Rasa sakit itu datang lagi, ia hinggap dan kembali memporak porandakan hatiku. Kekosongan yang sempat terisi kini terbuka kembali. Aku tak tahu apa penyebabnya sehingga berakibat sampai seperti ini. Malam yang dingin semakin menambah buruknya hatiku. Frustrasi, itulah yang aku rasakan. Rasa tertinggal dan sendirian mulai mendominasi perasaanku malam ini. Semilir angin menyentuh kulitku, menerbangkan helaian rambutku yang memang sengaja aku gerai. Akankah kau bisa merasakannya, apa kau mampu merasakan apa yang saat ini sedang aku rasakan? Kita memang terpisah oleh jarak, kita berada di tempat yang berbeda namun apakah memang hati kita juga berjarak layaknya fisik kita. Apakah kebersamaan kita dulu juga sudah mulai terhapus oleh waktu karena jarak tengah memisahkan kita? Atau apakah memori yang telah kita ukir bersama ikut tergerus dengan sang waktu?
Aku mulai ragu, kita tak sehangat dulu. Komunikasi yang dahulu kita junjung tinggi lambat laun mulai memudar. Kita telah terperangkap dalam kesibukan masing-masing dan saling mengabari jika sedang sempat dan ingat. Dulu, sehari tak memberi kabar rasanya berada dalam kesengsaraan yang besar namun tak mendasar. Tapi sekarang semua terasa baik-baik saja, kalimat seperti 'pasti dia sedang sibuk, aku tak ingin mengganggunya, nanti saja aku akan menghubunginya,' dan kalimat sejenis itu yang menjadi titik awal hancurnya komunikasi kita.
Tak ada benar dan salah di sini, aku hanya berbicara tentang apa yang sedang aku rasakan.
Apakah rasamu tetap kau tunjukkan untukku? Apakah hatimu tetap terpatri pada hatiku? Apakah kau masih membuat diriku menjadi salah satu dari prioritasmu? Apakah keberadaan diriku masih kau anggap penting? karena jujur, aku masih percaya bahwa kau akan memegang janji yang pernah kau ucapkan dulu, 'aku tak bisa menjanjikan kebahagian setiap waktu kepadamu, karena kita tahu, kehidupan tak selalu berjalan seperti yang kita inginkan, seburuk apapun kondisi kita nantinya, percayalah hal itu tak akan mengubah rasaku untukmu, karena kau adalah rumahku, kau adalah tujuanku.'
Aku menatap langit berbintang dari tempatku duduk, ayunan besi di halaman rumahku selalu menjadi tempatku menenangkan resahku. Ponsel yang aku letakkan di sampingku bergetar, memunculkan nama seseorang yang menjadi pusat keresahan hatiku.
"Hai" sapaku, sebulir air mata mampu kuloloskan tanpa sengaja.
"Hai, apa kau baik-baik saja? " Tanyanya. Suara yang entah kapan terakhir kali menyapa telingaku kini kembali terdengar. Semakin menyesakkan dadaku.
"Iya aku baik-baik saja." Jawabku berbohong.
"Berhentilah mengucapkan kebohongan, aku tau kau sedang tak baik-baik saja." Ia selalu tahu, lelakiku selalu tahu apa yang tengah kurasakan meskipun hanya mendengarkan suaraku.
"Bagaimana aku bisa baik-baik saja saat kau sama sekali tak memberikanku kabar?" Ujarku lemah.
Hening melingkupi percakapan kami.
"Maafkan aku" Ia kembali bersuara.
"Tak apa, aku yang salah di sini, aku yang tak mencoba menghubungi dirimu lebih dulu." jawabku mengalah.
"Aku juga bersalah di sini, seharusnya aku menghubungimu setidaknya sehari sekali, namun aku baru sadar, kita sudah lebih dari seminggu tidak berkomunikasi bahkan mengirim pesanpun tidak, jadi maafkan aku."
"Apa kau tahu, aku sempat meragukan kita, aku sempat meragukan keberadaanku dalam hidupmu, jika memang keraguanku itu benar, aku bisa menerimanya, aku tak apa, aku..."
"Ssstttt.... jangan dilanjutkan, jangan dilanjutkan karena kalimat tersebut hanya akan menyakiti kita, tak hanya kau saja yang sakit ketika mengucapkannya karena aku jauh lebih sakit karena mendengarkannya."
"Maafkan aku." ucapku menyesal.
"Ini sudah larut malam, hari baru saja berganti bukan?" ia mengalihkan pembicaraan.
"Iya, jam menunjukkan pukul 12 dan disana sudah jam 2 bukan?" Air mataku kembali lolos mengucapkan fakta itu. Jarak kami terlalu jauh, menghampirinya pun cukup sulit meskipun aku tahu itu bukan hal yang mustahil.
"He.em, apa kau sedang di kamar?"
"Tidak, aku sedang duduk di ayunan, perasaanku sangat berantakan tadi. Jadi aku memutuskan untuk keluar."
"Sendirian?"
"Iya, aku tak pergi jauh kok, hanya di halaman belakang."
"Kebiasaan, baiklah aku tak akan marah. Sekarang lihatlah langit, apa yang kau temukan?"
"Aku melihat langit yang gelap, bulan dan bintang-bintang." kudongakkan kepalaku sejenak. Menatap langit malam. Sesuai permintaannya.
"Bagaimana perasaanmu melihat hal itu? "
"Aku merasa tenang, melihatnya membuatku nyaman." -dan membuatku semakin rindu padamu. lanjutku dalam hati
"Bagaimana jika malam ini bulan dan bintang tak muncul, yang ada hanya langit gelap diselimuti mendung?"
"Entahlah, hanya memikirkannya saja membuat perasaanku buruk."
"Kau tak perlu takut, bulan tak akan meninggalkan bumi, bintang tak akan meninggalkan langitnya, mereka hanya bersembunyi, apa yang tak bisa kita lihat bukan berarti tak ada. mereka masih tetap pada tempatnya, tetap mendampingi."
Hatiku menghangat mendengar hal itu, air mataku kembali menetes, sekarang aku hanya ingin dia di sini, memelukku erat. Aku merindukannya. Aku semakin menundukkan kepalaku, menutup kedua mata menggunakan tangan kiriku sedangkan tangan kananku masih setia menggenggam ponsel yang masih berada di depan telingaku. Aku terisak pelan, aku tak bisa menahannya, aku tau dia pasti khawatir mendengar isakanku.
Kurasakan jemari hangat menggenggam tangan kananku, melepaskan genggaman pada ponselku, sedangkan jemari lainnya menurunkan tangan kiriku yang menutupi mataku, kemudian menarikku ke dalam pelukan hangat. Aku masih terduduk di atas ayunan dengan dia yang berdiri mendekapku.
"A..ku.. me..rindu..kan kamu..." ucapku di sela tangisan. Kurasakan ia mengelus kepala bagian belakangku dan punggungku.
"Aku tau, aku tau kau merindukanku, menangislah, keluarkan semua bebanmu." Suaranya, aku merindukan suara ini.
Aku menangis dalam dekapannya, menumpahkan segala rasa yang sedari tadi mengganjal dalam hatiku, aku tak perduli jika membuat pakaiannya basah karena air mataku.
"Suhunya semakin turun, aku takut kamu sakit, masuk ke dalam rumah yuk, nanti dilanjut lagi nangisnya." Aku hanya menggelengkan kepalaku setelah mendengar ucapannya. Aku masih tak mau melepaskan pelukannya.
"Baiklah, kalau begitu." aku merasakan tubuhnya yang mulai meluruh menyetarakan tinggi kami, kemudian tanpa aba-aba dia menggendongku bagai koala. Kuulurkan tanganku melingkar pada lehernya, dengan kepala masih setia bersandar pada dirinya, aku membenamkan wajahku di caruk lehernya.
Tanpa merasa kesusahan dia membawaku masuk ke dalam rumah. Mendudukkan dirinya di sofa ruang tv dengan diriku dipangkuannya masih setia memeluknya.
Entah berapa lama kami dalam posisi seperti itu, hingga aku memberanikan diri menatap wajahnya.
"Udah?" tanyanya, jemarinya menyapu pipiku, menghapus jejak air mataku.
"Udah" aku menganggukkan kepalaku. "Kapan kau sampai?" tanyaku dengan suara serak efek menangis.
"Beberapa menit sebelum aku menelfonmu tadi. Saat aku tak menemukanmu tertidur di kamar aku langsung mencarimu, dan menemukanmu sedang duduk sendirian di halaman." Jelasnya, dia terlihat lebih tirus dari pertemuan terakhir kami.
"Kenapa pulang?" cecarku.
"Apa harus ada alasan khusus untukku bisa pulang?" tanyanya dengan menyelipkan senyumannya.
"Kau keterlaluan, bagaimana bisa kau tak memberikanku kabar lebih dari seminggu dan mendadak muncul dihadapanku saat aku merasa tak diperdulikan olehmu."
"Maafkan aku, aku sengaja" ia memberikan senyuman kotaknya, membuatku tak tega untuk memarahinya meskipun dengan santainya dia mengatakan sengaja melakukannya.
Dia membuka kembali suaranya. "Iya aku sengaja tidak memberikan kabar kepulanganku kepadamu, tapi untuk seminggu aku tak menghubungimu itu murni karena kesibukanku. Melaksanakan konser membutuhkan persiapan yang sangat melelahkan, kau tahu kan?" aku menganggukkan kepalaku. "kami juga sedang mempersiapkan album terbaru kami, dan semua itu menguras tenaga, pikiran dan waktuku." Lanjutnya. Tak sadar aku kembali menjatuhkan air mataku. Jemarinya langsung menghapusnya, ia menggeleng.
"Tadi katanya udah, kenapa nangis lagi?" tanyanya lembut.
"Aku merasa egois, seharusnya aku mengerti keadaanmu." Aku menundukkan kepala, menatap jemariku yang saling bertautan.
"Hei, lihat aku sayang." Jemarinya menyentuh daguku, menyuruhku untuk menatap kembali wajahnya.
"Menurutku itu hal yang wajar, seorang istri yang merindukan suaminya itu hal yang wajar dan sikapmu, menurutku tak ada wanita lain yang bisa sesabar dan sepengertian dirimu dalam menghadapiku. Kau tak egois sayang, tidak sedikitpun." Ia mengucapkannya dengan lembut.
"Sekarang tersenyumlah, aku pulang dengan harapan disambut oleh senyumanmu. Masalahnya sudah selesai bukan? jadi sekarang tersenyumlah." Ia mengakhiri kalimatnya dengan senyuman andalannya, senyuman kotak yang membuatku mengulas senyuman juga meskipun nyatanya jantungku berdebar dua kali lebit cepat dari biasanya.
-Tamat-
Catatan: Mellifluous (adj) : sebuah suara yang manis dan lembut yang menyenangkan saat didengar.