Di desa Berkabut yang masih terbelakang, terdapat rumah aneh yang menyendiri. Rumah itu terpisah dari tempat penduduk kampung pada umumnya. Bentuk bangunan rumahnya juga berbeda, dibandingkan dengan bangunan rumah pada umumnya. Rumah tersebut ada di atas pohon, yang kemungkinan sudah berumur ratusan tahun. Terlihat dari batang pokok pohon, dan cabangnya yang tampak menjuntai tak beraturan serta tak terhitung banyaknya. Akar-akar pohon tersebut juga banyak yang sudah keluar dari dalam tanah. Berundak-undak, seakan menyerupai tangga untuk naik menuju rumah pohon itu.
Anak-anak kecil di desa Berkabut, di larang mendekat oleh orang tuanya. Kata mereka penghuni rumah pohon dekat hutan itu, seorang penyihir jahat.
"Jangan sampai kalian bermain di sekitar rumah itu. Nanti kalian di culik, dan tidak bisa pulang karena di jadikan tumbal. Hanya pemimpin desa yang bisa masuk, karena dia adalah orang yang sakti."
Begitulah selalu pesan orang tua pada anak-anaknya. Mereka tentu saja tidak mau jika anak-anak mereka dijadikan tumbal penyihir yang ada di dalam rumah tersebut. Padahal mereka tidak ada yang pernah melihat sosok penghuni rumah. Mereka hanya percaya dengan semua cerita yang ada dari mulut ke mulut.
Pemimpin desa berkabut adalah seorang lelaki berwajah rupawan. Sosoknya sebagai pemimpin sangat di hormati. Mereka, para penduduk percaya jika pemimpin desa adalah orang hebat, karena hanya dari satu garis keturunan. Pemimpin desa juga yang hanya bisa memasuki rumah pohon itu. Karena hanya dialah yang bisa menandingi penyihir tersebut, berkat ilmunya yang di dapat dari kekuatan turun temurun.
Setiap sebulan sekali pemimpin desa selalu datang di malam purnama. Tidak pernah ada yang bertanya untuk apa, karena itu adalah hal yang tabu bagi mereka. Mencampuri urusan pemimpin bukanlah hal yang baik karena bisa mendatangkan kesialan, bahkan nyawa adalah taruhannya. Begitulah kepercayaan yang terdapat di desa Berkabut.
***
"Malam ini malam purnama. Pemimpin desa pasti datang ke rumah pohon tersebut. Aku penasaran pengen tahu juga seperti apa penyihir itu."
Walhena seorang anak kecil berumur sembilan tahun, ingin tahu karena merasa penasaran. Padahal dia juga tahu jika tidak ada seorang pun yang akan selamat, jika ingin masuk ke rumah tersebut. Tapi rasa ingin tahunya mengalahkan rasa takutnya juga.
Dengan mengendap-endap, Walhena keluar rumah tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Dia menyelinap di antara gelapnya malam, menuju hutan di mana rumah itu berada. Walhena mencari tempat yang dirasa aman untuk pengintaian.
Saat purnama terlihat, sekelebat bayangan mendekati rumah tersebut. Dengan gerakan ringan bayangan itu sudah sampai juga ke rumah pohon tersebut. Walhena terngangga karena keajaiban ini. Sekarang dia yakin jika pemimpin desa memang bukan orang sembarangan.
Dengan penasaran yang semakin tinggi, Walhena mencoba untuk melihat keadaan yang ada di dalam rumah. Dia melakukan dengan sangat hati-hati.
"Sayang, purnama ini aku datang lagi. Sama seperti malam-malam purnama yang lain."
Walhena, semakin penasaran saat mendengar suara pemimpin desa yang terdengar aneh. Dia mencoba mendekati pintu dan menempelkan telinganya. Walhena juga mencoba mencari celah, untuk bisa mengintip dan melihat ke dalam rumah.
"Bagaimana harimu? Apa para dayang dan pembantu ini melayani dengan baik?" Kembali Walhena mendengar suara pemimpin desa.
Tapi ternyata nasib sial memang benar adanya. Walhena tersungkur karena pintu tua itu terbuka secara tiba-tiba. Walhena terbelalak melihat keadaan yang ada di dalam rumah tersebut.
"Oh, akan ada pembantu baru malam ini sayang..." Pemimpin desa berkata dengan geram, kearah Walhena yang pucat pasi. Dia sangat terkejut dengan apa yang dia lihat sekarang ini.
Sebuah kursi kayu jati berukir dan berwarna emas. Di sana duduk seorang wanita berbusana pengantin. Tapi sudah menjadi tengkorak. Hanya rambut yang panjang dan busananya yang memperlihatkan, jika dia adalah wanita. Di sekitarnya, tergolek banyak tulang dan tengkorak. Dari penglihatan mata mereka adalah anak-anak, ada anak laki-laki dan perempuan.
"Mungkinkah mereka adalah anak-anak yang dinyatakan hilang saat bermain dan juga masuk ke rumah ini?" begitu pikir Walhena.
"Lalu siapa pengantin itu?"
Sekarang Walhena terbelalak, dia ingat jika pengantin ini adalah kakaknya yang tertua. Kakaknya hilang saat mau menikah dengan pemuda desa sebelah, dan menolak pinangan pemimpin desa karena sudah beristri lebih dari dua. Tapi sepertinya pemimpin desa merasa tersinggung dan sakit hati.
"Kamu ingin menyusul kakakmu Walhena?" tanya pemimpin desa karena dia sangat mengenalnya.
"Kamu... kamu pembunuh!" teriak Walhena dengan gemetar.
"Hahaha....!" tawa pemimpin desa membahana di malam purnama yang mencekam.
***
Pagi hari desa berkabut di gegerkan dengan hilangnya Walhena.
"Apa kita cari ke hutan?" tanya pemimpin desa dengan penuh wibawa.
"Tidak-tidak tuan. Kami tidak mau ada kesialan lagi yang akan datang!" jawab beberapa penduduk desa, yang tidak mau melanggar aturan desa secara turun temurun.
Sang pemimpin desa akhirnya pulang kerumahnya yang megah, dengan tersenyum miring.
*****
Siapa yang mau bermain ke rumah pohon di desa berkabut?