‘’Truth or Dare?’’
Sekumpulan remaja tengah melakukan permainan yang sedang trending itu. Permainan ‘’ekstrim’' yang tentunya sudah tidak asing lagi bagi kaum anak-anak, remaja bahkan orang dewasa pun.
‘’Anna-chan? Truth or Dare?’’ tanya salah satu remaja laki-laki berambut coklat.
Namun, gadis berambut panjang sepinggang gelombang yang dipanggil Anna itu tidak menggubris dan fokus ke novel misteri yang dibacanya.
‘’Nee, Anna-chan? Ruki-kun sedang mengajakmu bicara!’’ tegur salah satu remaja perempuan berambut panjang sebahu.
Anna menoleh ke arah gadis itu dan menghela nafas.
‘’Truth,’’ jawab Anna.
‘’Kalau Miyo-chan yang menegur, Anna-chan langsung menurut,’’ puji remaja laki-laki berambut biru.
‘’Ryuu-kun seharusnya sudah tahu, itu karena aku satu-satunya sepupu yang dimilikinya di kota ini,’’ kata Miyo.
‘’Pergi bersamaku ke taman hiburan atau membaca novel misteri sepanjang wa-‘’
Belum sempat Ruki menyelesaikan kalimatnya. Anna langsung menjawab.
‘’Pilihan kedua,’’ jawab Anna singkat.
Miyo dan Ryuu menghela nafas melihat tingkah bodoh Ruki.
‘’Seharusnya dia sudah tahu kalau Anna penggila misteri,’’ tatap Miyo dengan wajah bodohnya.
2 remaja lainnya hanya terkikik.
‘’Dasar ketos bucin,’’ ledek remaja perempuan berambut sebahu.
‘’Perasaannya dikalah kuat hanya oleh novel misteri,’’ ledek remaja lelaki berambut abu-abu.
‘’Rei? Erimi? Apakah nama kalian ingin aku coret dari daftar OSIS?’’ tanya Ruki dengan tampang jahatnya.
Kedua orang itu langsung berlutut dan meminta maaf membuat Miyo dan Ryuu menggeleng-gelengkan kepala.
‘’Baiklah, kembali ke permainan, Anna-chan? Aku hanya bercanda, pertanyaanku yang sebenarnya adalah, apakah kau tidak merasa aneh dengan sekolah kita?’’ tanya Ruki membuat perhatian Anna teralihkan.
‘’Apa maksudmu? Semuanya seperti biasa saja, mengikuti pelajaran, ekstrakurikuler dan festival layaknya sekolah umumnya,’’ kata Anna.
Ruki hanya tersenyum dan menerimanya begitu saja. Meskipun begitu, Anna merasa ada yang aneh.
‘’Sekarang giliranmu memutar botol,’’ Kata Ruki.
Anna meraih botol itu, lalu memutarnya hingga mengarah kepada Rei. Permainan berlalu setelah semuanya mendapat giliran tanpa sadar hari sudah mulai gelap. Semuanya beranjak pulang tak terkecuali. Sambil mengunci semua ruangan, Anna menatap ke sekitar mencari sesuatu.
‘’Tidak ada yang aneh dengan sekolah ini,’’ katanya dalam hati.
Karena rumah Anna berada di sekitar kuil, maka akan melewati hutan. Meskipun Anna sering pulang malam, tapi ia tetap tidak merasa ketakutan karena dirinya saja sudah terbiasa dan menyukai hal-hal misteri.
Biasanya saat pulang, Anna akan membaca novel misteri hingga sampai di rumahnya, tapi perkataan Ruki terus mengganggunya.
‘’Memang tidak ada yang aneh dengan sekolahnya, meskipun para muridnya selalu tenang saat melakukan ekstrakurikuler dan festival, yang hanya aneh di sini adalah sekolahnya sedikit jauh tapi kenapa setiap berangkat dan pulang, aku hanya berjalan sebentar? Apakah itu yang dimaksud Ruki?’’
15 menit berlalu setelah dirinya menyusuri hutan.
‘’Aneh? Apakah aku salah jalan? Seharusnya aku sudah tiba di rumah,’’ kata Anna melirik ke sekitar.
‘’Tapi aku ingat betul selalu melewati jalan ini, ahh sebaiknya aku kembali, ini karena perkataan Ruki-kun,’’
Di tengah perjalanan kembali, angin tiba-tiba berhembus kencang membuat langkah Anna terhenti. Sesuatu membuatnya menoleh.
‘’Aku tidak ingat kalau ada rumah kuno di tengah hutan ini juga,’’
Karena tidak peduli membuat gadis itu hendak berjalan kembali untuk pulang, tapi cahaya putih yang menyilaukan tiba-tiba berkedip membuat Anna menoleh ke rumah kuno itu.
Dari jendela, cahaya itu tidak berhenti berkedip hingga warna cahaya putih berubah menjadi merah membuat gadis itu terkaget.
Rasa penasaran langsung menguasai dirinya.
Anna berjalan menghampiri rumah kuno itu sambil melihat aliran sungai di samping. Menaiki tangga teras batu sambil mengamati. Cukup mencekam, kondisi rumah itu seperti tidak terawat. Tepat setelah Anna berada di teras, ia hendak mengetuk, namun saat itu juga, teras yang ditempatinya berdiri terbuka membuatnya meluncur terjatuh ke bawah.
BUGH!
‘’Akh!’’ ringis Anna.
Gadis itu mendongakkan kepala dan tidak menemukan lorong yang dilewatinya meluncur barusan.
‘’Eh? Kenapa hanya ada langit-langit papan?’’ tatapnya mencari lorong itu.
Saat ia menatap ke sekitar, tubuhnya langsung terpaku. Jantungnya terasa berhenti sejenak melihat begitu banyak potongan tubuh manusia di mana-mana. Bahkan di sampingnya tergeletak kepala manusia dengan kondisi setengah hancur menatapnya.
‘’Hhah?!” pekik Anna berdiri.
‘’T-Tempat apa ini?’’ tanyanya gemetar menatap ratusan potongan tubuh manusia.
KLIK!
Pandangan tertuju ke sebuah elevator yang terbuka tidak jauh tempatnya berdiri. Tanpa ragu, Anna langsung berlari ke dalam elevator itu dan menekan tombolnya secepat mungkin agar tidak menyaksikan pemandangan mengerikan itu lagi.
Sambil elevator itu berjalan, Anna menggenggam tangannya yang gemetar. Ia berusaha menenangkan dirinya. Belum sempat ketakutannya lepas, tiba-tiba sebuah suara dari sistem berbunyi disertai bunyi alarm.
‘’Gadis yang berada di lantai paling bawah menjadi tumbal, semua penghuni lantai harap bersiap-siap!’’
‘’Eh? Apa maksudnya? Tempat ini memiliki tingkatan lantai? Lalu gadis yang berada di lantai paling bawah bukankah itu diriku, dan semua penghuni lantai harap bersiap-siap?’’
Sedikit frustasi, Anna melihat nomor lantai yang tertera di tengah.
Lantai 5
TING!
Begitu pintu elevator terbuka, muncul sosok makhluk dengan potongan tubuh berbeda-beda melayang ke arahnya membuat Anna terkaget dan menghindar secara reflek. Ia langsung berlari keluar, tapi kakinya tersandung oleh sesuatu. Yah, terlihat tubuh manusia yang sudah tidak utuh tengkurap menghadap ke elevator.
‘’WOARGGG!’’
Makhluk itu hendak kembali melayang ke arahnya. Dengan cepat, Anna bangkit dan berlari.
‘’Hahuha, aku harus pergi ke arah mana?’’ paniknya bukan main.
Ia menoleh ke arah makhluk yang masih mengejarnya, sehingga menambah kecepatan tempo larinya dan berhenti di balik tembok untuk menarik nafas. Melihat sebuah pisau terkapar di lantai yang renyok itu membuat Anna meraihnya. Perlahan ia melirik untuk melihat, apakah makhluk itu masih mengejar.
‘’Tidak ada, apakah dia sudah pergi?’’
Begitu ia kembali bersembunyi.
DEG!
‘’AHH!’’ kaget Anna menjatuhkan pisau.
Makhluk itu sudah tepat di hadapan Anna. Mengerikan, terlihat bekas jahitan di mana-mana yang menyatukan potongan tubuh yang berbeda. Makhluk itu seolah-olah melirik tangan Anna, meskipun tidak ada bola mata yang menempati tempat itu.
Dalam sekejap, mulut makhluk itu terbuka lebar sepanjang 40 cm dan menggigit tangan Anna hingga pertengahan.
Anna meringis kesakitan, ia berusaha melepaskan tangannya tapi tidak bisa. Ia melihat pisau yang tadinya dijatuhkannya, dengan sekuat tenaga ia berusaha meraih pisau itu disela kesakitannya.
‘’HYAAAAAA! ARGH! ARGH!’’
Anna menancapkan pisau itu berulang kali dalam waktu yang cukup lama hingga makhluk itu tidak bergerak lagi. Meskipun begitu, matanya membulat besar. Sakit, iya, itulah yang dirasakannya, namun tidak ada cara lain, setengah tangannya sudah habis dimakan.
Tubuhnya terjatuh ke belakang sambil memandang langit-langit ruangan. Habis sudah harapannya, seharusnya ia sudah tiba di rumah dan membaca novel misteri kesukaannya, tapi ia malah terperangkap di rumah kuno yang mengerikan itu. Tidak tahu, makhluk apa lagi yang menunggunya, membuatnya menyerah.
‘’Biarkan saja para penghuni lantai ini datang untuk memakanku, sepertinya ini waktunya aku tiada,’’ Kata Anna dengan tatapan kosong.
Bunyi elevator menyadarkannya. Namun, ia sudah tidak peduli lagi dan hanya membiarkan cahaya elevator terbuka itu mengenainya. Akan tetapi, perkataan Ruki langsung muncul dipikirannya.
‘’Benar juga, aku masih belum memastikannya pada Ruki, apa maksud dari ucapannya?’’
Anna membuka rompi OSIS miliknya lalu menyayatnya menggunakan pisau dengan maksud membalut tangannya yang sudah hilang.
Gadis itu berdiri dan menatap makhluk tadi sejenak kemudian menuju ke elevator. Gadis itu menggenggam erat pisau di tangannya, mengingat sebelumnya ia dikejutkan begitu elevator terbuka membuatnya mengambil ancang-ancang.
Lantai 4
TING!
Pintu elevator terbuka dan tidak menampakkan apa pun sehingga Anna berjalan keluar meskipun berjaga-jaga. Anehnya, sudah 20 menit berlalu sejak Anna menyusuri lantai itu, tidak ada makhluk yang menghampirinya. Hingga membuatnya istirahat.
‘’Aku sedikit haus,’’ kata Anna mengambil botol air di dalam tas sekolahnya.
Begitu ia meneguk air tersebut, tubuhnya terdiam seketika melihat pemandangan di atas. Botol air miliknya pun terjatuh dan airnya terbuang begitu saja.
‘’Apa-apaan ini?’’ tatapnya tidak percaya.
Hampir seluruh langit-langit ruangan itu dipenuhi gantungan tangan manusia. Ia langsung mengingat makhluk yang memakan setengah tangannya di lantai bawah tadi.
Di saat yang bersamaan, ratusan tangan itu terjatuh menimpanya. Layaknya berendam di lautan, kini hanya kepala Anna yang masih terlihat setelah ratusan tangan itu menjebak tubuhnya.
‘’Cih, sepertinya luka di tanganku kembali terbuka, eek!’’ ringis Anna merasakan sesuatu menggigit dirinya.
Anna menajamkan penglihatannya di tumpukan tangan itu yang ternyata memiliki mulut di telapaknya.
‘’Akh!’’ ringisnya berkali-kali.
Ia berusaha agar pisau yang dipegangnya tidak terlepas. Anna bisa merasakan sekujur tubuhnya di lahap, membuatnya sekuat tenaga meloloskan diri.
Menggunakan pisau untuk membuka jalan, akhirnya Anna naik ke tepi tumpukan tangan tersebut. Tubuhnya telah terkelupas akibat gigitan tadi.
‘’Apakah makhluk yang menghuni lantai ini adalah dalangnya? Tapi bagaimana aku bisa mene- Akh!’’
Tubuhnya langsung melayang ke depan layaknya di tarik oleh sesuatu.
DEG!
Sosok gadis menyeramkan tanpa kepala mencekiknya. Anna berusaha berontak, tapi cekikan itu terlalu kuat.
‘’Tangan? Iya! Tangan!’’ pekik Anna dalam hati.
Anna mengayunkan tangannya untuk menebas tangan yang sekarang mencekiknya. Melihat sosok tanpa kepala itu membuatnya tidak tahan.
‘’ARGHHH!’’
SYUT!
Sekali tebasan, tubuh Anna terjatuh. Gadis itu terbatuk mengambil oksigen. Sosok tanpa kepala di hadapannya masih berdiri hingga akhirnya terjatuh.
Pintu elevator kembali terbuka membuat Anna bergegas.
Dalam elevator, Anna kembali membalut tangannya. Setelah salah satu tangannya dimakan, kini setiap bagian tubuhnya terlubangi, daging kulitnya bahkan sudah terlihat. Meskipun begitu, ia tetap menahan rasa sakitnya.
TING!
Lantai 3
Tidak ada kejutan saat pintu elevator terbuka atau pun ratusan tangan yang menggantung di langit-langit ruangan. Hanya lorong lurus dengan suasana mencekam.
Saat Anna keluar, langkahnya terhenti merasakan pijakan kakinya sedikit tidak rata.
‘’Tanah?’’ tatapnya bingung.
2 menit setelah menyusuri lorong itu, Anna di kejutkan oleh pemandangan saat tiba di ujung lorong.
‘’Kenapa ada banyak kuburan di sini?’’ tatap Anna tidak percaya.
Hanya satu ruangan yang amat besar tanpa beberapa belokan.
‘’Yang benar saja, rumah berukuran sedang mustahil memiliki keluasan di dalamnya seperti ini, rumah apa ini sebenarnya?’’
Sambil menyusuri kuburan itu, Anna membaca setiap nama di batu nisan kecuali kuburan terakhir.
‘’Kenapa tidak ada nama yang tertulis di batu nisan ini?’’
Saat itu juga muncul sosok menyeramkan dari kuburan yang melompat ke arahnya.
Untungnya Anna berhasil menghindar, meskipun dia terkejut hebat. Sosok yang wajahnya hancur sambil menggunakan sabit berdiri menatapnya. Anna terkekeh kesal membandingkan senjatanya dengan milik sosok yang baru saja bangkit dari kuburan itu.
‘’Baiklah, aku hanya cukup bertahan melawannya,’’ kata Anna bersiap.
Sosok wajah hancur itu sudah berdiri di dekatnya dan mengibasnya ke tembok.
‘’Uhuk!’’ batuk Anna mengeluarkan sedikit darah.
Tubuhnya langsung remuk seketika. Sosok wajah hancur itu bahkan sudah berdiri di depannya lagi. Anna hanya bisa menatapnya lemah.
SYUT!
‘’ARGHH!’’
Anna meringis kesakitan saat sabit itu menancap berulang kali di betisnya. Ia hanya melampiaskan kesakitannya dengan memukul tanah dan meremasnya.
Karena tidak tahan lagi, Anna mengambil tanah lalu melemparkannya ke wajah sosok itu. Sosok itu menjatuhkan sabitnya dan mundur karena merasa kesakitan. Tanpa membuang kesempatan, Anna mengambil sabit itu.
‘’Akh!’’ ringisnya terjatuh saat hendak berdiri.
Tapi, jika bukan sekarang, makhluk itu akan kembali menyiksanya. Rasa sakit luar biasa dirasakannya dengan bukti buliran darah bercucuran keluar dari betisnya. Ia berjalan pincang menuju sosok wajah hancur itu dan menyayat tubuhnya sampai terpisah.
Anna jatuh terduduk sambil memegang betisnya penuh kesakitan. Ia terpaksa menggunakan rompi OSIS yang masih tersisa untuk membalut betisnya. Pintu elevator kembali terbuka. Anna menghela nafas.
‘’Setidaknya biarkan aku istirahat,’’ katanya memungut sabit yang kini sekarang ia gunakan sambil berjalan ke arah elevator.
Gadis itu sedikit mengantuk, kepalanya sudah berat bukan main.
TING!
Lantai 2
Pintu elevator terbuka, namun Anna bersandar sejenak untuk istirahat. Rasa kantuknya benar-benar melahapnya.
‘’Tidak, aku harus segera keluar dari rumah ini,’’ tegas Anna.
Caranya berjalan hanya menyeret sebelah kakinya yang terluka bersamaan sabit besar itu. Sepanjang jalan, terdengar suara nyanyian. Anna berusaha mencari sumber suara itu hingga dirinya menemukan sumber air.
‘’Kebetulan tubuhku sangat kotor setelah lantai sebelumnya, sekalian kubersihkan lukaku,’’
Anna pun meletakkan sabit di sampingnya lalu mencelupkan kedua kakinya sambil membuka balutan di tangan dan betisnya untuk dibersihkan. Berselang menit setelah membersihkan dirinya, ia meraih sabitnya dan berdiri.
‘’Tapi bagaimana mungkin ada mata air di dalam rumah seperti ini?’’ bingung Anna.
BYUR!
Melihat gelembung muncul di tengah mata air membuat Anna mengambil ancang-ancang. Tak lama kemudian, airnya kembali tenang. Anna merilekskan kembali dirinya.
SREET!
Sebuah serangan kejutan menuju ke arahnya dan menariknya ke dalam air. Kedua lengan dan kakinya ditahan oleh tumbuhan yang menjalar. Bahkan tumbuhan itu melilit ke lehernya tidak menyebabkan sabit besar ditangannya terlepas.
Dalam hitungan detik, sosok dengan rambut ikat 2 muncul tepat di hadapannya. Akan tetapi, 2 ikat yang seharusnya adalah rambut malah tergantikan dengan puluhan kepala manusia. Sosok itu hanya diam menatapnya yang sudah hampir kehilangan oksigen.
‘’Apakah aku akan mati di sini? Padahal tersisa 1 lantai lagi,’’ kata Anna dalam hati.
Tumbuhan itu semakin erat di lehernya membuat kesadarannya menurun. Melihat wajah Anna seperti itu, tumbuhan menjalar tersebut menjulang ke atas.
BYUR!
Telat 1 detik saja mungkin akan benar-benar membunuh Anna dalam cekikannya. Masih dalam keadaan terikat, Anna tak sanggup lagi mengangkat kepalanya. Makhluk dengan tampilan 2 ikat di kepalanya muncul dari air melayang ke arahnya.
BUGH!
Tumbuhan itu menghempaskan tubuh Anna ke lantai bersamaan sabit di tangannya. Kini tubuhnya benar-benar remuk. Ia hanya bisa menatap makhluk itu mendekat padanya.
‘’Bagaimana aku bisa menghabisinya dalam keadaan seperti ini?’’ tanyanya dalam hati.
Pandangannya tiba-tiba terarah ke tas sekolahnya. Cukup lama ia menatapnya hingga tersadar akan sesuatu.
Flashback.
Anna berdiri mengeluari kuil setelah berdoa. Saat ia bergegas pergi, seorang Bhiksu memanggilnya dan memberinya sebuah jimat.
‘’Setelah teknologi canggih, sudah banyak yang melupakan untuk mengunjungi kuil ini, tapi berbeda dengan dirimu, kau selalu datang setiap saat untuk berdoa,’’ kata sang Bhiksu.
‘’Tapi kenapa memberiku jimat?’’ bingung Anna.
‘’Kelak jimat ini akan melindungimu,’’
End Flashback.
‘’Jimatnya! Setelah hari itu, aku selalu menyimpan jimatnya di dalam tasku,’’ kata Anna dalam hati.
Dengan seluruh kekuatannya, ia merangkak ke arah tasnya, sedangkan makhluk itu tetap menghampirinya.
Sedikit lagi sebelum Anna mencapai tas sekolahnya. Anna membulatkan mata merasakan sesuatu menembus betisnya. Ia menoleh dan melihat tumbuhan menjalar dari tangan makhluk itu menusuknya.
‘’ARGH!’’ ringis Anna merasakan tumbuhan itu menyebar di kakinya.
‘’SAKIT BODOH!’’ umpat Anna.
Sabit besar tergeletak di sampingnya. Untuk sesaat ia mengepalkan tangan hingga akhirnya meraih sabit itu. Anna mengayunkan sabit itu lalu memotong kakinya yang dijalari tumbuhan.
‘’ARGHHHH!!’’ ringisnya bukan main.
Dengan cepat ia meraih tasnya dan mengambil jimat yang memang benar masih ada.
Dengan raut wajah kesakitan, ia melempar jimat itu ke arah makhluk tersebut. Terpancar cahaya membuat makhluk itu terseret ke dalam air dan tersegel.
Anna yang melihatnya menangis meringis. Pintu elevator terbuka, tidak peduli salah satu tangan dan kakinya sudah tidak ada, Anna meraih sabit itu menuju lantai terakhir puncak rumah tersebut.
Lantai 1
Hanya sabit itu yang digunakannya sebagai tumpuan kaki kanannya. Tetapi ia sedikit kesulitan berjalan, karena tangan kirinya sudah tidak ada, ia hanya menggunakan satu tangan kanannya yang masih utuh untuk menahan dirinya memegang sabit yang dijadikannya tongkat.
Anna telah memasuki lantai paling atas. Namun, lantai tersebut sangat berbeda dengan lantai sebelumnya. Jika lantai sebelumya sangat mengerikan, maka berbeda dengan lantai 1 yang malah terlihat mewah itu.
TAP! TAP! TAP! TAP!
Mendengar suara langkah kaki mendekat, membuat Anna waspada. Gadis itu menatap ke depan menunggu sosok yang mendekat karena ruangannya terbuka. Terlihat sosok manusia berdiri di balik bayangan yang menutupi wajahnya.
‘’Siapa kau?’’ tanya Anna.
Sosok itu hanya terdiam sesaat hingga akhirnya menunjukkan dirinya. Anna membulatkan mata dan segera mendekati sosok itu lalu memeluknya.
‘’Ruki-kun!’’
Ruki hanya diam tanpa membalas pelukan Anna. Merasa ada yang aneh, Anna mendongakkan kepala menatap wajah Ruki.
DEG!
Melihat mata Ruki merah menyala, spontan Anna mendorongnya membuat dirinya terjatuh. Ruki yang melihatnya hanya tersenyum.
"Kenapa melepas pelukannya, Anna-chan?"
‘’Kau bukan Ruki-kun,’’ tatap Anna.
‘’Jadi, apakah kau sudah menemukan jawaban dari pertanyaanku?’’ tanya Ruki.
Mengingat pertanyaan Ruki, membuat Anna tidak percaya bahwa sosok di depannya itu memang Ruki, ketua osis sekolahnya.
‘’Ara? Aku agak kecewa melihat penampilan wakilku dalam keadaan seperti ini, sepertinya anggota OSIS lainnya menyulitkanmu?’’
Dahi Anna berkerut mendengar perkataan Ruki.
‘’Anggota OSIS lainnya? Apa maksudmu?’’ tanya Anna.
‘’Mmhehe...hehehe...hahahaha...AHAHAHAHAHA!’’ tawa Ruki yang terdengar gila.
‘’Haaa, karena aku menyukaimu, maka akan kuberitahu, penghuni yang memberimu kejutan di lantai 5 itu adalah Ryuu Sagamaki, lalu penghuni tanpa kepala yang mencekikmu di lantai 4 tidak lain adalah sepupu sendiri, Miyo Atsumu, kemudian penghuni yang wajahnya hancur yang menusukmu dengan sabit adalah Rei Ryuguji, serta penghuni dengan tampilan 2 ikat di kepalanya yang adalah puluhan kepala seharusnya kau sudah tahu,’’ kata Ruki tersenyum dengan mata menyipit.
Anna dengan tampang ngerinya mengingat wujud manusia salah satu temannya yang ikat rambutnya 2 sama seperti makhluk air itu.
‘’Erimi Shigeru,’’ kata Anna.
Ruki menepuk tangan membenarkan ucapan Anna.
‘’Ah benar juga, akan kujadikan bonus pertanyaanku di Truth or Dare, kau mencari jawabannya, ‘kan? Kau pasti penasaran kenapa posisi sekolah sangat jauh dari rumahmu padahal jarakmu berjalan hanya sebentar? Itu karena sekolah yang kau lihat bukanlah sekolah sungguhan,’’ kata Ruki.
‘’Ingat dengan rumah kuno yang kau lihat selama perjalanan? Ya, rumah kuno inilah sekolah itu, saat pagi, tampilannya akan berubah menjadi sekolah yang seharusnya kau tempati, lalu saat malam akan berubah menjadi rumah kuno, karena itulah selama ini keadaan sekolah selalu tenang meskipun melakukan berbagai aktivitas umumnya, karena penghuninya semua adalah orang mati, begitu banyak manusia datang kemari, dan yang kau lihat adalah mereka semua sepanjang 5 lantai ini, inilah kebenarannya An..na-c..han,’’
Mengingat dirinya menusuk makhluk dengan potongan tubuh berbeda yang ternyata adalah Ryuu. Menebas kedua tangan sosok tanpa kepala yang ternyata adalah Miyo, sepupunya. Menyayat tubuh sosok wajah hancur yang tidak lain adalah Rei serta menyegel makhluk dengan tampilan 2 ikat di kepala yang adalah Erimi. Butiran air mata mengalir di sudut mata Anna.
‘’Kau membuatku melakukan hal keji itu, kenapa kau tega membunuh mereka semua!?’’ marah Anna.
‘’Eh? Kenapa kau marah? Mereka meninggal 3 tahun yang lalu,’’ kata Ruki.
Anna tertegun.
‘’K-Kau bilang apa?’’ tanya Anna.
‘’Mereka mati 3 tahun yang lalu, tepat setelah kau pindah kemari, saat mereka berniat ke rumahmu karena hari pertama masuk sekolahmu, aku larikan mereka ke rumah kuno ini, jadi kuhabisi mereka agar menemanimu,’’ jawab Ruki santai.
‘’Tapi kemarin?’’ bingung Anna.
‘’Hump, sudah aku bilang, selama 3 tahun ini kau dalam pengaruh ilusiku, karena aku tidak tega kau melihat wujud asli mereka, jadi kuberi ilusi seperti dunia manusia umumnya,’’
"Suara yang pertama kali aku dengar dari sistem, itu suaramu, 'kan?" tebak Anna.
"Benar, setelah kenangan 3 tahun ini, aku memerintahkan mereka untuk menyambutmu tapi kau malah menghabisi mereka," kata Ruki menyayangkan.
Anna menatap lantai dengan tatapan kosong.
"Ah, aku tidak tega melihat wajahmu, baiklah,"
Anna menatap Ruki bingung membuatnya menoleh ke bekalang.
DEG!
Makhluk yang dihabisi Anna kini berdiri di belakangnya.
"Aku menghidupkan mereka kembali agar penghuni sekolahnya kembali lengkap, nee Anna-chan? Kau pasti senang, 'kan? Melihat mereka kembali?"
Setelah menyaksikan kebenaran yang mengerikan itu, rasanya tubuhnya mati seketika. Dengan tubuh yang sudah tidak lengkap lagi, gadis itu mendongakkan kepala.
‘’Akan kutanya 1 pertanyaan lagi,’’ kata Anna.
‘’Silahkan, Anna-chan,’’ kata Ruki.
‘’Rumah yang bisa berubah-ubah, memiliki banyak lantai yang begitu luas, ada ribuan mayat di mana-mana padahal hanya berukuran sedang, what house is this?’’ tanya Anna.
Ruki menyipitkan mata disertai senyuman.
‘’The Hunger Homes,’’ jawab Ruki menyeringai.