Saat itu juga guru datang membuat semua menuju ke bangku mereka.
‘’Ohayou gozaimasu, minna-san(Selamat pagi, semuanya)!’’ sapa sang guru.
‘’Ohayou gazaimasu, sensei(Selamat pagi, guru)!’’ balas semuanya.
‘’Hari ini kita kedatangan murid baru, aku harap kalian bisa berteman seperti biasanya.’’
Setelah itu, guru mempersilahkannya masuk. Semua menoleh ke arah pintu begitupun Kamiya. Muncul sosok laki-laki dengan seragam sekolah lain berjalan masuk. Rambut putihnya yang berkilau, bulu matanya yang lentik, warna bibir yang begitu lembut serta bola mata hitamnya yang begitu elegan.
Melihat hal itu, semua yang di kelas terpesona terutama Kamiya.
‘’Silahkan perkenalkan namamu.’’ Kata sang guru.
‘’Hajimemashite, Yuuki Kaji to iimasu(Perkenalkan namaku Kaji Yuuki), Amerika shusshin-desu(Aku berasal dari Amerika), yoroshiku onegaishimasu(Senang bertemu dengan kalian).’’ Kata Kaji.
Semua membalas perkenalan Kaji.
‘’Wajahnya tampan tapi wataknya dingin.’’ Kata Kamiya dalam hati.
Saat itu juga Kaji menatapnya membuat Kamiya terbelalak. Ia menatap ke kiri dan ke kanan.
‘’Apakah dia menatapku?’’ tanyanya dalam hati.
Selama pelajaran, perhatian Kamiya terus mengarah ke Kaji yang fokus ke papan tulis. Inoue dan Ishikawa yang melihatnya merasa curiga. Kedua gadis itu berbisik dan mengoper kertas ke teman-temannya yang lain.
Beberapa jam berlalu hingga bel berbunyi.
‘’Teman-teman, kudengar ada cemilan baru di kafetaria, ayo kita coba.’’ Kata Kamiya mengajak.
‘’Ah maaf, Kamiya-chan, aku dan Ishikawa-chan ada keperluan.’’ Kata Inoue menarik Ishikawa keluar.
‘’Kami harus menghadiri rapat klub saat ini, maaf.’’ Kata Ono bergegas disusul Hosoya, Hashizume, Oosaka.
‘’Taniyama-kun? Kobayashi-chan? Kita harus mengembalikan buku di perpustakaan.’’ Kata Shimono mengambil buku diikuti Taniyama dan Kobayashi.
‘’Mikami-chan? Temani aku ke toilet, aku sudah tidak tahan.’’ Kata Fujita menarik Mikami keluar.
Kamiya hanya terbelalak melihat itu. Ia menatap Park dan Shimamura yang tersisa.
‘’Oh iya, Shimamura-chan, bukankah kita disuruh menghadap oleh guru olahraga? Ah Kamiya-chan, maaf sepertinya kami juga sibuk.’’ Kata Park beranjak pergi.
Shimamura hanya diam mengikut.
‘’Ya sudah, aku akan mengajak mereka besok.’’
Semua teman-temannya selalu mengambil alasan bahkan di saat pulang pun, mereka meninggalkan Kamiya lebih dulu. Hal itu berulang selama 4 hari.
‘’Apa-apaan ini? Mereka seolah-olah sengaja menghindariku!’’ kesal Kamiya.
Pandangannya langsung mengarah ke bangku depan. Selain dirinya di kelas, ternyata Kaji masih duduk dengan tenang di bangkunya. Kamiya hanya menghela nafas dan berjalan ke bangku Kaji.
Kaji yang membaca buku, mendongakkan kepala melihat Kamiya berdiri di depannya.
‘’Kaji-kun? Apakah kau mau pergi ke kafetaria bersamaku?’’ ajak Kamiya.
Kaji hanya diam dengan sebelah alis terangkat.
‘’Aku mengajak teman-temanku ke kafetaria untuk mencoba cemilan baru, tetapi mereka selalu mengambil alasan, hari ini stok terakhir cemilan itu, aku belum mencobanya sedikitpun.’’ Kata Kamiya.
Namun Kaji hanya diam. Lelaki itu menutup buku dan berjalan keluar. Kamiya menghela nafas melihat Kaji menolaknya secara langsung tanpa berbicara.
‘’Apa yang kautunggu?’’ tanya Kaji.
‘’Eh?’’ tatap Kamiya.
‘’Kau ingin ke kafetaria, ‘kan?’’ tanya Kaji sekali lagi.
Kamiya tersenyum dan mengangguk. Ia langsung menyusul Kaji.
Semua orang terbebalak melihat Kaji dan Kamiya berjalan di sepanjang koridor. Selama Kaji pindah, tak pernah sekali pun ia keluar dari kelas, tapi hari ini mereka melihatnya berjalan bersama Kamiya.
‘’Itu murid barunya!’’
‘’Wah tampan sekali.’’
‘’Dia tidak pernah keluar tapi hari ini Kamiya-san bersamanya.’’
‘’Apakah kalian sadar? Kedua rambut mereka memiliki warna yang sama.’’
‘’Ahh sangat serasi.’’
Kamiya mendengar gosip-gosip itu tersipu, berbeda dengan Kaji yang tidak terlalu mempedulikannya.
•Kafetaria•
‘’Wah! Untunglah masih ada satu!’’ girang Kamiya.
Namun salah satu siswi membeli roti lapis rasa lada hitam terakhir itu membuat Kamiya kecewa. Ia berbalik untuk pergi.
‘’Excuse me(Permisi)?’’
Mendengar suara Kaji membuat Kamiya berbalik. Dilihatnya Kaji menghampiri siswi yang membeli roti lapis tersebut. Tak lama kemudian, siswi itu memberikan Kaji roti lapis. Kaji menghampiri Kamiya lalu memberinya.
‘’Untukku?’’ tanya Kamiya.
‘’Kau menginginkannya, ‘kan?’’ tanya Kaji berjalan pergi.
‘’Tapi, apakah tidak apa-apa dengan gadis itu?’’ tanya Kamiya menyusul.
‘’Ya.’’ jawab Kaji.
‘’Kau melakukannya demi diriku?’’
Hanya satu perbuatan kecil itu malah membuat Kamiya langsung jatuh cinta kepada Kaji.
‘’Kaji-kun!’’ panggilnya.
Kaji diam menatap Kamiya.
‘’Bisakah kau memberi nomor ponselmu?’’ tanya Kamiya.
‘’Boleh.’’
Kamiya terbelalak karena Kaji menjawabnya langsung. Ia sangat senang. Semenjak hari itu, Kamiya selalu menghubungi Kaji. Bahkan keduanya tanpa sengaja selalu bertemu saat menuju sekolah. Melihat kedekatan Kamiya dan Kaji, semua teman-temannya langsung mengepungnya.
‘’Oho, sepertinya ada yang hatinya berbunga-bunga.’’ Kata Taniyama.
‘’Mmm, kenapa tidak mengambil alasan lagi?’’ tanya Kamiya dingin.
‘’Hehehe, jangan marah Kamiya-chan.’’ Kata Inoue.
‘’Inoue-san yang menyuruh kami menghindarimu.’’ Kata Ishikawa.
Kamiya langsung menatap Inoue tajam saat yang lain membenarkan ucapan Ishikawa.
‘’Hei! Jangan melemparkan semuanya kepadaku! Kamiya-chan tidak seperti itu, kami hanya ingin memberi kalian waktu bersama.’’ Kata Inoue.
‘’Inoue-san bilang kalau kau sepertinya menyukai Kaji-san, jadi kami mengambil alasan sampai kalian berdua dekat.’’ Kata Ono.
‘’Tapi karena kalian berdua sudah dekat, kami berhenti melakukannya.’’ Kata Shimono.
‘’Jadi bagaimana hubunganmu dengan Kaji-san?’’ tanya Mikami.
‘’Kami semakin akrab.’’ jawab Kamiya.
‘’Kenapa tidak utarakan perasaanmu saja?’’ tanya Park.
‘’Ha? Tidak ada gadis yang menembak laki-laki duluan.’’ Kata Kamiya.
‘’Ho? Apakah kau tidak takut seseorang mungkin akan mendahuluimu.’’ Kata Fujita.
Saat itu juga, seorang gadis masuk membuat semua perhatian teralihkan. Dilihatnya gadis itu menuju bangku Kaji.
‘’Baru saja kita membahasnya, hal itu sudah terjadi.’’ Kata Hashizume memancing.
Gadis itu tampak malu sambil menyodorkan surat kepada Kaji.
‘’Itukan gadis yang pernah kami temui di kafetaria?’’ tatap Kamiya dalam hati.
‘’Sayang sekali Kami-chan, kau didahului senior kita.’’ Kata Hosoya.
Kamiya langsung berdiri dan menghampiri bangku Kaji.
‘’Shitsurei(Permisi)!’’ seru Kamiya.
Gadis itu menatapnya begitupun juga dengan Kaji.
‘’Senpai? Sebaiknya kembali ke kelasmu karena kau sedang memberi surat cinta kepada kekasih orang lain.’’ Kata Kamiya.
Semua teman-temannya melongo mendengar ucapan Kamiya.
‘’Benar, Kaji-kun dan aku berpacaran jadi senpai sebaiknya mengurungkan niat.’’ Kata Kamiya.
‘’Kamiya-san?’’ panggil gadis itu.
‘’Ya?’’ jawab Kamiya jutek.
‘’Sepertinya ada kesalahpahaman di sini.’’
Dahi Kamiya berkerut. Ia menatap Kaji dan kakak kelasnya itu tanda tanya.
‘’Aku ke sini bukan untuk mengutarakan perasaan kepada Kaji-san, tetapi ingin memberinya formulir klub, dia berjanji akan masuk ke dalam klub basket jika aku memberinya roti lapis itu saat di kafetaria.’’
DEG!
Kamiya merasa seperti ada yang menampar wajahnya begitu keras. Rasanya begitu malu setelah mengingat apa yang dikatakannya tadi. Ia meringis kesal sambil menatap ke arah teman-temannya yang sudah menahan tawa.
‘’Senpai! Hontoni gomennasai!(Aku sungguh minta maaf, senior)!’’ bungkuk Kamiya meminta maaf.
Setelah kakak kelas itu keluar, Kaji menatap Kamiya yang sudah sangat pucat. Kamiya merasa sudah tidak punya harga diri untuk menatap wajah Kaji lagi.
‘’Kenapa kau mengatakan hal itu?’’ tanya Kaji.
‘’Ah, itu...’’
‘’Maaf, Kaji-kun! Aku tidak bermaksud mempermalukanmu.’’ Kata Kamiya.
‘’Apa alasanmu melakukan hal itu tadi?’’ tanya Kaji.
Kamiya bingung disertai rasa gugup hingga ia menatap ke arah teman-temannya yang memberi kode agar dirinya mengakui perasaannya saja. Kepalanya kembali menoleh ke arah Kaji.
‘’Karena aku menyukaimu!’’ Kata Kamiya dengan mata terpejam.
Untuk sesaat tidak ada reaksi membuat Kamiya pasrah.
‘’Aku juga menyukaimu.’’
Dengan cepat, Kamiya mendongakkan kepala, memastikan pendengarannya tidak salah.
Kaji mencium bibirnya Kamiya agar membuat gadis itu percaya.
Teman-temannya langsung memberi pasangan itu ucapan. Bahkan sepulang sekolah, Inoue dan yang lainnya langsung mengadakan pesta untuk merayakan hari jadi salah satu sahabat mereka.
‘’Kaji-kun? Maaf, karena kau harus membayar ini semua.’’ Kata Kamiya merasa tidak enak.
Para teman-temannya meminta pesta itu dirayakan di resto termahal yang memiliki hidangan yang enak dengan Kaji yang menanggung semua biaya itu sebagai pajak jadian.
‘’Tidak apa-apa, mereka teman-temanmu.’’ Kata Kaji mengajak minum.
Kamiya meraih gelas dan mendentingkannya dengan gelas Kaji lalu meminumnya. Namun tiba-tiba kesadarannya menurun.
BUGH!
‘’Dia yang Menyukai darah’’, ‘’Dia yang Diolesi Darah’’ dan ‘’Dia yang Menikmati Pengorbanan Darah’’.
Samar-samar terdengar nyanyian membuat Kamiya tersadar. Matanya membulat besar melihat kedua tangan dan kakinya terikat rantai di atas sebuah gambar segel di lantai tempatnya berdiri. Ia menatap tempat itu yang sepertinya adalah tempat ritual.
‘’Sudah bangun?’’
‘’Darah!’’ pekik Kamiya melihat darah di sudut bibir Kaji, kekasihnya.
Ia juga meringis karena merasakan bekas gigitan di lehernya yang sudah di penuhi darah.
‘’K-Kaji-kun? Apakah mungkin…’’ tatap Kamiya tidak percaya.
Kaji tersenyum sambil memainkan rambut panjang putih Kamiya.
‘’Eve.’’
Mendengar kata itu dari mulut Kaji membuat Kamiya menyadari sesuatu. Ia langsung mengingat mimpi yang sering menghantuinya sama persis yang dialaminya sekarang.
‘’Sejak masuk ke dalam kelas, bau darah Eve langsung tercium, aku pun mencarinya hingga penciuman itu menuntunku ke arahmu, saat itulah aku tahu darah Eve mengalir dalam dirimu sampai aku mencobanya secara langsung tadi, dan tubuhku seolah-olah merasakan energi yang sangat kuat.’’ Kata Kaji.
‘’Lepaskan aku! Aku tidak ingin berada di si-"
Kaji memainkan ciuman itu cukup lama sambil menatap mata Kamiya.
"Hahuha, teman-temanku? Di mana mereka?’’ tanya Kamiya baru tersadar.
‘’Ah, mereka baik-baik saja, aku meninggalkan mereka di restoran dan hanya membawamu pergi sambil meninggalkan catatan kepada mereka, kalau kita berdua ke Amerika dan melangsungkan pernikahan di sana.’’ Kata Kaji.
Kamiya berusaha melepaskan rantai yang mengikatnya itu.
‘’Ush, tenanglah, aku membutuhkan darah Eve di dalam tubuhmu untuk kebangkitan Adam, setelah itu kita akan hidup bersama untuk selamanya.’’ Kata Kaji.
‘’Adam?''
‘’Dahulu kala, Adam dan Lilith diciptakan bersama-sama dari tanah. Dalam mitologi India, Lilith digambarkan sebagai dewi kuno tertua yang mengkonsumsi darah. Lilith juga digambarkan sebagai iblis pertama, atau roh wanita yang mencontohkan semua atribut paling gelap. Namun terjadi perselisihan di antara keduanya karena Lilith tidak mau patuh pada Adam, sehingga Lilith meninggalkan Adam. Lalu Eve diciptakan dari tulang rusuk Adam untuk mendampinginya. Ada kemungkinan Lilith adalah bentuk lain dari Dewi Usas dalam mitologi India, dan merupakan analogi Hawa, hingga aku menemukannya, dan itu adalah dirimu, Kamiya-san.’’
‘’Sa, hajimemashou(Ayo kita mulai).’’ Kata Kaji menggigit bahu Kamiya.
‘’Akh!’’ ringis Kamiya menimbulkan bunyi rantai yang mengikatnya.
‘’Eve.’’ Kata Kaji disela gigitannya.
Matanya merah menyala.
‘’Mulai ritualnya!’’