"Nyapu kok malam-malam, Bu." sapa ku pada seorang wanita tua di sebelah rumah. Wanita itu hanya mengangguk tanpa menoleh ke arahku.
"Ah, mungkin beliau sangat sibuk sehingga baru sempat menyapu malam begini." gumamku
Aku warga pendatang, rumahku berada di ujung jalan. Tepat bersebelahan dengan rumah tusuk sate. Dari pagi aku belum melihat tetangga baruku itu. Mungkin karena aku terlalu sibuk bersih-bersih sehingga tak memperhatikan tetangga baruku itu. Nantilah kalau semua sudah beres aku akan bertamu untuk sekedar berkenalan.
Badanku sakit sekali rasanya. Mungkin karena terlalu lelah seharian beres-beres merapikan barang-barang yang ku bawa dari tempat tinggal lama. Sedangkan suamiku sudah terlihat lelap dari tidurnya.
Hahaha ... hahaha ...
Aku terperanjat saat mendengar suara tawa. Ah, rupanya aku ketiduran di ruang tengah. Sambil mengucek kedua mata aku menajamkan pendengaran. Ku lirik jam dinding yang ku pasang tak jauh dari tempatku duduk.
"Ah, jam sebelas malam. Suara siapa sih itu diluar." gumamku sambil beranjak menuju ruang tamu.
Ku sibak tirai putih yang baru ku pasang sore tadi. Tampak diluar sana dua anak perempuan berlarian kesana kemari sambil saling mengejar. Sesekali mereka menangkap satu sama lain.
Ku perhatikan mereka dengan seksama. Apa mungkin anak manusia bermain tengah malam begini. Ku lihat perempuan tua yang kutemui sedang menyapu tadi.
"Cucunya mungkin itu, buktinya ada neneknya yang mengawasi." batinku.
"Kok cucunya belum tidur, Bu?" tanyaku menghampiri mereka. Rumah kami hanya berbatas pagar tembok setinggi dada. Jadi kami bisa saling bertatap muka mesti tak harus masuk kedalam halamannya.
"Belum, mereka suka main malam-malam. Nggak kepanasan." jawabnya datar. Matanya tak lepas dari kedua cucunya yang saat ini sudah berpindah ke ayunan.
"Kembar mereka, Bu?" tanyaku, karena kulihat wajah mereka mirip satu sama lain. Ibu itu hanya mengangguk.
Aku bingung ingin mengobrol apa lagi. Si Ibu hanya menjawab apa yang ku tanyakan tanpa bertanya kembali. Sehingga rasa canggung muncul di benak ku.
"Mungkin Ibu ini orang yang sangat pendiam dan tak pernah mau bersosialisasi. Buktinya saja mereka keluar saja harus malam hari." aku bergumam.
"Astaghfirullah." aku terperanjat saat mendapati Ibu itu menatap tajam ke arahku. Jujur saja aku terkejut. Bulu kuduk ku meremang. Entah mengapa tiba-tiba ada hawa dingin meniup tengkuk leher.
Suasana begitu sepi. Aku menengok ke kanan dan ke kiri. Tak ada siapapun di sekitar sini. Bahkan suara jangkrik pun yang tadi terdengar saling sahut-sahutan kini mendadak sepi, lenyap tak tersisa. Aku mengelus tengkuk yang dingin tertiup angin.
"Mah, ngapain diluar sendirian begitu?" suara suamiku terdengar mengagetkan ku.
"Eh, Pa. Sini kenalan sama tetangga kita." ajak ku pada suamiku sambil melambai ke arahnya.
Bukannya mendekat, suamiku malah bengong tak menanggapi ucapan ku.
"Ish, si papa. Cepetan kesini." ajak ku memaksa.
"Sini deh, Ma." pintanya balik.
"Maaf ya, Bu. Saya ke suami saya dulu. Dia orangnya pemalu." pamit ku pada tetanggaku itu yang di jawab dengan anggukan kepala pelan.
"Papa apa-apaan sih, nggak sopan sama orang tua. Kita seharusnya kenalan dulu sama mereka mumpung ketemu." bisik ku jengkel.
"Tetangga yang mana sih, Ma?" ia malah bertanya. Otomatis aku makin jengkel. Sudah jelas-jelas tadi aku menunjuk ke arah rumah sebelah. Masih saja sekarang dia bertanya.
"Ya tetangga sebelah rumah itu, Papa." jawabku gemas.
"Sudah-sudah, ayo masuk. Besok saja kenalannya. Sekarang sudah malam. Nggak sopan." ucapnya menarik tanganku. Benar juga kata suamiku. Tak sopan berkenalan dengan tetangga tengah malam begini. Besok saja sambil ku bawakan sedikit makanan sebagai perkenalan.
Aku segera masuk mengikuti suamiku, setelah sebelumnya aku sempat melihat ke arah rumah tusuk sate itu. Si Ibu dan kedua cucunya berdiri ke arah rumah kami dan menatap tajam ke arahku.
____________
Pagi harinya, aku memotong kue menjadi beberapa dan memasukkannya ke dalam piring. Niatnya hari ini aku akan mengunjungi beberapa rumah tetangga sebelah untuk berkenalan.
"Selamat pagi, Bu. Perkenalkan aku tetangga baru di sebelah sana."ucapku pada tetangga sebelah kanan rumah. Setelah berbasa basi sebentar, aku pamit pulang pada Bu Ratna (nama tetangga sebelah kanan rumah).
Aku termenung di depan pagar rumah tetangga tusuk sate. Sepi.
"Apa mungkin mereka pergi, ya." gumamku seorang diri.
"Permisi ... " beberapa kali aku mencoba mengetuk pagar namun tak ada sahutan.
"Bu, ngapain disitu?" tanya Bu Ratna tiba-tiba. Beliau menghampiriku yang sedang kebingungan.
"Eh, ini, Bu. Mau nganter kue ke tetangga yang ini. Tapi sepi. Pergi kali ya, Bu?" tanyaku. Bu Ratna mengerutkan dahi.
"Bu Mira kenal dengan Nek Ijah?" tanya Bu Ratna kepadaku.
"Oh, namanya Nek Ijah. Saya belum mengenalnya. Semalam hanya mengobrol sebentar tapi belum sempet tanya namanya." aku menjawab pertanyaan Bu Ratna sambil terkekeh.
"Ngobrol?" bu Ratna terperanjat. Aku hanya mengangguk mendengar pertanyaannya.
"Tapi sekarang rumahnya kok kotor banget ya, seperti lama tak di huni. Padahal semalam Nek Ijah sudah menyapunya." gumamku sendiri.
"Kenapa, Bu?" Bu Ratna bertanya.
"Ah itu, nanti saja saya kesini lagi." ucapku pada Bu Ratna dan mengajaknya mampir ke rumahku.
"Bu, sebaiknya Bu Mira nggak usah kerumah itu lagi, ya." ucap Bu Ratna saat kami duduk di teras rumahku. Beliau menunjuk rumah nek Ijah dengan dagunya.
"Loh, memangnya kenapa?" tanyaku penasaran.
"Bu Mira ketemu nek Ijah sendirian?"
Aku semakin tak mengerti. Mengapa Bu Ratna berbelit-belit seperti ini, bukannya langsung memberikan jawaban.
"Sama kedua cucunya yang kembar, Bu." jawabku.
"Sudah, sudah. Bu Mira jangan kesana lagi. Saya permisi dulu ya, Bu. Mau masak." Bu Ratna pamit tanpa memberikan alasan yang jelas. Aku semakin tak mengerti.
_____________
"Mas, tetangga sebelah kanan kita melarang ku datang ke tetangga kita yg tusuk sate itu. Kira-kira kenapa ya?" aku mencoba cerita pada suamiku.
Saat ini kami berdua menikmati teh di teras ruang tamu bersebelahan dengan pagar rumah Nek Ijah.
"Nah ini yang mau papa bilang ke mama." suamiku meletakkan gawainya. Aku menoleh ke arahnya dan mencoba mencari alasannya melalui suamiku.
"Mah, asal mama tahu. Tetangga kita yang di rumah tusuk sate itu nggak ada."
"Aku bingung, nggak ada bagaimana maksudnya? Sudah pindah gitu?" tanyaku.
"Bukan, mereka sudah meninggal. Nek Ijah dan juga kedua cucu kembarnya meninggal di bantai sama perampok tengah malam." jawab suamiku tenang.
Bagai di sambar petir di siang bolong. Kalau mereka sudah meninggal, lalu siapa yang ku temui dan ku ajak ngobrol semalam?
Aku menoleh ke arah rumah Nek Ijah. Tampak Nek Ijah dan kedua cucu kembarnya menatap tajam ke arahku dengan senyum yang tak bisa aku artikan.