Dimas, Pria yang selalu bersamaku selama 5thn yang lalu, kini aku mendapatinya tengah berdiri di atas pelaminan, mengenakan kemeja putih polos, juga dilengkapi dengan jas hitam, tak lupa ia juga menggunakan peci hitam diatas kepalanya, sungguh bak Raja yang sangat menawan, dia tampak gagah dan juga mempesona.
Sorot Mata hitam ini begitu terpaku, ketika menyaksikan dia yang tengah berdiri tegak sambil terus memperhatikanku. Kini semua Mata terpokus kepadaku, aku langkahkan kaki ini untuk dapat mendekatinya.
Kaki jenjang ini kemudian menginjak satu persatu anak tangga, tatapan Matanya masih sama saat pertama kita berjumpa, saat berada dihadapannya, lengan kanan yang semula mengepal segera terlepas, aku memandangi Wajahnya yang tidak terlalu banyak berubah itu, saat lengan ini sudah berada dihadapannya, aku tersenyum simpul, ia pun juga begitu, dengan erat ia menggenggam telapak tanganku.
Kemudian, bibir yang semula terkunci ini membuka secara perlahan. Aku bisikkan dihadapannya sebuah ucapan "Selamat, selamat menempuh hidup baru." Lalu, aku memalingkan pandanganku untuk dapat menoleh ke arah samping kanan, senyuman itu masih menyelimuti Wajahku, aku pandang seorang Wanita dengan kebaya putih yang membalut tubuhnya. Kini lengan kami saling terlepas satu sama lain.
Sebelum aku berlalu, tak lupa aku memberikan ucapan selamat kepada seorang Wanita yang kini telah berhasil menjadi pendamping hidupnya.
Aku pikir akulah yang akan menjadi Ratunya, ternyata aku hanyalah seorang penjaga yang ditugaskan untuk melindungi kepunyaan orang lain.
Senyuman manis itu masih terpancar di Wajahku, meskipun kini hati tengah memberontak. Namun, rasa itu hanya mampu terhenti didalam kerongkongan saja, hati yang patah dan hancur ini, biar hanya aku yang merasakannya. Anggaplah selama ini kau adalah seorang Wanita yang memiliki jiwa besar, juga amanah tinggi.
Dan kini aku sadar cinta tidak ada artinya, tanpa restu dari sang Pencipta.
Beberapa hari berlalu.
Buk! Aku lemparkan tas ransel itu di atas kasur, kemudian aku terduduk disampingnya. Hatiku masih terasa sangat sesak, karena kejadian beberapa hari lalu yang tidak mengenakkan hatiku.
Jika dipikirkan lagi, Wanita mana yang rela jika kekasih yang begitu sangat dicintainya harus bersanding dengan Wanita lain? Lima tahun bukanlah perjalanan yang singkat, melupakan Dimas itu mudah, tetapi kenangan yang sudah tercipta? Itu akan sulit untuk dilupakan.
Aku pikir saat ini air mata itu sudah tidak berguna lagi, berteriak pun percuma, dan aku hanya mampu terdiam.
Tak lama kemudian ponselku yang berada didalam tas ransel merah itu berbunyi. Namun, aku begitu sangat tidak memperdulikannya lagi, aku hanya ingin sendiri. Sampai beberapa saat kemudian suara itu berhenti. Itu sudah cukup membuatku merasa tenang.
Tetapi, lagi-lagi aku mendengar suara dering dari ponselku, karena aku sudah mulai muak, aku tatap ransel merah itu dengan cepat lengan kananku meraih tas berukuran sedang itu, ku lempar jauh-jauh dariku.
"Brak!" Suara benturan dari tas ransel dan juga pintu kamar yang tertutup rapat. Aku mulai menundukkan pandanganku, entah mengapa kenangan manis itu kembali muncul dalam pikiranku. Hal itu lah yang membuat diriku menjadi semakin terluka.
Beberapa saat kemudian, aku seperti mendengar suara langkah kaki seseorang yang tengah menaiki anak tangga, aku pikir mulanya itu hanyalah ilusiku saja. Namun, suara itu terdengar semakin mendekat saja.
Sampai pada akhirnya aku melihat Pintu kamarku dibuka oleh seseorang Pria yang saat itu tengah berdiri sambil terus memperhatikan Wajahku dengan sangat panik.
Aku hanya menatap Wajahnya, lalu dia mulai berjalan menghampiriku, tubuh ini didekapnya dengan erat, aku menangis sejadi-jadinya. Sampai air Mata ini membasahi pakaiannya.
"Seandainya dulu aku tidak bertemu dengan Dimas mungkin hatiku tidak akan sesakit ini!" Kataku dalam hati.
"Jika saja aku tahu akan berakhir seperti ini, maka dulu aku tidak akan mengizinkanmu untuk bersama dengan dia!" Kata, Aldo dalam hati.
"Sakit yang tak berobat adalah patah hati, penyesalan ter perih adalah keterlambatan. Waktu tidak mungkin berjalan mundur, maka dari itu perbaiki hari ini, dan jadikan kemarin sebagai pelajaranmu"