Aku tidak tau sejak kapan ini terjadi. Atau lebih tepatnya dari kapan aku mulai menyadari kejanggalan ini semua?
Semuanya terasa aneh. Seakan.. mereka bukan diri mereka. Iya, yang kumaksud disini adalah..
Ibu, Ayah, dan adik laki-lakiku.
Mereka bertingkah sangat aneh. Dulu aja aku betah banget dirumah. Sekarang, mau pulang aja aku ngerasa males banget.
Atau mungkin hanya perasaanku yang aneh, tapi nyatanya tidak. Semua bukti yang kukumpulkan, menvalidkan semua kejanggalan ini yah.
Ini bermula saat aku pulang telat beberapa minggu yang lalu. Dari sekolah aku ngak langsung pulang, saat itu aku habis bertengkar hebat dengan orang tuaku.
Aku menangis sepulang sekolah. Lalu memutuskan untuk pulang. Aku merasa bersalah kala itu.
Sesampainya, aku sudah merasa pusing sejak pertama kali menginjakkan kaki dirumah.
Di ambang pintu, orang tuaku sudah berdiri menungguku. Mereka tidak marah padaku, itu aneh.
Mereka menyuruhku berganti pakaian. Dengan ucapan yang singkat.
Mereka selalu tersenyum, seakan bibir mereka tak pernah lelah untuk melengkung. Anehnya, tiap kemanapun aku pergi mereka selalu mengikutiku.
Kecuali keluar rumah!
Jika tadi hanya ibuku itu wajar, ini ayahku juga! Jadi aku meminta mereka agar tidak mengikutiku lagi.
Mereka hanya diam.
Ok, aku kira mungkin mereka hanya khawatir padaku.
Aku pikir ada yang salah dengan Ibuku, dia pendiam sekali. Ayahku juga.
Makanan yang di hidangkan mulai berubah semenjak itu. Daging setengah matang yang masih kemerah-merahan. Belum di potong dan bentuknya absurd.
Jadi aku ngak tau itu daging apa?
Tapi Ibuku selalu menyuruhku menghabiskan semuanya.
Dan benar saja, masih ada darah di dagingnya.
Ibuku tak bertanya yang macam-macam padaku. Biasanya dia cerewet sekali.
Peraturan dirumah juga mulai berubah setelah itu. Tidak ada yang boleh bakar membakar di rumah. Tidak boleh ada api di rumah!
Kamarku juga di bongkar habis-habisan. Semua mainanku di sita semua. Hanya menyisahkan kasur, lemari, dan kipas angin.
Aku juga tidak boleh sekolah. Dan selama itu juga Ayahku tidak pernah kekantor lagi. Lalu kupikir-pikir selama itu juga Ayah dan Ibuku ngak pernah keluar rumah.
Ingin sekali aku bertanya, tapi mereka hanya tersenyum. Senyum yang sama! Raut wajah yang sama! Tanpa ekspresi! Pintu rumah bahkan ngak pernah dibuka ‘kan lagi untukku.
Pernah sekali aku nekat kabur, tapi ayahku langsung muncul di depanku. Seakan tau apa yang mau kuperbuat.
Kini rumahku udah kosong melompong. Peralatan rumah yang ada gambar kartunnya di buang semua. Semua foto juga. Lukisan, patung, gambar, semua! Yang lebih anehnya aku ngak tau dimana mereka bisa menyimpan semua itu.
Aku mulai ketakutan. Aku takut dengan orang tuaku sendiri! Mereka tanpa ekspresi. Senyum yang sama!
Dan malamnya aku tidak pernah bisa tidur dengan tenang. Di depan pintu, di samping jendela kamarku, Ayah Ibu ku ada disana.
Berdiri sepanjang malam tanpa henti! Setiap harinya! Aku merinding. Apalagi.. setiap harinya.. daging yang di masak Ibuku semakin absurd bentuknya. Baunya juga! Amis!
Aku tak tahan. Semuanya udah mulai ngak normal disini, dan aku baru sadar itu. Jadi aku memutuskan untuk kabur dari rumah itu.
Aku tau itu mustahil. Tapi ada satu cara. Pernah suatu hari aku tak sengaja merobek bantal ku. Kapasnya jadi beterbangan dimana-mana. Orang
tua ku yang melihatku lantas menyeretku lalu mendorongku keras. Mereka tampak marah, namun.. juga kesakitan.
Mereka terus memegangi perut mereka. Seakan robekan bantal itu ikut terasa di perutnya.
Jadi hari ini untuk mengecoh mereka, aku mengunting-gunting bantal lalu menebar-nebarkan kapasnya di sembarang tempat. Seperti dalam rencana, orang tuaku langsung kelimpungan.
Aku yang awalnya udah bersembunyi di bawah tangga, langsung kabur kepintu. Dengan tangan gemetar, aku memecahkan kaca jendela. Pintunya terkunci! Aku tak punya pilihan lain!
Suara pecahannya terdengar keras. Orang tua ku mulai menyadari aku kabur. Mereka berjalan tertatih-tatih bahkan sampai mengesot. Aku sadar aku jadi anak yang jahat karena aku membuat mereka jadi kesakitan begitu.
Tapi semua itu langsung ku tepis jauh-jauh! Karena.. logikanya ngak ada hubungan kapas bantal sama manusia! Yang ada mereka itu ngak normal!!
Hup!
Aku berhasil lolos.
Tanpa memalingkan wajahku lagi ke belakang, aku berlari sekuat tenaga. Tapi peduli lagi apa! Persetqn semuanya! Aku takut sekali!!
Aku,
“Berhenti!!!” srakkk!!!
Aku tercengang. Tubuhku menegang. Badanku di peluk dari belakang. Kepalaku gemetar ketakutan. Air mataku menetes deras.
“Kumohon lepaskan aku… kumohon lepaskan aku!!!”
“Kak..”
“Lepaskan aku kumohono!! Ayah Ibu kumohon.. ini bukan kalian.. aku mohon.. aku takut sekali.. ahhhh..”
“Kak!”
“Kumohon!”
“Kak Emi! Kak Emi sadarlah!! Ini aku!! Adikmu!! Jim!!”
Aku tersentak. Kepalaku yang awalnya takut berpaling perlahan memalingkkan wajahku. Bibirku tercekat.
“Kau..”
“Iya kak, ini adik laki-laki mu.. Jim..”
“Ji, Jim..” tanganku gemetar, menyentuh pipi Jim. “Be, benar kau itu Jim..”
Jim mengusap air matanya, mengangguk. “Iya kak, ini beneran aku Jim..”
Aku tak tau harus berkata apa lagi. Bahuku melemas. Tubuhku perlahan rubuh. Jim langsung mengambil ahli tubuhku, memelukku agar tidak rubuh.
“Kak.. kakak sudah aman.. tenanglah.” Katanya sebelum aku benar-benar terlelap.
Beberapa saat kemudian, kesadaranku kembali. Aku terbangun dari pingsanku. Kutatap adik ku yang masih menangis di depanku. Di sekitarnya ada Bapak-Bapak berbaju hitam yang terlihat asing untukku.
Jim menjelaskan, “Ada kutukan di kampung kita kak. Ada boneka pendendam yang bergentayangan di kampung kita Kak. Siapa pun yang mendapatkannya akan di adopsi jadi anaknya kak.”
“Apa maksudmu?”
“Kak.. apa kakak ada nemu boneka di jalan atau dimana gitu?”
“Boneka?” aku berpikir lamat, “Boneka ya.. ada. Aku, aku baru ingat saat aku pulang telat hari itu aku dapat boneka di kuil tua. Jadi aku bawa pulang. Tunggu, emangnya.. kenapa?”
Bapak-bapak berbaju hitam disekitar kami tampak saling memandang. Menghela napas berat.
“Jim.. ada apa sebenarnya ini?! Ibu, Ibu dan Ayah.. juga sangat aneh. Aku ketakutan Jim. Dan lagi kenapa kau ada disini? Bukannya kau lagi di luar kota?!”
“Aku tidak jadi kesana saat dengar rumah kita kebakaran.”
“Apa?!”
“Iya kak. Sesuai kutukan karena kakak udah jadi pemilik bonekanya, keluarga kita di kutuk. Rumah kita kebakaran. Ayah dan Ibu masih disana. Mereka.. tidak selamat.”
“Ti, tidak mungkin!! Aku barusan melihat mereka! Disana!! Lihat disana! Rumah kita masih ada disana Jim! Lihat! Lihatlah!” aku tak bohong. Di ujung sana rumahnya masih ada. Masih utuh!
“Kak.. kakak sudah disihir.”
“Apa.. maksudmu?!”
“Boneka itu menyihir penglihatan kakak. Saat kakak pulang kakak melihat rumahnya masih utuh, padahal rumah itu udah hangus terbakar. Ayah Ibu yang kakak lihat juga bukan yang asli, mereka boneka. Berhari-hari mereka mengurung kakak disana. Aku mencari kakak kemana-mana! Aku pikir kakak diculik atau gimana. Tapi nyatanya.. kakak ada disana selama ini.”
“Nak Jim, lebih baik kita mencari boneka itu untuk memulihkan penglihatan kakakmu.”
Jim hanya bisa mengiyakan. Aku masih shok. Masih meresepi semua yang terjadi.
Seperti perintah Bapak-bapak paranormal itu, Jim masuk kerumah itu bersamaan dengan para warga.
Mereka bersama-sama mencari boneka terkutuk itu. Berita boneka itu cukup meresahkan warga.
Tak lama, boneka itu ketemu. Bonekanya langsung dihancurkan agar tak berkeliling mencari korban lain.
Saat itulah, seperti dicabut dari sesuatu aku merasa seperti kembali dari semula. Terpampang sudah didepanku rumah kami yang hangus terbakar seperti kata Jim.
Aku histeris. Menangisi semua yang terjadi padaku. Terutama pada Ayah dan Ibuku.
“Jangan pikirkan kutukan itu kak. Ayah dan Ibu meninggal karena kehendak Tuhan, bukan kutukan.” Nasihat adikku kala itu.
Aku berusaaha menerimanya meski berat. Lalu kami pindah setelah itu. Kami membawa jasad orang tua kami ke makam yang lain.
Hingga kini, rumah kami jadi terkenal dengan sebutan..
Rumah boneka.
…