Di suatu wilayah kerajaan yang damai dan makmur, Kerajaan Luzlun, lahirlah seorang putri. Namun, kelahirannya membawa banyak kekacauan. Raja dan Ratu telah pergi selamanya dari sang putri, di bawah takhta sementara oleh Paman Chron yang keji; dia bertahan hidup di mansionnya. Semua kesalahan yang terjadi dilimpahkan kepada Putri Lumina. Di sisi lain, musuh kerajaan, Thundervale; tak habis-habisnya melancarkan serangan pada wilayah kota, desa, dan Kerajaan Luzlun.
Demi menenangkan pihak musuh, Chron mengatur strategi busuk. Ia ingin menjadikan putri pengantin pemimpin Thundervale. Namun, putri menolak. Sehingga, Chron memberikan tawaran lain.
"Pergilah ke arah barat, ke Hutan Bukit Merah. Bawalah naga iblis ke mari. Dengan itu, kamu tak perlu jadi pengantin. Bagaimana?" Tawaran yang tak masuk akal Chron, bagi yang mendengarkan akan bergidik mematung.
"Aku sudah menerima kurunganmu belasan tahun, dan kau mau mengusirku dengan alasan itu? Bukankah lebih baik hunuskan pedangmu sekarang padaku, wahai Paman Raja sementara?" ejek Putri Lumina.
"Mina anakku, turuti permintaan tulus pamanmu. Ingin melihat rakyatmu menderita? Setelah berhasil, tinggallah bersama kami di istana," rayu Chron.
Mau tak mau, Putri Mina menerima tawarannya. Walau dia dan seluruh rakyat tahu, bahwa naga iblis yang dimaksud hanyalah legenda semata, tidak ada yang tahu betul keberadaan sang naga. Selama lima dekade terakhir, tidak ada yang kembali dari dalam hutan tersebut. Jika kembali, akan menjadi gila dan membawa wabah penyakit.
Sudah tiga hari perjalanan Putri Mina menuju hutan. Di sepanjang jalan hutan, kabut keabu-abuan menghalangi jarak pandang sang putri. Kuda yang dinaiki putri berjalan perlahan sembari putri berburu santapannya. Konon, tempat tinggal bukit naga berada, harus melewati sungai deras berair merah, yang mana sungai itu sudah menelan banyak korban.
"Apa ini? Air sungainya benar-benar merah, darah? Oh, Ayah dan Ibunda, jagalah anakmu ini. Arusnya deras sekali. Aku harus meninggalkan kuda Bell di sini. Tak mungkin membawanya sampai ke seberang. Tunggulah di sini, nanti aku akan menjemputmu. Maaf ya, Bell."
Setelah dua hari, akhirnya dia berhasil mencapai Bukit Merah. Kabut yang menyelimuti bukit makin pekat kemerahan. Ia sebelumnya bahkan tak percaya bisa melewati sungai. Anehnya, saat dirinya menceburkan kakinya ke dalam air, arus sungai mulai tenang. Ia bisa berjalan mulus melewati sungai, tapi dia ingin juga membawa kuda Bell. Tak disangka, ketika Bell memasuki air, tiba-tiba arus air kembali deras. Bell diterjang dan hanyut entah ke mana.
Putri Mina mulai bertapa di bukit tertinggi yang mampu dia daki, dirinya membuat lingkaran darah tubuhnya untuk ritual. Badannya terlukis pola-pola cantik dengan darahnya. Daging persembahan kijang dan babi hutan tertata rapi di hadapannya, berharap naga iblis itu segera menemukannya. Tiga hari lamanya Mina duduk mematung, hujan deras mengguyur selama pertapaannya. Menimbulkan bau aneh di sekitar bukit, setiap dia mencium bau itu, kepalanya terasa berat dan sangat pusing. Namun, naga tak kunjung datang.
Malam kesepuluh tiba, persediaan minum semakin menipis. Ia tak mengapa tak makan, tapi tanpa minum, hancurlah tubuhnya. Ketika perasaan kecewa datang, tanah yang didudukinya mulai bergerak sendiri. Tubuh Mina yang melemah, jatuh terguling ke bawah. Tanah membuka perlahan, Putri Mina tertelan ke dalamnya dan berakhir menuju gua. Kepalanya terbentur dan luka semakin banyak terlukis di kulitnya. Jatuh pingsan adalah pilihan menggelikan, tapi mati seketika tanpa hasil ialah pilihan terburuk.
"Awww, sakit sekali. Sudah berapa menit aku pingsan? Dan, gua apa ini? Gelap sekali, aku harus membalut luka-lukaku dulu."
Ketika meraba-raba dinding dan lantai tanah gua dan mencari sesuatu untuk penerangan, dia dikejutkan oleh sesuatu.
"Uwaa, apa itu? Kasar. Runcing. Batu? Trenggiling? Landak? Apa ya? Haa! Jangan-jangan ...."
Putri Mina menemukan korek api di kantongnya. Matanya samar-samar melihat sesuatu yang sangat besar. Tinggi. Kuat. Ya, naga iblis berada di hadapannya. Bahkan, Mina harus berputar mengelilingi tubuh naga yang memakan waktu hingga sepuluh menit. Ia berlari mundur, menjauhi naga. Lalu berteriak dan mendekat dan memukul-mukul kulit naga yang keras.
"Hei naga, bangun! Apa kau tak mendengarku? Aku butuh bantuanmu. Sekaranggg, bangunnn!!" Mina sesekali menaikinya dan mendekatkan mulutnya ke dalam telinga naga, agar dia mendengarnya.
Mina mencoba mengiris kulit perut naga, lalu bergantian menyayat kulit tangannya. Darah yang mengalir dari tangan Mina, diteteskan ke luka goresan di perut naga, dia juga menaburkan sedikit garam dari kantong bajunya. Nahas, naga iblis tetap tidak bangun. Putri Mina berpikir, bahwa, jelas orang-orang tidak pernah melihatnya. Ternyata naganya tertidur, Mina lagi-lagi terkekeh.
"Tunggu. Apa naga ini sudah jadi bangkai, hmm? Tapi tak ada bau busuk tercium."
Ketika memikirkan hal-hal aneh, gua tiba-tiba bergetar. Mina berjalan terhuyung, sementara itu naga membuka matanya. Lalu ....
Bruukkk ....
Putri Mina terhempas oleh ekor naga yang terbangun. Mata naga melihat sosok gadis kecil yang kesakitan dan akhirnya gadis itu tak sadarkan diri.
Setelah beberapa saat, Putri Mina terbangun dan merasakan aneh pada tubuhnya.
"Gadis bodoh, jika tak mampu untuk apa ke sini? Tapi, sungguh beruntung dirimu. Mungkin karena perlindungan dari roh-roh terdahulumu atau karena sihir perlindunganku mulai melemah. Yang pasti kamu datang, mengacaukan mantra sihirku. Selain itu suara dan luka yang kau buat di ...."
"Tuan Naga! Apa kamu yang menolongku? Darahku sudah berhenti mengalir, dan, dan rasanya badanku kembali segar. Boleh tahu rahasianya?" Rasa ingin tahu Mina yang tinggi, memotong pembicaraan sang naga.
"Jenis makhluk apa kau ini? Kenapa senang? Kau mau kujadikan mang ...."
"Aaaaa, Tuan Naga, kamu mengerti bahasaku? Bisa berbicara juga? Wah, hebat. Tapi, bukankah kamu perlu minum jahe, suaramu serak sekali," pinta Mina sambil tertawa geli.
"Diammm!!"
Wuuushhh ....
"Mmm.... Mnmmm. Mnnmmn." Mulut Mina tiba-tiba bungkam. Ia pikir, itu sihir dari naga dan mulai pasrah apa yang terjadi selanjutnya.
"Gadis kecil yang sudah terkurung belasan tahun, ternyata bisa seaktif ini. Dari mana kamu belajar ilmu pedang dan tombak? Apa kamu mau menggulingkan pamanmu? Oh ya, aku tak sudi membantumu. Jadi, sekarang kembalilah. Akan kubuka jalan dan menuntunmu pulang."
Putri Mina yang terkejut karena naga itu mengetahui asal-usul dan tujuan kedatangannya, membelalak tajam dan tubuhnya bergoyang sana-sini mengisyaratkan segera meminta melepas sihirnya.
"Tuan Naga yang berbaik hati, bagaimana engkau tahu? Aku Putri Kerajaan Luzlun, Faiziyyah Lumina Elberta. Ah, sihirmu itu sungguh hebat. Sungguh pantas untuk menolong kerajaan kami. Bantulah, akan kuturuti semua keinginanmu. Jika perlu ambil tubuhku dan ...."
"Nyawamu? Menarik. Jadilah budakku," sela naga iblis.
"Elberta ya, namanya tak asing dalam ingatanku," gumam naga itu.
"Ba-baiklah, aku mau. Gantinya, kamu harus ikut denganku," jawab Putri Mina.
"Berendamlah dalam air kolam itu. Aku akan menghangatkannya dengan apiku," pinta sang naga.
"Untuk apa? Ayo kita langsung menuju ke istana kerajaanku," ajak Putri Mina.
"Tak usah bertanya, turuti saja dulu," pinta naga.
Naga iblis mulai menghembuskan napas apinya ke dalam air, selain itu dia juga meneteskan darah dari keningnya. Hal itu membuat kepala Putri Mina yang sudah setengah terendam berkunang-kunang, pun penglihatan dan pendengarannya menurun.
"Roja, namaku. Ingatanmu kuambil, jangan berharap mengingatku, atau menemukanku lagi. Jadilah putri yang hebat dan ceria. Aku pikir, kita ada hubungan kekuatan darah yang murni. Mungkin saja, aku pernah jadi bagian keluarga kerajaan. Jikalau bukan karena kutukan naga generasi sebelumnya, jadi apa aku sekarang? Jangan marah, kamu akan tertidur lima tahun. Sekarang kuda dan tubuhmu akan sampai pada gerbang istana. Selamat tidur, Mina sayang."
Dua tahun berlalu, Chron sudah menjadi raja Luzlun. Thundervale menyerah akibat musibah besar yang menerjang rakyat dan wilayahnya. Kerajaan Luzlun mulai bertahap membenahi kekacauan pascaperang. Sejak terakhir naga terlihat di atas istana pada malam kepulangan Putri Lumina, sejak itulah kehebatannya menyebar ke penjuru darat dan lautan. Tak terkecuali berita tertidurnya sang putri setelah kejadian itu. Hutan Bukit Merah masih menjadi misteri. Lalu, Putri Mina menunggu takdirnya berjalan kembali.