Romance
Rate 17+
Dalam setiap kehidupan manusia pastinya memiliki angan, cita-cita juga impian. Begitu beruntungnya jika salah satunya bisa terwujud menjadi kenyataan, namun tidak bagiku.
Aku adalah Dhea Puteri Mirwan seorang gadis kecil yang kini telah beranjak dewasa dan ingin rasanya salah satu impianku sedari kecil dapat terwujud. Impianku yang bisa dikatakan sangat tidak masuk akal, namun perasaanku ini tidak dapat Aku bohongi. Yah Aku sangat mencintai seseorang lelaki kecil yang kini telah beranjak menjadi pria dewasa yakni bernama Langit Yudhi Pratama. Dia adalah teman kecilku dan kami pun tumbuh besar bersama dalam naungan 1 atap yang sama. Dia lah impianku yang sedari kecil ingin aku dapat wujudkan, namun sang waktu sepertinya tak dapat merestuiku untuk mewujudkan impian ini menjadi kenyataan.
Kebangkrutan pabrik kertas yang Ayahku rintis seakan mengharuskan Aku untuk tinggal terpisah dengan Ayahku lantaran ketika itu kemiskinan benar-benar menerpa kehidupan kami berdua dan Ayahku memutuskan untuk pergi keluar negeri untuk menjadi TKI agar perekonomian kami dapat menjadi lebih baik dikemudian hari.
Aku hanya anak piatu yang tidak mengenal Ibu semenjak usiaku 5 tahun. Dengan kebaikan hati dari sahabat Ayah yakni Pak Yudhi Pratama, Aku pun di asuhnya bersama istrinya dan Aku sangat bersyukur ternyata istri dari Pak Yudhi Pratama sangat menyayangiku seperti puterinya sendiri. Sosok Ibu yang telah menghilangkan seakan Allah SWT gantikan pada diri Ibu Sarah.
Kasih sayang dari mereka berdua yang begitu sangat tulus, seharusnya tidak Aku salah gunakan akan tetapi Aku tidak mampu untuk memendam perasaanku ini terhadap putera tunggal mereka. Seharusnya Aku mampu menganggap Langit seperti kakakku sendiri, sama seperti Aku menganggap Pak Yudhi dan Ibu Sarah seperti kedua orang tuaku namun Aku benar-benar tidak mampu melakukan hal ini.
Entahlah sejak kapan Aku mulai jatuh cinta dengannya??? Yang jelas Aku hanya ingat Langit adalah seseorang yang telah menyelamatkanku ketika Aku sedang di bully oleh teman-temannya semasa SD. Usia kami hanya selisih 2 tahun dan semenjak peristiwa itu Aku pun terus berusaha menjadi anak pandai dan berprestasi agar Aku bisa masuk di kelas yang sama dengannya.
Usaha dan kerja kerasku pun Alhamdulillah membuahkan hasil hingga tiap tahun Aku bisa selalu bersama dengannya dalam 1 kelas di kelas akselerasi, hingga kami SMU.
Wajah tampan Langit seakan semakin bertambah seiring berjalannya waktu dan hal itu tidak di tampik oleh semua siswi yang berada di sekolah kami. Hingga di masa SMU itu untuk pertama kalinya Aku merasakan sakit hati melihat Langit sedang memadu kasih dengan seorang siswi yang sekelas dengan kami.
Awalnya Aku pikir semua itu hanyalah kabar burung, namun nyatanya Aku melihat hal itu dengan mata kepalaku sendiri. Sakit sekali rasanya saat itu, akan tetapi Aku tahan tangisanku lantaran Aku sadari bahwa Langit tidak pernah mau memperdulikanku dari dulu hingga sekarang.
Sikapnya yang begitu sangat dingin terhadapku seperti gunung es yang membeku seakan tidak pernah berubah walaupun waktu telah berlalu dari tahun ke tahun. Tak sedikit pun dia pernah menyapaku apalagi sampai memandangku walaupun kami tinggal 1 atap.
Sikapnya terhadapku seperti itu seakan telah membuatku menjadi kebal, tak mau perduli dengan sikapnya yang sangat mengesalkan itu. Yah semua itu karena cintaku yang sangat dalam terhadapnya hingga menjadikan aku bagai budak cinta, tak perduli walau sakit yang Aku rasakan yang terpenting adalah melihatnya tersenyum dan bahagia.
Sepertinya Langit tahu bahwa Aku sangat mencintainya sejak lama dan berulang kali semua hal itu selalu saja terjadi tepat didepan mataku sendiri, yang seakan semua itu dilakukan olehnya dengan sengaja untuk membuatku menjadi sakit hati melihat kebersamaannya dengan Cindy.
Sedih dan pilu tak dapat Aku mengadu, namun ternyata Ibu Sarah dapat menerka dengan baik tentang perasaanku terhadap puteranya. Dan di luar nalarku ternyata Ibu Sarah yang telah Aku anggap sebagai Ibuku kandunganku mendukung Aku untuk menaklukkan hati puteranya.
Begitu banyak dukungan dari Ibu Sarah hingga setiap acara Aku pun selalu saja disandingkan dengan Langit. Aku pun sangat senang dan bahagia lantaran Aku memiliki kesempatan untuk selalu bersamanya namun kebahagiaanku itu seakan menjadi boomerang untuk diriku sendiri.
Dukungan dari Ibu Sarah untukku sepertinya membuat Langit berubah menjadi anak yang pemarah dan tidak sopan terhadap orang tuanya sendiri, hingga suatu hari mereka berdua bertengkar hebat dan Aku pun mendengarkannya langsung dari balik pintu seusai pulang sekolah.
"Mama, Aku tidak suka kalau Mama terus-menerus mendekatkan Aku dengan Dhea!!! Aku punya pilihan sendiri Mah, Aku lebih memilih Cindy dari pada Dhea. Seharusnya dia tahu diri sudah menumpang hidup dengan kita selama 9 tahun dan dia tidak perlu menginginkan rumah beserta isinya menjadi miliknya juga", ujar Langit berapi-api.
"Jaga ucapanmu Langit!!! Semenjak kau mengenal Cindy kau jadi tidak punya sopan santun terhadap Mamamu sendiri!!! Lebih baik kau segera tinggalkan gadis itu sekarang juga!!!", ujar Mama sangat geram.
"Sekarang Aku mau tanya, Mama pilih Aku yang keluar dari rumah ini atau Dhea???!!", tanya Langit sangat geram.
"Beraninya kau mendikte Mama!!!", ucap Mama murka.
Kemurkaan Mama pun terlampiaskan dengan tamparan keras yang mendarat tepat di wajah puteranya sendiri. Aku hanya menangis pilu melihat semua itu dan sekaligus meratapi akan nasibku ini.
"Ayah lekaslah pulang, aku sangat merindukanmu. Aku tidak ingin tinggal disini lagi", tangis batinku.
Semenjak hari itu Aku pun memberanikan diri untuk memulai lembaran baru dengan semua perasaanku ini dan sekaligus keluar dari kediaman Pak Yudhi Pratama. Walaupun awalnya mereka berdua melarangku untuk pergi namun dengan alasan dari Ayahku yang akan segera pulang kembali ke Indonesia, menjadikan sahabatnya merelakanku untuk pergi dari sana untuk selamanya.
Mulai hari itu Aku pun melangkah pergi menjauh dari mimpiku dan hingga waktu ke waktu terus berjalan hingga 5 tahun telah berlalu.
Kini usiaku genap 22 tahun dan Aku pun masih tetap setia menjomblo. Rasanya hatiku telah mati rasa untuk memulai lembaran baru dengan pria manapun. Selama bertahun-tahun hati ini rasanya tak pernah berubah untuk tidak mencintai seseorang pria yang telah Aku kubur didalam lubuk hatiku. Terasa lelah hatiku untuk dapat melupakan semua kenangan saat bersamanya, namun sampai detik ini hatiku masih sangat ragu dapatkah Aku benar-benar bisa melakukan hal ini???.
Seiring waktu berlalu, Aku pun hanya berusaha untuk fokus berkerja agar semua masa laluku itu dapat terhapuskan seperti layaknya tulisan dihamparan pasir dibibir pantai yang tersapu oleh ombak dilautan.
Usahan dan kerja kerasku pun membuahkan hasil yang maksimal. Dengan hasil prestasi kerjaku itu, akhirnya membawaku untuk kembali ke Jakarta setelah sekian lama Aku tinggal di Bandung.
Sebelum Aku menempati posisi menjadi Manajer di Perusahaan tempatku bekerja, terlebih dahulu Aku pun harus belajar dengan Manajer senior dari Perusahaan yang berada di Jakarta. Dan tanpa Aku duga ternyata takdir mempertemukan Aku kembali dengan seseorang yang dulu sangat Aku cintai yakni Langit Yudhi Pratama.
Aku menatapnya penuh dengan kerinduan yang sangat mendalam, akan tetapi tidak demikian dengannya. Langit masih menatapku dengan tatapan dingin sama seperti dulu. Kami berdua pun saling berjabat tangan seperti layaknya orang asing yang baru saja bertemu.
Sampai saat ini Aku tidak mengerti apakah ini takdir Allah SWT atau hanya kebetulan saja, hingga kami berdua di pertemukan kembali.
Wajahnya terlihat semakin tampan dengan pertambahan usianya yang semakin matang dan Aku yakin dia masih sama seperti dulu yakni pria tampan yang di gandrungi oleh banyak kaum hawa.
Aku pun tersenyum bahagia dengan melihatnya kembali setelah sekian lamanya tak jumpa, namun Aku harus menelan pil pahit kekecewaan lantaran setelah mengetahui ternyata Langit telah bertunangan dan akan segera menikah dengan Cindy teman kami semasa SMU dulu. Rasanya kesempatan apapun tidak ada untukku sekalipun takdir telah mempertemukan kami kembali.
Aku pun memperkuat hati dan perasaanku yang terluka ini. Aku harus tetap profesional dalam bekerja walaupun apapun terjadi dihadapanku.
"Dhea, Kau harus bisa menjalani ini semua!!! Yah Aku yakin akan bisa melewatinya", batin Dhea menyemangati dirinya sendiri.
Hari ke hari seakan begitu terasa sangat lama dan Aku harus menghabiskan waktuku belajar disini bersama dengan Langit selama 3 bulan. Dan pastinya bulan depan Aku akan menyaksikan acara sakral pernikahan dari mereka berdua.
Kondisi kesehatanku seakan semakin memburuk ketika mengingat acara pernikahan mereka yang akan berlangsung 2 pekan lagi. Aku pun selalu sering kelelahan, lemas dan mimisan dikedua hidungku, akan tetapi Aku enggan pergi memeriksakan diri ke Dokter lantaran hal itu pastinya akan membuatku jadi semakin stres saja.
Aku rasa tiada berguna jika Aku terus bersedih dan menangis melihat kebahagiaan dari mereka berdua yang setiap hari semakin bertambah mesra. Dari awal hatiku memang telah hancur berkeping-keping dan tidak dapat kembali seperti semula, jadi Aku harus lebih kuat menerima semua kenyataan ini. Pasti inilah yang terbaik dari Allah SWT untukku dan juga untuk Langit karena Aku bukanlah bagian dari tulang rusuknya dan ternyata benar pepatah mengatakan bahwa tidak selamanya cinta itu harus memiliki.
"Semoga Kau dan Cindy selalu bahagia untuk selamanya, Aamiin", batin Dhea berdoa.
Menjelang pernikahan Langit 10 hari lagi, ternyata musibah melandanya hingga kecelakaan mobil membuatnya kehilangan kedua netranya. Kesedihan terlihat begitu sangat melanda Langit hingga membuatku tak kuasa untuk melihatnya, terlebih lagi setelah mendengar cerita dari rekan kerja yang lain ternyata Cindy ingin membatalkan acara pernikahan mereka berdua lantaran tidak siapa dengan kecacatan netra Langit.
Demi membalas budi baik dari Pak Yudhi Pratama dan Ibu Sarah, aku pun mengiyakan permintaan mereka untuk berpura-pura menjadi Cindy dengan kemampuanku menirukan suara orang lain.
Aku pun terus berada di RS untuk menemani Langit selama perawatan hingga menemukan donor mata yang tepat untuknya. Disisi lain Aku sangat bahagia setelah sekian lama menantikannya, kini Langit memberikan seluruh cinta dan kasih sayangnya padaku walaupun sesungguhnya hatiku sangat terluka lantaran cinta dan kasih sayangnya itu sebenarnya hanya untuk Cindy bukan untukku.
Tanpa terasa air mataku pun berlinang hingga mentes tepat terjatuh diwajah Langit yang sedang tertidur pulas. Sontak saja Langit terbangun dari tidurnya dan langsung memeluk tubuhku serta perlahan mulai mengecup bibirku untuk pertama kalinya.
Tubuhku terasa semakin bergetar seiring dengan detak jantungku yang semakin tak beraturan, lantaran kekecewaan yang teramat dalam telah membohonginya.
"Maafkan Aku!!!", batin Dhea menangis.
Dikeesokan harinya tanpa sengaja Aku melihat Cindy datang kembali dikehidupan Langit setelah sebulan pergi menghilang dan membatalkan pernikahan begitu saja. Mereka terlihat begitu sangat bahagia dan kembali mesra seperti biasanya.
Melihat hal itu, Ibu Sarah pun mencoba menjelaskan semuanya padaku dan Aku pun tidak boleh egois karena Langit itu memang milik Cindy dan hanya untuknya.
Aku tahu cepat atau lambat Cindy akan sadar dengan kesalahannya dan Aku pun hanya berpesan padanya agar Cindy tidak menceritakan apapun yang terjadi pada Langit.
Beberapa hari berlalu dan keluhanku semakin bertambah hebat. Setelah pemeriksaan terperinci ternyata Aku didiagnosa oleh Dokter terkena Leukemia stadium akhir. Gejala apapun tidak Aku rasa sejak awal hingga penyakit kanker darah ini telah menggerogotiku tanpa Aku sadari, sama halnya seperti almarhumah Ibuku yang telah meninggal dunia dengan penyakit ini.
Apa daya tiada apapun yang dapat Aku perbuatan dengan penyakit ini, Aku hanya dapat berdoa disetiap waktu agar saat kepergianku nanti Aku dalam keadaan Khusnul Khatimah.
###
Seusainya pernikahan Langit dan Cindy selesai digelar. Cindy pun memberikan secarik kertas dan sekuntum bunga mawar untuk suaminya.
Perlahan Langit mulai membacanya dan ternyata selama ini penilaiannya terhadap Dhea adalah salah. Secarik kertas yang dipegangnya pun terjatuh bersama dengannya yang ikut tersungkur terduduk dilantai meratapi semua kesalahan yang telah dilakukannya selama ini terhadap Dhea seseorang wanita yang sangat tidak disukainya.
Langit menangis sejadi-jadinya setelah mengetahui bahwa seseorang yang telah rela mendonorkan kedua matanya adalah Dhea yang 4 hari yang lalu telah meninggal dunia.
Rasa penyesalannya pun semakin mendalam setelah mengetahui rahasia demi rahasia terungkap dari kisah sekuntum bunga mawar yang selalu ada didalam laci meja belajarnya disekolah hingga saat ia sedang terpuruk karena kebutaan yang menimpanya dan ternyata wanita yang selalu menemaninya serta menyemangatinya selama sebulan terakhir dan yang selalu menemaninya adalah Dhea.
Tak henti-hentinya Langit terus menangis, hingga membuat Cindy datang dan langsung memeluk tubuhnya dengan erat untuk mencoba menenangkannya.
"Maafkan Aku, Dhea. Maafkan Aku.. Selama ini Aku telah salah menilaimu. Kau adalah wanita berhati mulia. Aku adalah seorang manusia yang sangat bodoh dan angkuh tidak pernah mau memperdulikanmu saat itu. Maafkan Aku..", jerit tangis Langit menyesali semua perbuatannya sembari menggenggam sebatang bunga mawar pemberian dari Dhea yang terakhir.
#Selesai#
Terima kasih Reader yang sudah mampir ke cerpen perdanaku ini. Jangan lupa untuk follow, vote dan comment ya 🙏🙏🙏