Di bawah derasnya hujan siang ini, beberapa orang berlarian menghindar dari butiran angkasa seperti semut yang berhamburan ketika rumah mereka akan diinjak oleh makhluk yang lebih kuat. Ada pula yang masih setia menjajakan dagangan mereka dengan bermodal atap dari kain mota yang tebal dengan sedikit berlubang dari beberapa sudutnya. Perpaduan bunyi klakson dari beberapa pengendaran mobil maupun angkutan umum dan anak jalanan yang menambah keromantisan cuaca kali ini. Dilain tempat terdapat perempuan paruh baya sedang memeluk kakinya yang dingin sambil menjajakan dagangannya berupa jantung pisang, daun pisang, singkong, dan beberapa daun singkong yang sudah terlihat layu. Garis-garis pada wajahnya menandakan umurnya yang sudah terbilang tidak muda lagi, dengan usia seperti itu seharusnya sudah beristirahat dalam masa tuanya. Tidak jauh dari tempat perempuan paruh baya itu ada beberapa pedagang makanan yang menjajakan dagangannya. Namun, masih setia menunggu pembeli untuk mampir membeli apa yang mereka dagangkan.
Sedangkan diujung jalan pada beberapa bangunan menjulang tinggi terdapat bangunan swalayan atau mall yang tidak pernah sepi dari pengunjung yang setia meramaikan bangunan megah tersebut. Dari banyaknya pengunjung itu ada yang sebatas menikmati dengan berjalan-jalan memuaskan gengsi mereka dengan cara berselfi dan ada pula yang membeli beberapa produk yang dijajakan pada masing-masing gerai mall tersebut. Di depan lobby mall, terdapat barisan sopir taxi yang silih berganti mengantarkan penumpangnya. Dan juga ada beberapa anak kecil yang menawarkan jasa payungnya pada beberapa pengunjung yang menunggu hujan meredah.
Seperti halnya di depan bangunan ruko yang masih tertutup, terlihat sosok anak laki-laki dengan kulit sawo matang, berambut kriting, dan hanya mengenakan kaos dalam dan celana selutut berwarna hitam sedang menggenggam tumpukan koran. Anak laki-laki itu seperti menggigil karena kedinginan yang terlihat dari bibirnya sedikit pucat. Namun, tidak ada satupun orang memperhatikan kepedihannya. Mereka hanya menganggap tontonan seperti itu sama halnya dengan drama yang terdapat di siaran televisi.
Ketika hujan meredah, aktifitas beberapa jam terakhir terhambat kini mulai berjalan sedia kala. Suara bising kota ini mengalami peningkatan siknifikan pada setiap menitnya. Namun, masih banyak orang yang berkeinginan berpartipasi menyuarakan aktifitas di kota ini. Seperti halnya anak laki-laki yang menggigil sambil membawa koran tadi, anak tersebut bermana Bagus. Mungkin orang tuanya memberikan nama “Bagus” dengan mengharapkan kelak kehidupan anaknya mendapatkan kenyamanan dan hasil yang bagus, tidak seperti kedua orang tuanya saat ini yang melihat anaknya mencari pundi-pundi uang untuk melangsungkan hidup. Dalam gubuk dari tumpukan kerdus di bawah kolong jembatan, selama 10 tahun keluarga kecil itu menyambung kehidupannya. Teringat 8 tahun kebelakang tepat saat kelahiran anak pertama mereka.
“ Pak, anak kita ini mau dikasih nama siapa?” Tanya perempuan berumur 30 tahun itu setelah melahirkan putra pertama mereka.
“ Bagus adalah nama tepat untuk anak kita, Bu.” Jawab laki-laki yang lebih matang 5 tahun dari perempuan dihadapannya.
“ Bapak ingin anak kita memiliki nasib yang lebih bagus dari kita, Bu.” Lanjut laki-laki tersebut.
“ Semoga anak kita bernasib bagus seindah namanya ya pak.” Sanggahan dari perempuan tersebut.
Lamunan tentang masa lalu sirnah saat Bagus kembali pulang ke gubuk kecil itu dengan sebutan rumah. Anak kecil itu sedikit mengeluh dikarenakan pemerolehan uang yang didapatkan sangat sedikit, hari ini hanya mendapatkan 10 ribu saja. Sangat berbeda jika dibandingan dengan hari biasanya. Pada hari biasa, pemerolehan dari penjajahkan koran bisa sampai 50 ribu jika banyak yang beli. Lumayan untuk membeli beras dan laut krupuk dalam waktu 3 hari kedepan.
“ Assalammuallaikhum, Bu.” Suara Bagus memecahkan keheningan
“ Wa’alaikhumsallam, eh anak ibu sudah pulang. Kamu bebersih dulu baru setelah itu makan, Ibu sudah menyiapkan nasi dan krupuk di atas meja. ” Jawab perempuan yang kini terlihat jelas kerutan diwajahnya.
“ Iya, Bu.”
Setelah bebersih dan makan, Bagus menghampiri ibunya yang bermaksud menyerahkan hasil penjualan koran hari ini. Dia sempat ragu dan takut bahwa ibunya terbebani dengan biaya makan kedepannya, sebab penjualan koran dilakukan hanya seminggu 3 kali saja. Anak kecil itu terpaksa mengubur mimpinya untuk bersekolah seperti anak pada umumnya dan menggapai keinginannya menjadi seorang polisi, demi memperoleh pundi-pundi uang agar melangsungkan hidup untuk dirinya serta ibunya. Dia memahami kondisi yang di alami saat ini, jangankan untuk biaya sekolah biaya untuk makan setiap harinya saja susah. Sebenarnya dia ingin mengeluh dengan keadaan, namun kepada siapa dia harus mengeluh? Justru banyak orang yang menganggap kehidupannya seperti drama yang di siarkan alat elektronik yang bernama Televisi. Banyak dari mereka yang menatap jijik ketika anak kecil itu menjajahkan dagangannya. Bahkan salah satu dari mereka mengumpat ketika ditawari koran.
“ Bu, hari ini hanya mendapatkan 10 ribu saja sewaktu menjajahkan koran. Banyak koran yang rusak karena terkena hujan. Maaf ya, Bu.” Sambil menundukkan kepalanya.
“ Iya tidak masalah, berapapun uang yang diperoleh itu rezeki kita dari Allah. Justru ibu yang meminta maaf ke kamu, semisal bapakmu masih ada dan ibu tidak sakit-sakitan. Setidaknya kamu tidak sampai berjualan koran, mungkin sekarang kamu bisa bersekolah seperti temanmu yang lain. Maafkan ibu, Ibu merasa gagal menjadi orang tua kamu. Seharusnya ibu memberiakan kebahagiaan bukan penderitaan yang seperti ini kamu alami. Maaf… Maaf… Maaf. ” Air mata itu lepas begittu saja ketika pada kalimat terakhir.
“ Ibu jangan menangis, aku tidak mempermasalahkan dengan kehidupan seperti ini. Aku bersyukur masih memiliki Ibu disisiku saat ini. Setidaknya aku tidak mengenal bangku sekolahan. Kata teman-temanku mayoritas para guru identik kejam kepada muridnya, aku tidak sanggup jika harus berhadapan guru seperti ibu.”
Kali ini perempuan paruh baya itu terkejut setelah mendengar ucapan anaknya. Dia paham betul sebenarnya anaknya menginginkan bersekolah seperti teman sepantarannya. Hanya saja keadaan yang membuat dia menelan pil pahit untuk tidak membuatnya terbebani dengan keadaan ini dan menyenangkan hati ibunya.
“ Apakah makna dari nama “Bagus” hanya sekedar nama saja? Bagaimana anakku akan bernasib bagus jika dia tidak mengenyam pendidikan sama sekali? Apakah hanya bermodal nama saya akan merubah nasib seseorang? “ Batin perempuan paruh baya itu.
Dalam pikirnya saat ini, Bagaimana kehidupan anaknya nanti setelah dia tiada? Apakah anaknya akan bisa menerima keadaan setelah ia tinggalkan? Dan apakah orang susah sepertinya akan selalu mengalami kesusahan? Siapa yang perlu disalahkan? Keadaan atau barisan petinggi di Negeri ini?
TAMAT