Tetesan air dari langit sudah jatuh sejak 5 menit yang lalu, membasahi kerudung panjangku, seragam magangku yang awalnya berwarna kuning pekat, berubah jadi kecoklatan.
Kami masih bersitatap, diam, tak ada lagi obrolan. Detik demi detik, hujan turun semakin lebat, menyamarkan tetesan air mataku yang ikut membasahi pipi.
"Kau sudah paham bukan!? Dari awal, tak seharusnya kita memulai hubungan ini! Dan lihat apa yang terjadi, hanya sakit yang aku dapatkan!" Aku berseru keras, mengalahkan suara derasnya hujan.
"Di akhir cerita, kau memilih wanita lain, padahal aku sudah berharap hatimu akan luluh, bukan karenaku, tapi karena Allah! Ternyata tidak sama sekali... selama ini, kau hanya memasang keseriusan palsu di depanku! Kau bilang kau mencintaiku! Kau bilang kau akan masuk Islam karena Tuhanku, Allah! Kau bawa kemana janji-janji itu!?" Suaraku masih mengalahkan suara hujan yang malah semakin menjadi-jadi.
"Maaf... maafkan aku, Syakila." Pendengaranku cukup tajam, suara laki-laki ini jelas terdengar serak. Matanya sudah memerah.
Aku menghela nafas, tak tega melihatnya jatuh sakit. Padahal besok adalah hari yang sangat penting untuknya, hari pernikahannya dengan wanita lain.
Baiklah, aku mengalah. Aku masih berperikemanusiaan.
"Kita berteduh dulu, di sana ada halte bus. Mari!" Aku berlari lebih dulu, 15 meter di depan kami adalah halte bus tempat anak sekolah menengah atas tempat aku mengajar, sebagai mahasiswi magang biasanya menunggu bus datang. Sekarang sudah pukul 7 malam, semua anak-anak sekolah sudah pulang.
Laki-laki itu berjalan dengan langkah terseret. Aku langsung kembali, mengejarnya, menarik tangannya agar cepat berteduh.
"Jangan membuatku jadi karakter antagonis! Ayolah, kenapa kau jadi seperti ini?" Aku menghela nafas berseru kesal.
"Sekali lagi maafkan aku, Syakila." Suaranya yang serak itu semakin membuatku merasa bersalah. Kemana suara lantangnya dulu!?
"Pulanglah! Esok acara pernikahanmu, aku harap kau bahagia, Antonie." Aku memalingkan muka, memicingkan mata karena tersorot lampu bus.
"Kamu akan datang?"
"Tidak akan! Apa kau bodoh!? Mana mungkin aku akan datang, orangtuamu akan langsung mempermalukan aku jika datang ke acaramu! Sudah cukup mereka mempermalukanku di depan tunanganmu yang sudah dijodohkan denganmu itu! Sekarang pulanglah! Anggap kita tidak pernah berhubungan." Aku mengernyitkan kening melihat laki-laki ini hanya diam dengan pandangan tertunduk. Benar-benar membuatku kesal. Bus berhenti sejenak di halte. Tidak ada penumpang yang turun, juga tidak ada yang naik. Bus kembali melaju.
"Maaf karena aku tidak bisa mencintaimu Tuhanmu. Padahal aku sudah berjanji padamu dulu akan masuk ke agamamu karena Tuhanmu, bukan karena dirimu. Maaf karena aku menerima perjodohan ini, aku hanya ingin melupakanmu, karena aku tau kamu tidak akan mau bersamaku jika iman kita berbeda, kamu tau sendiri, aku sangat mencintai agamaku." Dengan nada ragu-ragu Antonie menjelaskan alasannya memutus hubungan pacaran kami.
"Dari awal aku sudah tau, tak seharusnya hubungan ini dimulai. Jika waktu bisa diputar kembali, mungkin aku akan menolakmu 5 tahun yang lalu. Karena bagaimana pun, kita berbeda. Kiblat yang tentukan arahku pulang dengan salib yang membuatmu tenang, adzan yang berkumandang dengan lonceng yang berdentang, kita sangat berbeda, iman memisahkan kita, kita tak sama. Tuhan memang satu, hanya saja aku dan kamu menyebutnya dengan cara yang berbeda." Aku tersenyum tipis. Melepaskan dan menyapu bersih sisa-sisa perasaan ini bersama hujan yang membersihkan seluruh kota ini.
"Aku ikhlas, melihatmu bersama wanita yang sudah dijodohkan denganmu itu. Sekarang pulanglah."
"Bagaimana bisa aku melupakan jika terus seperti ini, Syakila. Kamu perempuan yang begitu baik, mengapa Tuhan harus memisahkan kita dengan perbedaan iman!?" Antonie berseru kesal, memukul tiang penyangga atap halte.
"Tuhan menguji kita dengan cinta beda agama. Hanya untuk memastikan manusia lebih mencintai ciptaan-Nya atau Penciptanya."
Antonie terdiam. Berdiri dari duduknya. "Bilang pada Tuhanmu, aku hanya ingin mencintai umat-Nya, bukan merebut dari-Nya."
"Antonie, di agamaku, jodoh adalah cerminan. Aku dan kamu akan menemukan jodoh kita masing-masing di akhir cerita, bukan di awal cerita seperti kita. Kau harus yakin, perempuan yang dijodohkan denganmu adalah perempuan terakhir di hatimu. Cintailah ia sebagai kau mencintai Tuhanmu. Dari awal, kita sudah tau bukan? Bahwa akhir dari cerita kita, hanyalah luka." Aku tersenyum tipis. "Sampai jumpa. Assalamu'alaikum"
Aku langsung berlari kecil menyeberangi jalan. Masuk ke mobilku yang sudah terparkir dari tadi di tepi jalan raya ini. Meninggalkan Antonie.
"Altarmu dan kiblatku tak akan pernah berdampingan, Antonie! Aku lebih mencintai Tuhanku dari pada kamu. Selamat menempuh hidup baru." Aku melirik Antonie dari balik kaca mobil, Antonie tersenyum tipis dengan matanya yang jelas semakin merah, dia melambaikan tangan padaku.
"Anak ini, dengan mata seperti itu dia tidak akan bisa mengemudi. Aku juga tidak bisa mengantarnya." Aku diam, memikirkan solusi agar dia bisa pulang dengan selamat. "Tidak ada cara lain, aku harus menghubungi Kristiani." Aku meraih ponselku yang ada di bangku kiri, menelpon calon istri Antonie.
"Ah... halo Syakila. Aku dengar Antonie mau membicarakan sesuatu denganmu? Syakila... maaf karena telah merebut Antonie darimu, padahal kalian sudah pacaran selama 5 tahu--"
"Tidak apa-apa Kris. Aku ikhlas. Aku harap kamu bahagia bersamanya. Aku ingin minta tolong, tolong jemput calon suamimu sekarang juga di depan halte sekolah tempat aku magang, dia dalam keadaan tidak boleh menyetir. Maaf merepotkanmu, padahal besok acara pernikahanmu."
"Tidak apa-apa Syakila... Syakila, aku harap kita masih bisa berteman baik."
"Tentu. Dah Kris!"
"Dah!"
Telepon berakhir. Aku melirik kembali pada Antonie yang duduk membeku di bangku halte. Aku menatap satu dirinya, mulai menginjak pedal gas, pulang ke rumahku.
Sesampainya di rumah, aku meraih buku diaryku, meraih pena, mulai menulis kisah hari ini.
September 2020
Ketika masalah orang seiman hanya tentang orang ketiga dan restu, sedangkan aku dan kamu terhalang oleh perbedaan iman, sesuatu yang tak kasat mata.
Antara syahadat dan syafaat.
Antara tasbih dan kalungan rosaria.
Antara Assalamu'alaikum dan syalam syalom.
Antara Alhamdulillah dan Puji Tuhan.
Semuanya tak akan pernah bersatu. Mustahil.
Ketika aku membentangkan sajadah dan mengangkat kedua tanganku untuk berdoa, kau malah mengenggam kedua tanganmu, menutup mata.
Tak mungkin semesta akan menyatukan kita. Aku sadar itu.
Mungkin berat rasanya melepaskanmu yang sudah 5 tahun ini bersemayam di hatiku, tapi akan ikhlas. Karena ini ujian bagiku untuk lebih mencintai Tuhanku.
Kamu yang percaya pada roh Kudus yang ada di surga, dan aku yang percaya pada Allah sang Pencipta yang Maha Kuasa.
Kita memang harus berpisah. Karena kamu lebih mencintai Tuhanmu, aku pasti juga lebih mencintai Tuhanku. Aku tidak akan menyalahkan Tuhan atas berakhirnya hubungan ini, justru aku berterima kasih pada Allah, karena telah mengajarkanku arti ikhlas dan mencintai yang sebenarnya.
--Syakila Azizah.