Entah sudah berapa lama aku dipekerjakan keluarga ini sebagai penjaga keamanan merangkap penjaga rumah. Sepertinya memang sudah terlalu lama. Aku melihat tuan muda-tuan muda kecil menjadi dewasa bahkan menua. Aku sudah melihat banyak kematian menghiasi sejarah hidup rumah dan keluarga ini. Aku sudah melihat kayu lapuk, beton tergerus, bangunan lama menggantikan bangunan baru yang meremaja kembali. Aku menjadi saksi sejarah tumbuh kembang sejarah rumah ini.
Tapi bila kau pikir aku sudah tua dan renta, itu adalah kesalahan pertamamu. Memang aku bisa dikatakan sudah tua, berumur. Tapi tidak renta dan lemah. Tidak sama sekali! Bahkan mungkin aku masih merasa bisa hidup selamanya.
Sudah banyak jasa yang tak terbilang dan tercatat dalam pelaksanaan tugas dan tanggung jawabku. Tidak hanya harta keluarga yang selalu berhasil kujaga dengan baik dari niat dan ancaman para pencuri dan perampok keji, namun juga harga diri serta martabat yang membawa kebesaran keluarga ini yang selalu aku panggul di bahuku.
Para perampok pontang-panting melihat sosok dan sepak terjangku. Mereka terbirit-birit berlari menjauhi rumah ini demi merasakan hawa wibawa dan amarahku. Tidak hanya itu, orang-orang yang ingin mencelakakan anggota keluarga dengan ilmu gaib, ilmu nujum, atau ilmu hitam lainnya juga kuhadang dengan jantan. Ketika mereka mengirimkan teluh melalui bola-bola api yang beterbangan ke atap rumah, aku dengan sigap menghadangnya, menghancurkan bola-bola api penuh dengan dendam dan kebencian itu sampai menjadi butiran debu halus.
Keluarga ini sudah menjadi bagian hidupku. Sudah kuabdikan nyawa dan jiwaku untuk membuat anggota keluarga tetap merasa aman dan tentram. Aku sudah melakukan pekerjaanku ini dengan baik bahkan sempurna, sampai perempuan itu datang.
Namanya Maryam. Aku dapat membaui harum semerbak tubuhnya yang beterbangan dan bertaburan di udara ketika ia mengibaskan rambut dan keliman pakaiannya. Sepasang matanya memancarkan keteduhan yang luar biasa. Bisa kurasakan juga hawa keibuan yang mengalir keluar dari pori-pori kulitnya setiap kali ia menyapa dan memperhatikan sang kemenakan suaminya yang masih remaja, Satria.
Maryam adalah istri anak laki-laki paling bungsu Carik Darwen, tuanku, sang pemilik rumah. Nama anak laki-lakinya itu adalah Jati. Maryam dan Jati, sepasang suami istri itu tinggal di bangunan rumah ketiga di kompleks rumah Carik Darwen yang memang besar ini.
Awalnya aku berusaha tidak terlalu ambil pusing dengan perasaan ini, apalagi Maryam tidak benar-benar pernah memperhatikanku. Setiap berpapasan, wajahnya memang menyunggingkan senyum, tapi aku yakin senyum itu memang adalah bagian dari air mukanya yang menawan itu. Tapi lidahku selalu kelu. Layaknya tak mengenal bahasa manusia aku bahkan tak mau mencoba membuka mulut untuk menyapa, takut akan geraman yang keluar dari kerongkonganku. Lama-lama aku sadar bahwa cinta tumbuh di hatiku, membesar bagai penyakit manusia yang disebut tumor. Kadang aku bahkan tak kuasa menahan lagi, seperti mau meledak rasanya.
***
Sudah lima tahun, atau lebih (entahlah, aku tak pernah pandai dalam menghitung waktu), sejak pertama aku melihat Maryam. Ia tak berubah sama sekali. Jati belum dapat memberikannya anak dan waktu seperti berhenti berputar karena kerutan yang biasa terjadi pada manusia normal tak pernah hinggap di wajah ayunya. Tapi perlakuan Maryam kepadaku perlahan berubah sampai berubah sama sekali. Tak ada lagi semburat senyum di wajahnya. Pertama terlihat rasa risih, kemudian rasa takut. Padahal aku sudah berusaha sesopan mungkin ketika berpapasan dengannya. Atau mungkin memang aku mengerikan di matanya.
Lama kelamaan aku mulai menyadari ini semua karena kami belum saling mengenal dengan baik. Rasa cinta yang bersemi dalam dadaku ini memerlukan panggung agar dapat ia lihat. Memang cinta ini terlarang. Aku harus sadar siapa aku di dalam keluarga dan rumah ini, apa pekerjaan dan tanggung jawabku. Aku juga paham bahwa Maryam adalah istri sah Jati, anak bungsu Darwen. Tapi aku perlu membuatnya tahu. Aku tak mau rasa ini melecut hatiku sesuka hati sendirian.
***
“Apa yang ada di pikiranmu sebenarnya? Maryam, menantuku, mulai risih dengan segala tindak tandukmu. Harusnya kau pandai-pandai menyimpan mukamu itu,” ujar Darwen kepadaku suatu hari. Ia sudah cukup berumur, walau hampir tak terlihat usia aslinya. Tubuhnya masih cukup berisi dan tegap. Rambut putihnya seakan berusaha menutupi kejanggalan ketuaannya di usia ini yang mana tak terlihat kerutan yang berarti di wajahnya. Rupa-rupanya Darwen sudah mulai melihat gerak-gerikku yang aneh terhadap Maryam.
“Apa maksudmu, Darwen?” kataku mencoba berpura-pura tidak tahu.
“Jangan kau berpura-pura lagi. Tak ada seorang anakkupun yang tahu orang macam apa bapakknya ini. Jadi tak perlu kau menambah-nambahi dan membuat semuanya runyam,” katanya. Terlihat sekali Darwen mulai kelelahan dengan hidupnya. Tubuhnya boleh menolak tua, namun jiwanya sudah keropos.
“Maksudmu, aku harus meghilang jauh-jauh dari anak-anakmu?”
“Ya! Tapi kau tahu yang kumaksud bukan itu. Maryam, menantuku, sudah sangat teraganggu denganmu selama beberapa tahun terakhir ini. Aku minta jangan lagi kau berani-berani menampakkan batang hidungmu dengan cara apapun di depannya. Ia adalah istri anakku yang tentu saja sudah menjadi anakku sendiri.”
Aku merasa tak perlu lagi menutupi ini semua dari tuanku ini, “Aku jatuh cinta dengan Maryam, Darwen.”
“Bangsat! Kau harus sadar bahwa kau ini siapa!” Darwen meledak. Tak pernah selama ini aku melihatnya semarah ini.
“Mengapa aku tak diperbolehkan mencinta, Darwen? Sebegitu hinakah keadaanku di hadapanmu? Apa karena aku sudah lama mengabdi pada keluargamu sehingga aku tak pantas mendapatkan perhatian apalagi cinta?”
“Mahluk macam apa kau ini. Bukan hanya tak tahu diri, kau juga dungu, keras kepala dan ...,” Darwen kehabisan kata-kata.
Aku tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mencercanya, “Dan apa, Darwen? Aku telah berjasa besar pada keluargamu, dari nenek moyangmu, buyut, kakek dan bapakmu. Semua yang kau nikmati sekarang ini jelas karena campur tanganku, bukan? Jangan lupa bahwa kau juga tidak suci. Tanganmu juga penuh darah.”
“Cukup, aku tidak mau bersengketa denganmu.”
“Kenapa kau menghindar, Darwen? Bukankah benar apa yang kukatakan kepadamu?”
“Aku bilang diam kau!”
“Kenapa kau tidak pernah memanggilku dengan namaku?”
Darwen terdiam. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan, “Baiklah, jin penjaga. Kau memang tak bernama, tapi nenek moyangku memanggilmu Jin Obong! Aku pikir sudah saatnya kau disadarkan kembali pada tanggung jawab dan wewenangmu itu.”
***
Aku memandang tubuhku yang besar dan tinggi sampai ke langit-langit rumah, kedua tangan dan hampir seluruh tubuh telanjangku yang dipenuhi bulu, serta cakar tajam di kelima jariku. Kedua bibirku juga merasakan taring-taring yang mencuat dari dalam mulutku. Perlahan aku berkata, “Berikanlah Maryam padaku, Darwen. Ia adalah hakku, seperti perjanjianku pada leluhurmu.”
“Tidak. Tidak Jin Obong. Perjanjianmu tak pernah berlaku bagi orang lain, hanya bagiku dan keturunanku.”
“Perjanjian itu meminta keturunanmu dihitung dari leluhurmu, atau seorang perempuan dari lingkaran kekeluargaanmu untuk dijadikan pendampingku.”
“Tidak akan pernah, Maryam.”
“Ayolah, Darwen. Berikanlah Maryam kepadaku, dan akan kubebaskan perjanjian ini untuk selamanya. Kulihat kau sudah lelah bekerjasama denganku. Kekayaan yang telah aku berikan ini tak akan habis sampai tujuh turunan.
“Leluhurku sampai pada diriku sekarang sudah memeluk ilmu hitam. Aku pun memang tak terhindar dari kutukan itu. Aku tak mau mencari pembenaran atas dosa-dosaku selama ini. Tapi sudah cukup bagiku. Aku tak akan membawa-bawa keturunanku masuk ke neraka. Semua harus berhenti di sini,” ujarnya menatap tajam mataku.
Aku menggeleng, “Darwen, kau sadar dengan apa yang kau omongkan ini? Aku tak meminta banyak. Aku hanya minta Maryam dan kau serta anak-anakmu akan sehat walafiat.”
“Tidak. Tidak ada yang sehat walafiat bila aku menyerahkan Maryam. Itu tindakan bejat. Aku minta kau ambil nyawaku sekarang dan pergi tinggalkan keluargaku selamanya,” sepasang mata Darwen itu membakar tubuhku. Aku tahu niatnya sudah bulat. Tidak akan ada yang dapat mengubahnya. Selama ratusan tahun aku menjaga keluarga ini, aku hanya meminta agar dapat memiliki Maryam.
Aku juga tak tahu mengapa rasa cinta yang dimiliki manusia itu bisa masuk ke dalam jiwaku. Mungkin aku terlalu lama berada di bawah kekuasaan keluarga Darwen. Aku juga ingin lepas dari rasa yang menyiksa ini. Bila tidak bisa mendapatkan Maryam, satu-satunya jalan yang paling mungkin adalah melepaskan ikatan perjanjian ini selamanya.
Aku menatap lagi kuku-kuku panjang dan tajam di keselupuh jariku. Kuku-kuku hitam itu memanjang perlahan. Kulihat Darwen berdiri tegak. Ia menarik nafas, membusungkan dadanya dan menutup mata, “Lakukan Jin Obong, lakukanlah. Aku membebaskanmu.”