Minggu pagi berkabut, embun masih membasahi dedaunan karna matahari belum juga menampakkan pesona nya.
Jendela dikamar rumah itu masih tertutup rapat, di dalam kamar nampak terbaring sosok makhluk bernama Lusi yang masih teramat berat untuk membuka matanya, karena asik menghabiskan malam mingguan bersama teman-temannya.
Lusi adalah gadis cantik berambut ikal, mempunyai hidung mancung minimalis,berkulit putih bersih,dan berpostur cukup tinggi memiliki body yang aduhai yang bila mana lelaki memandang tak mampu mengalihkan pandangannya.
Lusi anak kedua dari pasangan babe Idris dan emak Indah.
"Lusiii cepat bangun!" teriak mak Indah dari dapur.
berkali-kali mak Indah teriak,namun tak ada jawaban dari Lusi, meresa tak mendapat respont dari anaknya itu mak Indah berjalan menuju kamar Lusi.
"Woy bangun, udah siang! masa anak perawan bangun siang sih,ntar jadi perawan tua loh!" ucap mak Indah sambil membuka jendela kamar.
Lusi yang masih setengah sadar dari tidur nya menoleh ke arah luar jendela.
"Itu masih gelap mak." ucap Lusi sambil menunjuk arah luar jendela.
"Itu bukannya gelap,itu kabut Lusi!" emak Indah menerangkan.
"Lagian ini kan hari minggu mak!" Lusi masih mencari alasan untuk melanjutkan tidur nya.
"Emang nya kalo hari minggu kudu malas-malasan gitu?"tanya emak Indah,"jangan banyak alasan cepetan mandi sana abis itu bantu emak nyiapin sarapan!" pinta mak Indah.
"Iya,iya" sahut Lusi yang terpaksa bangkit dari tempat tidur nya.
"Jangan lupa bangunin abang mu." pinta mak Indah lagi.
Lusi pun menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah selesai mandi Lusi menuju kamar abang nya untuk membangunkan nya, di buka nya pintu kamar abang nya terlihat Rio nama abang nya Lusi yang masih asik mendengkur dengan mulut menganga, Melihat hal itu timbul lah ide jahil Lusi, dia pergi kedapur mengambil sesuatu dan kembali kekamar Rio,
dengan berjalan perlahan Lusi mendekat ke arah Rio, di ambil nya spidol di atas meja belajar Rio dan di lukiskan nya kewajah Rio tak sampai disitu gelas berisi perasan jeruk nipis dan irisan cabe rawit yang ia racik di dapur tadi perlahan ia tumpahkan ke mulut Rio yang sedang mendengkur dan menganga itu, Rio yang masih tidur pulas itu pun mengecap mulut nya,merasa ada yang aneh masuk tenggorokan nya Rio sedikit sadar dan tak berlangsung lama Rio menjerit,asem bercampur pedas yang ia rasakan di lidah nya.
"Pedas anyiiing asem pula!" Rio menjerit sambil meraih air yang ada di meja belajar nya.
Ia tegak minuman itu penuh semangat, namun baru sampai setengah tenggorokan Rio kembali menyemburkan air itu, ternyata air itu adalah air bercampur cuka yang juga sudah di persiapkan Lusi.
"Sialan,Luuuusiii pasti kerjaan lo kan?" teriak Rio kencang.
Lusi yang sedari tadi bersembunyi di balik pintu tak dapat menahan tawa nya, Lusi pun keluar dari persembunyian nya sambil memegang perut karena tertawa terpingkal-pingkal,puas menjahili abang nya itu.
"Awas loh,gua jitak di bola mata loh!" ancam Rio kesal sambil bangkit mengejar Lusi.
merasa terancam Lusi ambil langkah seribu kearah luar rumah, Rio pun terus mengejar Lusi sambil mengoceh.
"Dasar loh adik gak ada akhlak, pokoknya ampe dapet ama gua,gua jadiin umpan singa loh!" Rio terus mengejar Lusi.
Dengan jurus power of kepepet Lusi secepat kilat memanjat pohon rambutan tetangga.
tanpa disadari Rio banyak mata yang memperhatikan mereka dari ibu-ibu yang lagi senam sampai tukang sayur yang lagi mangkal, mereka tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk ke arah Rio, Rio nampak terheran-heran apa yang mereka tertawakan hingga tukang bubur yang lewat menyapa.
"Abis mentas di mana lo tong, dandanan muka belum di hapus?" tanya tukang bubur setengah meledek.
Mendengar pertanyaan itu Rio bergegas menuju Mobil yang lagi parkir di dekat nya dan berkaca, benar saja muka nya abis penuh maha karya dari Lusi, dari lukisan cicak salto ampe tikus lagi kawin ada di mukanya.
"Awas loh ya,tunggu pembalasan gua ntar!" ancam Rio kepada Lusi.
Rio pun pulang sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya.
Sementara itu Lusi yang masih nangkring di atas pohon rambutan tak menyadari ada tawon di ranting tempat ia berpegangan, saat Lusi beranjak turun tak sengaja menggoyangkan sarang tawon itu, merasa terganggu beberapa tawon menghadiahi Lusi dengan sengatan penuh kemesraan.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaampuuuuun!!!" Lusi teriak sambil bergegas turun.
kontan saja teriakan Lusi mengundang perhatian dari ibu-ibu dan mamang sayur yang masih berada disitu sedari tadi.
"Kenapa neng, latihan baca puisi ya ?" pertanyaan meledek keluar dari salah satu mulut ibu-ibu itu.
"Gak mpok, aye lagi latihan vokal!" jawab lusi sekena nya.
Lusi pun pulang sambil menahan sakit akibat sengatan mesra dari beberapa tawon tadi.
Di rumah Rio baru saja kelar membersihkan muka nya dari maha karya Lusi bertemu emak di dapur.
"Mana adikmu ?" emak menanyakan Lusi kepada Rio.
"Gak tau mak,tadi Lusi asik nongkrong di atas pohon rambutan pak kosim mak." jawab Rio.
"Lah ngapain Lusi disana?" tanya mak Indah heran.
"Mana Rio tau mak,latihan jadi layangan nyangkut mungkin!" jawab Rio asal.
Rio pun pergi meninggalkan emak nya,dan berniat pergi ke halaman rumahnya, namun kakinya terhenti saat melihat kearah kamar Lusi, ia pun mengubah arah kekamar Lusi, siapa tau Lusi udah balik pikir nya, dan benar saja saat Rio membuka pintu kamar nya Lusi, nampak Lusi sedang berbaring di kasur nya dengan muka tertutup selimut.
"Nah loh, mau kabur kemana lagi loh!" ucap Rio,merasa tak ada respont Rio kembali berucap," gak usah pura-pura tidur dah lo."
Namun Lusi nampak masih tak merespont juga, akhirnya Rio pun menarik selimut Lusi, alangkah kaget nya Rio ketika melihat muka Lusi bengkak, terutama di kedua pipinya nampak benjolan besar hingga menenggelamkan kedua mata Lusi.
Rio tak mampu menahan tawa lagi ia pun tertawa sambil guling-guling di lantai, penasaran mendengar gelak tawa Rio, emak Indah pun datang menghampiri.
"Ya allah Lusiii, kenapa tuh muka?" tanya mak Indah heran.
"Di sengat tawon mak!" jawab Lusi sambil meringis menahan sakit.
"Kualat kan loh ngerjain gua!" seru Rio.
"Husst,kamu adik lagi kena musibah,di ketawain, bukan nya perihatin." mak Indah menasehati Rio.
"Itu bukan musibah mak,tapi anugerah!" ucap Rio cengengesan.
"Rio,gak boleh kayak gitu!" mak indah memperingatkan Rio lagi.
"Biarin aja mak, biar dia senang." ucap Lusi.
"Kamu juga Lusi, jadi orang jangan terlalu jahil napa! "mak Indah mencoba bersikap netral kepada kedua anaknya,"jadi karma kan!" mak Indah terus menasehati.
"Rio tolong ambilin kotak p3k ya." pinta mak Indah.
Emak Indah pun mengobati Putri nya itu dengan penuh kasih sayang.
*TAMAT*
Jadi pelajaran yang dapat kita petik dari cerita di atas adalah jangan beli bubur kalo gak ada mangkok nya!
hehehehehhehehe
Aduh bukan itu Thor.
Ya sudahlah kan udah pada gede ya buat mempelajari cerita di atas. 😅