"Brengsek! Dasar Zeno brengsek! Kenapa sih lo tiba-tiba pergi ninggalin gue tanpa kabar gini? Gue kurang apa lagi begok? Apapun yang lo minta selalu gue turutin. Gue salah apa?" Seorang gadis terlihat sangat frustasi, bahkan kamarnya sendiri kini tampak seperti bukan tempat yang layak di tiduri, lebih tepatnya mirip seperti kapal pecah yang habis di terjang oleh badai.
Sebuah foto yang berada di genggamannya kini ia banting begitu saja dengan kejinya. Menatap penuh amarah dengan kaki yang tak henti-hentinya memijak figura foto seorang pria dan perempuan tengah tertawa lepas sembari berangkulan mesra.
"Gue benci lo, Zeno Abigael Barata!" Dengan kasarnya gadis itu menghapus jejak-jejak air matanya.
"Gue bersumpah! Gue bakalan nyari tahu alasan lo ninggalin gue, dan di saat semua itu terbongkar gue akan buat lo tersiksa, sama halnya seperti yang sudah lo lakuin ke gue!" Gadis itu semakin menekan dalam-dalam pijakan kakinya ke atas figura foto itu.
***
"Tarik nafas, buang!" Seru seorang gadis sambil memutar mutar tubuhnya di depan kaca.
"Huh, demi apa gue harus berubah penampilan gini demi si brengsek, Zeno itu." Sebuah kaca mata bulat yang bertengger manis di hidungnya, dengan kunciran samping yang membelah menjadi dua bagian,ditambah taik lalat palsu yang ia tempel di atas pipinya, membuat gadis blasteran Amrik-Indo itu harus rela terlihat culun di kota orang.
"Pokoknya gue harus temuin si brengsek beserta alasannya ninggalin gue! Gak etis bangat gue udah jauh-jauh terbang dari Jakarta ke padang, tapi gak dapatin apa yang gue mau, gak lucu kan?" Dia berjalan keluar setelah puas melihat pantulan dirinya di depan cermin itu.
"Gue harus kemana sekarang? Sumpah! Gue belum paham seluk beluk kota ini, apalagi kota ini udah beda pulau dari kota gue."
Kaki jenjang gadis itu terus berjalan mengelilingi kota yang terkenal dengan rendangnya-makanan khas kota ini, hingga kakinya menapaki sebuah taman di depan mesjid yang bertuliskan "Mesjid Raya Padang" dan dia bisa menebak jika taman ini adalah taman kota dari kota yang ia tempati itu. Karena di taman ini begitu banyak aktivitas, ditambah dengan ukurannya yang lebih besar dari taman-taman lainnya.
Mata gadis itu terus menelisik tempat sekitarnya, membiarkan sapuan angin membelai rambut hitamnya dengan lembut. Berulang kali ia berdecak kagum saat melihat keasrian kota ini, padahal kota ini termasuk kota besar dan merupakan ibu kota dari sumatra barat, namun meski begitu keasriannya tetap di jaga.
Eits! Jangan pikir meski kotanya masih asri, kota ini ketinggalan jauh dari kota-kota lainnya. Tidak! Kalian salah. Bahkan kota ini juga memiliki banyak hotel berbintang dan juga gedung-gedung pencakar langit meski tingginya tak sebanding dengan gedung-gedung yang berada di Jakarta. Kota ini juga memiliki banyak mall dan bioskop yang terpisah dari dalam mall, jangan lupakan juga, kota ini memiliki banyak sekali toko buku, hal itu jugalah yang membuat gadis balsteran itu kagum.
Meski ia merupakan ibu kota, tempat pusat orang-orang melakukan aktivitasnya,kegiatan membaca di kota ini tidak sedikitpun luntur, bahkan sepanjang pinggir pasar tradisional pusat itu dia bisa melihat jejeran toko-toko kecil yang menjual berbagai macam buku. Iyah, taman itu berada dekat dengan pasar tradisional pusat tersebut-Pasar Raya.
Brak
"Aduh, sial bangat Sih," gumam gadis itu saat dirasa badanya bertubrukan dengan badan seseorang. Matanya mendongak ke atas melihat siapa lawan tabrakannya, seketika ia terpaku. Paras rupawan orang tersebut tak bisa untuk dibohongi. Hidung mancung, kulit putih, rambut hitam tebal yang gondrong juga lesung pipi yang tercetak jelas saat ia tersenyum.
"Hei gadis culun, kamu gak papa? Saya minta maaf yah!" Ujar orang itu sambil mengulurkan tanganya berniat membantu Agatha gadis malang itu yang jatuh terduduk di bawah.
"Hum, S-sa-saya gak papa," Agatha bicara dengan terbata-bata, sesekali ia memperbaiki posisi kacamatanya untuk mengusir kegugupannya. Orang itu tersenyum melihat tingkah Agatha yang terlihat gugup itu-lucu, satu kata itu yang mungkin terlintas di benak orang tersebut.
"Pakanakan Den banamo Kevin louis leonardo, namo Ang sia?" Agatha menatap cengo pada pemuda yang baru saja memperkenalkan dirinya itu. Sumpah, ia orang baru di kota ini dan itupun hanya sebagai pendatang yang menetap sementara, bagaimana bisa ia memahami bahasa daerah ini? Sementara pemuda itu? Ia memperkenalkan diri dengan bahasa daerah ini, lalu bagaimana Agatha akan menjawabnya?
Pemuda itu tertawa kecil, ia paham akan ekspresi Agatha yang tak mengeti bahasanya itu. "Namaku Kevin louis leonardo, namamu siapa?" ucapnya sembari tersenyum manis. Agatha mengangguk paham, ternyata itulah arti dari bahasa yang dikatakan pemuda itu, dia harus segera belajar bahasa daerah sini supaya tidak terlihat seperti orang bodoh lagi.
"Agatha, Agatha fransisca Alexander." Pemuda itu mengangguk. "Pendatang baru yah?" tanya pemuda itu yang langsung diangguki oleh Agatha.
"Kalau gitu aku pamit, tau jalan sinikan?" Pemuda itu lagi-lagi tersenyum yang membuat Agatha menjadi patung seketika. Tanpa izin dari Agatha pemuda itu melenggang begitu saja dari hadapannya. Setelah sadar tak ada siapaun lagi di sekitarnya Agatha langsung merutuki kebodohannya yang bisa bersikap memalukan seperti itu. Tapi, kalau dipikir-pikir pemuda itu menyebalkan yah, dia tau kalau gadis blasteran itu pendatang baru, tapi masih bertanya "Tau jalan sekitar sini kan?" Dan setelah itu pergi begitu saja? Sungguh mulia sekali akhlaknya.
Agatha mendengus kesal, ia segera berjalan kembali menyusri kota ini sesekali ia juga memotret dan mengebadikan keelokan kota ini melalui kamera hendponenya.
****
Tak terasa warna terang langit biru itu telah berubah menjadi jingga, matahari mulai menghilang perlahan-lahan dan digantikan dengan remang-remang warna jingga. Kini Agatha sedang berada di sebuah pantai yang cukup terkenal di kota itu -Pantai Taplou.
Terpaan angin menerbangkan rambut hitam panjang berkilau milik gadis itu, kakinya yang menggantung ia goyang-goyangkan sambil sesekali menyentuhkannya ke air laut. Agatha duduk di sebuah jembatan yang terbuat dari susunan batu-batu besar yang dihiasi oleh pagar bunga-bunga.
Manik matanya yang berwarna kecoklatan itu tak henti-hentinya menatap kagum pada sang surya yang hendak tenggelam. Hingga petangpun berubah seutuhnya menjadi malam yang sunyi. Agatha memutuskan untuk kembali saja ke hotel yang menjadi tempat penginapannya untuk sementara ini.
***
Drrtt
Dering ponsel itu mengalihkan intesitas mata seorang gadis yang tengah fokus menonton tv, dengan berat hati ia mengambil ponselnya yang terletak di atas nakas dekat pintu keluar itu.
"Halo nona ada kabar baru"
"Kabar apa? Saya harap kamu memberikan saya informasi yang bagus, atau kalau tidak gajimu saya potong!" Agatha berucap dengan dinginnya.
"Tenang nona, saya membawakanmu kabar bagus kok, saya jamin kamu pasti menyukainya, nona."
"Cepat! jangan bertele-tele aku tak suka itu!"
"Saya berhasil menemukan keberadaannya."
"Dimana?"kening Agatha berkerut menantikan jawaban sang informan yang mengikutinya kemari
"Dia bekerja di restoran leonardo resto."
"Baiklah, informasimu sangat bagus, terus mata-mata dia sampai saya bisa menemukan kebenaran itu sendiri!"
Agatha langsung memutuskan sambungannya secara sepihak, dia tersenyum penuh arti. "Saatnya bermain, Zeno Abigael Barata!"
***
Pagi yang cerah, gadis blasteran itu memutuskan untuk mencari sebuah restoran yang dumaksud oleh informannya semalam. Dengan tampang cupunya dan sebuah berkas yang dia pegang dalam pelukannya, gadis itu melangkahkan kaki jenjangnya memasuki sebuah resto yang terlihat cukup megah dan rame akan pengunjung kelas atas, dapat ia simpulkan bahwa resto ini adalah resto bintang 5 dari gaya dan pengunjungnya saja.
"Hum, permisi mbak. Saya Agatha calon pelamar di resto ini, mau nanya tempat castingnya dimana yah mbak?" Seseorang yang diduga adalah resepsionis itu memandang Agatha degan tatapan yang sulit diartikan. Ia terus saja memperhatikan Agatha dari atas sampai bawah dengan senyuman- hum ntahlah, mungkin meremehkan. Agatha terseyum miris, apakah orang-orang harus selalu memperhatikan penampilan baru bisa bersikap ramah? Agatha benci orang sepertinya.
Agatha akui penampilannya kini tampak tak seperti karyawan-karyawan disini yang terkesan modis. Baju kemeja putih kebesaran yang dimasukkan ke dalam rok hitam selutut, serta rambut yang dikepang dua di tambah kaca mata bulat yang bertengger di mata indah gadis itu.
"Mbak, gak salah tempat kan?" tanya resepsionis itu lebih terkesan seperti sindirian. Agatha tersenyum tipis. "Saya rasa tidak, mbak." Resepsionis itu mengangguk sambil tertawa kecil, dia menunjukkan sebuah ruangan dimana banyak calon-calon karyawan yang sedang melamar seperti dirinya.
***
Seluruh calon karyawan baru telah melalui serangkaian test, kini tinggal menunggu hasilnya saja. Sumpah demi apa, jantung Agatha berdetak begitu kencang tanpa sebab. Gadis itu tampak gelisah menunggu hasilnya, sampai seorang wanita yang ia perkirakan berumur sekitar 30 tahun keluar dari ruangan itu dengan membawa sebuah surat yang sepertinya hasil test dan nama karyawan yang bakalan di terima.
"Baiklah saya bakalan umumin hasil testnya, akan saya mulai dari jabatan yang sedikit tinggi sampai ke jabatan yang dbisa dibilang rendah, yaitu pelayan."
Semua jabatan telah di sebutkan, namun nama Agatha belum kunjung keluar, gadis itu meremas tangannya, haruskah ia menyerah? Tidak! Pokoknya dia harus bisa masuk resto ini, karena mantan pacarnya juga bekerja di sini.
"Dan yang terakhir, Afralex,sebagai kepala pelayan," ucap sang wanita tadi. Apakah kalian bertanya kenapa nama Agatha berubah menjadi Afralex? Iyah, dia menyamarkan namanya agar tak seorangpun tau kalau dia adalah orang kaya dan tidak culun. Logika aja mana ada orang culun dari kalangan kebawah menyandang nama yang begitu besar? Nama-nama yang sering digunakan orang barat? Oh tidak mungkin, tidak cocok dengan identitasnya sekarang. Ditambah jika ia memakai nama itu, mantan pacarnya bisa-bisa langsung mengenalinya dan misinya harus hancur berantakkan.
Agatha tersenyum manis, sepertinya dewi fortuna sedang berpihak kepadanya. Meski ia hanya keterima sebagai kepala pelayan saja itu tidak masalah, yang penting ia bisa masuk ke sini dulu.
***
Seorang pemuda tengah tersenyum senang menatap seorang gadis yang tengah asik dengan pekerjaannya. "Manis," gumam pemuda itu sambil mengguncang-guncang gelas kecil yang berada di genggamannya.
"Kenzo!" teriak pemuda itu memanggil asistennya. Dengan langkah terburu-buru seorang pria berkacamata berlari dengan tergopoh-gopoh menuju ke tempat pemuda itu. "Ya, Tuan, Ada apa?" pria itu berdiri tegap di belakang punggung sang Tuan.
"Perintahkan sekretaris Zeno untuk memanggil wanita itu ke ruanganku sekarang juga!" Seketika pria itu mengalihkan pandangannya kepada wanita yang tengah asik membantu rekannya membereskan meja-meja pengunjung yang telah selesai makan ataupun melakukan aktivitas lainnya.
"Ma-maksud Tuan kepala pelayan baru itu?" ucap pria itu ragu-ragu. Pemuda itu hanya mengangguk pelan. Dengan terburu-buru Kenzo, pria imut nan berkacamata itu melarikan diri ke ruangan Zeno untuk memerintahkan pria itu.
"Ha? Kenapa harus Saya? Kamukan ada, kenapa bukan kamu aja?" Tanya Zeno tak percaya. Kenzo hanya menatap pria itu dingin. "Lakukan saja, itu perintah dari Tuan kita!" Kenzo berbalik dan meninggalkan Zeno yang kesal terhadap dirinya.
***
"Permisi, nona." Zeno menepuk pundak gadis itu yang masih sibuk membereskan meja. "Sebentar, Tuan," ucap gadis itu tanpa membalikkan badannya. Zeno tak sabaran, ia langsung membalik tubuh kepala pelayan itu dan ....
Deg
Jantung gadis itu sekita terhenti saat melihat wajah sang pemuda yang tadi membaliknya dengan secara paksa.
"Kau bisa danga gak? Dari tadi Den panggil kau tak mau mandangakan, kau pikir kau sia Uni? Hanya saorang gadis culun nan manjabat kapalo palayan kan? Dak usahlah sok sibuk bana Ang, dak tau Ang Den ko sia?" Ucap pria itu penuh emosi dengan bahasa daerah sini.
Agatha tersenyum miris, dia merasa Zeno benaran berubah. Dia memang tak mengerti arti bahasa yang diucapkan oleh pemuda itu, tapi Agatha tau kalau pemuda itu sedang marah. "Maafkan saya, pak." Gadis itu menunduk mengalihkan pandangannya. Matanya mulai memanas, kenapa lagisih dengan hatinya? Bukankah dia sudah melupakan pemuda brengsek itu dan hanya mau mencaritahu alasan pemuda itu meninggalkannya.
Zeno menghembuskan napasnya. "Kau dipanggil oleh bos besar, pergilah ke ruangannya," ucap Zeno yang telah kembali kebahasa Indonesia lagi. Agatha mengangguk dan segera berlari menuju ruangan bosnya.
***
Tok tok
"Masuk!" ucap pria itu saat mendengar bunyi ketokan di pintunya.
"Duduklah," lanjutnya lagi saat mendengar derap langkah seseorang yang terhenti. Tanpa membalikkan kursi yang menghadap ke luar jendela itu, Pemuda itu kembali bersuara.
"Agatha, kenapa namamu kau ubah menjadi Afralex?" Sontak mata gadis itu membulat, darimana bosnya ini tau kalau nama aslinya adalah Agatha, bukan Afralex.
"Ma-ma-maaf Tuan, nama saya memang Afralex bukan Agatha," ucap gadis itu gugup. Seketika kursi yang menghadap jendela luar itu berputar dan kini menghadap gadis yang tengah duduk itu.
"Apa kau tak mengingatku gadis manis?" Agatha menaikkan kepalanya, betapa terkejutnya ia saat melihat wajah sang pemilik resto ini.
"Ka-kamu Kevin? Pria yang menabrakku kemarin sore?" tanya Agatha ragu-ragu yang langsung diangguki oleh Kevin.
Jujur dari awal ketemu, Kevin sebenarnya telah menyukai gadis di hadapannya ini, atau bisa di sebut ia jatuh cinta pada pandangan pertama. Penampilannya yang polos dan senyum manisnya serta bola mata coklat itu telah mampu menyihirnya, menjadikannya gila dan ingin memiliki gadis itu seutuhnya. Sebenarnya Agatha bisa saja tak keterima di resto ini, mengingat penampilannya yang culun tidak sesuai dengan ktiteria karyawan di sisni, namun Kevinlah yang menyuruh bawahannya untuk meluluskan gadis pujannya itu.
"Kau sudah mengingatnya kan? Sekarang aku ingin bertanya kepadamu, kenapa kau mengganti namamu?" Agatha tertegun, apa yang harus ia jawab, tak mungkinkan memberitahukan alasan aslinya?
"Aku ti-tidak menggantinya," ucap Agatha gugup. Sebenarnya ia tidak terlalu berbohong sih, karena nama Afralex itu merupakan singkatan nama aslinya. 'A' untuk Agatha, 'Fra' untuk Fransisca dan 'lex' untuk Alexander, benarkan ia tak berbohong seutuhnya?
Kevin tertawa keras, ia kembali menatap gadis itu. "Kau pikir aku bodoh, sayang? Aku masih mengingat jelas namau saat pertemuan pertama kita. Bagaimana bisa namamu berubah secepat itu?" Agatha meneguk salivanya. "Maaf, tapi aku gak bisa cerita." Kevin memegang tangan Agatha yang saling meremas menandakan bahwa dirinya tengah kebingungan.
"Kasih tau atau ...." Kevin sengaja menggantungkan kalimatnya untuk melihatraut wajah Agatha lebih lama lagi.
"A-atau apa?" tanya Agatha dengan gusar.
"Atau aku akan menciummu di sini," ucap Kevin dengan santainya. Agatha menutup mulutnya seketika, ia menatap tak percaya pada sosok pemuda di hadapannya ini. "Kau gila yah?" ucapnya setengah berteriak, namun pemuda itu hanya mengedikkan bahu acuh.
"Mau kasih tau apa tidak?" Agatha tetap menggeleng, dia yakin Kevin hanya mengancamnya saja, tapi sepertinya keyakinan Agatha itu salah. Kevin mulai beranjak dan mendekati gadis itu yang mulai berdiri dan berjalan pelan menjauhi Kevin. Sayang, Kevin lebih dulu menariknya dalam dekapan besar pria itu.
Tangan Kevin melingkar indah di pinggangnya Agatha, dia mulai menarik tengkuk Agatha, mencium bibir gadis itu bahkan melumatnya. Agatha sudah berusah berontak namun tenaganya hanya sia-sia saja. Kevin begitu kuat untuk gadis itu lawan dan sekarang ia hanya pasrah dengan apa yang sedang Kevin lakukan.
Air mata Agatha mulai luruh tanpa seizin gadis itu. Ia tidak bisa menerima semua perlakuan Kevin ini, namun tenaganya juga tak cukup kuat untuk melawan pria di hadapannya ini. Setelah berapa menit berlalu, Kevin melepaskan ciumannya. Menatap netra coklat gadis itu. Dia mengusap lembut bibir gadis itu yang basah oleh air liurnya.
"Bibir ini hanya milikku saja, ngerti?" ucap Kevin lembut sembari menghapus sisa-sisa air mata Agatha. Dia membawa gadis itu ke dalam pelukannya, mengusap lembut kepala gadis itu. "Katakan padaku sekarang, kenapa kau menyembunyikan nama aslimu? Kau yang katakan langsung atau aku sendiri yang nantinya akan membongkar seluruh sandiwaramu?" Lagi-lagi Agatha dibuat tercengang oleh perkataan Kevin. Dia menatap pria itu tak percaya.
Kevin mengelus rambut gadis itu lembut. "Dengar, aku punya banyak orang yang bisa kusuruh untuk mencaritahu informasi tentang dirimu. Aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu, sebab itu kau mengganti namamu. Katakan padaku apa alasannya, siapa tahu aku bisa membantumu menyelesaikannya. Kalau kau tak mau aku biaa mencari tahu sendiri identitasmu," ucap Kevin yang berhasil membuat jantung Agatha terasa terhenti
Demi apa! Gadis ini sekarang sangat kesal bahkan merasa benci pada sosok di hadapannya ini. Pertama dia dengan seenaknya merebut first kiss gadis itu, kedua dia berani sekali mengancam gadis tersebut, dia pikir dia siapa? Apakah dia harus mendengarkan pria itu dan membongkar identitasnya? Tidak akan pernah! Kalau begitu nanti rencananya datang ke kota ini bisa gagal dong.
"Aku tetap tidak bisa!" Ucap Agatha tegas.
"Baiklah kau yang memaksaku membongkar rahasiamu kan? Kalau nanti rahasiamu terbongkar, akan kuberitahu semua orang di tempat ini dan akan menggagalkan seluruh rencana yang mungkin sudah kau buat!" ucap Kevin yang ingin segera beranjak dari sana, namun dengan cepat Agatha menahan tangan pria itu.
"Okey, akan ku beritahu! Tapi kumohon jangan sebarkan rahasia ini pada semuanya, karena ini bisa menggagalkan rencanaku." Akhirnya Agatha menyerah, dia tak ingin membuat seluruh rencananya hancur karena egonya yang tak mau memberitahukan rahasianya pada pria sinting itu. Kevin mengangguk.
Sudah satu setengah jam Agatha bercerita, dia meberitahukan semua rahasianya pada pria yang telah merebut first kissnya itu, termasuk jika dirinya hanya menyamar sebagai gadis culun dikota ini.
Kevin awalnya sungguh terkejut dengan penuturan gadis itu yang mengatakan bahwa dia adalah keturunan Amerika-Indonesia. Pantas saja wajahnya sedikit berbeda dari orang-orang disekitar sini, ternyata dia blasteran, kenapa Kevin bisa sebodoh ini?
"Dan Saya mohon, agar kamu tak memberitahukan keoada semua orang bahwa saya hanya berpura-pura saja. Saya sangat ingin menemukan alasan pria brengsek itu, saya mohon." Lirih Agatha hampir seperti sebuah cicitan. Dia sangat berharap bahwa Kevin tak setega itu membocorkan rahasianya.
"Aku bisa bantu kamu, tapi dengan satu syarat." Agatha menatap wajah pemuda itu, alisnya terangkat. "Apa?"
"Jadi tunangan saya bahkan kalau bisa langsung menjadi istri saya!"
Jedar
Seperti petir di siang bolong jantung Agatha rasanya benar-benar telah berhenti. Apa-apaan ini? Kenapa pria gila ini semakin menjadi-jadi? Siapa juga yang mau menikah dengan orang aneh sepertinya?
"Tidak!! Saya tak butuh bantuan kamu, saya bisa dapatkan sendiri apa yang saya mau!" Saat kaki Agat hendak keluar dari ruangan itu, sebuah suara menghentikan langkahnya.
"Zeno sekretaris saya, dan hanya saya yang hanya bisa membantu kamu!" Agatha kemabali berbalik.
"Kamu serius?" Kevin mengangguk dan Agatha hanya bisa mengusap wajahnya dengan frustasi.
"Baiklah, tapi saya punya satu permohonan," pinta Agatha. Kevin mengangguk pertanda setuju.
"Kumohon, biarkan kita berpacaran terlebih dahulu, aku ingin mengenalmu lebih dalam lagi, setelah itu kau bisa menikahiku." Kevin lagi-lagi mengangguk menyetujui permintaan Agatha. Tanpa disadari Agatha Kevin telah berada di depannya menarik pinggangnya dan ....
Cup
Agatha menegang di tempatnya, dia menatap Kevin yang kini tengah asik melumat bibir merah ceri miliknya. Agatha tak berniat membalasnya sama sekali, namun sial Kevin malah menggigit bibir bawahnya sehingga menciptakan desahan dan membuat bibir Agatha terbuka sehingga lidah Kevin bisa masuk mengabsen seluruh rongga di mulutnya.
"Ahh ... Kevin, hentikan," ucap Agatha saat merasa tangan milik Kevin telah menjalar kemana-mana.
Agatha mendorong bahu Kevin kuat hingga pria itu terhuyung dan mundur ke belakang. Agtha segera berlari untuk menenangkan jantungnya yang sempat berdisko karena ulah Kevin.
****
"Kau paham kan?" Seorang gadis tengah mengangguk mendengarkan sebuah rencana yang tengah di kemukakan oleh pemuda di hadapannya.
"Berarti aku hanya perlu menggodanya dan membawanya ke hotel itu, setelah itu mencampurkan minumannya dan kalian yang nantinya mulai mengintrogasinya?" Pemuda itu mengangguk, kedua pasang manusia itu mulai melaksanakan misi mereka.
***
"Hei sekretaris Zeno," ucap gadis itu dengan gaya yang sensual. "Apakah kau mau bermain denganku, ha?" lanjutnya yang dibuat semakin mendesah-desah sehingga Zenopun terangsang mendengar suaranya. Zeno menarik gadis itu, namun gadis itu menepis dan menarik zeno ke dalam mobil, membuat guratan di wajah Zeno tercipta kian jelas.
"Kita main di hotel aja yuk, jangan di sini, nanti ketahuan bos kita bisa dipecat." Zeno mengangguk menyetujui ucapan gadis itu, ia sudah sangat bernafsu dan ingin segera melahap gadis itu.
Perlu kalian ketahui gadis itu bukanlah Agatha, tapi seorang wanita malam yang di suruh Kevin untuk menggoda Zeno dengan menyamar sebagai karyawan baru.
***
Zeno kini tengah meracau tak jelas, minuman yang telah dicampur dengan obat itu telah berhasil masuk ke dalam kerongkongannya dan membuatnya harus kehilangan kesadaran. Gadis itu beranjak pergi dari sana ketika misinya telah berhasil. Seketika itu juga Kevin dan Agathapun masuk.
"Hai, Zeno. Lo ingat gue kan?" Zeno memicingkan matanya lalu tertawa terbahak-bahak. "Agatha sayangku, kemari honey," ucapnya yang ingin memeluk Agatha namun dengan sigap pria di sampingnya menepis kasar tangan kotor itu. Zeno menoleh "Eh ada si bos juga," ucapnya dengan sempoyongan. "Masuk-masuk bos." Zeno segera berjalan mendahului mereka ke dalam.
"Baby, sini." panggil Zeno dengan melambai-lambaikan tangannya ke arah Agatha.
Perlu diketahui, Agatha kini tengah berada pada jati dirinya sendiri, yaitu menjadi Agatha si gadis blasteran bukan Agatha siculun.
"Kemarilah baby, aku ingin memelukmu seperti dulu lagi." racau Zeno tak jelas. Agatha sudah muak, ia benar-benar muak, langsung saja ia bertanya pada Zeno si pria brengsek itu.
"Kenapa lo dulu tiba-tiba ninggalin gue?" Zeno kembali tertawa tak jelas.
"Oh masalah waktu itu yah," ucapnya mengangguk-angguk.
"Yah karena ...." ucapnya terpotong karena kepalanya terasa sangat sakit.
"Karena apa Zeno!" bentak Agatha.
Kevin langsung memeluk tubuh gadis itu. "Tenanglah sayang, pelan-pelan saja, dia tengah mabuk jadi wajar." Agatha mengangguk dia melepaskan pelukan itu.
"Katakan wahai Tuan Zeno yang mulia," ucap Agatha semanis mungkin. Dan Zeno? Dia tertawa melihat tingkah Agatha yang manis menurutnya.
"Kau masih manis seperti dulu. Andai saja perjodohan lucnut itu tak terjadi dan Raihana tak kubuat hamil di luar nikah seperti ini, pasti aku masih bisa hidup bersamamu kan?" ucapnya yang mulai melemah, airmatanya bahkan sudah luruh membasahi wajahnya.
Agatha menatap tak percaya pada zeno. Apakah kelakuan brengseknya sampai seperti itu? Menghamili seorang gadis diluar nikah? Sungguh memalukan. Agatha berdiri dan langsung menampar Zeno.
"Keterlaluan lo, Anjing!! Gue kurang apa sama lo bangsat? Tega yah lo ngehamili anak orang di saat hubungan lo dengan gue masih terjalin. Gak tau gue hati lo terbuat dari apa babi!" Agatha benar-benar marah untuk saat ini, hingga emosinya tak terkontrol dan terus memukuli Zeno dengan kuat.
"Ini juga karena, Lo gatha! Andai lo kasih gue hak untuk nyentuh tubuh lo saat itu, gue pasti gak bakalan ngehamilin anak orang dan gak akan nikah dengan dia." ucap Zeno yang langsung di hadiahi pukulan keras di wajahnya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Kevin. Dia menghantam wajah Zeno berkali-kali hingga pria itu jatuh tersungkur.
"Kau pikir dia wanita murahan, ha? Justru kau bangga sama dia! Dia bisa pertahanin keperawanannya sampai kau bisa jadi suaminya dan punya hak atas dirinya, paham kau bangsat!" Di pojok sana Agatha tengah menangis sesegukan. Apakah selama ini Zeno hanya mau bersamanya karena fisiknya dan gairah sex pria itu? Ntahlah hatinya terasa sangat sakit untuk saat ini.
Kevin segera menarik Agatha kepelukannya, membiarkan gadis itu menumpahkan kekesalannya di sana.
"Shtt, jangan nangis, ada aku di sini kita urusi dia sama-sama yah?" Agatha mengangguk dalam dekapan hangat pria itu. Kevin melepaskan pelukannya, ia mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi gadisnya itu.
"Kamu kalau nangis jelek, jadi jangan nangis yah!" Perintah Kevin dengan suara yang dibuat-buat setegas mungkin. Agatha mencubit perutnya. "Tau ah, kamu orang lagi sedih malah diejek, kesal aku!" Agatha segera beranjak dari sana, namun belum sempat kakinya keluar Kevin menggendongnya sembari mencium kilas bibirnya. Mereka keluar dan menuju mobil mereka kembali.
"Kev," ucap Agatha saat mereka hendak memasuki mobil. Kevin menoleh. "Makasih atas semua yang kamu berikan ke aku, kasih sayang, perhatian dan juga kesabaran kamu. Aku gak bisa balasnya jadi aku hanya bisa ngucapin makasih untuk semuanya. Maaf aku belum bisa jadi pasangan yang baik untukmu." Ucap Agatha dengan suara yang melemah. Kevin menurunkan Agatha dari gendongannya mendekap gadis itu kembali.
"Shtt, jangan nangis! Aku ngelakuin itu semua karena aku menyayangimu." ucap Kevin dengan lembut. Agatha melepas pelukan mereka. "Kev, aku gak tahu aku udah jatuh cinta apa belum samamu, yang jelas aku merasa takut kehilanganmu dan aku sangat menyayangimu. Aku berjanji rasa cintaku hanya akan untukmu seorang. Aku janji akan berusaha mencintaimu setulus hatiku. Terimakasih sudah menjagaku selama aku ada disini." Agatha tersenyum dan kembali menubruk dada bidang milik Kevin.
End