Di zaman seperti sekarang apa kalian masih percaya dengan adanya vampire? Banyak yang tidak tahu bahwa mereka masih ada dan mereka hidup dengan menyesuaikan apa yang terjadi dengan dunia.
Seorang vampire yang terkenal di sebuah kota Venice bernama Mr. Van, sikapnya yang dingin, namun ganteng, banyak wanita yang menyukainya, tidak heran setiap harinya ada saja, wanita yang merelakan dirinya untuk di ambil darahnya.
Mr. Van bukan vampire sembarangan, yang asal si cewek mau dia manfaatkan, dia belajar menjadi vampire yang berkelas, dia juga tidak tertarik akan darah manusia, dia yang hidup secara terpisah selalu melakukan apapun sendiri.
Suatu hari, dia ke datangan seorang wanita yang di tugaskan untuk mengantarkan darah sapi, gadis lusuh itu begitu penasaran, dia termasuk beruntung dapat berjumpa dengan mr.Van, si Vampire tampan.
Calista anak dari seorang peternak sapi yang terkenal di kota, Venice, dia selalu mendapatkan pesanan dari kastil mr.Van, namun hanya darah sapi segar, berhubung sang ayah sedang sibuk, Calista sendiri yang berani mengantarkannya.
Dia bahkan bertaruh dengan temannya, kalau mr. Van sendiri yang akan membayarnya, berpakaian sedikit rapi, Calista bersiap di depan gerbang setinggi 6meter, dia membawa beberapa ember darah segar, sang ayah hanya menulisan beberapa petunjuk ketika pintu gerbang mulai terbuka, dia harus segera memasukan ember-ember susu ke dapur dan memasukannya ke lemari pendingin yang berukuran besar.
Setelah itu dia akan mengambil uang di sebuah kotak yang berada di dekat anak tangga menuju lantai atas kastil tersebut. Dia pun melakukannya sesuai petunjuk yang ayahnya tulis, tapi penasaran, Calista diam-diam mengendap naik ke lantai atas yang dilarang keras untuk di masuki oleh orang asing.
Perlahan dia mengintip di balik pintu, di lihatnya mr. Van dari belakang punggungnya, dia tengah membuat jus dari darah beku yang dipesan sebelumnya, sambil mendengarkan lagu, dia berlengak lenggok menari sambil membuat jus darah sapi.
Calista yang melihatnya tersenyum, ternyata dia tidak seperti yang orang bilang, dia cukup lucu untuk potongan seorang vampire, mr.Van terus menari sampai dia berbalik dan menyadari Calista tersenyum melihatnya.
Seperti terbius, Celista terdiam menatap mr. Van, kenyataan yang benar adalah mr. Van sangat tampan, semua wanita pasti terpesona akan ketampanannya. Termasuk Calista, matanya terus tertuju pada mata merah mr. Van.
Dia yang vampire dengan mudah berteleportasi, secepat kedipan mata, mr. Van telah berada di depan Celista. Tanganya mencekik pelan leher mulus Calista.
"Bukannya tempat ini terlarang?"
tanya Mr. Van.
"Aku penasaran, sekarang aku tidak perlu ragu"
ucapnya membuat mr. Van tidak paham.
"Kau mau mati ?"
"Kalau pun sekarang kau menggigit ku, aku rela"
ujar Calista.
Refleks mr. Van melepaskan cengkramannya, dia tidak ingin melukai manusia, dia hanya butuh privasi untuk hidupnya yang abadi.
"Kau datang karena ingin mengganggu ku?"
"Tidak tuan, tapi aku sungguh tidak percaya kau seorang vampire?"
tambah Calista.
"Apa maksud mu?"
"Kau terlalu tampan untuk menjadi vampire"
jawab Calista dengan penuh senyum.
Dia pun berlalu kembali pulang kerumahnya, menarik, dia gadis pertama yang tidak percaya kalau mr. Van adalah Vampire.
Lusa pun berlalu, Calista kembali mengantar darah sapi segar ke kastil mr. Van, kali ini dia juga membawakan seikat bunga dan ilalang yang dia dapati di area peternakannya.
Hal itu terus berlangsung selama sebulan, mr. Vam selalu cuek, dia menganggap Calista sama dengan wanita lainnya, mengejarnya hanya karena berparas tampan, tidak mengerti tentang perasaan atau isi hatinya.
Awalnya mr. Van mengira Calista gadis yang aneh, bagaimana dia bisa bersikap ramah padahal dia selalu cuek, tidak peduli bahkan kadang terkesan galak.
"Mr. Van...aku taruh bunga lagi jangan lupa tuan baca puisi ku!"
sahut Calista mengetuk pintu kamar Mr. Van.
Seuntai puisi yang di tulisnya dengan penuh perasaan.
Kita kenapa terlahir berbeda?
kenapa ada perbedaan bila itu hanya menjadi duri dalam hati.
Kau yang berbeda begitu memikat hati ku.
Menelusup masuk ke dalam sanubari.
Membekas dalam ingatan, wajah mu, mata mu yang indah,,,
aaahhh !!!
aku hanya ingin bilang...
sepertinya aku jatuh cinta dengan mu
mr. Van si vampire tampan.
Sampai suatu hari Calista tidak pernah datang dan tukang susu itu di gantikan orang lain, dia yang mulai terbiasa, akhirnya dia memveranikan diri bertanya kepada bapak-bapak yang mengantarkan darah segar tersebut.
Dia mendapat jawaban yang mengejutkan, bahwa Calista telah meninggal dunia, dia tidak percaya bahwa gadis periang itu telah meninggal, mr. Van bahkan di beri alamat rumah si gadis cantik yang mulai mengusik hatinya.
Tok...tok...
Dia yang mengenakan jubah hitam dengan penutup kepala, datang ke alamat rumah yang di berikan tadi, tidak lama pria paruh baya membukakan pintu rumah tersebut, dia melihat dari bawah hingga atas.
"Mr. Van?"
ucap si bapak tadi.
"Iya...."
"Ternyata benar, mata mu sangat indah"
ujar si bapak.
Dia adalah ayah Calista, dia membenarkan bahwa sang puteri telah meninggal dunia, Calista menderita kelainan jantung, sejak kecil dia terobsesi hidup abadi seperti vampire, dia harus mencari vampire yang mau membuatnya merubah hidupnya.
Dari sepucuk surat juga Mr. Van mengetahui bahwa gadia itu benar-benar jatuh cinta kepadanya, jatuh cinta dengan vampire, dia pikir ini hanyalah dongeng, tapi rasa itu benar nyata, setiap kali Calista menatap mata mr. Van detak jantungnya ridak dapat di kendalikan.
Sayangnya cinta nya tidak pernah berbalas, bukan karena mr. Van tidak menyukainya, melainkan waktu yang tidak tepat menghampiri mereka, tidak pernah ada kesempatan yang datang dua kali.
Kini entah 100 atau 1000 tahun mr. Van akan merasa kesepian lagi.
.
.
.
Tamat
Makasih yang sudah mampir dan baca cerpen saya 🙏🥰