Di New York hiduplah keluarga ilmuwan terkenal di negara itu.
Robert Sarron anak pertama dari empat bersaudara keluarga Sarron yang terkenal kegeniusannya dalam bidang IT menikah dengan seorang ilmuwan ahli farmasi Almeeta Ronald.
Mereka memiliki putra kembar yang sangat tampan dan mewarisi kegeniusan mereka.
Alferry Sarron putra sulung mereka memiliki kemampuan yang sangat memukau di usianya yang menginjak 14th, dia seorang ahli IT yang di warisi dari sang Daddy, dia ahli hipnotis yang di pelajari dari sang paman Johan Sarron, dan juga ahli beladiri yang dia pelajari dari paman keduanya Randy Sarron, dan bibinya Selena Sarron seorang wanita yang terkenal ahli beladiri dan sangat lincah dalam bergerak membuat musuhnya kalang kabut.
Sedangkan anak bungsu mereka Alferro Sarron cenderung lebih memilih mewarisi keahlian sang Mommy menjadi seorang ahli farmasi, Ferro lebih suka membantu Mommynya di laboratorium dan mencoba untuk membuat penelitiannya sendiri.
Suatu hari mereka sekeluarga pergi berlibur ke Amsterdam dan terjadilah penculikan pada putra keduanya Ferro.
Mereka semua kalang kabut mencari keberadaan Ferro, semua kemampuan yang mereka miliki pun mereka kerahkan untuk mencari sang buah hati tapi semuanya nihil tidak membuahkan hasil.
Ini sudah hari ketujuh dari hari dimana Ferro di culik, Ferry beserta paman dan bibinya kesana kemari melacak keberadaan Ferro dan tidak membuahkan hasil.
Jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 11 siang Ferry memutuskan untuk pulang terlebih dahulu untuk beristirahat sejenak.
Betapa kagetnya Ferry ketika mendapati sanak keluarganya sedang berkumpul dan menangisi jasad adiknya yang sudah terbujur kaku dengan kondisi yang sangat mengenaskan, luka di sekujur tubuhnya dan beberapa luka lebam di wajah dan tangannya.
Mungkin sebelum di bunuh adiknya Ferro sempat di aniaya.
Ferry mendekati jasad adiknya, dengan langkah gontai dan pandangan mata kosong dia terus berjalan mendekat.
Semua keluarga yang melihat sikap Ferry pun semakin menangis pilu.
Setelah berhasil sampai di samping jasad adiknya Ferry terduduk di samping Mommynya yang sedang menangis meratapi kepergian anak kesayangannya.
"Bangun Ferro ... Bangun! Katanya kamu ingin belajar bela diri bangun ... cepat bangun! Kalau kamu tidak mau bangun aku akan menyeretmu," teriak Ferry histeris sambil menggoncang goncangkan tubuh sang adik.
Johan dan Randy yang melihat keponakannya histeris pun segera menghampiri dan memeluk erat tubuh keponakannya.
Ferry yang terlalu shock dan tidak bisa menerima kenyataan kalau saudaranya sudah meninggal akhirnya pun pingsan di dalam pelukan Johan.
Robert yang melihat kedua putranya pun tidak tahan ikut meneteskan air matanya.
Pemakaman Ferro pun telah selesai, tidak ada seorang pun yang mengetahui di mana Ferro di makamkan kecuali Robert dan Meela.
Tanpa Robert ketahui Meela menyuntikkan cairan hasil penemuannya yang bisa membuat orang meninggal hidup kembali.
Ferry tersadar dari pingsannya, dia membuka matanya untuk melihat di mana kini dia berada.
Kamar bernuansa putih dan harum yang sangat dia kenali membuatnya tahu kalau saat ini dia berada di kamarnya.
Mata Ferry mengerjap ngerjap untuk menyesuaikan cahaya yang menerangi kamar itu.
Ferry bangkit dari posisi berbaringnya menjadi duduk, dia mencoba mengingat kembali apa yang telah terjadi.
Seketika sesak yang di rasakan Ferry ketika mengingat kembali bahwa saudara kembarnya telah tiada.
Ferry dengan sisa sisa tenaga yang dia miliki berusaha untuk bangkit dan keluar dari kamar itu ketika dia mengingat bagaimana keadaan adiknya terakhir kali dia melihat.
Susah payah akhirnya dia sampai di ruang keluarga dimana itu menjadi tempat tubuh kaku adiknya di baringkan.
Ferry jatuh terduduk di lantai ketika tiba di ruang keluarga itu sudah tidak ada satu orang pun.
Bayangan kebersamaannya dengan sang adik kembali bermain di pelupuk matanya, tanpa Ferry sadari air matanya jatuh membasahi pipi.
Sebuah tepukan di pundaknya membuat Ferry terkejut, dia segera menoleh untuk melihat siapa yang mengagetkannya.
Ferry melihat paman kesayangannya Johan berdiri di sampingnya.
"Boy ... kamu harus kuat, harus tegar, terus belajar dan berusahalah menjadi sosok yang tangguh agar kamu bisa menemukan siapa pembunuh adikmu," ucap Johan sambil duduk di samping Ferry.
Ferry hanya diam, dia berusaha mencerna apa yang di katakan oleh pamannya.
Dengan segenap usahanya akhirnya kata kata yang di ucapkan Johan itu masuk dalam pikirannya yang saat ini kosong kalut akibat kematian sang adik.
"Tentu Paman ... Tentu aku akan berusaha untuk menemukan siapa yang sudah berani berani mengusikku dengan membunuh adik kesayanganku dan cara yang di gunakannya sangat biadab," ucap Ferry dengan tatapan mata yang sangat mengerikan.
Johan yang melihat kelakuan keponakannya pun bergidik ngeri.
"Ayo Boy bangkit! Bersihkan dirimu dan persiapkan fisikmu! Besok ikutlah denganku mulai besok kamu akan aku didik menjadi sosok yang tangguh," ucap Johan.
Ferry pun mengangguk penuh semangat, dia membayangkan bagaimana rupa pembunuh adiknya dan dia pun sudah tidak sabar untuk mencabik-cabik tubuh orang itu.
Ferry melangkahkan kakinya menuju kamarnya, Ferry segera membersihkan tubuhnya, ketika dia keluar dari kamar mandi tanpa sengaja matanya melihat foto sang adik tergantung di dinding kamar bersebelahan dengan fotonya.
Ferry mendekati foto itu dan mengelus foto yang tergantung di dinding.
"Tunggu Dek ... Kakak janji akan memberikan hukuman yang setimpal untuk pembunuhmu," ucap Ferry penuh emosi.
Ferry keluar dari kamarnya dan menghampiri Johan yang masih sibuk dengan laptopnya di taman samping rumah.
"Paman aku sudah tidak sabar untuk memulai latihan denganmu," ucap Ferry ketika telah duduk di samping pamannya.
Pamannya yang mendengar ucapan Ferry pun mengalihkan perhatiannya dari laptop dan menatap Ferry sekilas.
"Aku senang melihat ambisimu Boy, tapi ingatlah jangan sampai ambisi itu membuat dirimu celaka sendiri, melangkahlah dengan santai namun pasti dan berusahalah untuk mencapai tujuanmu dengan kemenangan," nasehat Johan pada Ferry.
Ferry hanya terdiam mendengar perkataan sang paman, Ferry berfikir ada benarnya apa yang di katakan pamannya.
Ferry duduk dan memandang jauh ke depan hingga tanpa sengaja matanya menatap sebuah sepeda yang biasa di gunakan adiknya berkeliling komplek perumahan yang mereka tempati.
Hati Ferry semakin sedih, dia berfikir kalau dia masih tinggal di rumah ini tentu saja bayangan adiknya akan semakin membuatnya frustasi.
"Paman mulai besok izinkan aku tinggal di markas yang ada di Indonesia, biarkan aku belajar bersamamu disana," pinta Ferry.
"Baiklah kalau itu kemauanmu tapi mintalah izin kepada kedua orang tuamu dulu," ucap Johan.
"Tentu Paman," ucap Ferry penuh dengan keyakinan.
Ferry ingin berusaha menenangkan hatinya dengan cara pergi ke ruang pribadi yang biasa dia gunakan untuk berlatih beladiri.
"Paman aku akan pergi ke ruanganku bila nanti Mom dan Dad datang katakan padanya kalau aku ada di ruanganku," ucap Ferry.
Johan pun memandang wajah keponakannya sebentar kemudian mengangguk sebagai tanda menyetujui perkataan Ferry.
Ferry melangkahkan kakinya meninggalkan sang paman sendiri di taman itu.