Kenapa banyak orang yang begitu pemilih? Bahkan menolak keajaiban dunia yang sangat dipuji Tuhan?
Aku terus menatapnya. Dia menawan, dia sangat suka tertawa, dia mengagumkan, tapi melihat jejaknya yang selalu ditolak lawan jenis membuatnya dicap tidak laku.
Aku kesal, tentu saja, orang sebaik hati dan semanis dia dikatai seperti itu, tapi aku siapa? Aku tak bisa membelanya terang-terangan, dia pasti tidak akan menyukaiku dan menyuruhku menjauhinya. Aku bukan orang yang kuat.
Banyak yang mengatakan dia tidak rupawan, parasnya terlalu biasa saja, dia juga bukan orang yang menonjol pada suatu bidang, dia adalah seorang manusia biasa yang menyukai hidupnya, akademisnya tidak buruk, tapi tidak luar biasa, dia hanya ... manusia biasa yang menginginkan cinta kasih.
Semua yang menolaknya memiliki penyebab beragam, ada yang bilang terlalu baik, atau tidak bisa menerima seorang yang suka membaca komik, apakah itu bisa menjadi masalah? Sepertinya tidak sama sekali, bukan? Aku dengan geram selalu memberi mereka hukuman ringan. Tidak parah, tapi cukup puas saat aku melihat wajahnya yang sedikit berseri-seri, tapi juga bingung.
Ada suatu kejadian, dimana dia ... benar-benar patah hati. Aku mendesis marah, orang itu mengatakan dengan keji kalau dia adalah orang biasa, tidak berbakat, tidak memiliki suatu hal spesial, terlalu baik hati dan naif. Itu terlalu jahat, tidak bisakah dia mengucapkan tanpa membuatnya seperti bahwa dia adalah orang yang tak pantas disukai?
Aku melihatnya, yang menangis sesaat orang itu selesai mengatainya, dia berjongkok, menangis dengan suara tertahan, isak tangisnya tidak besar, itu tersendat-sendat, aku merasa buruk melihatnya.
Berharap aku bisa di sana, menenangkannya bahwa dia memilikiku untuk terus disisinya. Manik indahnya mengeluarkan air mata, aku benar-benar tidak tahan, dengan gelisah, aku membuat pesawat kertas, menuliskan sebuah kalimat penyemangat yang kupikir sangat jelek. Aku menerbangkannya sampai kearahnya, dia mendongak waspada, dan mengambilnya ragu.
Dengan malu, aku berbalik pergi setelah menulis: "Kamu pantas dicintai, jangan salahkan dirimu. Kamu berharga." Melewatkan wajah berharganya mencariku.
Hanya sehari setelah itu, dia sangat ceria, dia menjadi rajin mengumpulkan tugas, dia bahkan menawarkan diri untuk menaruh tugas-tugas di meja guru. Itu hal bagus. Aku tersenyum senang, walau dia takkan mengetahui itu adalah aku, setidaknya melihatnya bahagia sangat cukup untukku.
Hari-hari telah berlalu, saat kami sudah lulus, dan memiliki pekerjaan, aku masih tetap berusaha mencarinya, aku menggunakan akun cadangan yang takkan terlacak bahwa itu adalah aku. Yang mengejutkan, dia semakin mapan, dia mempunyai banyak teman, dia bahkan sering digoda lawan jenis dari akun instagramnya, yang membuatku tidak senang dan melewatinya.
Beberapa tahun berlalu, ini masih kebiasaan yang sama, aku tetap memperhatikannya, aku tetap senang mengetahui dia bahagia, ikutan kesal saat dia memiliki sebuah hal tidak bagus.
Aku membuka aplikasi chat-ku untuk melihat satu pesan baru yang baru saja dikirim.
"Apa kau mengingatku? Seorang yang kau kirimi surat penyemangat berharga itu. Bisakah kita bertemu? Dulu aku benar-benar tidak ada keberanian bicara denganmu."