Hari ini masih seperti biasa hujan turun dengan derasnya. Awan hitam membentang luas di atas sana. Burung pun tak lagi berkicau merdu.
Mentari masih saja sembunyi hingga rasanya begitu rindu ia kembali dan memberi kehangatan pada bumi.
Di tengah alam semesta yang sedang berpilu. Seorang anak kecil menatap kosong ke depan. Menerobos derasnya air hujan hingga seragam yang ia gunakan basah kuyup.
Ia terus berjalan tanpa peduli tubuhnya yang menggigil kedinginan.
Matanya memerah dan bibirnya memucat. Tubuhnya yang kecil begitu terlihat rapuh dan lemah. Namun kegigihan terpancar kuat dari setiap langkah kaki mungilnya.
Perlahan kepalanya mulai menunduk dan kakinya pun diam terpaku.
Tas kecil di tangannya jatuh begitu saja di genangan air hujan.
Tubuhnya luruh tak bertenaga hingga hanya kedua tangan dan lututnya sebagai penopang.
Tangis pecah bersama guyuran air hujan, menyatu dan tak ada bedanya di iringi isakan lirih dari bibir bergetar itu.
Hujan di bulan Juli ini adalah saksi bisu kejadian memilukan seorang anak kecil bernama Riko.
Tepatnya beberapa jam yang lalu kabar duka hadir dari kedua orang tuanya.
Hari ini hari besar untuknya. Hari dimana ia di puja dan di banggakan semua orang. Namun begitu Malang nasibnya.
Seusai bahagia tak terkira justru kini ia harus berderai air mata.
Kecelakaan mengambil nyawa kedua orang tuanya. Meninggalkan ia sendiri bersama duka. Menghancurkan segala harapnya tentang cinta dan dunia.
Kini hanya ada tangis yang bertahta.
Riko kecil bangkit dan berlari sekuat tenaga. Ia terjatuh berulang kali. Tujuannya saat ini hanya menemui ibunya yang telah terbujur kaku tak bernyawa.
Dengan derai air mata dan tangisan alam semesta. Dia terus berlari dan berlari hingga ia tak mampu lagi.
Teriakan memilukan akhirnya terlepaskan.
"Tuhan... apa salah Riko? Kenapa ibu dan ayah pergi? Kenapa dirimu mengambil mereka dari Riko? Riko berjanji tak akan nakal lagi, tolong kembalikan ayah dan ibu tuhan... Riko mohon"
Hujan masih saja terus turun membasahi tubuh kecil Riko. Tangisnya semakin keras namun teredam oleh derasnya hujan. Kilat pun kian ikut ambil andil.
Pancaran cahaya terang yang menyakiti mata di ikuti gemuruh petir yang memekakkan telinga kian menggambarkan kondisi Riko saat ini.
Kesedihan, amarah, kekecewaan, putus asa, dan segala rasa yang menyiksa.
Ini semua bukanlah hal yang mudah bagi Riko kecil. Kehilangan bagai sambaran petir untuknya. Semua telah hancur lebur tak tersisa. Ia tak tau harus apa, yang dia lakukan hanya menangis dan menangis.
Hari semakin larut, siang pun berganti malam.
Hujan telah berhenti sejak 3 jam yang lalu namun riko masih saja terdiam menunduk di pinggir jalanan kota yang begitu sepi.
Tubuhnya sudah tak bisa di katakan baik-baik saja.
Ia kehilangan segala daya yang dia miliki. Membuka mata saja rasanya begitu menyesakkan. Butiran air mata kembali jatuh di pipinya. Bibirnya tersenyum getir, takdir begitu baik hingga menyiksanya seperti ini.
Dari kejauhan mobil hitam melaju mendekati Riko dan berhenti di bahu jalan. Keluar sepasang kekasih dari mobil tersebut. Sesosok perempuan dengan balutan hijab panjangnya mendekati riko. Memeluk tubuh ringkih itu dengan kehangatan. Perempuan itu menangis tersedu dan berusaha menyadarkan riko yang masih tenggelam dalam angan-angan.
Perlahan riko menatap Sesosok perempuan yang sedang memeluknya. Dia adalah Maryam adik kandung ibunya yang akan menikah bulan depan.
Bukankah begitu miris hidup yang Riko jalani saat ini. Seharusnya banyak bahagia yang akan dia dapatkan. Namun ternyata kini kesedihan dan duka yang mengisi setiap helaan nafasnya.
Senyum kecil nan tulus terukir dari bibir Riko. Ia sadar meski ia bersedih bibinya jauh lebih rapuh darinya. Riko pun membalas pelukan sang bibi.
Kehangatan ibunya kembali ia rasakan, pelukan yang ingin ia dapatkan lagi saat ini.
Pikirannya pun tertuju pada ibu dan ayahnya. Ia bertanya pada bibinya dimana ayah dan ibunya sekarang berada. Ia begitu ingin bertemu dengan mereka, melihat wajah mereka untuk terakhir kalinya.
Danu calon pamannya pun menggendong tubuh kecil Riko. Danu yakin Riko tak akan lagi mampu berjalan dengan tubuh selamah itu.
Maryam pun ikut bangkit dan masuk ke dalam mobil. Mobil itu pun perlahan menjauh dan berjalan menuju kediaman Riko.
Rumah Riko begitu ramai, semua orang menunggu kedatangan Riko. Pandangan Riko tertuju pada 2 orang yang terbujur kaku di tengah-tengah ruangan .surah yasin pun terlantunkan dengan merdunya.
Riko menatap kosong ayah dan ibunya. Maryam yang mengerti pun memeluk tubuh kecil riko dengan erat. Tangisnya lagi dan lagi tak dapat terbendung.
Batin Riko berteriak apakah semua ini nyata atau hanya mimpi buruk yang esok hari dia akan terbangun dan kembali dapat memeluk kedua orang tuanya.
Namun jika ini mimpi mengapa hatinya benar-benar hancur. Sakitnya terasa dan begitu menyesakkan dada. Kilasan kebersamaan pun kembali terbayang. Tawa,canda, kasih sayang, dan cinta yang selama ini riko dapatkan berputar-putar dalam angannya.
Begitu indah dan membahagiakan jiwa. Namun ingatan dimana kabar duka itu di sampaikan seketika menusuk seperti belati. Menikam hingga menembus dadanya.
Setetes air mata kembali tumpah. Kenyataan ini begitu menyakitkan dan tak dapat diterima akal pikiran. Perlahan kesadaran Riko mulai menghilang bersama senyum terakhir kedua orang tuanya yang begitu indah dan bercahaya.
Pagi ini dunia berselimut kabut tebal. Mentari seakan tak ingin hadir menampakkan diri.
Sepasang mata menatap kosong langit-langit kamar yang berhias puluhan burung kertas.
Burung-burung kertas itu bergerak perlahan. Berayun kesana kemari hingga tak jarang saling bertabrakan.
Dialah Riko kecil... Riko masih saja terbaring di atas ranjangnya meski hari telah beranjak siang. Sarapan pagi yang di antar bibinya teronggok di atas meja tak tersentuh sama sekali.
Riko terdiam seperti tak bernyawa.
Kilasan kejadian kemarin terus saja berputar. Segalanya seperti mimpi buruk yang begitu sulit terlupakan.
Ayah dan ibunya sudah di makamkan 2 jam yang lalu tanpa kehadiran Riko. Tubuhnya yang lemah dan mental yang masih terguncang membuat bibinya mengambil keputusan tidak membawa Riko ke tempat peristirahatan terakhir ayah dan ibunya. Ia berjanji akan membawa Riko kesana setelah kondisi riko kembali membaik.
Di ambang pintu maryam hanya mampu menatap Riko dari kejauhan. Ia tau benar apa yang sedang dirasakan keponakannya. Kesedihan mendalam serta luka tak kasap mata yang tak akan di mengerti orang lain.
Ia seperti kembali melihat sosoknya dalam diri Riko, pada 15 tahun yang lalu dimana ia harus melihat orang tua satu-satunya yaitu ayah harus meregang nyawa demi menyelamatkan dirinya.
Tidak cukup ibunya meninggal usai melahirkannya dan saat itu ayahnya juga pergi kesisi tuhan karena akibat ulahnya.
Maryam benar-benar terpuruk, dia menyalahkan dirinya atas segala yang telah terjadi. Hari-harinya hanya berisi tangisan penyesalan.
Jika saja dirinya tak pernah hadir di dunia maka kedua orang tuanya pasti masih ada disini.
Maryam kembali menangis mengingat kenangan pahit itu. Buliran air mata semakin deras membanjiri pipinya. Tangannya membekap mulut kecilnya agar tak menimbulkan isakan. Maryam berlari keluar kamar menuju taman belakang.
Ia terduduk serta meraung dalam tangisnya. Jika saja bukan karena kakaknya mungkin saat ini dia tak akan pernah hidup lagi dan merasakan kebahagiaan dalam hidupnya. Kini kakaknya sudah tiada menyusul kedua orang tuanya. Tak apa jika hanya dia yang terluka karena kehilangan semuanya, namun ada Riko yang kini adalah tanggung jawabnya.
Maryam sungguh tak sanggup melihat sosok riko yang sekarang. Luka-lukanya terpampang nyata, dahulu ayah dan ibunya begitu memanjakannya dan selalu memberi kebahagiaan dalam hidupnya. Tak akan ada yang membiarkan setetes air mata pun jatuh dari mata bersinar indahnya.
Namun apalah daya, kini sinar mata itu telah meredup dan berhias jutaan air mata.
Hari demi hari pun telah berlalu Namun kondisi Riko masih saja sama. Riko dulunya adalah sosok anak yang berprestasi, riang, baik hati, dan selalu mengumbar senyuman.
Tapi kini semua itu telah sirna.
Riko yang dulu seperti hilang tak bersisa, ia tak lagi masuk kesekolah dan lebih pendiam.
Tubuhnya semakin kurus, matanya memerah dan kantung mata yang tebal.
Entah kapan Riko akan kembali memulai kehidupan barunya.
Menata semuanya dari awal dan mengikhlaskan kepergian orang-orang tercintanya.
Sungguh ironi, ketika semua telah hancur.
Duka menghantar pada hilangnya jati diri.
Kesedihan yang tak kunjung lebur.
Seakan segala kebahagiaan tak lagi bersamayam dalam hati.