"Bim doain gua ya!" Kata gadis cantik berambut ikal itu tersenyum manis.
"Iya semoga jadi deh lu, biar ga sakit hati mulu!" Ucap Bima menelan kepahitan.
Bagaimana tidak? Bima sebenarnya menyimpan rasa pada sahabat masa kecilnya Karla, dan kini ia akan menyatakan persaannya pada Farel cowok cuek nomer 1 di sekolahnya.
Dua bulan sebelumnya.
"BIMAAAA!!! OMG OMG OMG!" kata Karla beseru dan menghampiri Bima.
"Ada apa Kar?" Tanya Bima heran dengan tingkah lakunya.
Gadis itu tidak menjawab dan sibuk memainkan gawainya (hp). Ia tersenyum menunjukkan lesung pipinya yang membuat Bima gemas.
"Ada apa Karlaa??" Tanya Bima sekali lagi sambil mengacak-acak rambut Karla.
"Ishhh..." Karla cemberut dan menepis tangan Bima di kepalanya. "Lihat Bima! My Lovely Honey, nge-chat gue dong! Gua harus bales apa?"
"Oh Si tukang es?" Kata Bima Cuek.
"Kok gitu sih senyum, temennya dinotice sama pujaan hati ini loh! " Tangan Karla menarik pipi Bima memaksa senyum.
Wajah Bima tetap kaku, ia menatap Karla tajam.
"Eh? Kenapa Bima? Ada masalah?" Tanya Karla bingung.
"Lu suka sama orang kayak begituan itu darimananya sih?" Tanya Bima ketus, pandangan Bima kini tertuju pada Karla sepenuhnya.
"Dia keren!" Jawab Karla singkat.
Bima hanya terdiam mendengar jawaban Karla. Hanya karena keren? Itu tidak masuk akal!
Karla tak menyadari perasaan Bima terhadap dirinya selama satu tahun terakhir, karena Karla hanya menganggap Bima teman masa kecil yang baik hati.
"Bima please! Bantuin gue ya! Gua mau ngungkapin persaan gua sama Farel!" Ungkapan Karla tiba-tiba.
DEG!
Mata Bima yang awalnya terlihat kosong kini sepenuhnya tajam. Alisnya mengkerut lebih dalam.
"No! Lo baru kenal dia hari ini La! Masa lo mau nembak dia langsung?" Tanya Bima tegas.
"Ah... Bima mah! Sebelumnya ga ada yang dibalas chatnya sama si Farel. Kalo dia ngechat gua berarti dia suka sama gua!!" Jawab Karla merengek.
"Karla dengar, ga semua cowok itu baik. Yang jelas baik ada dihadapan lo!" Bima menegaskan.
"Hahaha apaan sih, iya lo baik banget mangkanya bantuin gua ya!" Karla bersikukuh.
Bima melemaskan wajahnya yang kaku saat itu. Bagaimanapun ia tak dapat menolak pujaan hatinya meskipun itu juga menyakitinya.
Di satu sisi Bima ingin sekali menolak kenginan Karla, tapi disisi lain ia tidak tega melihat Karla berjuang sendiri.
"Fine, tapi gua ga mau terjadi apa-apa sama lo! Gua ga mau lo nangis bombay di depan gua kalo lo ditolak!" Kata Bima menyudahi perang pikiran dan hatinya.
Hari demi hari berganti. Bulan demi bulan terganti. Hubungan Karla dan Farel kian dekat namun perasaan Bima dengan Karla kini semakin tak tertahankan. Ia tidak rela gadis pujaannya berada dipelukan orang lain.
"Bimaaaa" Suara gadis itu memanggil dengan lembut.
"Gadis tidak peka! Gua suka sama lo sialan! " Gumam Bima menutup mulut dan menoleh.
"Hmm? Lo tadi ngomong sendiri Bim?" Tanya Karla bingung karena ia mendengar sesuatu.
"Ahh gak kok, ada apa La?" Tanya Bima menahan degupan suara jantungnya yang sekeras drum.
"Itu... Gua mau nyatain perasaan ke Farel udah dua bulan kita pdkt tapi ga ada lanjutannya. Karla mau pastiin hubungan kami." Ucap Karla
Deg!!!
Sudah pasti hari ini akan tiba, Bima sudah memikirkan apa saja yang akan menjadi responnya. Namun pikiran itu hilang dan kembali pada reaksi alaminya, ia tak terima.
"Oh ya? Udah ada rencana?" Mulut Bima berkata lain dengan ekspresinya.
"Mu-muka lo kok marah sih Bim?"
"Ah gak kok hahahaha." Bima memaksa tertawa meskipun ada yang patah di hatinya.
"Ah jadi gini rencananya. Gua nanti nyatain ditengah aula dikelilingin sama lilin gitu so sweet banget ga sih?" Tanya Karla bersemangat.
"Lilin? Lo yakin pakai lilin La? Ga ada yang lain gitu? Lampu LED atau lampu tumblr mungkin?" Tanya Bima mencoba bercanda.
"Dih apaan sih ahaahaha, Farel tu suka sama lilin gituuu..."
"Suka kok hal yang aneh, lagian kenapa harus api sih? Api kan bahaya Karla."
"Bimaaa, Karla bukan anak kecil lagi. Gua mau nyatain besok lo dateng ya! Itu rencana gua! Gua hebatkan jenius?!"
Apalagi ini? Ia disuruh menyaksikan pujaan hatinya menyatakan cinta dengan mata kepalanya sendiri? Ini sulit.
H-Day
"Bimaaa lo dateng jugaaa! Temen-temen gua bantuin gua nyiapin ini semua loh!" Ucap Karla bersemangat.
"Ah lo dateng Bim, nunggu di belakang Karla yuk!"
"Yang sabar ya Bim."
"Bim sama gua sini!"
Bahkan teman-teman Karla pun lebih peka dari pada Karla sendiri. Karla terlihat cantik meskipun hanya menggunakan seragam SMA biasa.
"Lo yakin La berdiri ditengah api gitu? Kapan dia dateng? Keluar aja kalo masih lama." Ucap Bima khawatir.
"Udah lo tenang aja, bentar lagi dia nyampai kok. Lo ke belakang aja sama temen-temen gua." Ucap Karla.
"Yaudah."
"Bim doain gua ya!" Kata gadis cantik berambut ikal itu tersenyum manis.
"Iya semoga jadi deh lu, biar ga sakit hati mulu!" Ucap Bima menelan kepahitan.
Farel dan teman-temannya memasuki Aula dengan terpaksa karena disuruh oleh Karla. Pintu terbuka semuanya terkejut dengan apa yang dilakukan Karla.
"Pfftttt"
"Hahaha apaan sih?"
"Ada ya jaman sekarang."
"Jangan keras-keras ntar dia kedengaran."
Suara cekikikan itu berasal dari teman-teman Farel yang terkejut dengan kenorakan yang dilakukan Karla.
Bima yang berada di belakang Karla tersinggung dengan ucapan teman-temannya yang mengejek Karla.
"Maksud lo apaan Kar?" Tanya Farel ketus.
"Gu-gua..." Mata Karla ragu-ragu "Gua suka sama lo Rel!"
Bima lesu dan mencoba untuk tersenyum. Perasaan Karla akhirnya tersampaikan.
"Hahahaha lo suka sama gua?" Tanya Farel.
Bukannya membalas kata ungkapan Karla, Farel justru tertawa.
"Dih... Gua ga mau sama lo! Sok kecentilan ya lo mentang-mentang cantik dikit! Lo tau nggak? Lo itu norak! Kampungan!" Jawab Farel ketus.
"Tapi tapi lo..." Ucap Karla gugup.
"Halah ngomong apaan sih?" Kata Farel dan meraih gelas cairannya yang dibawa temannya.
Farel menghamburkan cairan itu berniat mematikan api lilin yang membuatnya jijik. Alih-alih mati, api itu justru kian membesar.
"Lo bawa apaan? Kok tambah besar?" Tanya Farel terkejut dan menatap temannya.
"I-itu minyak gas buat praktek kimia nanti." Jawab salah seorang temannya.
Karla ketakutan. Bima tidak tinggal diam ia berlari ke arah Karla dan memeluknya menjauhi api. Teman-temannya kini kebingungan. Mereka segera berlari mengambil air.
Farel dan teman-temannya pergi meninggalkan aula. Karla berhasil selamat namun baju Bima terbakar dan mengenai punggungnya.
Api telah padam setelah teman-teman Karla mengguyur api dengan air. Bima segera dilarikan di rumah sakit.
"Kar... La... Dengar... Gua... Suka... Sama... Lo." Ucap Bima di dekat Karla.
"Udah lo diem!" Jawab Karla panik.
"Gua... cuma... mau... lo... tau... Selamat tinggal Karla." Ucap Bima tersenyum.
"Lo mau kemana? Plisss Bima! Jangan tinggalin gua!" Ungkap Karla sedih.
Rumah sakit angkat tangan, Bima tidak bisa diselamatkan. Luka bakar pada punggung Bima sangat fatal dan sudah membakar tubuhnya.
"Bimaa.. Bim... Bim.. Gua gamau kehilangan lo." Suara tangisan Karla kini tak dapat di dengar oleh Bima lagi. Karla sungguh menyesal karena kehilangan segalanya.
Farel telah ditetapkan sebagai tersangka, meski begitu Karlalah yang menanggung beban pikiran karena ia penyebab Bima meninggalkannya.
Bulan itu tiga siswa keluar dari sekolah. Bima meninggal dunia, Farel ditahan atas tuduhan pembunuhan, Karla masuk rumah sakit jiwa. Ia benar-benar kehilangan segalanya.
TAMAT