siang itu...
"silahkan duduk."
Berpasang - pasang mata memperhatikan saat Amanda duduk dengan sikap kikuk yang kentara. Bagaimana tidak ? Di depannya duduk seorang cowok tampan , dan.. terkenal.
Lusia dan Titi sudah pulang setelah memainkan 'drama' yang membuat Amanda jengah. Dua karibnya itu gembira sampai histeris melihat Leon dan meminta tanda tangan.
"Kamu benar - benar makhluk beruntung. Biar aku saja yang menggantikanmu kencan dengan Leon, ya ?" bujuk Titi berkali - kali. "Aku tidak mau kalian saling bunuh. Jadi, biar aku saja yang mengalah. Walau aku benar -
benar nggak tau bagaimana bentuk makhluk bernama Leon itu. Kalian yakin, dia pemain sinetron ? Bukan penyanyi, kan ?"
"Astaga..." Lusia menggeleng - geleng kepala. "Selama ini kamu hidup di gua? ya ? Sampai - sampai tak tau siapa itu Leon Dwinanda...," kecamnya heboh. Untungnya Leon tampak tak kaget. Setelah beberapa kali difoto berdua untuk dokumentasi perusahaan penyelenggaraan undian ini, disusul pulangnya duo biang onar itu, Amanda disuguhi pandangan ingin tahu orang - orang di restoran steak itu.
"Abaikan saja mereka," cowok itu mengukir senyum indah. Gadis - gadis saling berbisik dengan terang - terangan. "Pasti mereka iri sekali padaku," Amanda mencoba bergurau, untuk mengurangi kecanggungannya. Cowok itu kembali tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak mereka tadi diperkenalkan, Amanda memandang tepat ke mata jernih dengan bola mata berwarna coklat.
Kulitnya coklat, jangkung, dan atletis. Wajahnya tampan dengan mata coklat yang istimewa. Namanya bule, tapi tampangnya melayu tulen. Setelah sebelumnya saling dorong, dua orang cewek berseragam SMA nekad mendatangi Leon untuk meminta tanda tangan. Dan yang lain segera mengikuti. Jadilah acara yang tadinya dijadwalkan untuk makan siang, berubah menjadi ajang jumpa fans.
Amanda membuang pandangannya ke langit yang luas. Matanya menangkap contrail yang mulai samar. Matahari tersaput mendung. Sepertinya hujan akan segera turun. Amanda gadis mungil hanya sedikit lebih tinggi dari bahu Leon. Wajahnya tidak cantik tapi mempunyai daya tarik yang tidak bisa diabaikan. Apalagi lesung pipitnya. Rambut sehatnya menyentuh punggung dengan bagian ujung yang ikal. Hanya bagian ujungnya tapi terlihat cantik sekali.
Sesungguhnya dia tidak punya keinginan memenangkan hadiah "Kencan Sehari Dengan Leon". Amanda mengikuti undian yang diadakan sebuah perusahaan minuman isotonik karena mengincar hadiah utamanya yaitu sebuah netbook canggih. Itu adalah netbook idamannya yang rencananya akan menggantikan kedudukan komputernya tersayang. Tapi 'malangnya' dia justru memenangi hadiah kedua. Dan di sinilah dia berada bersama sang bintang iklannya. Sebenarnya, kencan sehari tidak lebih dari makan siang beberapa jam. Judulnya saja yang bombastis.
Amanda memang keranjingan ikut undian. Hampir semua jenis undian pernah diikutinya. Dia pernah memenangi Ipod, sepeda gunung, dan handphone. Cukup lumayan meski dia belum pernah sukses menggondol hadiah utama. "Ayo kita pergi dari sini," Leon menarik tangan Amanda dengan tergesa. "Kalau kita terus disini, antrian yang meminta tanda tangan akan semakin panjang." Amanda mengikuti dengan terseok. Cowok ini memiliki langkah kaki yang panjang. Amanda yang mungil harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengimbanginya.
Mereka meninggalkan restoran steak itu dan segera menuju mobil Leon yang diparkir tak jauh dari pintu masuk. "Pasti kamu sering mengalami peristiwa kayak tadi." "Lumayan." Leon berkonsentrasi menyetir. Sekilas Amanda melihat SUV keren yang ditumpanginya ini. Tak banyak berisi pernak - pernik seperti mobilnya. Simple tapi nyaman. Yang menonjol mungkin hanya seperangkat stereo set yang harganya tidak murah. Mereka menyusuri jalan kota Bogor yang cukup ramai.
Mereka menyusuri jalan kota Bogor yang cukup ramai. Gerimis mulai menitik satu-persatu membasahi kaca jendela. Amanda tak pernah membayangkan bahwa ada hari ini dalam hidupnya. Cewek lain mungkin sudah semaput karena bahagia, tapi dia biasa saja. Lain cerita kalau sosok di sebelahnya itu Kim Soo Hyun. "Maaf,ya ! 'kencan' kita jadi berantakan. Tadinya kukira makan disitu lebih nyaman. Itu dulu tempat favoritku." "Dulu?" "Sebenarnya masih sampai sekarang. Tapi aku sudah hampir setahun tidak pernah kesitu lagi. Biasa, jadwal syuting terlalu padat."
"Wajahmu terlalu familiar." "Tapi tidak untukmu."
Amanda mengernyitkan dahinya. Bagaimana dia bisa tau? "Aku tadi lihat kamu celingukan saat teman kamu histeris dan menunjuk ke arahku. Padahal hanya ada dua orang cowok disitu. Dan yang satunya masih terlalu muda untuk berumur 21." Amanda merasa tak enak. "Maaf, aku nggak suka sinetron. Aku lebih suka menonton National Geograpric, film korea, dan atau The Biggest Loser," katanya jujur. Ya, untuk apa berpura - pura ? Walau merasa tak enak, namun Amanda merasa lebih baik berbicara apa adanya.
Toh mereka cuma bersama selama beberapa jam. Ada baiknya Leon tahu bahwa tak semua orang memujanya. "Tak suka sinetron? Kenapa?" Tanyanya ingin tahu "mau jawaban jujur?" "Iya dong" Amanda tertawa kecil. "Aku tahu sinetron rating nya tinggi, tapi maaf sekali ceritanya banyak yang nggak mendidik. Banyak adegan kekerasan atau kata² yang hampir semua menampilkan kisah mirip."
Leon tertawa. Mata coklatnya menyipit. "Pantas saja kamu nggak kenal aku. Padahal penggemarku paling banyak seusia kamu. Aku berani bertaruh, kamu pasti nggak senang menang hadiah ini," tebaknya dan langsung membuat wajah Amanda merah padam. "Sejujurnya saja, sepuluh menit yang lalu jawabanku adalah iya. Aku naksir netbook nya," Amanda blak² an. "Kenapa sepuluh menit bisa mengubah pendapatmu?" Leon penasaran.
"Kamu ini penuh rasa ingin tahu, ya? Apa nggak terpikir kalo aku juga suka rahasia?" "Terus terang aja, cewek sepertimu langka untukku. Sejak dikenal public, baru kali ini ada orang yang nggak suka ketemu aku, kencan lagi. Maaf, bukannya aku bermaksud sombong, ya. Cuma rasanya gimanaa, gitu... ternyata ada orang yang anti sama sinetron. Berarti hasil survey rating acara televisi nggak mewakili dong."
Amanda tertawa dengan bahu terguncang lembut. Lesung pipitnya begitu menawan. Tawanya menulari Leon. Cowok itu pun akhirnya ikut melepas gelak. "Astaga!" tiba² wajah Leon berubah pias dan beberapa detik kemudian mobilnya diparkir dengan tergesa di pinggir jalan. Amanda kaget bukan kepala. "Ada apa? Kamu menabrak sesuatu? Atau melanggar rambu² lalu lintas? Ada syuting dadakan?" Tanyanya panik. Mereka bertatapan dan dengan suara rendah menutupi malu, Leon berbisik, "dompetku ketinggalan."
Kali ini Amanda tidak bisa menahan diri lagi. Tawanya meledak tanpa henti sementara Leon hanya terperangah tanpa kata. "Aku kira kita menghadapi bencana besar, hahahahaha. Ternyata cuma masalah dompet. Astaga, keningku hampir saja benjol kalau saja tidak pakai sabuk pengaman." "Tapi kan aku seharusnya nraktir kamu. Kartu identitas, atm, dan kartu kredit di dompet semua. Mati aku!" Leon menepuk jidatnya dengan cemas. Dari belakang terdengar suara klakson bersahut sahut.
"Ayo kita jalan, jangan sampai kita dimarahi orang, apalagi di tilang. Ayo!" Leon menurut. Tapi wajahnya masih berwarna warni. Sebentar merah sebentar pucat. "Aku telepon manager aku dulu, yah." "Buat apa? Mau minta duit? Biar aku yang traktir. Ini suatu kehormatan untukku, lho." Leon menolak mentah², tapi Amanda terus membujuk tak putus asa. "Ayolah, jangan gengsi. Aku gak akan masuk infotainment, kok. Atau begini saja, aku ajak kamu makan di tempat favoritku. Gimana?"
Leon tampak serba salah. Harga dirinya sebagai cowok dan selebritis cukup menyulitkan. Dibayarin makan oleh cewek asing yang jadi kencannya? Bagaimana kalau perusahaan isotonik yang mengontraknya jadi bintang iklan mengetahui hal ini? Bisa rusak namanya. Bukankah mereka sudah memfasilitasi banyak hal dan kemudahan untuk acara makannya pun enak. Entah sudah berapa lama Leon tidak menyantap makanan seperti ini. Ayam goreng, karedok, sambal terasi, dan tempe bacem. Nikmatnya.
Tapi Leon ternganga melihat Amanda yang gesit menghabiskan 2 potong ayam goreng, sepiring karedok, dan dua porsi nasi putih. Astaga! Bener² bukan cewek biasa. "Jangan kagum begitu," Amanda terkekeh sembari mendorong piringnya yang sudah licin. "Baru kali ini aku ketemu cewek gembul kayak kamu." "Aku gak pintar pura² walau di depan seleb top. Cewek² yang ketemu di depan kamu pasti jaim. Kalo aku nggak sanggup begitu."
Leon menggeleng geleng kepala. Cewek ini sangat benar. "Oh ya, aku berterima kasih karena kita gagal makan di restoran steak tadi. Aku punya sebuah rahasia kecil," Amanda memajukan tubuhnya. "Aku benci steak," bisiknya. Hp Leon tiba² berdering. Cowok itu beranjak dari tempat duduknya dan menjauh sebelum menjawab telepon. Amanda hanya bisa mendengar beberapa kata. Kencan...Bencana...Fans...Dompet...Sebentar lagi.
Tiba² Amanda merasa jengah pada dirinya sendiri. Hei, mengapa dia merasa nyaman bersama Leon jauh dari bayangan sebelumnya? Sebelumnya dia merasa akan bertemu sosok yang angkuh nan sombong. "Pacarmu, ya?" Tanya seenaknya. "Managerku," Leon merasa tak perlu menjelaskan lebih jauh. Toh Amanda dapat info tentang dirinya dengan gampang. Tapi dia langsung ingat kalau gadis itu tidak pernah nonton sinetron.
"Aku belum punya pacar. Susah mencari orang² seperti diriku apa adanya. Mencintai Leon Rusdiana." "Itu nama aslimu?" "Ya." Amanda mati² an menahan tawa. Dia tidak ingin Leon tersinggung dan merasa dilecehkan. "Maaf ya, sepertinya aku harus pulang sekarang. Ada janji dengan klien mau fish spa." "Kamu mau fish spa?" Amanda terbelalak. Dia bukan cewek kolot, tetapi tetep saja ada banyak hal yang membuatnya terkaget kaget. Leon mengangguk.
"Maaf kita terpisah disini," Leon merebut hp Amanda dan memulai memencet keypad dengan cekatan. Kemudian dia missed call ke hpnya sendiri dan menyimpan nomor Amanda. "Nomor pribadiku sudah disimpan. Cuma keluarga dan manajemen yang tau nomor ini. Sekali lagi maaf karena 'Kencan Dengan Leon' menjadi kacau." Amanda tersenyum manis. Mereka bertatapan. "Kencan Denganmu ternyata mengasyikkan, kecuali di bagian minta tanda tangan tadi. Makasih, ya.".
"Bayar dulu, dong! Aku janji nanti aku ganti dua puluh kali lipat," Leon mengingatkan Amanda. "Mana dia punya duit buat bayar," sesosok tubuh tinggi besar yang mengingatkannya pada beruang grizzly muncul tiba², membuat jantung Leon terasa berhenti mendadak. Langsung terbayang di benaknya berita heboh di infotaiment. "Jangan bikin dia takut, Om. Lihat wajahnya udah gak berdarah," lalu Amanda berbalik ke arahnya.
"Ini restoran nenekku jadi kita nggak perlu bayar. Sebenernya dompetku juga ketinggalan di mobilnya Titi," Amanda tersenyum nakal. Leon hanya bisa bengong tanpa kata. Sungguh hari yang tak terlupakan bersama si lesung pipit. Hadiah undian itu berubah menjadi kencan nyata kemudian. Leon tetap dengan segala kesibukannya di dunia entertainment, dan Amanda tetap saja tidak menyukai sinetron.
Gimana cerpennya ???
Komen dibawah ya 😉