Hamparan perkebunan teh yang berwarna hijau menjadi objek fokus seorang cowok dengan kameranya saat ini. Adrian Alfarizki, cowok yang hobi fotografi itu tengah menghabiskan waktu liburannya di desa sang nenek yang begitu indah dan asri. Rian pikir, desa neneknya ini menjadi pilihan yang tepat untuk menyalurkan hobi fotografinya. Begitu banyak objek yang bagus untuk dipotret.
Rian yang sedari tadi berjalan sambil sesekali mengarahkan kameranya ke arah sekitar berhenti di sebuah tanah lapang berumput hijau dengan hiasan bunga dandelion di sekitarnya. Tempat yang sangat indah. Rian pun segera mengarahkan kameranya, mengabadikan setiap bagian yang ia rasa menarik.
Jepret!
Rian terpaku sejenak setelah mengambil foto terakhir. Seorang gadis dengan bunga dandelion di tangannya tiba – muncul dan akhirnya ikut terfoto. Rian menurunkan kameranya dan menatap ke arah gadis yang berada beberapa meter di depannya itu. Gadis itu asyik meniup bunga dandelion dan tersenyum senang ketika melihat serpihan-serpihan bunga dandelion beterbangan dibawa angin.
Cantik, pikir Rian. Untuk pertama kalinya, Adrian Alfarizki terpesona pada seorang gadis. Tidak! Ini benar-benar tidak masuk akal! pikir Rian lagi. Ini pertama kalinya ia melihat gadis itu. Dan juga baru beberapa detik ia melihat gadis itu. Ia bahkan melihat gadis itu dalam jarak yang cukup jauh. Bagaimana bisa, ia langsung terpesona? Gadis itu juga tidak melakukan hal istimewa. Gadis itu hanya melakukan hal sederhana dengan meniup bunga dandelion dan tersenyum. Tapi anehnya, ia bisa membuat seorang Adrian Alfarizki terpaku dan terpesona.
Gadis itu lalu menoleh ke arah Rian, membuat Rian menyembunyikan dirinya di balik pohon yang ada di dekatnya secepat kilat.
Beberapa saat kemudian, Rian menjulurkan kepalanya dari balik pohon, berniat untuk melihat gadis itu lagi. Tapi ternyata, gadis itu telah pergi dari sana. Membuat Rian hanya bisa menghela napas kecewa. Rian lalu menatap smartwatch yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah cukup lama ia pergi berjalan-jalan.
"Lebih baik aku pulang sekarang. Nenek mungkin mencariku juga," gumam Rian sambil berjalan pelan menuju rumah neneknya.
Tinggal beberapa langkah lagi hingga Rian tiba di rumah sang nenek, tapi Rian menghentikan langkahnya ketika melihat neneknya yang sedang berbincang dengan seseorang di depan rumah. Seketika, kedua mata Rian terbelalak. Gadis itu. Gadis yang secara tak sengaja ia foto tadi. Gadis yang menarik perhatiannya itu, sedang berbincang ria dengan neneknya.
Perbincangan antara sang nenek dan gadis itu berlangsung singkat. Si gadis pamit pada neneknya sambil tersenyum sopan dan berlalu pergi melewati Rian. Rian membalikkan dirinya. Pandangannya mengikuti kepergian gadis itu.
"Rian, kenapa hanya berdiri di situ? Ayo masuk," ajak sang nenek ketika mendapati Rian yang berdiri tak jauh darinya.
"Iya, Nek!" jawab Rian dengan lantang lalu berlari mendekat ke neneknya.
"Yang tadi itu siapa, Nek?" tanya Rian setelah berada tepat di samping neneknya.
"Oh, itu Ana. Dia cucu dari sahabat nenek. Rumahnya juga tidak terlalu jauh dari rumah nenek," jelas Nenek Rian.
"Apa yang kalian bicarakan, tadi?" tanya Rian penasaran.
"Bukan apa-apa. Hanya saling menyapa dan berbincang ringan, kok."
Rian mengangguk-angguk singkat mendengar jawaban sang nenek.
“Ayo kita makan sekarang. Nenek sudah sangat lapar," ajak nenek sambil berjalan ke ruang makan, diikuti oleh Rian.
- - -
Selesai makan siang, Rian berbaring di kamarnya sambil melihat-lihat kembali foto-foto yang telah ia ambil tadi. Hingga foto dimana gadis bernama Ana itu muncul, Rian mendudukkan dirinya dan menatap foto itu dengan lekat.
Kata-kata sang Nenek yang mengatakan rumah gadis itu tak terlalu jauh dari rumah neneknya ini kembali terngiang di otak Rian.
Berpikir sejenak, lalu Rian beranjak dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar beserta dengan kamera yang setia menggantung di lehernya.
"Nek, Rian keluar jalan-jalan lagi, ya!” teriak Rian sebelum keluar dari rumah.
"Iya, hati-hati. Jangan pulang terlalu sore."
"Siap, Nek!" Rian yang sudah keluar dari rumah Neneknya berjalan sambil menoleh kesana-kemari.
"Harusnya aku tadi bertanya pada Nenek letak rumah gadis itu," gumam Rian sambil mengacak rambutnya kesal, memikirkan kebodohan dirinya saat ini.
Hah. Rian menghela napas singkat sambil berjalan tanpa semangat. Hingga tiba-tiba, ia menabrak seseorang dengan bahunya.
“Ah, maafkan aku. Aku tidak senga—“ Ucapan Rian terhenti tatkala netranya menatap orang yang ia tabrak, yang tak lain adalah Ana. Gadis yang ia cari.
“Bisakah kau minggir? Aku harus pergi.” Suara datar itu berhasil mengembalikan Rian dari keterkejutannya.
“Ah, maaf,” ucap Rian sambil menggeser dirinya ke samping, memberi ruang bagi Ana agar bisa berjalan di jalan desa yang sempit itu.
“Tunggu!” Teriakan Rian membuat Ana berhenti dan berbalik padanya dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Kenalkan. Aku Adrian, cucu Nenek Astati. Kau bisa memanggilku Rian." ucap Rian sambil tersenyum.
“Kau sendiri, siapa namamu?” tanya Rian kemudian.
"Keana. Kau bisa memanggilku Ana," jawab Ana dengan nada datar.
Rian mengangguk-angguk senang. Ia akhirnya bisa berkenalan dengan Ana.
"Ana, sebenarnya aku mau meminta bantuanmu. Yah, itu pun kalau kau tidak keberatan, sih," ucap Rian dengan sedikit ragu.
"Bantuan apa?"
"Tolong, temani aku berkeliling desa. Aku baru datang kemarin, jadi aku belum terlalu tahu tentang daerah-daerah di desa ini. Kau mau menemaniku, ‘kan?" Rian menatap Ana dengan tatapan penuh harap.
Ana berpikir beberapa menit, hingga kemudian berucap, "Baiklah. Tapi hanya sebentar, ya."
Senyuman lebar tentu saja segera terlukis di wajah Rian saat itu juga. Keduanya pun berjalan beriringan. Meski Ana terkesan dingin dan datar, tapi gadis itu menjelaskan setiap bagian desa yang mereka lalui dengan detail. Mulai dari perkebunan teh yang luas dan hijau, perkebunan buah yang ranum, jalan desa yang sempit, pemukiman warga, sungai yang berair jernih, hingga sebuah tanah lapang yang damai.
Tiba di tanah lapang dimana Rian meihat Ana untuk pertama kalinya, Rian mengikuti Ana yang duduk di bawah pohon besar. Gadis itu lalu memetik bunga dandelion yang berada di dekatnya.
"Ini sebenarnya tempat favoritku," kata Ana, membuka percakapan di antara keduanya.
“Oh, ya?” "Ya. Aku selalu menghabiskan waktuku di sini. Jika berada di tempat ini, hatiku terasa sangat damai. Pikiranku tenang, dan semua bebanku terasa terangkat." jawab Ana sambil memandangi dandelion yang ia pegang.
"Bagaimana dengan bunga dandelion? Apa itu bunga favoritmu?" tanya Rian, yang segera diangguki oleh Ana.
“Jika dilihat seperti ini, bunga dandelion terlihat sangat rapuh, sederhana dan tidak menarik. Tapi bunga dandelion sebenarnya indah dan kuat. Dandelion dapat tumbuh di mana saja. Ia kuat menentang angin, dan terbang tinggi menjelajahi angkasa. Lalu akhirnya terhenti dan terjatuh di suatu tempat, tumbuh kembali dan menjalani hidup baru.”
Ana menatap langit dengan senyum yang terlukis di wajahnya. Diam–diam, Rian mengambil kameranya dan mengarahkannya ke Ana. Rian terus menatap Ana. Setiap pergerakan gadis itu tak ada yang ia lewatkan. Mulai dari gadis itu yang mengangkat dandelion ke depan bibirnya, hingga bibir tipis itu menghembuskan udara dan membuat bunga–bunga dandelion beterbangan. Tentu saja, momen itu juga tak luput dari kamera Rian.
"Cantik."
Ana menoleh ke arah Rian. "Apa maksudmu?" tanyanya.
Rian tersenyum. "Kau sangat cantik—Ana."
Rona merah seketika muncul di kedua pipi Ana. Gadis itu kemudian berdiri dan dengan cepat berlari pergi meninggalkan Rian yang terkekeh gemas.
- - -
"Ana. Bunga dandelion tumbuh dengan lebat ketika aku datang. Karena itulah, aku membawa beberapa tangkai dandelion ke sini."
Rian mendudukkan dirinya di dekat sebuah gundukan tanah. Ia kemudian mengambil setangkai dandelion dan meniupnya. Memerhatikan bagaimana serpihan – serpihan bunga itu terbang ke udara.
"Aku merindukan momen kebersamaan kita yang singkat itu, Ana. Sayang sekali, waktu tak bisa terulang kembali. Bagaimana pun aku berharap, kita tetap tak bisa bertemu lagi."
Rian menarik napas dalam–dalam, kemudian menghembuskannya dengan perlahan.
"Kau dan aku sudah berada di dunia yang berbeda."
Keana Deolinda. Gadis yang mampu mencuri perhatian Adrian Alfarizki itu ternyata mengidap kanker otak. Kanker ganas itu merenggut nyawanya hanya beberapa bulan setelah Rian kembali ke Jakarta. Rian mengambil setangkai bunga dandelion lagi dan meniupnya dengan lembut. Selembar foto Ana yang sedang meniup bunga dandelion kemudian ia keluarkan dari saku jaketnya. Ia menatap foto itu dengan lembut.
"Kuharap kau bahagia di sana, Ana. Aku juga akan terus hidup dengan baik dan bahagia di sini. Seperti dandelion yang terlihat rapuh namun sebenarnya kuat, terus terbang tinggi menjelajahi dunia ini." Rian tersenyum dan mengusap foto Ana yang ia genggam.
"Kau tahu, Ana? Meski pun kenangan yang ada di antara kita begitu singkat, itu sangat berarti untukku. Kau adalah cinta pertamaku. Meski pun kau sudah pergi, aku tidak akan melupakan kenangan yang kau tinggalkan untukku. Terima kasih untuk segalanya, Ana.”