Judul Cerpen : Mimpi Buruk Menjadi Nyata
Tema : Rumah Hantu
Genre : Horor
Penulis : Yuni Ayu Izma
Tak pernah terbayangkan, jika sebuah mimpi buruk dapat menjadi kenyataan di kehidupan Putri. Putri yang merupakan mahasiswi semester 6 yang mengikuti semua eskul di kampusnya. Terutama, eksul Mahasiswa pencinta alam.
Putri yang gemar mengikuti acara daki ke gunung maras bersama teman kampus maupun di luar kampus, itu sudah menjadi aktivitas favoritnya untuk menikmati sejuknya udara segar di area perpohonan hutan di desa berkabut.
Putri terus mengikuti langkah kaki ke tujuh teman-temannya yang berjalan lebih dulu darinya. Sementara ia berada di paling belakang. Putri yang berjalan lambat, ia selalu ditinggal oleh teman-temannya.
Putri merasa lelah dan ia menghentikan langkah kakinya sejenak.
"Nayra! Rika! Lili! Laura! Raka! Rendi! Dimetri! Tunggu aku," ucap Putri sedikit berteriak. Putri menatap hutan lebat di sekelilingnya, sama persis, yang ia lewati saat ini berada di mimpinya. Ia tidak menyangka, jika mimpinya semalam hampir sama yang dilihatnya sekarang.
"Ayolah Putri! Cepatlah kamu itu berjalan dan jangan lambat seperti siput." sahut Nayra.
"Sebentar lagi, kita akan sampai puncak gunung maras." potong Laura.
"Tolonglah, aku capek sekali. Bisakah kita mencari tempat untuk beristirahat sejenak." balas Putri dengan tatapan memohon.
Raka yang tak tega dengan kondisi Putri yang membawa tas ransel yang ukuran besar di punggungnya, ia berjalan menuju ke arah Putri.
"Bisakah aku bantu membawakan tas ranselmu itu, agar kamu tidak merasa berat?" tawar Raka.
Putri menatap intens ke arah Raka.
"Tapi, bagaimana dengan dirimu yang sudah membawa tas ranselmu dan milikku. Nanti, double beratnya," sahut Putri.
"Tenang saja, aku sudah terbiasa memikul segala beban dan bila perlu dirimu pun aku bisa gendong ke dalam pelukan hangatku." gombal Raka.
"Ehem... Hari sudah menjelang sore dan mari secepatnya kita melanjutkan perjalanan dari desa berkabut menuju puncak gunung agar kita tidak sulit menelusuri hutan ini." celetuk Rendi dan akhirnya mereka melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti.
Kemudian, mereka ber delapan berjalan melewati hutan lebat di desa berkabut. Putri yang terus berjalan, tanpa sengaja ia melihat sebuah rumah mewah kosong yang konon katanya rumah itu rumah hantu. Mengingat, di tengah hutan, pasti orang-orang menduga seperti itu.
"Aku pernah melihat rumah mewah itu, bukankah itu rumah hantu. Tapi, aku lihat dimana?" tanya Putri dalam hati.
"Hey!" sontak saja, Putri mengalihkan pandangannya menuju ke arah Rendi.
"Kamu lihat apa? Kenapa masih berdiri disini? Kami mencari kamu kemana-mana. Eh, ternyata kamu masih berdiri disini?" ucap Rendi bertanya pada Putri.
Putri menunjuk jari manisnya ke arah rumah mewah yang posisi tidak jauh dari sini.
"Rumah mewah itu sepertinya pemilik rumah bersifat Introvert. Pasti mereka betah hidup di tengah hutan atau jangan-jangan itu rumah hantu berhantu lagi," ucap Putri polos.
"Sudahlah, jangan terlalu sibuk mengurusi hidup orang lain. Lebih baik kita melanjutkan perjalanan kita menuju puncak gunung maras. Disana, pemandangan gunungnya indah loh dan dapat melihat seisi kota ini dengan ukuran kecil." Rendi membentuk jarinya dengan ukuran bulat kecil. Putri tersenyum kecil melihat kekonyolan Rendi.
Putri dan Rendi terus berjalan sambil berbincang-bincang sedikit tentang kehidupan pribadinya masing-masing. Maklumlah, mereka sudah lama bertemu dan terakhir bertemu waktu masih sama SMA.
Jika ada yang bertanya, dimana teman-temannya yang lain? Tentu saja, mereka telah tiba di puncak gunung maras. Sebenarnya, Rendi telah sampai di puncak gunung. Namun, ia tidak melihat dimana keberadaan Putri, ia memutuskan untuk memutar arah untuk mencari keberadaan Putri di desa berkabut.
Tinggal langkah terakhir untuk menaiki bebatuan besar di sekitar puncak gunung. Rendi menaiiki batuan itu terlebih dahulu. Setelah ia sampai di atas puncak gunung maras, ia membantu Putri untuk dapat menaiiki bebatuan itu.
Namun, dewa Fortuna tidak berpihak pada Putri, tangan Putri terlepas dari genggaman tangan Rendi. Putri terjatuh dari bebatuan besar dan mengakibatkan ia terluka parah di bagian kepalanya. Rendi tampak kaget melihat kondisi Putri yang dipenuhi oleh darah.
Rendi turun dari bebatuan besar dan ia langsung berjalan cepat menuju ke arah Putri. Rendi mengangkat kepala Putri yang mengeluarkan darah segar di pangkuannya.
"Putri! Bangun Putri!" ucap Rendi seraya menggoyang-goyangkan kepalanya. Rendi mengecek urat nadi Putri masih berjalan dan nafas Putri masih berhembus pelan.
"Tolong! Tolong aku! Temanku terluka parah, Tolong!" teriak Rendi.
Namun, semua orang yang berada di atas puncak gunung. Tidak mendengar suara Rendi. Rendi yang tidak tega melihat Putri yang tak sadarkan diri. Ia berniat mengambil ponsel dari saku celananya dan ia mulai menelpon satu persatu temannya. Tapi, sambungan panggilan telepon tidak masuk.
Rendi yang tidak punya pilihan, ia langsung mengangkat tubuh mungil Putri untuk ia bawa ke rumah sakit terdekat. Rendi mempercepat langkah kakinya dan ia menatap wajah pucat Putri sekilas. Lalu, pandangannya teralihkan saat melihat sebuah rumah mewah di tengah hutan desa berkabut. Rendi langsung berjalan cepat menuju ke arah sana.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum," Rendi mengetuk pintu rumah mewah di depannya. Namun, tidak ada sahutan dari dalam rumah. Rendi terus mengetuk pintu rumah mewah itu. Hingga, tanpa sengaja ia menyenggol pintu yang ternyata tidak terkunci. Pintu terbuka dengan lebar dan Rendi mulai menelisik untuk melihat keadaan di dalam rumah.
"Mewah dan bersih." puji Rendi dalam hati.
Rendi melangkahkan kakinya menuju masuk ke dalam rumah mewah. Ia terus mengendong Putri di dalam dekapannya. Ia berjalan menelusuri ruangan rumah mewah itu. Hingga, ia melihat satu ruang kamar yang pintunya sedikit terbuka. Rendi berjalan masuk ke dalam ruang kamar dan ia membaringkan tubuh Putri di atas kasur ukuran king size.
Rendi menatap Putri yang terkulai lemah di atas kasur. Rendi mencari peralatan kotak p3k di beberapa lemari kamar. Hingga, ia menemukan kotak p3k berukuran besar.
"Alhamdulillah, akhirnya dapat." gumam Rendi pelan.
Setelah berhasil menemukan kotak p3k, Rendi membalikkan tubuhnya ke arah Putri. Tiba-tiba Putri menghilang tanpa jejak. Rendi dibuat kewalahan untuk menghadapi situasi ini.
"Putri! Putri! Kamu dimana?" Rendi terus mencari keberadaan Putri.
Namun, Rendi tidak melihat jejak keberadaan Putri. Kemudian, Rendi menoleh ke arah sekitarnya. Rendi dengan beraninya langsung mengikuti bayangan yang ia lihat. Rendi menaiiki anak tangga menuju ke arah lantai dua. Sampailah ia di lantai dua dan ia melihat ada beberapa ruangan. Rendi mengecek satu persatu ruangan itu, hingga ia melihat sosok seseorang yang dicarinya.
"Putri, ngapain kamu disitu? Ayo kita pulang!" ajak Rendi menatap punggung Putri yang sedang merias wajahnya dengan make up.
Putri menoleh ke arah belakang dan betapa terkejutnya ia melihat wajah Putri seperti monster. Rendi yang takut melihat Putri yang berjalan mendekati. Ia langsung mengeluarkan jurus seribu kaki untuk berlari sekencang mungkin. Baru satu langkah, Rendi menginjakkan kaki di anak tangga. Rendi merasakan kakinya ditarik oleh sesuatu dan Rendi terjatuh di anak tangga. Di bagian kepala Rendi mengeluarkan darah segar yang membasahi wajah tampannya.
Teman-teman yang lain, merasa gelisah karena mereka belum bertemu Rendi. Nayra berinisiatif untuk mengatakan pada Rika, Lili, Laura, Raka dan Dimetri untuk mencari keberadaan Rendi dan Putri. Akhirnya, mereka setuju dan langsung berjalan menuruni puncak gunung maras. Mereka terus mencari dan memanggil nama Putri dan Rendi. Hingga, Rika tanpa sengaja melihat Putri yang berjalan masuk ke dalam rumah mewah yang letaknya di tengah hutan desa berkabut.
Mereka mengikuti jejak Putri dan Rika memegang gagang pintu. Rika berjalan masuk ke dalam diikuti oleh kelima temannya. Baru saja, semuanya masuk ke dalam rumah mewah. Tiba-tiba, pintu rumah tertutup dengan sendirinya. Mereka langsung menoleh menuju ke arah belakang dan saat membalikkan tubuhnya. Mereka melihat Ayu mengarahkan senjata pistol ke arah mereka.
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
Dor!
"Hahahah... Jangan pernah bermain denganku dan jangan pernah berpikir untuk merebut dia dariku. Kalian tanggung sendiri akibatnya... Hahaha... Mati ditanganku," ucap Putri yang dirasuki oleh seorang roh pria tampan di tubuhnya.
***
Sementara di tempat lain, di sebuah kamar mewah yang berukuran besar. Putri terbangun dari tidurnya, entah kenapa ia bermimpi buruk lagi. Tapi, tunggu dulu, ia berada dimana sekarang. Putri mencium bau amis di bagian tangan dan tubuhnya.
"Darah siapa ini? Aku dimana?" lirih Putri pelan.
"Apakah aku bermimpi buruk lagi? Tapi, kenapa mimpi itu seperti nyata. Kenapa di dalam mimpi itu aku membunuh semua teman-temanku." Putri menatap ke sekeliling kamar, tapi ia tidak mengenali dimana ia tempati. "Ini pasti hanyalah sebuah mimpi, bunga tidur saja." lanjut Putri.
"Siapa bilang ini semua hanyalah mimpi?" ucap seorang pria terdengar dari luar ruangan. Pria itu membuka pintu ruangan dan Putri tampak menyerhitkan keningnya menatap pria tampan itu.
"Siapa kamu?" tanya Putri menatap pria asing yang tak dikenalinya.
"Apa maksudmu mengatakan bahwa ini bukanlah mimpi?" lanjut Putri.
"Kamu adalah Mika, pacarku. Ini aku Kenzo, pacarmu. Kamu sudah bangun dari tidur panjangmu." Kenzo mendudukkan dirinya tepat di hadapan Putri dan ia menyentuh wajah cantik Putri. Putri langsung menepis tangan kekar milik Kenzo.
"Jangan sentuh aku! Aku bukan pacarmu!" ucap Putri menatap tajam ke arah Kenzo.
Kenzo menghela nafasnya sejenak, ia langsung menarik Putri ke dalam pelukannya. "Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Walaupun, kamu terlahir kembali di dunia, rumah mewah ini tetaplah menjadi milikmu karena aku tetap mencintaimu." sahut Kenzo dan sontak saja Putri mendorong Kenzo hingga tersungkur di atas lantai.
"Dengar! Aku bukan milikmu! Rumah ini bukan rumahku dan aku harus pergi bersama teman-temanku." balas Putri berjalan menuju ke arah pintu ruangan.
"Mau pergi bersama teman-temanmu? Silahkan saja, karena mereka sudah mati di tanganmu. Hahaha..." tawa Kenzo mengema di ruangan kamar.
Deg!
Tiba-tiba jantung Putri serasa berhenti sejenak dan ia membalikkan tubuhnya untuk menatap Ke arah Kenzo.
"Kamu pasti berbohong! Aku tidak percaya dengan ucapanmu itu!" teriak Putri dan ia meninggalkan Kenzo di dalam ruang kamar.
Putri mempercepat langkah kakinya menuju ke arah anak tangga dan betapa terkejutnya ia melihat seorang pria terbaring di lantai satu.
"Rendi!" pekik Putri.
"Apa yang terjadi denganmu, Ren. Bangun Rendi!" ucap Putri yang telah mengeluarkan buliran kristal yang membasahi wajah cantiknya.
Prakkk!
Putri mendengar suara barang terjatuh dan ia menoleh ke arah sumber suara. Putri berdiri dari duduknya dan ia berjalan pelan menuju ke arah ruang tamu.
Putri tampak terkejut melihat teman-temannya terbaring tak bernyawa.
"Tidakkk!" teriak Putri histeris.
"Hiks... Hiks... Apa yang terjadi? Kenapa bisa terjadi begini? Apa salahku?" lirih Putri terduduk di atas lantai.
Putri menangisi nasib dirinya dan teman-temannya. Hingga, ia melihat ada samar-samar suara di ruangan yang ditempatinya tadi.
"Suara apa itu? Apakah itu suara pemilik rumah ini?" tanya Putri dalam hati.
Putri berdiri dari duduknya dan ia berjalan menuju ruang kamar itu.
Ceklek!
Pintu kamar terbuka lebar dan Putri melihat ada seorang wanita cantik yang mirip dengan dirinya sedang bertengkar dengan seorang pria tampan bernama Kenzo.
"Kamu jahat! Kamu bilang akan menikahiku setelah melakukan hal terlarang itu. Nyatanya, kamu menyuruhku untuk mengugurkan calon anak kita. Dasar pria jahat! Tidak punya hati!" Mika memukuli dada bidang Kenzo dengan tangan kecilnya.
Kenzo menahan tangan Mika dan ia menatap sendu ke arah Mika.
"Sayang, aku belum siap menikah. Umurku masih muda dan tidak cocok untuk menjadi seorang ayah. Tolong mengertilah! Aku pasti menikahimu setelah kita lulus kuliah nanti." bujuk Kenzo.
"Tidak! Aku tidak mau! Kamu sengaja menyuruh aku mengugurkan kandunganku agar kamu bisa pacaran dengan dia." sahut Mika dengan melipatkan kedua tangannya di perut.
"Siapa bilang aku akan meninggalkanmu! Nyatanya, aku sudah membuat rumah mewah ini untuk kita dan apa jangan-jangan kamu bermain api di belakangku?" ucap Kenzo balik menuduh Putri.
"Apa maksudmu? Aku tidak seperti itu. Aku setia bersamamu dan aku sangat mencintaimu, mana mungkin aku bermain api di belakangmu." sahut Putri tak terima dituduh macam-macam oleh Kenzo.
"Bohong! Kamu pasti bohong kan! Aku punya bukti perselingkuhanmu dengannya." Kenzo melemparkan semua foto yang berisi Mika bersama pria lain.
"Coba jelaskan! Apa maksudmu ini?" tanya Kenzo.
Mika melihat satu persatu foto yang sengaja diedit dan ia menggeleng-gelengkan kepalanya menatap ke arah Kenzo.
"It-tu bukan...." samar-samar suara itu menghilang saat Kenzo mencengkik leher Mika dengan kuat dan Mika telah tiada.
Putri tampak terkejut melihat Kenzo melakukan tindakan kriminalitas.
"Ha..." pekik Putri saat merasakan tubuhnya ditarik oleh angin dan posisi Mika tergantikan dengan dirinya.
Bangunan rumah mewah yang dijuluki sebagai rumah hantu di desa berkabut. Dibaluti dengan berbagai barang mewah dan bersih. Tergantikan dengan rumah mewah terbengkalai dan semua peralatan rumah itu telah menjadi rongsokan.
"Apa yang terjadi denganku? Ini pasti mimpi buruk?" lirih Putri menatap ke sekelilingnya. Putri mencoba memukuli dirinya agar terbangun dari mimpi buruknya. Tapi, ia tidak bisa bangun karena apa yang ia rasakan saat ini nyata dan ada.
Putri mengalihkan pandangannya menuju ke arah Kenzo yang berdiri di depannya.
"Kamu akan tetap menjadi milikku dan kita akan tinggal bersama untuk selama-lamanya," Kenzo menghilang dengan hembusan angin. Sementara Putri menangisi nasibnya yang terjebak pada mimpi buruk yang pernah ia mimpikan kini menjadi nyata.
#Tamat