Tatapan mataku tampak kosong. Hembusan nafasku terdengar lirih beraturan, bukan tenang, namun putus asa. Kemelut dan teriakan histeris terkunci rapat, terkurung di ruang kecil dalam angan.
Meski begitu, sorot mataku tetap memandang Senja yang sebentar lagi menghilang. Bukan senja dari matahari terbenam, namun Senja dari nama seseorang. Dia yang sempat aku kecewakan.
“Tur ... udah, ikhlaskan dia.”
“Sakit, Nug.”
“Sama, dia pasti juga sakit saat tau kamu selingkuh.”
“Aku yang bodoh.”
“Makanya sekarang kamu belajar lagi supaya tidak kepikiran untuk mendua.”
“Aku salah.”
“Memang. Aku itu teman mu, sahabat mu, bahkan kita juga bersaudara jauh. Tapi aku ikut kecewa dengan kisah mu.”
Aku dapat menangkap tatapan kekecewaan dari bola mata Nugraha. Seseorang yang selalu mendukung ku selain Senja masih setia di sini, meski sejatinya aku yakin ia malas. Aku sadar, jika aku menjadi Nugraha pasti sudah aku pukuli diriku ini.
“Aku nggak sengaja, Nug. Tiba-tiba kami dekat dan ada rasa asing yang aku pikir itu cinta.”
“Itu hanya karena kamu menemukan hal baru. Bukannya saling terbuka, tapi kamu malah mencoba sesuatu yang salah demi nafsu kesenangan sesaat.”
“Senja ... apa suatu saat Senja mau kembali sama aku?”
“Kalau kalian berjodoh, mungkin kalian bisa bersatu lagi. Sekarang ayo kita pulang!!"
“Aku masih pengen merasakan lebih dekat dengan kehadiran Senja.”
“Percuma kalau raga kalian terasa dekat, tapi nyatanya salah satu hati sudah terluka dan menyerah.”
“Kenapa kamu dari tadi nggak punya kalimat yang bisa menghibur aku?”
“Buat apa menghibur orang yang salah? Harusnya kamu bersyukur aku mau temani kamu mengintai Senja.”
Lagi-lagi yang Nugraha ucapkan benar. Aku tidak perlu dihibur dengan kalimat manis. Semuanya sudah terjadi dan tidak dapat diperbaiki, meski bisa dijalani dengan cara berbeda.
“Ayo pulang!! Besok aku harus kerja. Ini juga sudah tengah malam. Aku bisa masuk angin gara-gara kedinginan.”
Melangkah gontai dari tempat pengintaian, sesekali aku menoleh ke arah pintu keberangkatan domestik Bandara yang sudah lenggang. Berharap sosok Senja masih berdiri di sana seperti tadi.
Nihil.
Aku tau dia tidak mungkin ada di sana lagi. Hanya harapan jiwa pendosa ini yang terlalu besar.
Membayangkan hari-hari tanpa Senja sangat menusuk nyeri dada ku. Penyesalan ini sungguh sangat terlambat. Andai aku tidak tergoda. Andai aku tidak mencoba main-main. Hanya perandaian saja yang tersisa bersama kilasan perjalanan manis kisah cinta yang aku hancurkan.
“Putuskan hubungan mu dengan Lili kalau hanya didasarkan kesenangan sesaat!”
“Aku gak pernah pacaran sama Lili.”
“Terus selama ini apa hubungan mu sama Lili?”
“Cuma teman ngobrol.”
Jujur aku tidak berani membeberkan kesalahan ku. Rasanya sakit meski itu kesalahan yang aku perbuat sendiri.
“Terus!?”
“Iya sempat jalan bareng juga.”
“Dan pegangan tangan juga saling merangkul yang apesnya langsung ketahuan Senja, iya kan?”
Ucapan Nugraha tepat sasaran. Di depan teras rumah orang tua ku, kilasan waktu yang menjungkirbalikkan hubungan aku dan Senja terputar. Dengan mata kepalanya sendiri Senja menyaksikan aku bermesraan dengan Lili. Tangan yang tidak pernah aku gunakan merangkul wanita selain Bunda dan Senja dengan tidak tau malunya meraup bahu mungil Lili. Kala itu rasa bersalah tidak sebesar saat ini. Kehilangan benar-benar berhasil menampar kesadaran dan akal sehat ku.
“Padahal Senja sudah bilang dari awal kalau tiada maaf apalagi kesempatan kedua sama tukang selingkuh. Kamu ingatkan karena apa Senja dibesarkan oleh Ibunya sendiri?"
“Aku gak ingat, Nug. Aku benar-benar lupa.”
“Bukan lupa. Kamu hanya terlena, terlalu egois dan berambisi untuk meraih hal lain di atas kebahagian yang tiba-tiba terasa hambar.”
Aku membatin miris pada ucapan Nugraha yang selalu benar dan tepat sasaran menyentil jantung ku. Padahal dulu aku juga membenci perselingkuhan, namun kini aku yang berselingkuh.
Senja, maafkan aku. Jika kamu masih menyimpan cinta kita, kembalilah padaku. Aku memohon dalam diam dengan nyeri di dada yang belum juga hilang.
“Aku berdoa semoga Senja bisa menemukan laki-laki yang lebih baik. Tidak kayak laki-laki seperti kamu yang lemah.”
“Kurang ajar!! Aku pasti bisa bersama senja lagi!!”
“Mau kamu cari kemana? Bahkan tadi ada tiga penerbangan di waktu berdekatan. Kita tidak tau kemana tujuan akhir Senja.”
Benar, aku kehilangan Senja. Diriku yang lemah ini bahkan tidak mampu mendapatkan informasi kemana Senja melanjutkan hidupnya.
Aku menghancurkan impian Senja untuk membangun usaha bersama. Mendirikan toko pakaian anak-anak dari hasil jualan online miliknya yang sudah berkembang. Lebih parahnya lagi, aku menghancurkan angan-angan Senja untuk membina keluarga harmonis bersama ku.
Tidak ada lagi tawa Senja. Tidak ada lagi wajah cemberut yang menggemaskan. Biasanya lewat panggilan telepon aku bisa mendengar gerutuan Senja pada pembeli galak sebagai pengiring tidur ku. Tidak ada pula pesan singkat yang selalu menyemangati. Senja pergi tepat seminggu setelah dia memutuskan aku. Kini kami hanya dua orang yang pernah bersama, merajut impian yang nyatanya harus terbuang.
Kesempatan kedua, itulah yang selalu aku panjatkan dalam doa agar Senja kembali. Kembali ke sisi ku, tersenyum manis dalam dekapan ku.
Namun, setelah beberapa tahun menghilang tiada kabar, aku mendengar nama itu lagi dari bibir Nugraha. Ia menemukan Senja yang sudah sukses dengan tiga cabang ruko pakaian bayi dan anak.
Penghasilannya juga jangan ditanyakan lagi. Terlihat jelas dari penampilannya yang masih sederhana, namun cukup menguras isi dompet ku. Jelas tidak bisa dibandingkan dengan aku yang hanya pegawai biasa dengan gaji pas-pasan.
Bahagia, aku tulus ikut bahagia atas keberhasilan Senja. Meski senyum ku luntur beberapa bulan setelahnya.
“Selamat ya...."
“Terima kasih Mas Catur udah datang.”
Senyuman Senja masih mampu mendebarkan jantung ku. Rasanya seperti dejavu pada pertemuan pertama kami di stand bazar saat SMA. Dia Senja, adik kelas yang tidak populer namun senyum manisnya melelehkan hati ku.
“Terima kasih ya Tur udah datang.”
“Iya, Nug. Tidak mungkin aku absen di hari bahagia kalian. Semoga langgeng sampai maut memisahkan. Cepat-cepat kasih aku ponakan.”
Ucapan dan senyuman yang aku berikan palsu. Aku ingin menangis. Jika boleh aku ingin menculik Senja dan menempatkannya jauh dari orang lain yang bisa memilikinya. Tapi aku hanya bisa pasrah menerima takdir yang sudah terjadi.
Hatiku bertambah sakit menyaksikan tawa paling bahagia Senja yang bersanding dengan teman, sahabat dan juga keluarga ku, Nugraha. Doa Nugraha terkabul. Senja menemukan laki-laki yang lebih baik dari aku, yaitu Nugraha sendiri.
Meskipun aku sempat marah pada Nugraha yang berani jujur bahwa dia mencintai Senja. Cinta yang muncul tiba-tiba layaknya cinta pada pandangan pertama beberapa waktu lalu membuat Nugraha mantap meminta izin ku untuk meminang Senja. Aku yang bukan siapa-siapa dan hanyalah mantan si pemberi luka bisa apa jika rupanya Senja juga mencintai Nugraha.
Senja ku pergi. Ia tidak menghilang, namun pergi pada kebahagian baru tanpa aku di sisinya. Meninggalkan aku yang kini kembali menyesali kesalahan masa lalu.
Aku masih belum bisa melupakan Senja. Meski senja di ufuk barat menghilang, namun Senja yang bukan milikku lagi masih bertahta di relung hatiku hingga kini.
TAMAT.