"Aku sama sekali tidak ingat..." rintihku
Namaku adalah Luna. Aku adalah putri tunggal dari orang tuaku. Saat ini usiaku menginjak 16 tahun dan sekarang aku berada di kelas 1 SMA. Aku tidak tahu dimulai sejak kapan, tapi aku tidak ingat kenanganku saat masih kecil. Mungkin, ingatanku yang aku ingat sekitar umurku 10 tahun hingga sekarang.
Aku terus berusaha mengingat kenangan masa kecilku, namun aku sama sekali tidak mengingat apapun. Ketika aku bertanya ke mama dan papaku, mereka bilang kalau aku dulu anak yang cantik dan imut. Aku suka makan makanan manis dan sering bermain dengan kucing di depan rumah. Namun cerita yang diceritakan mama dan papa sama sekali tidak membantuku mengingat ingatanku yang hilang.
Aku juga sempat bertanya pada mama dan papa penyebab aku kehilangan ingatanku. Mereka bilang aku hilang ingatan karena saat itu kami sekeluarga mengalami kecelakaan saat sedang dalam perjalanan berlibur.
Aku sudah sangat sering bertanya soal masa kecilku ke mama dan papa, tapi tetap saja aku tidak mendapatkan memoriku yang hilang itu.
Lalu, saat libur semester kenaikan kelas 2 SMA ini, tiba-tiba aku kepikiran cara ampuh agar aku dapat mengingat kenangan masa kecilku. Yaitu, mengunjungi rumah lama kami yang merupakan tempatku tumbuh hingga berumur 10 tahun.
Setelah aku bangun dari pingsan di rumah sakit 6 tahun yang lalu, kami pulang sebentar ke rumah lama kami. Mama dan papa mengumpulkan barang di rumah karena kami akan pindah ke rumah baru yang sekarang kami tempati. Karena itu, berkunjung ke rumah itu bukan ide yang buruk, bukan?
Aku tahu mama dan papa tidak akan mengizinkanku pergi ke rumah itu, apalagi kalau sendirian. Karena beberapa tahun yang lalu aku juga pernah mengajak orang tuaku untuk berkunjung ke rumah lama, namun mereka melarang. Aku tidak tahu alasannya apa, tapi mereka sangat tidak ingin aku kesana.
'Kalau mama dan papa tidak ingin aku kesana, aku tinggal pergi diam-diam. Nanti aku bilang saja ingin pergi bermain ke rumah teman. Mama dan papa pasti takkan curiga' batinku
Aku pun langsung menemui kedua orang tuaku yang sedang duduk santai di sofa.
Aku langsung duduk di depan mereka dan berkata, "Ma, pa. Besok Luna mau pergi ke rumah teman ya. Mungkun nanti pulangnya agak malam. Boleh, kan?" Ujarku dengan mata penuh berharap.
"Kan libur baru saja tiba. Tidak mungkin kau sudah kangen dengan temanmu, kan?" Ucap papa lalu meneguk secangkir kopi yang ia pegang.
"Kami ingin jalan-jalan dari pagi hingga sore hari. Selama ini kan kami tidak pernah melakukan hal yang seseru itu" ujarku dengan wajah sedikit cemberut.
"Hahaha, dasar papa. Dia tidak tahu bagaimana persahabatan para perempuan. Tidak apa-apa, besok kamu pergi saja. Hati-hati ya" ucap mama dan membelai kepalaku dengan halus.
"Ya! Terima kasih mama!" Ujarku semangat
Setelahnya aku langsung mempersiapkan hal-hal yang akan aku gunakan dan aku bawa untuk esok hari.
***
Akhirnya, hari ini tiba. Aku bangun begitu pagi dan langsung bersiap untuk berangkat ke rumah lama. Saat matahari baru saja muncul, aku sudah siap untuk berangkat.
"Ma, pa, Luna pergi dulu" ujarku sambil melambaikan tangan.
"Ya. Jangan pulang terlalu larut, ya" ucap mama dengan suaranya yang lembut.
Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya aku sampai di rumah lama kami.
"Hal yang aku syukuri adalah aku masih ingat jalan menuju rumah ini, dan aku memiliki keberanian yang kuat untuk pergi ke tempat yang jauh sendirian" gumamku saat melihat bangunan rumah tua yang ada didepanku.
Aku mengitari sekeliling rumah. Di tempat ini seperti desa terpelosok. Rumah-rumah memiliki jarak sekitar 20 meter dengan rumah lainnya. Tidak ada rumah yang saling berdekatan disini.
Aku berjalan sedikit lebih jauh dari rumah. Disana aku menemukan sungai dengan air yang jernih di dekat pohon besar yang rindang.
'Apa dulu aku sering main ke sini, ya?' Batinku
Entah kenapa, tiba-tiba aku merasa leher belakangku merasa merinding. Aku melihat ke sekeliling tidak ada siapapun.
'Kalau begitu, ayo masuk ke dalam rumah' batinku
Aku melangkah masuk ke rumah yang sudah lama tak di urus itu. Dedaunan liar juga tampak bergelantungan di dinding rumah.
Aku memperhatikan setiap sudut rumah. Aku masuk ke setiap kamar disana. Lalu, aku melihat sebuah kamar yang masih terdapat barang-barang.
'Lho? Bukankah semua barang-barang dipindahkan ke rumah yang sekarang?' Pikirku
Aku masuk ke kamar itu. Aku memperhatikan sekeliling kamar itu yang tampak kotor.
"Hai"
Sontak aku langsung kaget begitu mendengar sapaan seseorang di belakangku.
Aku menoleh ke sumber suara dan melihat seorang laki-laki yang mungkin seumuran denganku. Ia memiliki rambut hitam dan bermata merah menyala.
"Si... siapa? Kapan kau muncul?" Tanyaku takut
"Aku yang menunggu kamar ini" ucap laki-laki misterius itu.
"Tapi, rumah ini adalah milik kami. Dan lagi, bagaimana kau tinggal di tempat seperti ini?" Tanyaku.
Laki-laki itu tidak merespon pertanyaanku. Dia hanya tersenyum sekilas, lalu berjalan keluar dari kamar.
"He, hey! Tunggu sebentar!" Teriakku
Aku berlari mengejarnya keluar kamar, namun aku tak menemukan sosoknya lagi.
'Kemana dia pergi?' Batinku sambil mencari-cari keberadaan laki-laki itu.
Setelah aku sedikit kelelahan karena mencari laki-laki itu di rumah yang cukup besar itu, aku pun berjalan dengan tangan kananku memegang dinding di sampingku. Lalu, tanpa sengaja tanganku itu menekan sesuatu.
"Ceklek"
Tangga menuju bawah tanah pun muncul di depanku.
'Apa? Ada ruangan seperti ini juga di rumah ini?'
Batinku
Tanpa berpikir panjang, aku langsung turun ke bawah. Disana, aku kembali menemukan laki-laki misterius itu tengah duduk di kursi kayu tua.
"Akhirnya aku menemukanmu" ucapku terengeh-engeh karena kelelahan.
"Apa yang kau inginkan dariku?" Tanya laki-laki itu
"Aku... aku tak menginginkan apapun. Jika kau ingin tinggal disini, silahkan saja. Mama dan papaku pasti takkan melarang. Aku kesini karena aku ada urusan sebentar" ucapku
"Oh, ya... namaku adalah Luna. Kalau kamu?" Tanyaku
"Kau tak perlu tahu" ujar laki-laki itu lalu membuang mukanya dariku.
"Anu, kenapa kamu---"
"Aku punya seorang adik" ucap laki-laki itu yang langsung memotong ucapanku yang belum selesai.
"Adik?" Tanyaku
"Dia adalah adik kembarku. Dia sangatlah cantik. Orang tuaku sangat menyayanginya. Aku juga menyayanginya, Sangat menyayanginya" ucap laki-laki itu
"Karena saking sayangnya dengan adikku, orang tuaku jadi sangat jarang peduli padaku. Jika terjadi sesuatu pada adikku, aku yang selalu disalahkan"
"Sebenarnya orang tuaku sejak awal hanya menginginkan seorang anak perempuan dan tak mengharapkan aku lahir. Mungkin karena itu mereka menelantarkanku..."
"Lalu, pada suatu hari di musim panas, terjadilah insiden. Di siang hari, aku dan adikku bermain seperti biasanya. Kami bermain di bawah pohon rindang tidak jauh dari rumah kami."
"Karena hari sedang sangat terik, adikku memintaku untuk membawakannya es untuk diminum. Aku sudah memperingatkannya untuk tidak pergi kemanapun hingga aku kembali, namun mungkin karena dia terlalu disayang orang tuaku, dia jadi tidak mendengar perkataanku"
"Didekat pohon tempat kami bermain itu terdapat sungai yang sedang surut karena sedang musim panas. Karena penasaran, dia melihat ke sungai yang dibawahnya terdapat batu-batu yang cukup besar itu dan tak sengaja terpeleset jatuh kedalamnya"
"Ketika aku kembali menemui adikku itu, yang aku temukan adalah dia yang tergeletak didalam sungai yang surut itu dengan kepala bersimbah darah"
"Akibatnya, aku terus disiksa orang tuaku selama adikku tak sadarkan diri di rumah sakit. Aku terus tersiksa" ucap laki-laki itu
'Tunggu!! Rasanya... agak familiar... pohon yang rindang, sungai?! Bukankah itu tempat yang aku temui tadi?!' batinku
Seketika di dalam kepalaku terngiang suara anak-anak.
'Kak...'
'Kakak...'
'Kak Luce, Luna haus. Bisa tolong ambilkan air?'
'Baiklah. Luna jangan pergi kemanapun selama kakak pergi, ya'
'Iya!'
'Wah, air yang mengalir di sungai sangat kecil'
'Kyaaaaa!!'
Seketika aku tersentak. Semua ingatanku saat masih kecil tiba-tiba muncul bagai sambaran petir.
'Apa mungkin... laki-laki ini kakakku?' Batinku
"Ah, benar juga. Tadi kau bertanya namaku siapa, kan?" Tanya laki-laki itu
"Namaku adalah Luce" ucapnya
Seketika aku langsung terkejut. Namun kejadian selanjutnya membuatku makin terkejut lagi.
"Kebetulan nama adik kesayanganku itu juga Luna" bisik Luce yang tiba-tiba ada di belakangku
Sontak aku langsung menoleh kebelakang dan mundur beberapa langkah dan membuatku makin kedalam ruang bawah tanah itu. Lalu karena disini gelap, aku jadi menginjak sesuatu yang ada di lantai.
"I... ini..." gumamku saat melihat banyak alat penyiksa yang ada di belakangku.
"Selama adikku itu tak sadarkan diri di rumah sakit, aku dikurung disini dan terus disiksa dengan alat-alat yang ada disini. Padahal aku tak melakukan apapun" ucap Luce
"Dia terus bersenang-senang dengan benda dan kasih sayang yang diberikan orang tua kami. Tapi aku malah terus terkurung dan disiksa ditempat dingin ini hingga akhirnya aku mati" ucapnya
'Ma... mati?!' Pikirku kaget
"Menurutmu, aku seperti itu karena siapa?" Tanya Luce dengan suara dingin
"Itu karena 'adik kesayanganku' itu. Aku seperti itu karenanya!" Ucap Luce yang menatap tajam ke arahku
"Benar! Ini semua karenamu! Padahal yang lahir duluan adalah aku, tapi yang mendapatkan semuanya kamu! Padahal aku sudah bersikap sebaik mungkin, tapi apa yang aku dapat?!" Teriak laki-laki yang merupakan kakakku itu
"Ka... kak Luce... a... aku sama sekali tidak tahu dengan hal itu..." ucapku dengan tubuh gemetar dan mata berkaca-kaca.
"Kedua orang brengs*k itu sangat menikmati saat menyiksaku. Aku penasaran bagaimana ekspresi mereka saat melihat putri kesayangan mereka ternyata tak bernyawa ditempat mereka menyiksa putra yang tak mereka inginkan" ucap kak Luce dan berjalan mendekatiku.
"Ka... kak Luce..." ucapku dengan tubuh dan suara gemetar
"Hey, Luna. Apakah kau sayang dengan kakakmu ini, seperti kakak menyayangimu?" Tanya kak Luce sembari berjalan mendekatiku. Meski kak Luce mendekatiku, aku tidak menghindar ataupun mundur. Tubuhku juga sudah tidak gemetar lagi.
"A... aku sayang dengan kakak! Aku ingin bersama kakak!" Teriakku
"Kalau begitu, kau ingin pergi bersama kakak?" Tanya kak Luce
"Ya, aku tidak masalah dengan itu. Setidaknya kakak tidak akan kesepian" ucapku dan perlahan menatap mata kakakku yang sudah ada di depanku.
"Tapi aku tidak ingin kau ada bersamaku. Teruslah hidup. Lihatlah banyak hal indah untuk menggantikanku melihatnya. Selamanya aku terus menyayangimu." Ucap kak Luce dan langsung memelukku.
"Kak Luce... maaf... seandainya aku tahu lebih cepat, aku pasti akan mencegah papa dan mama melakukan hal buruk padamu" ucapku dengan tangisan yang pecah begitu ia memelukku
"Sekarang kakak sudah harus kembali. Kau juga cepat pergi dari rumah ini. Bukankah kau kesini karena ingin menemukan ingatanmu yang hilang?" Ujar kak Luce
"Kakak mau kemana?" Tanyaku dengan mata yang basah.
"Ke tempat dimana seharusnya aku berada" ucap kak Luce dan perlahan menghilang.
Sekali lagi tangisanku pecah. Ternyata inilah yang terjadi pada masa kecil kami. Meski papa dan mama itu orang tuaku, tapi aku juga tak bisa tinggal diam dengan hal itu.
Setelahnya, aku langsung pergi ke rumah temanku yang ayahnya adalah seorang polisi. Aku langsung menceritakan semuanya pada ayah temanku itu dan menunjukkan lokasi penyiksaan orang tuaku terhadap kak Luce. Dan setelah terbukti orang tuaku melakukan kejahatan, akhirnya mereka menerima hukuman dari kejahatan mereka tersebut.