Bodoh, itu adalah julukanku. Kenapa bisa begitu? Jika kalian ingin tahu, mari ikuti ceritaku.
Namaku Niken, aku berasal dari keluarga yang kurang mampu. Aku tinggal bersama dengan ibuku. Jika kalian bertanya dimana Ayahku? Lupakan, bagiku dia sudah mati. Bagaimana aku bisa mengatakan hal itu? Coba deh, kalian pikir. Laki laki macam apa yang meninggalkan anak dan istrinya, hanya untuk hidup yang lebih layak. Menjijikkan.
Sekarang aku duduk dibangku kelas 5 SD. Karena faktor ekonomi, aku hanya bisa masuk sekolah negeri. Ibuku juga sudah mulai sakit sakitan. Sedangkan aku, aku tidak bisa bekerja. Didesaku ini, hanya ada pekerjaan cocok tanam untuk orang seperti kami. Jangankan melakukan hal itu, mengangkat cangkul saja aku tidak bisa.
Setiap hari aku dan ibu hanya makan sekali atau dua kali. Bahkan bisa sampai aku tidak makan. Tapi yang terpenting adalah ibuku. Walau aku tidak makan, yang penting ibuku makan dan kenyang.
Bagaimana kami bisa makan? Darimana uangnya? Ikuti lebih lanjut!
***
" Niken " Teriak guruku marah.
" Kenapa kamu selalu tidak mengumpulkan tugas. Apa kamu sudah bosan sekolah? " Tanya guruku berapi api.
Aku hanya menunduk tidak berani menatapnya. Walaupun hal ini biasa bagiku, tapi aku tetap takut.
" Sekarang kamu keluar. Jangan masuk sampai pelajaran ibu selesai " Titah guruku.
Aku mengangguk, lalu berjalan keluar sambil menunduk.
***
Bel tanda istirahat sudah berbunyi, teman teman sekelas sudah keluar dari kelas. Mereka semua berjalan menuju kantin, dengan melewatiku. Aku tahu hal itu akan terjadi. Karena begitulah mereka, mereka akan sengaja melewatiku dan memberikan hinaan.
" Dasar bodoh "
" Gimana rasanya dihukum? Enak "
" Bodoh, gak punya otak "
" Ini sekolah atau rumah sakit jiwa. Kenapa harus ada orang gak punya otak? "
" Keluarga miskin, otakpun miskin, bodoh "
Begitulah ucapan ucapan mereka.
Jika kalian bertanya apa hatiku sakit. Dengan yakin kujawab. Tentu.
Tapi bagiku, mereka adalah manusia tak sadar diri. Kenapa?
Pertama tama, aku akan memberitahu kalian sebuah rahasia. Sebenarnya, aku ini adalah anak yang pintar. Bahkan paling pintar dikelas. Hanya saja, kepintaranku itu dibeli.
Bagaimana bisa?
Teman teman kelasku, menyerahkan seluruh tugas rumah mereka agar kukerjakan. Mereka membayarku 2 ribu untuk satu tugas. Dan aku yang memang membutuhkan uang, menuruti kemauan mereka.
Aku mengerjakan tugas dua puluhan orang dalam sehari. Dan itu membuatku tidak sempat mengerjakan tugasku.
Jangan anggap aku matre! Aku membutuhkan uang untuk makan dan membeli obat untuk ibu.
***
Tak terasa aku sudah menginjak bangku kelas 3 SMP. Dalam sebulan lagi aku akan lulus. Dan sekarang aku sedang duduk didekat kasur ibu sambil membaca buku. Tiba tiba, ibu kesulitan bernafas.
" I-ibu, ada apa? " Tanyaku panik.
" Niken, mungkin ini sudah saatnya ibu pergi. Kamu jadilah anak yang baik. Buatlah ibu bangga. Wujudkan mimpimu menjadi dokter. Dilemari ibu, ada beberapa perhiasan dan sejumlah uang. Gunakanlah itu dengan baik. Pergi kekota dan sekolahlah ditempat yang bagus " Ucap ibu dengan susah payah.
" Ibu jangan bicara seperti itu " Ucap Niken.
" Ibu sayang kamu " Setelah mengatakan hal itu, Ibu menghembuskan nafas terakhirnya.
" Ibu " Teriakku dengan menangis.
***
Sebulan kemudian,
Aku sudah lulus hari ini. Dihari yang bersejarah bagiku, aku hanya sendirian. Sendiri, tidak ada siapapun. Aku benar benar sendiri.
" Ternyata orang bodoh ini, bisa lulus juga ya " Sindir salah satu temanku.
" Iya, ya. Apa mungkin dia nyogok sekolah? " Timpal yang lain.
" Mungkin saja. Karena setahuku, kalau bodoh gak akan bisa lulus " Ucap yang lainnya.
" Jangan memfitnahku. Aku memang bodoh " Ucapku lantang.
" Aku bodoh, itu sebabnya sekarang aku masih sekolah. Kalau aku pintar, aku tidak akan kesekolah " Ntah dapat keberanian darimana, sehingga aku bisa mengatakan hal itu.
***
Tepat sehari setelah aku lulus, aku pergi kekota. Aku hanya membawa uang yang ditinggalkan ibu.
Aku bersekolah di sekolah swasta yang terkenal dikota itu. Untuk memenuhi kehidupanku, aku juga bekerja paruh waktu.
Aku bekerja disalah satu cafe yang terletak tidak jauh dari asrama tempat aku tinggal.
Kalau boleh jujur, terkadang aku iri dengan teman temanku. Mereka menikmati saat saat remaja mereka. Sedangkan aku, aku harus menghabiskannya dengan bekerja.
Tapi aku masih bersyukur, walau dengan begitu. Aku masih diberikan hidup dan seorang teman. Ia bernama Anjani. Walau kami berbeda agama. Tapi Anjani selalu baik kepadaku.
***
Tiga tahun telah berlalu, aku lulus dengan nilai terbaik. Ada yang mengucapkan selamat dan ada juga yang menatapku iri.
Aku mendapatkan beasiswa dari negeri. Mereka ingin aku kuliah diluar negeri. Lebih tepatnya dinegeri Jepang. Aku bersyukur, sangat bersyukur. Dan aku menerima beasiswa itu.
" Rejeki gak boleh ditolak " Pikirku.
Aku kuliah di Jepang, sedangkan Anjani kuliah Di China.
***
Beberapa tahun kemudian,
Tiba saatnya untuk magang. Aku ditempatkan untuk magang disalah satu rumah sakit dinegeri Swis. Aku mengambil jurusan dokter spesialis onkolog.
***
Di Swis, aku mendapat teman. Ia bernama Arsen. Hari hariku terasa menyenangkan, karena ada yang menemaniku.
Tidak seperti dulu.
***
Tak terasa sudah sebulan aku magang. Dan sudah waktunya untukku mengambil sertifikat yang akan diserahkan oleh pemilik rumah sakit. Aku berjalan bersama Arsen menuju kelantai atas, ruangan tuan Doko, pemilik rumah sakit.
Tok tok tok
" Masuk " Ucap seseorang dari dalam.
" Siang pak " Sapaku dan Arsen.
" Siang " Sapa tuan Doko ramah.
Ini sertifikat hasil kerja keras kalian. Hasilnya sangat memuaskan. Dan saya berharap, agar kalian menjadi salah satu dokter dirumah sakit ini " Puji tuan Doko.
" Terima kasih atas pujiannya tuan. Untuk tawaran itu, saya juga sangat berterima kasih. Tapi saya sudah memutuskan akan bekerja dimana. Maaf tuan " Ucapku.
" Tidak apa apa, nona " Ucap tuan Doko.
" Terima kasih atas pengertiannya " Ucapku lagi.
Setelah pamit undur diri, aku dan Arsen langsung keluar dari ruangan.
***
" Niken " Panggil Arsen.
" Ya " Sahutku.
" Kamu akan bekerja dimana? " Tanya Arsen.
" Aku akan bekerja dijepang " Jawabku.
" Apa ada alasan tertentu? " Tanyanya.
" Tidak ada sih. Hanya saja aku merasa nyaman diJepang. Lagipula aku tidak ingin kembali keIndonesia, kembali kesana hanya akan membuka luka lama " Jawabku.
" Lupakan hal itu. Kamu kerja dirumah sakit mana? " Tanyanya.
" Rumah sakit Xx " Jawabku.
" Aku juga akan bekerja disanalah " Ucap Arsen.
" Kenapa? " Tanyaku.
" Agar kita bisa bersama " Jawabnya.
***
Hari ini, adalah hari kelulusanku. Entah bagaimana, tapi dihari ini Arsen ada bersamaku. Jujur, aku senang. Karena aku tidak sendiri lagi.
" Selamat bagi lulusan terbaik tahun ini, Niken Listyani Putri " Ucap pembawa acara.
Semuanya bertepuk tangan.
Aku maju naik keatas panggung. Seorang dekan memberikanku sebuah piala dan juga sertifikat.
***
Saat selesai acara, Arsen membawaku ketaman yang terletak disamping kampus.
" Hey, ngapain kesini? " Tanyaku.
Bukannya menjawab, Arsen malah berlutut.
" Niken, saat pertama kali melihatmu. Aku sudah mulai menyukaimu. Saat bersamamu, aku merasa sangat nyaman. Saat berpisah denganmu, aku merasa ada yang hilang? " Ucap Arsen.
" Apaan sih Sen " Ucapku agak malu.
" Apa kau mau menjadi istriku? " Tanya Arsen.
What? Istri? Dia lagi ngelamar!
" Ka-kamu serius? " Tanyaku memastikan.
Arsen mengangguk. Ia mengeluarkan kotak cincin dari sakunya.
" Aku mau " Jawabku setelah terdiam agak lama.
Arsen tersenyum, lalu ia memasukkan cincin kejariku. Setelah itu dia berdiri dan memelukku erat.
***
Berakhir sudah penderitaanku. Dulunya aku merasa hidup tidak adil. Hidup yang telah merenggut ibuku. Yang telah membuatku tidak bisa membawa ibu kerumah sakit. Yang membuatku selalu sendirian.
Tapi sekarang, aku merasa semuanya adil. Kini aku mendapatkan kesuksesan, mendapatkan pasangan hidup. Aku tidak sendiri lagi.
" Ibuku, kau pasti bangga melihatku "
Percayalah, dibalik kesedihan ada kebahagian. Dibalik kegagalan ada kesuksesan. Hidup akan adil.