Tiba-tiba ada sebuah isu yang mengatakan bahwa salah satu desa di daerah itu yang awalnya tidak berpenghuni tiba-tiba saja dihuni oleh sesosok misterius.
Isu itu dimulai ketika ada sesosok perempuan yang sudah berumur ditemukan meninggal dunia dengan luka gigitan yang berada dilehernya, dan diketahui bahwa darah yang berada di tubuh wanita berumur itu sudah habis, seakan-akan ada yang meminumnya sampai habis.
─━━━━━━•❁❀❁•━━━━━━─
Levina sebut saja Vina seorang dokter forensik yang ditugaskan pergi ke desa tersebut untuk menganalisis jasad sesosok perempuan yang meninggal secara misterius.
Vina pergi ke desa tersebut bersama dengan pasangan kerja-nya bernama Doni.
Sesampainya di desa tersebut, Vina dan Doni disambut dengan hangat oleh para penduduk disana. Vina dan Doni diantar ke rumah yang dirumah tersebut sudah tergeletak jasad wanita itu. Vina menyuruh Doni dan para penduduk untuk tidak masuk ke rumah tersebut kecuali ada yang gawat.
Vina memasuki rumah tersebut, dan melihat jasad wanita itu yang sudah kering sama sekali. Vina mengeluarkan peralatan yang sudah ia siapkan sejak tadi sebelum berangkat ke desa itu.
Vina mulai mengotopsi jasad wanita tersebut. Ia terkejut melihat hasilnya. Hasil otopsi tersebut benar seperti yang dibicarakan oleh para penduduk tadi. Jasadnya sudah kering dan sama sekali tidak ada darah, terdapat luka gigitan yang berada di leher, dan daerah gigitan tersebut membiru.
Vina memberi tahu hasil otopsi tersebut kepada polisi yang menangani kasus itu dan kepala desa daerah itu. Langit sudah gelap, yang menunjukan waktu bahwa para penduduk harus beristirahat. Saat Vina ingin berpamitan dengan kepala desa tersebut, sang kepala desa meminta Vina dan Doni untuk menginap di desa tersebut, karena hari sudah malam dan jarak dari kota ke desa tersebut juga lumayan jauh.
Vina menginap disalah satu kamar yang berada di rumah pak kepala desa tersebut. Vina membersihkan dirinya dan lanjut beristirahat.
Tengah malam pun tiba. Vina terbangun akibat ingin buang air. Selesai buang air, samar-samar Vina melihat sesuatu dari jendela kamarnya. Karena rasa ingin tahunya yang tinggi, ahkirnya Vina membawa handphone nya untuk berjaga-jaga, dan keluar dari rumah tersebut untuk mengecek apa yang terjadi didekat jendela kamarnya itu.
Vina kini sudah berada di depan rumah pak kepala desa. Ia mengecek bagian kiri rumah pak kepala desa itu. Vina melihat ada 2 orang yang ia sendiri pun tidak tahu mereka sedang melakukan apa ditengah kabut yang tebal itu.
Setelah mendekati 2 orang tersebut, ahkirnya ia dapat melihat dengan jelas. Setelah terlihat dengan jelas, Vina langsung membulatkan matanya.
Vina terkejut melihat sesosok vampir yang sedang menghisap darah sang istri kepala desa yang meminta Vina untuk menginap. Vampir yang melihat Vina terdiam itu lantas menghempaskan tubuh istri kepala desa tersebut yang sudah ia sedot habis darahnya, dan mendekat ke arah Vina. Vina yang merasa bahwa vampir itu mendekat padanya, langsung lari untuk pergi ke kamarnya lagi. Namun sepertinya Vina sudah terlambat untuk itu. Vampir yang tadi ia lihat dari jauh, kini berada tepat didepan matanya sendiri.
Vampir tersebut menarik pinggang Vina. Kini jarak antara wajah vampir tersebut dengan Vina hanya tinggal beberapa centi saja. Vina langsung memejamkan matanya. Vampir tersebut yang melihat Vina memejamkan mata lantas tersenyum miring.
"Ada-ada aja" ucap vampir tersebut lalu pergi begitu saja meninggalkan Vina.
Vina yang melihat vampir tersebut pergi, langsung masuk kembali ke kamarnya. Vina mengunci pintu kamarnya dan duduk di kasur. Hatinya gelisah melihat langsung vampir yang selama ini Vina kira hanya ada di dongeng saja kini berada di depan matanya sendiri. Lama kelamaan Vina pun tertidur.
Pagi hari pun kini telah tiba. Vina yang sudah siap untuk pulang diminta oleh pak kepala desa untuk sarapan terlebih dahulu. Saat Vina sudah duduk di meja makan, pak kepala desa memanggil anak laki-laki nya untuk makan bersama dengan Vina.
"Apa?" Ucap anak kepala desa yang baru saja keluar dari kamarnya.
Vina yang merasa tidak asing dengan suaranya langsung menghadap ke sumber suara tersebut. Dan alangkah terkejutnya Vina melihat anak kepala desa tersebut sangat mirip dengan vampir yang ia temui tadi malam. Seketika bulu kuduk Vina berdiri. Vina tampak gugup setelah melihat anak kepala desa tersebut.
Tiba-tiba ada sesosok wanita yang sudah berumur membawa semangkuk mie rebus untuk dihidangkan, Vina pun dikejutkan kembali ketika melihat bahwa istri kepala desa yang ia lihat sudah meninggal digigit Vampir kini sedang menghidangkan makanan untuknya.
"syukurlah cuma mimpi" Vina berkata pelan sambil bernafas lega.
"bukan mimpi cantik" bisik anak kepala desa tersebut ditelinga Vina dan duduk disebelah Vina.
Vina yang mendengar perkataan tersebut reflek menatap anak kepala desa itu.
"kayaknya udah akrab aja, kenalin ini anak bapak namanya Brian panggil aja Ian, suka banget keluyuran tiap malem, entah ngapain ini anak" Ucap kepala desa itu.
Vina pun dikejutkan lagi oleh ucapan pak kepala desa barusan. Ternyata yang ia alami itu nyata. Setelah selesai sarapan, Vina ahkirnya berpamitan dengan seluruh penduduk disana.
"saya pamit ya semuanya, terimakasih sudah menyambut kami dengan hangat, jika ada waktu pasti saya sempatkan untuk kembali lagi"
Setelah mengucapkan itu, Vina dan Doni memasuki mobil dan memulai perjalanan mereka untuk kembali ke pusat kota. Ketika ingin keluar dari gapura desa tersebut, tiba tiba Brian sang anak kepala desa itu menghentikan mobil Vina. Vina lantas mengerem mobilnya mendadak. Karena kesal Vina ingin membuka kaca mobilnya dan memarahi Brian. Namun kemarahan itu didahulukan oleh sebuah kecupan kening yang lembut, yang diberikan oleh Brian. Seketika pipi Vina memerah seperti tomat. Brian terkekeh melihat pipi Vina yang memerah.
"hati-hati" Ucap Brian.
Brian pun menjauh dari mobil Vina dan kembali ke rumahnya. Vina yang menatap punggung Brian yang menjauh itu pun langsung menekan pedal gas lagi untuk melanjutkan perjalanannya.
Diperjalanan, pipi Vina selalu memerah. Ia sejak tadi masih memikirkan tentang Brian yang mengecup lembut keningnya. Seakan-akan bahwa mereka itu suami istri.
Sesampainya dipusat kota. Vina mengantar Doni kerumahnya, dan langsung balik kerumahnya sendiri.
"Ibu.. Vina pulang" Teriak Vina dari luar rumah.
"Ahkirnya pulang juga anak ibuk, ibuk khawatir sama kamu lho nduk" Ucap ibu Vina dengan nada khawatir.
"Maafin Vina ya buk, udah bikin ibuk khawatir" Vina pun memeluk ibunya.
"iya nduk, ibuk juga maklum karena pekerjaan kamu ya jadi dokter forensik" ibu Vina pun membalas pelukan dari Vina dan mengusap lembut kepalanya.
Setelah berpelukan, Vina langsung menuju kamarnya untuk istirahat sejenak. Tiba-tiba ada sebuah notifikasi pesan dari sebuah nomer tidak dikenal. Vina pun menanyakan siapa dia. Ternyata yang mengirim pesan tersebut adalah Brian.
Sejak saat itu, Brian dan Vina sering berkirim pesan satu sama lain. Bisa dibilang sekarang hubungan mereka sudah LDR.
3 tahun sudah berlalu.
Kini posisi Vina bukanlah sebagai dokter, melainkan menjadi seorang profesor. Karena sedang hari libur, Vina memutuskan untuk pergi ke desa yang waktu itu ia kunjungi.
Saat Vina sampai disana. Vina terkejut bahwa desa tersebut sudah berubah menjadi pusat sebuah pabrik gula. Melihat bahwa desa tersebut sudah tidak ada, Vina menanyakan kemana perginya orang yang ada di desa tersebut kepada penduduk yang tinggal disebelah pabrik.
"permisi Bu, saya mau tanya, kemana ya perginya penduduk desa yang tinggal sebelum pabrik itu dibangun?"tanya Vina.
"saya tidak tahu mbak, mereka berpisah" ucap ibu² yang tinggal di dekat pabrik tersebut.
"ohh, makasih ya Bu"
Setelah menanyakan hal itu, Vina memutuskan untuk balik ke kota lagi.
"buk, Vina pulang"
Vina mendapati bahwa ibunya tidak ada dirumah, ahkirnya ia bertanya kepada asisten yang bekerja dirumahnya tersebut. Kata asisten itu, ibunya sedang mengunjungi tetangga yang baru saja pindah ke rumah yang berada disamping persis rumah Vina. Vina menyusul ibunya.
"Permisi" ucap Vina sopan masuk ke rumah tetangga baru tersebut.
Seluruh orang yang ada di ruangan itu langsung menengok ke arah Vina. Vina terkejut melihat bahwa tetangga barunya itu adalah keluarga Brian, yang dulu menjadi kepala desa tersebut.
"Ehh, ada kamu nduk" ibu Vina menarik pelan tangan Vina agar duduk disebelahnya.
"Ohh ini to yang kamu ceritain jeng" ucap ibu Brian.
"iya jeng, ini anak saya" balas ibu Vina.
Tiba tiba sesosok pria gagah nan tampan memasuki rumah tersebut. Ya itu adalah Brian, kini Brian sudah menjadi pengusaha yang bisa dibilang cukup sukses. Vina yang melihatnya langsung berkata.
"emm, saya pergi dulu ya tan, om, buk" Vina langsung pergi keluar dari rumah orangtua Brian dan berlari menuju ke taman yang ada di komplek perumahan itu. Vina mengatur nafasnya di bawah sebuah pohon yang ada di taman tersebut.
Tiba-tiba ada yang memeluk erat Vina. Ya benar orang itu adalah Brian. Vina yang dipeluk pun, langsung menangis dalam pelukan Brian. Hubungan mereka yang awalnya LDR kini sudah tidak lagi. Brian menggigit leher Vina untuk menjadikan tanda bahwa Vina kini adalah miliknya. Vina yang diberi tanda itu tersenyum dan memeluk erat Brian.
2 tahun berlalu sudah. Kini Brian dan Vina sudah menikah dan memiliki 2 orang buah hati yang memberkati hidup mereka.
Kisah mereka terhenti ketika sang ayah dari Brian menyedot habis darah istri tercintanya yaitu Vina didepan matanya sendiri. Melihat istri tercintanya sudah tidak bernyawa lagi , ia langsung menopang kepala istrinya di pahanya dan menangis.
"dia manusia bukan seperti kita, mengerti." ayah Brian berkata demikian.
Brian kini hanya hidup bertiga bersama kedua anaknya, dan tidak lagi menikah dengan siapapun.
~Tamat~