Aku suka saat-saat itu, saat dimana senyuman menjadi pengiring rasa diantara kita. Aku merindukanmu, cintaku, dan kenangan kita.
~~
Dulu pertemuan kita seperti bukan sesuatu yang mengagumkan. Awalnya, kita bermula dari saling mengenal, kemudian berubah menjadi teman yang akrab.
Entah siapa yang lebih dulu tertarik diantara kita. Entah siapa yang lebih dulu memberikan isyarat diantara kita. Mungkin dulu aku sedikit bodoh, kupikir, hubungan pertemanan antara pria dan wanita itu ada. Tapi ternyata tidak.
Sekarang cerita pertemanan itu telah berakhir. Tidak ada lagi yang namanya teman akrab ataupun sobat karib. Tanpa sadar, ternyata perasaan yang muncul sudah berkembang hingga sejauh ini.
Rasa saling suka.
Rasa saling mendambakan.
Dan, rasa saling rindu.
Hingga suatu ketika aku membuka mataku, ternyata yang kulakukan sejauh ini bukanlah sesuatu yang benar. Aku telah dibutakan oleh perasaan itu. Perasaan dimana aku menginginkan barang kepunyaan orang lain, yang seharusnya tak sedikitpun ku sentuh.
Kau telah berbohong, kau tak mengerti bagaimana perasaanku yang tahu ternyata barang yang kusukai telah menjadi milik orang lain. Aku sudah tak pantas untuk mendapatkannya, itu bukan milikku.
Walau aku mencoba untuk melepaskan ketidakrelaan ini dengan amarah, tapi ternyata semuanya hanyalah sia-sia. Rasanya sangat sakti. Sakit yang teramat dalam hingga aku sendiripun tak tahu bagaimana cara untuk mengobatinya.
Aku merindukanmu.
Wahai cintaku, yang ternyata bukan milikku.
Jika memang ada kehidupan selanjutnya, semoga saja kita bisa bertemu kembali. Akan ku pastikan saat itu kau menjadi milikku. Namun untuk saat ini, aku harus belajar tuk melupakan.
~~
Ternyata tak selamanya takdir berjalan sesuai dengan keinginan. Akan ada kejutan di setiap peristiwa yang mengisi coretan tinta ini. Ya, kuharap, kita 'kan selalu bahagia. Semoga.