Orang-orang bilang, ulang tahun ke-17 merupakan sesuatu yang spesial.
Banyak orang pula yang sengaja merayakannya dengan sangat meriah.
Aku tidak tahu kenapa mereka melakukan hal itu.
Sampai akhirnya pertanyaan tersebut terjawab.
Setelah aku pindah ke kota ini.
"Tadaa! Bagaimana rumah baru kita? Bagus, kan?"
Ayah sangat bersemangat saat menunjukkan bangunan megah yang mulai hari ini akan menjadi kediaman baru kami. Tidak bisa kupungkiri bahwa rumah ini bagus sekali. Tampak lebih mewah jika dibandingkan dengan rumah lama kami di kota sebelumnya. Mata ibu dan adik perempuanku tampak berbinar-binar, seakan baru saja menemukan harta karun yang sangat banyak. Sementara aku sendiri bingung harus berekspresi seperti apa. Sampai akhirnya hanya bisa terdiam sembari menatap rumah yang sebenarnya terlalu besar jika untuk keluarga dengan anggota empat orang saja.
"Bagaimana menurutmu, Ratna?" akhirnya ayah bertanya langsung padaku. Mungkin dia bingung kenapa aku terlihat aneh.
"Bagus sekali, Yah. Aku sampai bingung harus berkomentar seperti apa," jawabku sembari tersenyum. Tidak ingin mengecewakan ayah yang sudah pasti ingin membahagiakan keluarganya.
"Cepat kamu pilih kamar sebelum didahului Rini!" bisiknya sembari sedikit tertawa. "Jangan sampai kalian bertengkar ya!"
Aku sedikit cemberut mendengar perkataan ayah. "Duh, aku kan bukan anak kecil lagi, Yah! Beberapa hari lagi aku akan ulang tahun ke tujuh belas, lho! Tujuh belas!" protesku.
Ayah hanya tertawa, masih saja menganggapku adalah gadis kecilnya. Meski memang dulu aku sering bertengkar hingga menangis dengan Rini, tapi itu pun berakhir lima tahun lalu.
Akhirnya aku pun memilih kamar di lantai dua. Berhadap-hadapan dengan kamar adik yang jaraknya cukup jauh. Sebenarnya aku ingin memilih tempat tidur di lantai bawah saja. Tapi, ibu bilang ada banyak kamar kosong di atas dan kasihan jika adikku yang baru akan masuk SMP itu harus tidur sendiri di lantai atas. Jadi, sebagai kakak yang baik, aku pun menurut.
Sehari setelah pindah rumah, aku segera mengurus kepindahan sekolahku bersama ibu. Sementara ayah mengantar adik ke SMP yang arahnya berlawanan dengan sekolahku. Kota ini benar-benar terasa asing karena letaknya yang sangat jauh dari kota lama tempat tinggalku sebelumnya. Jadi, kemungkinan akan bertemu orang yang dikenal pun sangat kecil.
Aku bukanlah orang yang terlalu supel. Namun bukan juga orang yang terlalu pendiam. Hanya saja, saat ini aku masih malas memulai percakapan dengan teman-teman baruku. Mungkin efek karena baru saja berpisah dengan para sahabat yang menangisi kepindahanku. Akhirnya aku memilih untuk sendiri dan menunggu hingga ada yang mau menyapa lebih dulu.
"Keberatan kalau aku temani makan?" Seorang anak perempuan berkepang mendatangiku yang sedang duduk sendiri di kantin.
"Oh, tidak. Silahkan."
"Terima kasih." Perempuan itu pun segera duduk di kursi yang berhadapan denganku. "Namaku Lissa."
"Aku Ratna."
"Aku tahu, kok. Kamu kan sudah memperkenalkan diri di kelas."
"Iya juga ya."
Lisa pun tertawa dengan manis. Kuperhatikan penampilan Lissa sangat sederhana, bahkan sedikit ketinggalan jaman karena menggunakan baju yang mungkin pemberian ibunya. Tapi wajahnya sangat cantik. Bisa jadi dia adalah idola dari anak-anak di sekolah. Meski sedikit aneh karena aku tidak melihat dia datang bersama temannya.
"Kapan kamu pindah ke sini?"
"Baru saja kemarin. Kalau boleh tahu, kamu asli orang sini?"
"Iya, benar. Aku sejak kecil tinggal di kota ini, kok."
"Wah, kalau begitu kamu bisa menjadi guide-ku untuk berkeliling di sekitar sini, dong?"
"Tentu saja!" Lissa tampak semakin gembira setelah kuajak mengobrol. Kupikir tidak buruk juga jika mencoba untuk berteman dengannya. Sepertinya dia orang baik.
Akhirnya makan siang pertamaku di sekolah baru tidak terasa sepi berkat seorang kawan baru yang menemani. Kami banyak sekali mengobrol terutama tentang kota tempatku tinggal sekarang. Beruntungnya Lissa pintar sekali dan tahu banyak hal. Aku merasa nyaman mengobrol dengannya.
"Hey, Ratna!" Tiba-tiba seorang perempuan berambut pendek menyapaku. Di belakangnya terlihat dua orang anak perempuan lain yang sudah pasti kawan satu genk-nya.
"Ya?" jawabku singkat.
"Kebetulan sekali lho kamu pindah ke sini sekarang."
"Hm... memangnya kenapa?"
"Karena besok aku akan mengadakan pesta ulang tahun ke tujuh belas! Anak-anak kelas di undang, kok. Jadi kamu juga harus datang ya! Bye!" Dan dia pun pergi begitu saja. Bahkan aku belum tahu namanya siapa.
"Barusan itu siapa ya?" tanyaku pada Lissa.
"Sandra."
"Oh... Kamu akan datang ke pestanya juga?"
Lissa menggeleng. "Entah lah."
Aku sedikit menangkap perasaan tidak enak sejak kedatangan Sandra barusan. Entah kenapa ekspresi wajah Lissa mendadak berubah. Kini dia tidak terlihat seceria sebelumnya. Tapi jika diingat-ingat, Sandra tidak memandangnya sama sekali. Sepertinya aku mencium adanya hawa-hawa perundungan di sini. Jika dikaitkan dengan penampilan Lissa dan kenapa dia tidak terlihat punya teman, rasanya semua masuk akal.
"Kalau begitu, kamu temani aku datang ke pestanya Sandra ya! Pasti menyenangkan sekali!" ajakku dengan semangat. Tapi tidak kudapatkan reaksi yang baik.
"Terima kasih, Ratna. Tapi... aku tidak terlalu suka pesta ulang tahun. Apalagi nanti itu pesta ulang tahunnya yang ketujuh belas."
"Lho, memangnya kenapa?"
Aku tidak bisa untuk tidak merasa penasaran. Tapi Lissa tampak enggan untuk bercerita. Karena aku merupakan orang yang mudah penasaran, jadi aku tidak puas jika belum menemukan jawaban yang kucari. Jadi, mati-matian kupaksa Lissa hingga akhirnya dia mau berbicara. Meski aku merasa sedikit menyesal setelah mendengarnya.
"Aku khawatir kamu akan menganggapku konyol setelah mendengar cerita ini. Tapi, keluargaku semuanya pemercaya hal-hal yang mungkin hanya dianggap isapan jempol oleh orang lain. Semua cerita yang aku dengar selalu diceritakan turun-temurun dari ibu, nenek, dan orang-orang sebelum mereka."
"Lalu, apa hubungannya dengan pesta ulang tahun?" tanyaku tak sabar.
"Ada sebuah mitos yang tersebar di kota ini tentang ulang tahun ke tujuh belas. Kamu pasti sering dengar banyak orang merayakan ulang tahun ke tujuh belasnya dengan sangat meriah. Tapi apakah kamu tahu alasannya?"
Aku menggeleng dengan cepat. "Tidak."
"Karena perayaan itu sebenarnya merupakan bentuk rasa syukur karena mereka masih bisa selamat dan merasakan hidup di tahun ke tujuh belas."
"Tunggu, tunggu! Selamat dari apa?"
"Jadi, dulu sekali ada seorang gadis yang meninggal di ulang tahun ke tujuh belasnya setelah meninggalkan kutukan di kota ini. Selama hidupnya dia selalu dijahili dan disiksa oleh orang-orang yang tidak menyukainya, karena sang ibu hanyalah seorang wanita yang bekerja dengan badannya. Ya... kamu pasti mengerti, kan?" Aku mengangguk. "Karena tidak tahan menghadapi semua itu, dia memutuskan untuk bunuh diri. Sebelum itu dia sempat bersumpah akan membuat semua anak perempuan yang berumur tujuh belas tahun tidak bisa merasakan hidup lebih lama lagi, dalam arti lain mati."
Aku menelan ludah mendengar cerita Lissa yang sedikit menyeramkan. "La-lalu, memangnya hal itu jadi kenyataan di kota ini? Sepertinya jika memang benar, semua orang sudah pergi dari sini."
"Tapi aku sering sekali mendapatkan berita tentang anak perempuan yang meninggal di hari ulang tahunnya!"
"Tidak mungkin! Semua orang pasti merasa aneh dan takut. Tapi kenapa Sandra sendiri justru masih bisa tenang mengadakan pesta jika memang semua tahu ada mitos seperti itu?"
"Karena orang-orang yang 'selamat' dan masih bisa hidup setelah hari ulang tahunnya akan melupakan hari di mana nyawanya dipertaruhkan. Jadi malam sebelum pukul dua belas di satu hari sebelum hari ulang tahun merupakan waktu yang berbahaya bagi semua anak perempuan kota ini. Beruntung tampaknya masih banyak yang selamat dari 'malam itu'."
Aku menggeleng-geleng tidak percaya. Tapi semua membuatku sedikit merinding. "Lalu kamu sendiri bagaimana? Kamu sudah tujuh belas tahun?" Aku jadi penasaran. Jangan-jangan Lissa ingat malam sebelum ulang tahunnya.
"Sudah. Lima bulan yang lalu. Tapi aku tidak ingat apa pun di malam itu. Hanya saja, aku masih ingat benar seluruh tubuhku sakit dan pergelangan tanganku memerah saat aku baru bangun dari tidur. Aku hanya berpikir mungkin aku menjadi salah satu orang yang beruntung dapat selamat."
Kini aku tenggelam dalam pikiranku sendiri. Aku bisa saja mengabaikan cerita itu, kalau saja aku sudah berumur tujuh belas tahun. Tapi... umurku baru saja akan bertambah di minggu depan. Hal itu yang membuatku mulai tidak bisa merasa tenang. Apa lebih baik kulupakan saja semua mitos itu?
"Kamu baik-baik saja, Ratna? Wajahmu pucat."
"Ah, i-iya. Maaf aku jadi melamun."
Lissa tampaknya sadar ada sesuatu yang aneh padaku. "Apa jangan-jangan kamu belum berumur tujuh belas ya?"
"Sebenarnya minggu depan aku baru saja akan berulang tahun ke tujuh belas, haha." Kucoba untuk mencairkan suasana dengan tertawa. Tapi sepertinya gagal.
"Kudoakan agar kamu selamat ya."
"Terima kasih, Lissa."
Hari pertama bersekolah akhirnya memberikan pengalaman baru bagiku. Ya, pengalaman yang membuatku jadi tidak bisa merasa tenang semalaman. Aku terus memikirkan cerita Lissa. Aku tidak peduli jika ternyata cerita itu memang benar-benar hanya mitos. Tapi bagaimana jika sebaliknya? Aku jadi berharap ingin kembali ke rumah lamaku.
Pagi hari, mentari membangunkanku dengan sinarnya yang menyelinap dari celah tirai. Aku terbangun dengan perasaan lebih tenang dari semalam. Semua yang terjadi hari kemarin seakan hilang begitu saja. Aku pun berdoa agar hari ini bisa menjadi hari yang lebih menyenangkan. Apalagi nanti sore akan pergi berpesta di tempat Sandra.
Kupergi ke sekolah dengan penuh semangat. Aku tidak ingin tampak murung meski masih merindukan teman-teman lamaku. Jika saja aku sedih, pasti ayah dan ibu pun akan ikut sedih. Jadi aku tidak mau membuat mereka merasa seperti itu.
Kupikir hari ini akan menjadi hari yang cerah pula. Tapi, semua itu berubah saat aku baru saja melangkahkan kaki masuk ke dalam kelas. Entah kenapa aura di dalam kelas terasa kelam. Aku berharap tidak ada hal buruk yang terjadi. Tapi semua firasatku ternyata menjadi kenyataan.
"Ada apa, Lis?" tanyaku pada Lissa yang duduk di bangku paling belakang.
"Sandra..." ucapnya sembari berbisik. "Masuk rumah sakit."
"Hah! Kenapa bisa?"
"Mereka bilang karena asmanya kambuh semalam. Tapi... aku pikir karena hal lain..."
Aku mengerti benar apa yang Lissa maksud. Padahal aku berharap dia tidak mengingatkanku tentang hal itu. Karena berita buruk di pagi ini, aku jadi semakin merasa tidak enak dan tidak bisa mengabaikan mitos yang kemarin baru kudengar.
'Sebenarnya apa yang terjadi pada Sandra?' pikirku dalam hati. Selama pelajaran berlangsung aku bahkan tidak menangkap satu pun yang dijelaskan oleh guru. Kepalaku terlanjur penuh dengan hal lain.
Aku berusaha untuk tidak terlalu menghubung-hubungkan apa yang terjadi pada Sandra dengan mitos yang ada. Tapi semakin berusaha kubuang dari dalam kepala, semakin sering hal itu membuatku merasa tidak tenang. Apalagi saat kutahu jarak dengan waktu ulang tahunku hanya tinggal tiga hari lagi. Aku ingin sekali kabur untuk beberapa hari ke depan. Tapi tidak mungkin kulakukan karena hal itu hanya akan membuat ayah dan ibu merasa cemas.
Akhirnya aku memantapkan niat. Dibandingkan merasa cemas berlebihan yang menyiksaku perlahan, aku memilih untuk mempercepat hingga melewati waktu pertambahan umurku. Aku meyakinkan hati bahwa apa pun yang terjadi, aku pasti bisa melewatinya.
Setidaknya aku sempat merasa sangat yakin hingga tibalah hari di mana besok adalah saat yang aku tunggu-tunggu. Aku sudah tidak sabar menikmati sinar mentari di hari ulang tahunku besok.
***
Sejak berangkat sekolah di pagi ini, aku terus waspada. Aku tidak ingin lalai dan membuat diriku terluka. Di sekolah pun aku memilih untuk tidak jajan dan membawa bekal dari rumah. Pulang sekolah, aku meminta untuk dijemput ayah dengan alasan kebetulan ayah pulang cepat hari ini. Hingga sampai di rumah aku merasa semua berjalan dengan baik. Mungkin aku yang terlalu berpikir berlebihan.
Malam hari pun tiba. Aku makan malam seperti biasanya bersama ayah, ibu dan adik. Tidak ada yang aneh. Aku merasa sedikit lega karena bisa segera tidur dan melewati hari penuh ketegangan ini. Bahkan diam-diam kumakan sebutir pil tidur agar bisa lekas terlelap.
Obat tidur pun bekerja dengan baik. Jam sembilan aku sudah mulai menguap dan memilih untuk merebahkan diri di atas kasur. Aku sudah bersiap untuk beristirahat dan merasa bersyukur karena sepertinya hari esok akan datang dengan cepat.
Akan tetapi... baru saja semenit rasanya kumemejamkan mata, kurasakan kasurku bergetar dan bergoyang-goyang semakin kencang. Aku segera terbangun karena tersadar sedang ada gempa. Spontan kumemanggil ayah dan ibu tanpa beranjak dari tempat tidur. Tapi tentu saja mereka tidak akan mendengarnya.
Gempa masih belum berhenti, aku memilih untuk segera keluar dari kamar dan menuju kamar adik. Tapi pintunya terkunci dan tampaknya dia tidur dengan pulas. Segera kumenuju ke lantai satu untuk membangunkan ayah dan ibu. Tapi pintu kamarnya sama-sama terkunci.
Baru kali ini kurasakan gempa yang sangat hebat dan lama sekali. Aku terperanjat kala lukisan yang tergantung mulai berjatuhan. Aku semakin keras menggedor kamar ayah dan ibu. Tapi tidak ada jawaban dari dalam sana.
Sesaat mataku menangkap adanya retakan pada tembok rumah. Benda itu semakin lama semakin panjang dan menjalar ke mana-mana. Sebuah pilar di dekatku sampai roboh dibuatnya. Aku spontan berteriak sembari berusaha menghindar.
Kini aku bingung harus melakukan apa. Akhirnya kuberlari ke luar rumah untuk mencari bantuan. Namun lagi-lagi aku dikejutkan oleh sesuatu. Saat baru saja kubuka pintu, balon warna-warni langsung menyerbu ke arahku. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, yang jelas aku baru kali ini terkejut oleh sebuah balon. Tidak, bukan sebuah, mungkin jumlahnya ratusan. Kulihat di depan rumahku yang temaram menjadi terasa semakin mencekam dengan kabut yang muncul. Setelah melihat semua itu, aku memilih untuk kembali masuk ke dalam rumah. Tapi, aku tidak bisa menemukan pintu yang seharusnya berada di belakangku! Bahkan rumahku pun menghilang begitu saja! Bagaimana bisa?!
"Ratna..."
Tubuhku sedikit meloncat karena mendengar suara yang memanggil namaku dari arah belakang. Kulihat ada seseorang tak jauh dari sana. Laki-laki. Tapi tak jelas sosoknya karena kabut yang cukup tebal.
"Besok kamu akan berulang tahun yang ke tujuh belas. Itu berarti waktumu untuk hidup di dunia sudah habis!"
Aku langsung berteriak seram. Kini dapat kulihat sosok seorang badut yang menyeramkan di balik kabut. Dia berusaha untuk menarik tanganku. Untung saja tubuhku bereaksi dengan cepat dan langsung mundur meski harus terjatuh.
"Kau mau ke mana, Ratna?" kini suara badut tadi berubah menjadi suara anak perempuan. Aku masih belum bisa melihat sosoknya.
"Siapa kamu? Jangan ganggu aku!" teriakku.
"Aku tidak mengganggu. Justru aku ingin berteman denganmu. Dengan begitu kita bisa bermain bersama... selamanya..."
"Aku tidak mau! Bahkan aku tidak tahu siapa kamu!"
"Kalau begitu ayo kita berkenalan."
Sosok perempuan yang sedari tadi berbicara mendadak muncul di depanku. Dia menyodorkan tangan kanan seakan ingin mengajak bersalaman. Tapi aku tidak mempedulikannya. Karena pandanganku langsung tercuri oleh wajahnya yang memerah. Maksudku, aku tidak bisa melihat wajahnya di sana karena yang terlihat hanyalah daging merah, seakan wajahnya disayat hingga tidak tersisa.
Tentu saja aku kembali berteriak dan berusaha menghindar. Tapi sosok menyeramkan tadi seakan bisa mengikutiku kemana saja. Setidaknya aku tidak ingin berhenti berusaha. Aku terus berlari meski tidak tahu kemana arah tujuanku. Kabut tidak membuatku bisa melihat dengan jelas. Akibatnya, aku terpaksa harus berhenti karena menabrak sebuah pohon besar.
Tubuhku ambruk di atas tanah. Kepalaku pusing sekali. Bahkan mataku kini berkunang-kunang. Aku berusaha bangkit tapi masih belum bisa. Akhirnya kusandarkan tubuh pada pohon yang kutabrak barusan, sambil memandangi sosok yang berjalan dengan sangat pelan.
"Kenapa? Kenapa kamu lari dariku?"
"Tolong!" teriakku entah kepada siapa. "Siapa pun tolong aku!" Tak terasa air mataku mulai menetes.
"Kamu bicara kepada siapa? Tidak akan ada yang menolongmu. Memangnya siapa yang peduli padamu? Ayo ikutlah denganku. Tidak ada orang yang menginginkanmu di dunia ini. Mereka hanya tersenyum di hadapanmu saja, padahal sebenarnya tidak ada yang membutuhkanmu. Tidak akan ada yang berharap untuk bertemu denganmu lagi meski kamu menghilang dari sini."
Mendengar perkataan sosok perempuan itu barusan, perasaan takut perlahan menghilang. Entah kenapa justru aku merasa iba padanya. Aku memang tidak bisa melihat wajah perempuan itu karena sudah rusak. Tapi kupikir sekarang dia mungkin sedang memasang wajah sedih karena kata-katanya terdengar sangat kesepian...
"Kau salah. Kata-kata itu mungkin hanya curahan dari apa yang kau rasakan. Tapi tidak begitu denganku, karena masih banyak orang yang membutuhkanku di dunia ini! Keluarga yang selalu berusaha untuk tersenyum untukku, dan para sahabat yang menangis saat kepergianku. Itu semua cukup untuk membuktikan bahwa masih ada orang yang bahagia karena kehadiranku!"
Aku lekas berdiri. Kini aku berani menatap ke arah gadis yang sudah tidak tampak menyeramkan itu. Aku tahu ketakutan hanyalah sebuah perasaan yang muncul saat kita tidak ingat bahwa di sisi lain kita mempunyai keberanian.
Kini si perempuan tidak berwajah terus berdiri mematung. Aku tidak tahu apa yang dia inginkan.
"Apa kamu yang selama ini terus menghantui para gadis yang akan berumur tujuh belas tahun? Tolong hentikan! Jika memang kamu memiliki masalah, tolong jangan bawa-bawa orang lain untuk merasakan penderitaanmu juga! Sudah berapa banyak nyawa yang kau ambil? Apa itu semua masih belum cukup?!"
Tidak sengaja emosiku sedikit naik. Tapi kini perasaan takut justru berubah menjadi marah. Aku tidak suka kepada makhluk apa pun itu yang sudah merusak hari yang seharusnya menjadi spesial bagi semua remaja. Tapi karena dia, banyak yang harus bernasib sama dengan Sandra. Bahkan lebih parah.
Karena tidak mendapatkan respons apa pun, aku pun memilih untuk pergi menjauh. Kuberjalan dengan cepat menuju cahaya yang mulai terlihat. Tapi, lama-kelamaan kakiku terasa berat. Mataku pun semakin mengantuk. Sepertinya efek dari obat tidur yang kuminum kembali bekerja. Tubuhku pun jadi semakin sulit digerakkan hingga akhirnya aku kembali terjatuh. Aku masih berusaha merondang, tapi kaki dan tanganku terasa lemas. Akhirnya tubuhku hanya bisa terkulai di atas tanah. Pandanganku mulai kabur, tapi masih bisa kutangkap sosok perempuan tak berwajah tadi yang semakin mendekat. Bahkan kini kulihat sesuatu dalam genggamannya. Sebuah pisau besar yang mulai dia acungkan ke udara.
Kata-kataku kini tertahan di tenggorokan, sudah tak sanggup lagi mengucapkan apa-apa. Hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi setelah ini.
"Selamat tinggal, Ratna," ucap perempuan itu terakhir kalinya. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan karena memilih untuk memejamkan mata. Kalaupun aku harus mati, setidaknya aku tidak ingin hidup ini berakhir dengan penyesalan. Setidaknya pula selama ini aku hidup di tengah orang-orang yang menyayangiku. Dan aku harus merasa bahagia dengan semua itu.
"Selamat ulang tahun!"
Baru kali ini aku terjaga dengan perasaan terkejut. Bagaimana tidak? Hari masih gelap tapi ayah, ibu dan Rini tiba-tiba berteriak di samping kasur. Dadaku masih berdebar-debar, dan keringat mengalir di dahiku. Aku merasa masih belum tersadar sepenuhnya dari mimpi buruk yang kulihat semalam.
"Kaget ya, Kak?" tanya Rini sembari tertawa.
"Wah wah, wajahmu sampai pucat begitu," ucap ibu sembari mengelus dahiku yang tertutupi poni.
Aku sedikit mengaduh karena tangan ibu membuat dahiku sakit. "Aw!"
"Lho, dahimu kenapa? Kok, memar seperti itu?"
"Hah? Eng... tidak tahu, Bu."
"Sudah-sudah, ayo kita tiup lilin lalu makan kuenya!" ajak ayah dengan sedikit buru-buru. Wajar saja karena hari ini dia harus pergi ke kantor lebih pagi, jadi pastilah itu kenapa mereka memilih untuk membangunkanku sepagi ini.
Kusempatkan untuk melihat ke arah cermin. Ternyata memang benar, dahiku benjol dan tampak membiru. Sesaat kuteringat mimpi semalam dan kejadian saat aku sempat menabrak pohon. Tapi, jika memang benar memar ini karena hal itu... Apakah berarti yang kulihat tadi malam itu bukan mimpi?
Mataku segera melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul empat. Hal itu membuatku merasa jauh lebih tenang. Setidaknya aku sudah benar-benar terbangun dari mimpi buruk dan masih bisa merasakan nikmatnya hidup di hari ini. Aku pun tersenyum dan segera menyusul yang lain ke bawah. Menikmati kue ulang tahunku yang ke tujuh belas dengan keluarga yang sangat kusayangi.
Hari ini pun aku bersekolah seperti biasa. Ayah bertanya apakah aku ingin mengadakan pesta? Tapi aku menjawab tidak perlu dan hanya berpikir untuk mentraktir Lissa saja.
***
Langit tampak cerah seperti biasanya. Bahkan kurasa hari ini jauh lebih cerah dari sebelum-sebelumnya. Baru sekarang aku bisa sangat bersyukur dan menikmati hidup. Mungkin karena kejadian semalam juga. Aku jadi ingin cepat-cepat menceritakannya kepada Lissa. Hanya saja, sesampainya di kelas, aku masih belum melihat kehadiran sahabatku itu. Akhirnya kutanyakan pada seorang teman yang bernama Tio. Dia adalah ketua kelasku.
"Lissa belum datang ya? Padahal biasanya dia sampai pagi sekali," tanyaku.
Tio tidak langsung menjawab. Dia justru terdiam seakan kebingungan. "Lissa siapa?"
"Lissa teman sekelas kita, lah!"
"Memangnya di kelas kita ada yang namanya Lissa?"
"Kamu sedang bercanda ya?"
"Justru aku yang harusnya bertanya seperti itu. Aku tidak pernah dengar ada yang bernama Lissa. Kamu ini ada-ada saja. Mungkin kamu salah dengar nama."
Tio pun segera pergi ke luar kelas. Aku yang penasaran kembali bertanya kepada orang lain. Kini kepada salah satu teman Sandra yang bernama Tika. "Tika, kamu lihat Lissa, tidak?"
Lagi-lagi jawaban yang kudapat sama. "Lissa siapa?"
"Itu lho, anak perempuan yang selalu bersamaku. Waktu Sandra mengajakku ke pesta ulang tahunnya saat di kantin, aku sedang dengan Lissa."
"Seingatku, kamu sedang sendirian waktu itu."
"Hah? Kamu yakin?"
"Iya. Justru karena kamu sendiri, Sandra memutuskan untuk mendatangimu dan mengajak ngobrol."
Aku mendadak merasa sedikit seram. Bagaimana mungkin tidak ada yang tahu soal Lissa? Padahal sejak awal masuk sekolah dia selalu bersamaku! Aku jadi semakin tidak mengerti. Merasa bingung, dan seram.
"Ratna?" Tika menyadarkanku yang mendadak melamun.
"Eh, ya?"
"Memang yang kamu panggil Lissa itu seperti apa anaknya?"
"Eng? Apa? Lissa?"
"Iya, yang barusan kamu tanyakan."
"Eh... Memangnya aku tanya apa barusan? Hehe." Aku mendadak lupa apa yang baru saja aku bicarakan dengan Tika. Kenapa aku jadi merasa bingung sekarang?
"Lho, kamu ini bagaimana, sih!"
"Duh maaf ya, Tik. Kayaknya penyakit pikunku kambuh, nih."
Aku pun mengakhiri pembicaraan dan segera kembali ke tempat duduk. Kini aku jadi heran karena sepertinya ada hal yang kulupakan. Tapi berapa kalipun dipikirkan, aku tidak bisa mengingatnya. Apa mungkin memang tidak ada yang sedang aku pikirkan?
Kugaruk-garuk kepala hingga rambutku sedikit acak-acakan. Tapi, aku memilih untuk tidak memusingkan hal apa pun itu dan mulai fokus kepada pelajaran yang baru saja akan dimulai pak guru. Karena aku tidak ingin mendapatkan nilai jelek yang akan menghancurkan hari indah ini. Karena hari dimana kita berumur tujuh belas tahun hanya terjadi sekali seumur hidup. Mungkin karena itu juga banyak orang yang memilih untuk merayakannya.
'Kenapa aku tidak merayakannya juga ya?'
***
"Selamat datang murid baru!"
"Ah, terima kasih, Kak."
"Namamu siapa?"
"Rini, kak. Salam kenal ya."
"Sama-sama. Kalau boleh tahu, kok kamu memilih sekolah di sini?"
"Soalnya dulu kakaku juga sekolah di sini."
"Oiya? Memangnya nama kakakmu siapa?
"Ratna, Kak."
"Oh, Ratna ya? Aku tahu, Kok?"
"Oiya? Kakak kenalannya Kak Ratna ya? Kalau boleh tahu, nama kakak siapa?"
"Namaku Lissa. Salam kenal. Kalau nanti pulang, tolong titip salam pada kakakmu, ya."