Heri terbangun, menoleh kanan dan kiri. Suasana kelas terasa lengang, sepi. Bangku bangku yang berderet di depannya nampak kosong ditinggal penghuninya. Papan tulis juga terlihat sudah bersih, goresan goresan spidol boardmarker tak tersisa barang satu garis pun. Heri mencari cari tas ranselnya yang tak ada di sekitar tempat duduknya.
Ciitt . . . ciitt . . .ciittt
Terdengar suara berdecit dari luar ruang kelas, seperti suara sepatu yang di seret. Heri ragu ragu berjalan ke luar kelas dan tidak menemukan seorangpun disana. Heri menelan ludah, lorong sekolah terasa sepi, sunyi dan entah kenapa udara terasa lebih dingin dari biasanya. Heri melihat arloji yang terpasang di tangan kirinya. Jam empat sore. Suasana sekolah yang temaram, lampu yang tidak dinyalakan, serta terdengar suara guntur dari langit yang terlihat muram. Lengkap sudah, Heri merasa harus segera pergi dari tempat ini.
Heri tak lagi peduli dengan tas ranselnya. Segera dia berlari menuruni tangga yang entah bagaimana terasa lebih panjang dari biasanya. Ruang kelas dua belas A memang berada di lantai tiga. Saat Heri berlari menuruni tangga lagi lagi terdengar suara lantai berdecit , mengekor Heri. Heri berhenti sejenak dan suara tersebut juga ikut terhenti. Heri mempercepat langkahnya dan berhasil mencapai lantai dua.
Suasana yang lebih muram menyambut Heri di lantai dua. Lantai keramik yang terlihat kotor penuh noda lumpur dan noda noda sepatu yang acak tak beraturan entah bagaimana berhasil membuat bulu kuduk Heri meremang dahsyat. Udara terasa dingin, namun keringat mengucur tak henti dari sekujur badan Heri.
“Herr?,” sebuah suara dari arah belakang mengagetkan Heri. Heri refleks melompat ketakutan.
“Ulva?,” Heri melotot menatap cewek yang ada di belakangnya. Ternyata Ulva, cewek paling cantik satu kelas. Heri mengelus elus dadanya. Ada rasa lega sekaligus senang ada Ulva menemaninya kini.
“Belom pulang?,” Heri bertanya setelah menguasai rasa takutnya. Ulva hanya menggeleng pelan.
“Kamu kenapa?,” Heri kembali bertanya, melihat Ulva yang nampak tidak seperti biasanya. Cewek periang itu kini di mata Heri terasa muram dan bersedih.
“Nggak pa pa,” Ulva menjawab pendek.
“Eh Ul, kamu kan vertigo ya . . . kerasa nggak sih ada yang aneh dari sekolah ini sekarang?,” Heri celingak celinguk masih merasa ketakutan.
“Indigooo Heriii, bukan vertigooo,” Ulva terlihat jengkel. Heri tersenyum, pancingannya sukses. Ulva mulai terasa kembali seperti biasanya.
“Yah itu maksudku. Gimana ada aura yang nggak enak gitu nggak sih? Daritadi aku ngerasa kayak diikutin gitu,” Heri memegang tengkuknya yang terasa dingin.
“Kamu nggak ingat ya Her?,” Ulva menatap Heri.
“Ingat apa Ul?” Heri mengernyitkan dahi, bingung dan nggak ngerti.
“Ah, enggak . . . Ayo kita duduk dulu,” Ulva menunjuk kursi panjang yang berada di depan sebuah ruang kelas. Heri mengangguk menyetujui ajakan Ulva. Akhirnya mereka berdua duduk menatap langit yang semakin terlihat gelap dan muram.
“Ada yang mau aku omongin . . .,” Heri dan Ulva berbicara bersamaan, sebuah kalimat yang sama persis terucap dari bibir mereka berdua.
Heri sudah lama naksir pada Ulva, cewek paling pinter dan paling cantik seantero kelas bahkan seluruh sekolah (bagi Heri). Heri nggak pernah punya nyali untuk menyatakan perasaannya. Heri sadar dirinya hanyalah cowok setengah ganteng (dibilang jelek enggak dibilang ganteng juga nggak terlalu), dengan kemampuan akademis yang biasa biasa saja (disuruh nulis sistem periodik unsur belum juga hafal). Namun entah mengapa saat ini dia merasa harus menyampaikan isi hatinya pada Ulva.
“Biar aku yang duluan ngomong,” Ulva mengambil alih percakapan, matanya masih mengawang menatap langit. Heri buru buru mengangguk. Heri penasaran apa yang hendak disampaikan cewek pujaan hatinya itu.
“Her . . .,” Ulva memanggil Heri lirih. Suaranya terdengar sedikit bergetar.
“Iya Ulva?,” Heri semakin tidak sabar ingin tahu apa yang mau disampaikan Ulva.
“Sebenarnya dari dulu . . . semenjak kita bertemu di awal masuk sekolah ini. Saat datang hujan dan kau meminjamkan jas hujanmu di parkiran sekolah waktu itu . . . Aku telah jatuh hati padamu . . .,” Ulva mengucap kalimat dengan terbata bata.
Sebuah kalimat yang membuat Heri kaget, senang, bahagia dan tak menyangka. Gayung bersambut, dua hati yang ternyata saling tertaut.
“Ul. . . sebenarnya aku pun merasakan hal yang sama. Aku sudah sejak lama memperhatikanmu, menyukaimu . . ,” Heri tersenyum menatap Ulva. Ingin rasanya dia memeluk Ulva, namun entah mengapa niat itu diurungkannya.
“Kenapa tidak dari dulu kamu mengatakannya Her?,” Ulva bertanya, matanya sayu, ada cairan bening yang terbendung di pelupuk mata bulatnya yang indah.
“Maafkan aku, aku tak punya nyali untuk itu Ul,” Heri sedikit bingung melihat Ulva yang hendak menangis.
“Sekarang semua sudah terlambat Her . . . terlambat,” butir butir air mata jatuh, Ulva menangis.
“Hah? Apa maksudmu?,” Heri benar benar bingung tak mengerti apa yang terjadi. Ulva masih terus menangis tersedu.
“Ul . . .?,” Heri memanggil Ulva lirih, ragu ragu dia mengulurkan tangannya hendak mengusap air mata cewek yang disukainya itu.
WUUSSHHHH
Heri tak bisa menyentuh wajah Ulva. Entah bagaimana tangan Heri seperti menembus melewati badan Ulva. Heri semakin bingung, Heri menatap kedua telapak tangannya. Sekali lagi Heri mencoba mengusap air mata Ulva, dan tak bisa. Heri mencoba menyentuh Ulva, memegang tangan ataupun memeluk Ulva, semuanya tak bisa dia lakukan.
“Kenapa ini? Ada apa ini?,” Heri bertanya pada dirinya sendiri. Ulva masih terus menangis, kali ini dia menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah tangga. Ada seseorang dari lantai satu menuju ke tempat mereka duduk.
“Neng? Sedang apa disini sendirian? Kenapa menangis? Ini sudah sore, kok belum pulang?,” Pak Sugito satpam sekolah mendekat pada Ulva. Pak Sugito mengacuhkan keberadaan Heri.
“Neng, ini waktunya pulang, sudah sore. Nggak baik disini sendirian nanti bisa kesambet lho,” sekali lagi Pak Sugito menegur Ulva dengan sabar. Ulva akhirnya mengusap air mata menggunakan punggung tangannya, kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan Heri yang sedang kebingungan. Pak Sugito mengekor di belakang Ulva.
“Her . . .semoga kamu tenang disana,” Ulva menoleh pada Heri, sementara Pak Sugito celingak celinguk sambil mengelus elus tengkuknya sendiri.
“Neng, ngomong sama siapa?,” Pak Sugito Nampak ketakutan, Ulva terus berjalan tidak menjawab pertanyaan Pak Sugito.
Heri yang mendengar perkataan Ulva tiba tiba saja terdiam membisu. Heri menunduk menatap baju sekolahnya yang kini terlihat penuh dengan bercak darah. Celananya robek di bagian lutut, terlihat darah merah kental disana. Sekelebat bayangan kejadian sebuah kecelakaan motor di jalan depan sekolah terlintas di benak Heri. Heri kini sadar semua telah terlambat.
Heri menangis dalam diam, bersamaan dengan jatuhnya air hujan yang turun dari langit dengan begitu lebatnya. Heri mencoba berteriak sekencang kencangnya, namun suaranya tak keluar sama sekali. Dan suara lantai berdecit kembali terdengar. Sosok makhluk berjubah hitam kini berada di hadapan Heri.
“Ayo . . . waktunya kamu pergi . . . “
TAMAT
Baca judul lain Bung Kus
1. Rumah di tengah Sawah
2. KEMAMANG
Follow IG : bung_engkus