Beberapa hari ini aku selalu melihatnya. Seorang gadis remaja berdiri di samping lift menunggu seseorang untuk masuk ke dalam lift bersamanya.
Aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Sepertinya dia baru pindah di apartemen ini. Dia gadis yang sangat cantik, menggemaskan seperti boneka.
Aku berjalan mendekatinya dan masuk ke dalam lift, dia pun mengikutiku.
"Kamu baru di sini?" tanyaku padanya.
"Ya, aku baru pindah beberapa hari yang lalu." jawabnya.
"Apa kamu takut naik lift sendirian?" tanyaku lagi dan dia mengangguk.
Aku memandangnya sejenak. Jika diingat-ingat, aku tidak pernah melihatnya memakai seragam sekolah. Karena penasaran, aku pun bertanya padanya. "Kamu tidak sekolah?"
Dia memandangku sejenak. "Aku malas sekolah, capek."
"Mau jadi apa kamu kalau tidak sekolah?" tanyaku lagi tapi dia hanya diam. "Apa orang tuamu tau kalau kamu tidak sekolah?"
Dia memandangku lagi. "Kamu fikir berapa usiaku, kenapa aku masih harus sekolah?"
"Aku tidak tau 15 tahun mungkin."
"Apa kamu menghinaku hah! Karena tubuhku kecil?" dia berbicara sedikit keras padaku.
"Hey nak, bicaralah yang sopan dengan orang yang lebih tua darimu." kataku memarahinya.
"Tua? Memangnya berapa usiamu?" tanyanya padaku.
"Aku 20 tahun." Kataku memandangnya tajam. "Dan jangan memanggilku dengan sebutan "kamu". Kamu harus memanggilku dengan sebutan "kakak". Mengerti!"
Pintu lift terbuka setelah aku selesai bicara.
"Baiklah kakak, sampai jumpa." katanya sambil berlalu keluar dari lift.
Aku berjalan di belakangnya. Dia berlari menghampiri seorang laki-laki dewasa yang sepertinya sudah menunggunya. Dia pun masuk ke dalam mobil bersama dengan laki-laki tersebut.
Sampai di tempat kuliah, aku masih saja memikirkan anak itu. Aku takut dia melakukan hal-hal yang tidak-tidak. Aku berfikir mungkin aku harus bertemu dengan orang tuanya, mungkin orang tuanya tidak tau dengan apa yang dilakukan anaknya.
* * *
Aku turun dari taxi yang kutumpangi sekitar pukul 9 malam. Tak berapa lama kemudian, ada sebuah mobil berhenti di dekatku. Aku masih ingat itu adalah mobil yang tadi pagi dinaiki oleh anak itu. Anak itu pun turun.
"Besok jangan ngaret, kita akan menemui klien." kata laki-laki yang ada di dalam mobil.
"Iya iya, pergi sana." kata anak itu.
Anak itu berjalan melewatiku. Aku benar-benar ingin tau apa yang dilakukannya hingga dia harus pulang malam begini.
Seperti biasa dia menunggu orang di depan lift.
"Jika tidak ada orang yang naik lift, apa kamu akan terus menunggu di situ?" kataku.
"Jika tidak ada orang yang naik lift, aku akan meminta sekuriti mengantarku." jawabnya.
Pintu lift terbuka dan kami pun masuk ke dalamnya.
"Jika takut naik lift, naik tangga saja." kataku.
"Yang benar saja, flat kita ada di lantai paling atas, kamu menyuruhku mati?" lagi-lagi dia berkata tidak sopan padaku, aku benar-benar ingin menjitaknya.
"Apa yang kamu lakukan dengan laki-laki dewasa itu hingga kamu pulang larut malam." tanyaku.
"Kerja." jawabnya singkat.
"Kerja apa?"
"Bukan urusanmu." jawabnya yang membuatku sangat kesal.
Pintu lift terbuka dan dia berjalan mendahuluiku, aku mengikutinya. Tak berapa lama kemudian, dia berhenti di depan pintu sebuah flat.
"Kenapa kamu mengikutiku, apa kamu seorang stalker." katanya.
"Aku ingin bertemu dengan orang tuamu." kataku yang membuatnya sedikit terkejut.
"Kenapa tiba-tiba kamu ingin bertemu dengan orang tuaku?"
"Aku hanya ingin memastikan apa mereka tau kalau kamu tidak sekolah. Dan jika mereka tau, kenapa mereka membiarkanmu begitu saja."
Dia tersenyum lalu membuka pintu flatnya. "Kamu orang yang sangat baik. Tapi sepertinya kamu salah paham padaku. Aku bukanlah anak berusia 15 tahun yang perlu kamu khawatirkan."
Dia menoleh padaku. "Usiaku 30 tahun."
Aku memandangnya. Aku tau dia mencoba membohongiku.
"Tak." aku menjitak kepalanya dan masuk ke dalam flatnya.
"Hey! Apa yang kamu lakukan?" Katanya mengikutiku sambil memegang kepalanya yang tadi aku jitak. Aku melihat ruangan di dalam flat itu, tapi tidak ada siapa-siapa.
"Keluar dari sini atau aku akan panggil sekuriti!" katanya mengancam.
"Mana orang tuamu?" tanyaku.
Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Lihat.. lihat.. " Dia menunjukkan tanda pengenal tepat di depan mataku. Aku mengambilnya "Kyara Anindhita, tanggal lahir 2 September 1990."
"Ini palsukan." kataku.
"Terserah mau percaya atau tidak." katanya merebut kembali kartu identitasnya.
"Keluar sekarang!" perintahnya sambil menunjuk ke arah pintu.
Aku memandangnya sebelum keluar. Mana mungkin anak ini berusia 30 tahun.
"SEKARANG!" teriaknya mengejutkanku.
"BRAK!" dia menutup pintunya dengan keras setelah aku keluar.
Yah kalau dilihat dari sikapnya, memang sepertinya dia berusia 30 tahun cuma wajahnya saja yang seperti anak kecil. Aku hanya tersenyum dengan kebodohanku.
* * *
Pagi harinya aku sengaja menunggunya di depan lift. Tak berapa lama kemudian, aku melihatnya berjalan di lorong mendekatiku.
"Kenapa kamu berdiri di situ?" katanya memandangku.
"Karena ada seorang wanita tua yang takut naik lift sendirian, jadi aku harus menemaninya." kataku yang membuatnya cemberut.
Kami pun masuk ke dalam lift.
"Aku minta maaf atas sikapku kemaren." kataku.
"Tidak apa-apa, itu sering terjadi. Tapi biasanya orang-orang akan mengira aku berusia 20 tahun, tidak seperti kamu yang mengira aku berusia 15 tahun."
"Aku bahkan hampir mengira kamu 12 tahun." kataku tersenyum.
"Bagus sekali." katanya memandangku. "Kamu kuliah?"
"Ya di UI." jawabku.
"Jurusan apa?"
"Dokter spesialis ilmu bedah."
"Wah... itu keren." katanya.
"Biasa saja." kataku tersipu malu dibuatnya.
Pintu lift terbuka. "Aku duluan." katanya.
"Namaku Revan." kataku karena dia tidak menanyakan namaku.
"Baiklah Revan, aku duluan." katanya lagi berlari meninggalkanku.
* * *
Malam itu aku berniat untuk mencari makanan ketika aku melihat Kyara sedang mendapat masalah dengan beberapa gadis remaja. Aku pun mendekatinya.
"Minta maaf?" kata salah seorang anak sambil menginjak-injak bungkusan yang ada di jalan.
"Hoy hoy ada apa ini?" kataku yang membuat mereka menoleh.
Anak-anak itu pun saling berpandangan dan kemudian pergi meninggalkan Kyara.
"Ada apa?" tanyaku pada Kyara.
"Aku hanya memintanya meminta maaf setelah membuat makananku jatuh, tapi dia malah marah. Anak jaman sekarang sepertinya gak ada hormat-hormatnya pada orang yang lebih tua." kata Kyara sambil mengambil makanannya yang jatuh dan berjalan mendekati kotak sampah.
Aku mengikutinya. "Mungkin mereka mengira kamu sebaya dengan mereka, jadi mereka tersinggung ketika kamu menyuruhnya meminta maaf."
"Entahlah, mungkin aku harus memasang tulisan di dadaku "aku memang kecil tapi aku sudah tua jadi hormatilah aku."" katanya sambil membuang makanannya di kotak sampah. "Sepertinya aku harus membelinya lagi."
"Memangnya itu apa?" tanyaku.
"Martabak." jawabnya sambil berjalan mendahuluiku.
Aku kembali mengikutinya. Dia menoleh. "Kamu mau kemana?"
"Aku mau makan malam."
"Kalau begitu kamu bisa jalan duluan." katanya.
"Kenapa kita tidak berjalan bersama saja, apa kamu tidak takut anak-anak itu kembali dan mengganggumu?"
"Ya, jika kamu tidak malu berjalan denganku." katanya yang membuatku bingung.
"Kenapa harus malu?"
"Karena laki-laki tinggi biasanya akan malu berjalan dengan wanita pendek."
"Siapa yang bilang begitu?"
"Temanku dulu bilang begitu. Dia bilang "Bisakah kamu lebih tinggi, aku malu berjalan denganmu." Dasar baj*ng*n, dia fikir aku tidak berusaha menambah tinggi badan. Aku olahraga, minum susu, minum obat tapi tidak ada yang berhasil. Lalu aku bilang "Jika kamu tidak bisa menerimaku apa adanya, sebaiknya kamu mencari wanita lain."" katanya berapi-api.
"Oh... jadi dia bukan temanmu tapi mantan pacarmu?" kataku tersenyum.
"Ya begitulah, dia memang mantan pacarku. Sepertinya aku terlalu banyak bicara."
Kami berjalan menyusuri trotoar. Sesekali aku memandangnya.
"Berapa tinggimu?" tanyanya kemudian.
"187, kenapa?"
"Gila, bagaimana kamu bisa setinggi itu."
"Tidak ada, keturunan mungkin. Orang tuaku lumayan tinggi."
"Orang tuaku juga lumayan tinggi tapi aku pendek." katanya. "Apakah ada obat yang bisa membantuku untuk lebih tinggi, kamukan dokter?"
"Ada apa sih dengan obsesimu menjadi tinggi, lagi pula menurutku kamu tidak terlalu pendek."
"Apa menurutmu 150 itu tidak pendek hah?"
"Itu sedang untuk ukuran gadis Asia. Jadi jangan dengarkan mantan pacarmu yang bodoh itu. Lagi pula kamu mempunyai wajah yang sangat cantik, jadi apa yang kurang." kataku mencoba menggodanya.
Aku fikir dia akan tersipu malu setelah aku mengatakan hal itu seperti gadis-gadis lain yang pernah aku goda, tapi ternyata dia terlihat biasa saja.
"Ya terima kasih telah mengatakan aku cantik, itu benar-benar menghibur." katanya datar.
Mungkin karena faktor usia jadi dia tidak gampang merasa GR.
"Ya sudah, aku mau nyebrang. Aku beli martabaknya di sana." katanya menunjuk penjual martabak di seberang.
"Beli martabaknya nanti saja saat pulang, mending sekarang kita makan dulu." kataku.
"Tadi aku sudah makan di kantor. Aku sudah kenyang."
"Lalu kenapa kamu beli martabak kalau sudah kenyang?"
"Karena biasanya aku lapar lagi saat bekerja."
"Setelah ini kamu mau kerja lagi?" tanyaku.
"Ya tapi di rumah."
"Kalau begitu temani aku makan dulu, nanti aku temani kamu beli martabak." bujukku.
"Ya baiklah."
Kami pun pergi ke salah satu restoran yang ada di kawasan itu.
"Beneran gak mau makan?" tanyaku setelah pesananku datang dan dia menggeleng.
"Mau coba? Ini enak banget." kataku dan lagi-lagi dia menggeleng.
"Ehm... sepertinya cewek-cewek yang di sebelah sana itu tertarik padamu." katanya kemudian.
"Yang mana." kataku mencari.
"Dua cewek cantik yang ada di dekat jendela."
Aku menoleh dan dua orang wanita tersenyum padaku. Aku pun tersenyum pada mereka.
"Laki-laki tampan itu seperti magnet. Dimana mereka berada, wanita-wanita akan langsung tertarik padanya." katanya memandangku.
"Kamu bicara soal aku." kataku.
"Bukan,.. tentu saja kamu memangnya siapa lagi."
"Lalu apakah kamu juga tertarik padaku?"
"Diusiaku yang sudah segini aku tidak tertarik lagi dengan laki-laki tampan, aku tertarik dengan laki-laki mapan." katanya.
Entah kenapa jawabannya membuatku kecewa. "Bagaimana kalau tampan dan mapan. Kamu tidak lupakan kalau aku calon dokter?"
"Ya... cukup menggoda." katanya.
Setelah selesai makan, aku pun menemaninya untuk membeli martabak dan setelah itu kami pulang karena dia bilang masih banyak pekerjaan.
"Boleh aku mampir ke tempatmu sebentar." kataku saat kami sampai di flatnya.
"Sudah aku bilang, aku banyak pekerjaan."
"Aku tidak akan mengganggumu, janji." paksaku.
Diapun mengizinkanku masuk. Dia pergi ke kamarnya sedangkan aku menunggunya duduk di sofa. Tak berapa lama dia kembali dengan laptop di tangannya.
Dia pun membuka laptop dan mulai bekerja. Aku mendekatinya. Sepertinya dia sedang menggambar sesuatu.
"Kamu seorang arsitek?" tanyaku setelah tau apa yang dia kerjakan.
"Ya." jawabnya.
"Itu desain yang sangat bagus."
"Terima kasih tapi ini belum selesai."
Dia sangat serius mengerjakan pekerjaannya. Aku memandangnya. Dia benar-benar sangat cantik dan membuatku berfikir untuk menciumnya. Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya dan diapun menoleh memandangku.
"Mau apa?"
"Menciummu." jawabku jujur.
"Hanya karena kamu tampan, kamu fikir bisa mencium wanita manapun yang kamu mau?"
"Ya, biasanya mereka tidak akan keberatan." kataku sombong.
Dia diam sejenak. "Awalnya aku fikir kamu lelaki baik."
Bagus sekali sekarang dia marah padaku. Kebodohan apa yang sudah aku lakukan.
"Maaf." kataku menjauhinya.
"Pulanglah, aku benar-benar harus menyelesaikan pekerjaanku malam ini." katanya kemudian.
Aku beranjak dari tempat duduk. "Sekali lagi aku minta maaf." kataku sebelum pergi tapi dia hanya diam.
Aku terus saja menyesali kebodohanku. Aku lupa kalau dia gadis dewasa, dia pasti berfikir aku merendahkannya.
Pagi harinya seperti biasa dia berada di samping lift. Aku merasa bingung bagaimana harus bersikap. Aku takut dia masih marah padaku.
"Aku fikir kamu sudah berangkat." kataku berbasa-basi.
"Aku sengaja menunggumu." katanya.
"Kenapa?" tanyaku khawatir.
"Aku fikir aku bersikap berlebihan semalam. Tidak seharusnya aku marah karena masalah seperti itu, aku minta maaf." katanya. "Kamu tau, kadang banyak pekerjaan membuatku sedikit stres."
"Tidak, memang aku yang salah." sahutku cepat. "Aku telah bersikap kurang ajar padamu."
Dia tersenyum dan kamipun hanya diam di dalam lift. Aku rasa kejadian semalam telah membuat kami berdua menjadi canggung.
* * *
Seminggu telah berlalu setelah kejadian itu dan kami sudah bisa bersikap normal kembali.
Tapi suatu malam di saat kami makan malam bersama, dia mengatakan sesuatu yang sangat membuatku kecewa.
"Lusa mungkin aku akan pindah dari sini."
"Kenapa pindah?" kataku terkejut.
"Karena apartemenku sudah selesai di renovasi, jadi aku akan kembali ke sana."
"Kenapa harus kembali ke sana, kenapa tidak tinggal di sini saja?"
"Karena di sana aku membeli apartemennya dan di sini cuma menyewa." jawabnya.
"Kalau begitu di mana apartemenmu itu?"
"Jauh dari sini." katanya seolah-olah keberatan jika aku tau tempat tinggalnya.
"Kamu tidak mau aku tau di mana tempat tinggalmu yang baru?"
"Bukan begitu, hanya saja... apa kamu sudah selesai makannya? Ayo kita pulang, ini sudah malam." katanya mengalihkan pembicaraan.
Sepanjang perjalanan ke apartemen, kami hanya diam. Aku benar-benar kecewa dia tidak mau memberitahu alamat tempat tinggalnya yang baru.
"Aku duluan." katanya keluar dari lift.
Aku mengejarnya. Jika aku ingin mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya, hanya inilah kesempatanku sebelum dia benar-benar pergi.
"Aku menyukaimu." kataku yang membuatnya berhenti. "Bisakah kamu memberitahu di mana tempat tinggalmu yang baru, agar kita bisa tetap berhubungan?"
Dia berbalik dan memandangku. "Kamu lupa berapa usiaku?"
"Aku tidak peduli soal usia."
"Tapi aku peduli. Aku tidak mau berhububgan dengan laki-laki yang usianya jauh lebih muda dariku."
"Kenapa? Apa salahnya?" kataku.
"Karena suatu hari nanti kamu akan menyesal dan meninggalkanku."
"Aku tidak akan menyesal dan aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu tau, aku laki-laki yang tidak mudah jatuh cinta. Jika aku sudah mencintai seseorang, aku akan mencintainya selamanya."
"Kalau begitu aku merasa kasian padamu." sahutnya.
"Kenapa?"
"Coba lihat dirimu. Kamu muda, tampan dan masa depanmu cerah. Kamu bisa memilih wanita yang jauh lebih baik daripada aku."
"Tapi aku tidak mau wanita lain, aku mau kamu."
"Tapi aku tidak bisa menerimamu."
Dia berjalan menuju flatnya dan aku tetap mengikutinya.
"Apa kamu tidak menyukaiku?" tanyaku.
"Bohong jika aku bilang tidak." jawabnya.
"Lalu kenapa? Karena usia lagi? Sudah aku bilang aku tidak peduli soal usia." Aku berdiri dihadapannya.
"Seharusnya kamu tidak memaksa jika ada wanita yang menolakmu, kamu harus menghargai keputusannya." katanya yang membuatku terdiam.
"Suatu hari nanti, di saat kamu menemukan wanita yang lebih baik dariku, kamu akan berterima kasih padaku. Kamu akan bilang "wah... untung aku tidak dengan wanita tua itu. Wah... untung dia menolakku."" katanya lagi.
"Aku tidak akan pernah bilang begitu." sahutku.
"Kamu pasti akan bilang begitu, percayalah padaku. Aku lakukan ini demi kebaikanmu, agar kamu tidak menyesal di kemudian hari."
Aku terdiam mendengar kata-katanya dan merasa sangat sedih.
Dia memandangku dan kemudian menepuk-nepuk bahuku. "Tidak apa-apa. Awalnya memang sakit, tapi sebentar lagi kamu pasti akan bisa melupakanku."
Dia berlalu meninggalkanku sendirian di lorong itu.
* * *
Delapan tahun telah berlalu sejak kejadian itu. Ternyata dia bohong padaku.
Boro-boro aku bisa melupakannya, aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkannya.
Boro-boro aku bisa dapat wanita yang lebih baik darinya, aku bahkan tidak tertarik dengan wanita lain.
Ya aku benar-benar menyesal, benar-benar menyesal karena waktu itu membiarkannya pergi. Seharusnya aku memegangnya kuat dan tidak melepaskannya. Wanita itu benar-benar telah membuatku gila.
"Dok, waktunya memeriksa pasien." terdengar suara perawat dari pintu ruanganku. Aku rasa aku harus melupakan wanita jahat itu untuk beberapa saat.
Aku berjalan melewati lorong rumah sakit menuju kamar pasienku.
"Bagaimana keadaan bapak hari ini?" tanyaku pada pasienku.
"Saya merasa sehat dok." jawabnya.
"Kalau begitu, saya periksa dulu ya pak."
Di saat aku sedang memeriksa pasien tersebut, aku mendengar dua orang perawat sedang membicarakan sesuatu di belakangku.
"Aku rasa menjadi awet muda itu memang sebuah anugerah." kata seorang perawat.
"Aku bahkan sempat memarahinya karena aku fikir dia bermain-main di lokasi pembangunan." tambah perawat yang lain.
Aku mendekati dua perawat tersebut setelah selesai memeriksa pasienku. "Bukankah sebaiknya kalian bekerja, kenapa kalian malah bergosip?"
"Ini juga sambil kerja kok dok." jawab mereka.
"Kali ini apa yang kalian gosipkan hah."
"Tenang saja, kali ini kami tidak menggosipkan dokter kok." kata mereka sambil tertawa.
"Jadi selama ini kalian menggosipkanku?"
"Tepat sekali." kata mereka yang lagi-lagi tertawa.
"Itu dok, kami sedang membicarakan arsitek yang sedang mengerjakan rumah sakit baru kita. Usianya sudah 38 tahun tapi masih seperti anak belasan tahun."
"Laki-laki apa perempuan." tanyaku.
"Perempuan dok."
"Kalau begitu sebaiknya kalian tanya produk apa yang dia pakai, coba lihat wajah kalian sudah banyak keriputnya." kataku.
"Dokter ini!" teriak mereka marah.
Aku berjalan berniat kembali ke ruanganku. Tapi aku tiba-tiba tersadar. Arsitek 38 tahun, seperti remaja, mungkinkah.
"Di mana kalian melihatnya?" tanyaku pada perawat tadi.
"Siapa?" kata perawat itu.
"Arsitek tadi."
"Di lokasi pembangunan."
Aku segera berlari keluar dari rumah sakit seperti sedang mendapat pasien gawat darurat. Jika memang itu dia. Jika memang itu Kyara, aku akan menjitak kepalanya dengan sangat kuat.
Aku melihat kanan kiri mencarinya.
"Maaf pak, arsiteknya di mana?" tanyaku pada seorang pekerja.
"Tadi dia ada di sana." jawab laki-laki itu menunjuk suatu tempat.
"Namanya siapa?" tanyaku lagi.
"Ibu Kyara."
Aku tersenyum mendengar jawaban dari bapak itu. Jadi ternyata memang dia.
Aku berjalan menuju tempat yang di tunjuk bapak itu. Di sana aku melihat seorang wanita sedang berbicara dengan seorang laki-laki.
"Kamu bohong padaku!" teriakku yang membuat Kyara dan pekerjanya menoleh.
Kyara sangat terkejut saat melihatku.
"Kamu bohong padaku!" teriakku lagi karena kesal.
"Bapak bisa lanjutkan pekerjaan bapak." kata Kyara pada pekerjanya.
Dia pun mendekatiku.
"Kamu kerja di si... Aw..." Aku menjitak kepalanya sebelum dia sempat menyelesaikan kalimatnya dan langsung memeluknya.
"Apa yang kamu lakukan, lepaskan aku." katanya mencoba melepas pelukanku, tapi aku memeluknya semakin erat.
"Kamu bilang aku akan melupakanmu tapi ternyata tidak, aku sama sekali tidak bisa melupakanmu. Kamu bilang aku akan dapat wanita yang lebih baik darimu tapi ternyata tidak, aku bahkan tidak tertarik dengan wanita lain selain kamu. Kamu bohong padaku, kamu seorang pembohong."
"Baiklah, bisakah kamu melepaskan pelukanmu atau kamu memang berusaha meremukkan badanku." katanya yang membuatku melepas pelukanku.
"Oh ya ampun sakit." katanya memegang bahunya. "Jadi kamu kerja di sini, kamu sekarang sudah jadi seorang dokter?"
"Gak usah sok manis kamu." jawabku kesal.
"Jadi kamu belum bisa melupakanku?"
"Benar."
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.
"Kamu harus menikah denganku, tidak ada alasan lagi kali ini."
"Aku 38 tahun, apa yang membuatmu berfikir aku belum menikah?"
Jawaban Kyara benar-benar membuatku sangat terpukul.
"Jadi kamu sudah menikah?" tanyaku dan dia mengangguk.
Aku diam dan menunduk. Delapan tahun aku menunggunya, delapan tahun aku mencarinya dan ternyata dia sudah menikah. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang.
Dia memandangku. "Apa kamu menangis?"
Aku diam saja mendengar pertanyaannya karena aku memang menangis.
"Hey sudahlah jangan menangis. Aku bohong padamu, aku belum menikah."
Aku memandangnya. "Apa kamu senang mempermainkanku?"
"Sedikit."
"Ayo." kataku menarik tangannya.
"Ke mana?"
"Menikah." jawabku.
"Apa kamu bodoh, aku tidak mau menikah denganmu."
"Aku tidak peduli."
"Apa kamu lupa berapa usiaku?"
"Diamlah! sekali lagi kamu bicara soal usia, aku akan menjitakmu." kataku.
"Hey anak muda, bicaralah yang sopan dengan orang yang lebih tua darimu dan lepaskan aku."
Kali ini aku tidak akan melepaskannya.
Tidak akan melepaskan gadis kecilku lagi.
*Tamat*
(Baca juga novelku yang berjudul "HATRED" trims)