Laki-laki muda bernama Soemantri Soekrasana itu berhenti di depan gapura dusun yang dibangun dari batu-bata dan tampak sudah dibuat lama. Di beberapa bagiannya diikatkan kain kuning dan putih yang tak kalah lusuh, memamerkan ketuaannya.
Soemantri Soekrasana menghela nafas panjang. Sebuah dusun terpencil yang seperti seorang anak dijauhi teman-temannya ini memang terlihat dan terasa kental oleh aroma mistis. Di malam hari setelah magrib, serabut dan sulur-sulur kabut mendadak datang menyergap.
Mereka mengatakan nama tempat ini adalah Dusun Pon. Soemantri Soekrasana tersenyum tipis. Hari ini adalah hari Rabu Pon dalam perhitungan penanggalan Jawa.
***
Warung kopi Mak Romlah cukup ramai malam ini. Beberapa pemuda sibuk membahas mengenai kemungkinan pembangunan jalan baru di dekat dusun serta sebuah menara dari perusahaan penyedia jasa telekomunikasi di dekat beringin kembar lapangan bola di sudut desa. Itu artinya, kedua pohon beringin yang dikeramatkan warga tua dusun akan ditebang dan Internet akan datang. Keriangan dan semangat menyambut modernisasi yang sudah lama terjadi di kampung-kampung tetangga itu jelas menjalar dan merekat erat si sela-sela obrolan mereka.
"Internet iku opo to?" Mak Romlah bertanya mengenai apa gerangan yang dimaksud dengan Internet itu kepada para pemuda yang sedang melahap pisang goreng dingin di depan mereka.
"Ah, pokoknya kalau Mak dan tetua dusun ini percaya sihir, Internet itu ya sihirnya masa sekarang. Mak bisa ngomong sama anak Mak yang bekerja di Lampung bukan hanya dari suara, tapi juga bisa langsung sama-sama lihat wajahnya. Nah, gitu gambaran seupilnya Internet."
Mak Romlah ternganga.
Soemantri Soekrasana datang di saat yang tepat. Para pemuda enggan menjawab pertanyaan-pertanyaan janda enampuluh tujuh tahun itu lagi, terutama mengenai teknologi terkini. Umur empat puluh tahun saja di dusun ini memiliki ketertinggalan selama ratusan tahun pembangunan yang terjadi di luar sana, pikir para pemuda.
"Mbah, kopinya satu. Ada makanan apa ya disini?" ujar Soemantri Soekrasana.
"Selamat datang, nak. Ada keperluan apa di dusun terpencil di malam hari yang berkabut ini? Oh ya, panggil saja aku 'Mak', Mak Romlah orang dusun biasa menyebutku," ujar sang janda agak genit. Senyumnya terkembang, menampakkan deretan gigi yang masih utuh untuk seusianya walau tak rapi dan berwarna merah karena sirih.
Soemantri Soekrasana membalas senyuman Mak Romlah dengan kikuk. Nenek itu belum membalas pertanyaannya tentang makanan yang tersedia di warung ini. Perutnya sudah keroncongan seperti kendang berisi angin.
"Welah, Mak peyot gampang lupa, cah bagus. Di warung ini ada nasi. Lauknya pilih saja di meja, nak," ujar Mak Romlah sadar bahwa ia belum menjawab pertanyaan sang pelanggan.
Soemantri Soekrasana mengangguk, "Boleh Mak, nasi satu," ujarnya sembari memperhatikan kepala, ceker dan hati ayam goreng, serta tempe bacem dan sayur bothok.
Para pemuda memperhatikannya. Sadar dirinya menjadi pusat perhatian, Soemantri Soekrasana balas menatap para pemuda dengan mencoba seramah mungkin. "Malam mas. Sebenarnya saya cuma numpang lewat. Tapi siapa tahu ada yang memerlukan bantuan, saya bisa bantu. Kebetulan saya bekerja sebagai tukang pijat keliling."
"Muda-muda jadi tukang pijat mas?" tanya salah satu pemuda nampak tertarik.
"Karena masih muda mas, masih kuat," respon Soemantri Soekrasana sembari tersenyum.
***
Soemantri Soekrasana mengambil kesempatan untuk meminta ijin buang air kecil. Mak Romlah mempersilahkannya ke kamar mandi berdinding anyaman bambu, gedhek, di belakang rumah dan warungnya.
Baru saja jam tujuh petang, namun kegelapan sempurna merampok tempat ini.
Soemantri Soekrasana membuka resleting tas selempangnya. Mengambil botol air mineral, menenggak air namun tak meminumnya. Ia menyemprotkan air ke sekeliling tempat itu. Sebuah mantra dalam bahasa Jawa diucapkan lirih, " ... Sang kala ireng sang kala lumagang, sang sarasa karasa sira apasang sira anut marang ingsun, ana saking ingsun pangeranira sang nur zat maya putih, sira metuwa."
Soemantri Soekrasana merasakan kabut semakin menebal, bergulung-gulung bagai bulu domba. Hawa magis semakin terasa kental.
"Rupa-rupanya Rabu Pon adalah harinya," gumam laki-laki muda itu.
Tak lama ia melihat dari balik pohon nangka yang tumbuh tinggi, sosok kakek-kakek dengan rambut putih seputih kabut itu sendiri berjalan bungkuk. Kulit keriputnya sepucat kertas. Kedua bola matanya terbalik. Bagian yang putih menggantikan bagian yang hitam.
***
Soemantri Soekrasana melahap nasi putih dengan bothok dan tempe dan tahu bacem ketika ia melihat seorang laki-laki setengah baya datang ke warung Mak Romlah, berjalan pelan, cenderung terseok.
"Mak, kopi satu ya," ujarnya.
Para pemuda mendadak diam. Suasana terlalu aneh dan jelas-jelas terpengaruh atas kedatangan sang bapak tersebut.
"Capek, pak hari ini? Piye kabar anak istri?" ujar Mak Romlah sembari menghidangkan secangkir kopi. Aroma kopi yang ditebarkan asapnya membuat lubang hidung Soemantri Soekrasana terbuka lebar.
"Yah, namanya kerja ya pasti capek, Mak. Bune si Wardhani sudah sampai rumah duluan. Tadi sempat ketemu di sawah," jawabnya pelan. "Mak, aku tak pinjam WC nya ya sebentar," tambah sang bapak. Mak Romlah mengangguk paham. Bapak itu pun berdiri dan berjalan pelan ke belakang.
Soemantri Soekrasana melihat jelas, ada sosok perempuan berambut panjang kasar sedang menaiki punggung sang bapak. Ada tetes-tetes air dari rambut sekasar ijuk itu.
Desas-desus para pemuda langsung terdengar ketika sang bapak tak terlihat lagi.
"Ah, tidak usah penasaran dan didengarkan ucapan anak-anak muda itu, nak. Di dusun ini, sang bapak dikenal sebagai keluarga yang dulunya kaya raya. Setelah putri pertama mereka wafat, mereka mendadak jatuh miskin. Orang-orang dusun bilang kalau mereka menjadi agak ... Hmm ... tidak waras, nak. Putri mereka yang kedua katanya sering lihat hantu dan berteriak-teriak sendiri. Ya, meski Mak sudah tua, tapi selama ini mak belum pernah melihat begituan di dusun ini. Maklum kalau warga menganggap sang anak agak ... Hmm ... Gila. Ah, tapi hidup mereka sudah susah sekarang. Kalau Mak dulu kaya, terus kemudian kehilangan anak dan kekayaan sekaligus, ya Mak juga bakal gila ya to nak?" Mak Romlah kembali tersenyum memperlihatkan deretan gigi merah kehitamannya.
***
"Maaf, bapak. Nama saya Soemantri. Kebetulan saya bekerja sebagai tukang pijat keliling. Tadi, kita sempat bertemu di warung Mak Romlah," Soemantri Soekrasana menyusul sang bapak yang berjalan tertatih. Ia menyapa sang bapak di sebuah jalan setapak sempit dan gelap dengan rimbunan pepohonan bambu di bahu jalan. Sosok perempuan itu masih menempel di punggung sang bapak. Kedua tangannya yang kotor dan selusuh pakai putihnya melingkar di leher bapak tersebut.
"Bapak tidak punya uang untuk membayar jasamu, nak. Bapak juga sudah biasa pulang kerja dalam keadaan lelah begini. Namanya sudah tua," ujar sang bapak.
"Maaf karena lancang, pak. Tapi bukan begitu maksud saya. Sebenarnya saya sedang berlatih mempraktekkan ilmu pijat saya. Saya melihat punggung, bahu, lengan atas dan leher bapak sering pegal seperti sedang mengangkat beban, terutama di sore dan malam hari, bukan?"
Sang bapak terperanjat, kemudian tersenyum, "Ah, kau benar, nak."
Soemantri Soekrasana membalas senyuman sang bapak. "Nah, kalau boleh dan bapak menginginkan, biarlah saya coba urut dan sembuhkan rasa lelah bapak, tanpa dipungut biaya. Anggap saja bapak saya jadikan ... Sarana latihan," ujar Soemantri Soekrasana tersenyum malu-malu.
"Lah, kau sungguh-sungguh, nak? Bapak benar tak punya uang lo ya. Tapi bapak percaya sama kamu, buktinya kamu tadi bisa menebak dimana letak sakit dan pegal bapak hanya dari melihat," wajah sang bapak langsung bersinar ceria.
***
"Bu ... Bune, tolong buatkan teh buatku dan buat tamu kita, bune. Bapak mau dipijat gratis. Tamu kita ini anak muda, cah bagus, baik lagi," seru sang bapak sesampainya mereka di rumah sang bapak yang, jujur, mengejutkan Soemantri Soekrasana.
Rumah itu luar biasa besar, apalagi bila dibandingkan dengan rumah-rumah warga dusun ini yang sedari tadi mereka lewati. Tapi, jelas cerita Mak Romlah mengandung kebenaran. Rumah dengan pelataran lebar, lantai ubin Belanda, bahkan pilar-pilar besar yang megah ini sama sekali tidak terawat. Lusuh dan tua.
Sang istri muncul. Bekas-bekas kecantikan masih tertinggal di wajah dan rupanya. "Wah, ada tamu," ujar sang ibu pendek.
"Jangan repot-repot, bu. Saya sudah makan dan minum tadi di warung sama bapak ini," balas Soemantri Soekrasana.
"Sudah ... Sudah. Sana buatkan teh, bu. Cah bagus ini mau mijatin aku gratis. Katanya buat latihan. Beruntung sekali aku hari ini. Wong mau minta kamu yang pijat, malah kamunya yang capek," ujar sang bapak bercanda.
***
Soemantri Soekrasana memandang sekeliling ruang tamu tanpa kursi yang lebar dan luas tersebut sembari duduk bersila.
"Maaf, pak, itu foto-foto siapa ya?" tanya Soemantri Soekrasana menunjuk kumpulan foto yang menempel di satu sudut dinding.
Sebenarnya pertanyaannya lebih ditujukan pada sebuah foto yang paling jelas: wajah seorang gadis berusia belasan dengan rambut tergerai yang sekasar ijuk, diantara foto-foto lama yang ia pastikan adalah wajah-wajah keluarga dan orangtua atau generasi sebelumnya.
"Nah, kalau yang itu ... Itu, itu ... Foto anak gadis bapak yang pertama. Namanya Kinanti. Kebetulan, dia sudah meninggal lama, nak."
"Ah, maaf sekali pak. Saya turut berduka cita," ujar Soemantri Soekrasana menunjukkan rasa prihatinnya. Sosok perempuan yang bisa dipastikan adalah Kinanti yang selalu menempel di punggung sang ayah itu telah menghilang sedari tadi.
"Tidak apa-apa. Kamu kan tidak tahu. Lagipula kejadiannya sudah lama lewat kok."
Tak lama terdengar langkah kaki dan bunyi gelas kaca berkelintingan di atas nampan besi.
Wardhani, putri kedua keluarga ini berjalan pelan membawa teh tawar tanpa gula. Namun mendadak paras gadis belia yang ayu itu terperanjat. Sepasang mata dengan bulu mata lentik terpasang semesta itu membeliak. Nampan besi dengan gelas-gelas kaca di atasnya terjatuh dan pecah di permukaan lantai. Wardhani melihat sosok perempuan berkebaya merah melayang di belakang tubu Soemantri Soekrasana yang sedang bersila menatapnya. Sosok perempuan itu bersanggul separuh dan separuh lagi rambutnya tergerai acak-acakan. Kedua matanya yang terlihat sedih dan menderita mengalirkan darah, begitu juga dengan mulutnya yang membuka lebar.
Sang bapak tentu terkejut, sedangkan Soemantri Soekrasana langsung berdiri dan berkata pelan, "Kau juga dapat melihat kuntilanak merah itu?"
BERSAMBUNG .............................................................