Anggap saja ini cerita dongeng untuk masa depan, aku bercerita saat aku SMA dan sekarang sedang bernostalgia mengenai beberapa hal yang pernah terjadi padaku saat aku masih dengan wajah yang polos meneriman semua keadaan saat aku masih menjadi pelajar SMP. Anggap aku sebagai orang yang sangat lemah, tidak tahu bagaimana menghadapi kenyataan dan hanya selalu memberikan sebuah senyuman yang baik untuk orang, dan tentu saja buruk untukku.
Ini terjadi sekitar 4 tahun yang lalu saat aku masih kelas 8 SMP yang sebentar lagi akan naik menjadi anak kelas 9 SMP, di sini aku sudah menjadi anak kelas 8 SMP semester 2. Jika aku menceritakannya mungkin aku akan mendapatkan beberapa kritikan jelek, mengapa aku harus menceritakan masa lalu? Itu sudah sangat lama terjadi, kenapa harus diceritakan lagi? Terserah dari kalian bagaimana menanggapi apa yang aku sebut sebagai kisah hidup. Aku menjalani hidup belum pasti menerima kebahagiaan yang banyak, terkadang rasa sakit yang membuat kita menjadi sosiopat tapi tidak menjadikan psikopat.
***
Penerimaan rapor pada bulan Ramadhan, hari ini aka nada pengumaman penerimaan rapor juga sekalian sebagai penentu siapa yang akan bertahan di kelas unggulan. Aku merasa takut, gugup, dan tanganku sekarang berkeringat. Ini sudah saatnya berbuka, sudah makan dan tinggal menunggu wali kelas untuk membagikan peringkat, dan siap-siap saja akan ada yang tertendang keluar.
Ini saatnya, aku menunggu selama hampir satu setengah jam dan sekarang wali kelasku datang dan memberikan selembar kertas yang berisi daftar nilai dan juga peringkat. Teman-temanku saling berkumpul untuk melihat hasilnya, dan aku hanya menunggu mereka semua selesai lalu aku yang akan melihatnya tanpa ada gangguan.
Hanya selembar kertas, aku mencari namaku. Belum lama aku membacanya, mataku sudah mulai berkaca-kaca melihat apa yang ada di dalam sini, isinya tertulis dengan jelas, aku yang akan keluar dari kelas unggulan, peringkatku berada di 31 dari 32 siswa. Sahabatku mendatangiku dan juga merasa tidak percaya dengan apa yang tertulis di dalam selembar kertas putih itu. Aku berusaha menahan tangisku, dan hanya memberikan senyumku yang sudah terlihat kalau ini adalah senyum palsu.
Aku tidak mempedulikan siapa yang peringkat pertama, aku hanya melihat namaku dan itu sudah membuatku tidak ingin melihat kertas itu lagi, walaupun nilaiku dengan yang lainnya hanya berbeda dalam angka koma tapi tetap saja aku yang tidak bisa bertahan. Jemputanku sudah ada, Ayahku yang menjemputku malam ini. Ayahku melihat aku menangis, tapi aku sama sekali tidak bicara, dan hanya berusaha untuk menahan tangisanku. Rumah menjadi tempat di mana aku sudah tidak bisa lagi menahan air mata bendungan yang sudah retak ini.
“Mama, aku turun dari kelas unggulan.” Tangisanku langsung pecah saat melihat Mamaku yang sudah tersenyum kepadaku, mungkin Mama mengharapkan berita baik mengenai peringkat. Aku memeluk Mama dan hanya menangis, bagiku ini adalah rasa malu yang sangat besar untukku. Keluargaku selalu terpandang dalam hal pendidikan, akan sangat memalukan kalau aku sama sekali keluar dari kelas unggulan, semua tekanan ada pada diriku, aku tidak bisa membayangkan bagaimana keluargaku yang lain akan menanggapi ini.
“Tidak apa, asalkan itu tidak mempengaruhi nilaimu. Jangan terlalu dipikirkan, peringkat belum menentukan masa depan, lebih baik sekarang pergi makan dulu dan tenangkan dirimu.” Perkataan ini seketika membuatku sedikit tenang, walaupun ada sedikit kenangan yang terlintas sebagai gambaran bagaimana aku akan dipermalukan.
***
Bulan ramadhan telah terlewati dan sekarang adalah saatnya penempatan kelas baru, namaku terpanggil. Aku tidak bisa membayangkan betapa memalukannya diriku dengan seorang temanku yang turun bersamaku digantikan dengan orang yang berperingkat 1 dan 2 dari kelas yang lain. Aku ingin menangis tapi ini sekolah, bukan lagi rumah untuk tempat aku memperlihatkan kesedihanku.
Baru pagi ini aku masih duduk di tempat duduk di samping sahabatku tapi sekarang aku melihat seseorang yang menggantikan posisiku. Seorang guru mengantar mereka, dan aku yang terbawa oleh guru menuju ke kelas baruku. Pandangan awalku, aku tidak akan menyesuaikan dengan mereka, itu pandangan yang buruk tapi apa yang aku rasakan benar jadinya.
“Ini kelas kalian, semoga kalian bisa belajar lebih giat lagi dan kembali ke kelas unggulan.” Perkataan itu aku tidak bisa melupakannya, aku merasa memang di sini aku harus meningkatkan semua tingkatan belajarku dan membalas rasa maluku kalau aku bukan orang bodoh diantara terpintar saat di kelas unggulan, dan di sini aku menjadi terpintar diantara mereka juga yang terpintar.
Pandangan mata tertuju pada kami, aku langsung duduk di dekat seorang teman yang aku kenal, seseorang yang juga senang berteman denganku, walaupun dengan kondisi kakinya yang cacat, dia pincang sejak lahir. Anggap saja ini langkah awalku, melakukan pertemanan di kelas ini. Aku yang hanya memasang wajah datar dengan seseorang yang tidak aku kenal, membuatku sangat sulit untuk didekati, aku tidak mempermasalahkannya tapi sendiri juga itu lumayan tidak enak, sangat merepotkan jika ingin melakukan sesuatu.
Waktu semakin berjalan, aku sudah beradaptasi selama hampir 2 bulan ini, aku sudah tidak mengingat kejadian yang terjadi saat 2 bulan yang lalu, aku sudah ingin membahasnya walaupun aku bukan anak yang istimewa di dalam kelasku yang sekarang. Aku tidak akrab dengan beberapa orang yang ada di dalam kelas ini, tapi wali kelasku sangat tersanjung dengan prestasi yang aku lakukan dengan membantu teman-temanku, serasa aku yang sekarang mendapatkan perhatian dari guru saat guru mengajar di dalam kelasku. Posisi tempat duduk berubah dan sekarang aku duduk bersama dengan temanku saat aku SD dan bertemu kembali di kelas ini.
Pertengahan semester aku mendengar sebuah pesan, rumor, atau apapun itu. Aku awalnya tidak mempercayainya, aku mendengar kalau ada kelas yang nilainya saling tertukar. Aku tidak peduli, lalu suatu hari aku berada di dalam ruang guru, dan melihat Tanteku yang ada di dalam ruang guru berbicara dengan beberapa guru dan menatapku, lalu memanggilku. Ada hal yang membuatku sedikit terkejut dengan percakapan ini.
“Ini satu murid yang nilainya tertukar, seharusnya sekarang masih ada di kelasnya yang seharusnya tapi dipindahkan.” Maksud perkataan ini sama sekali aku tidak mengerti, aku tidak tahu apa maksudnya, aku hanya diam dan tersenyum walaupun aku tidak tahu masalah apa itu.
Aku keluar dari ruang guru, dan langsung berjalan ke kelas unggulan dan menemui sahabatku. Ada hal yang membuat ini semua janggal, aku belum tahu siapa saja yang masuk dalam peringkat 5 besar dalam 3 bulan yang lalu.
“Kenapa? Ada hal yang kau pikirkan?” Sahabatku sama bingungnya denganku yang sama sekali tidak tahu apapun. Aku hanya menanyakan siapa yang masuk dalam peringkat 5 besar, lalu aku mendengarkan satu nama yang menurutku sama sekali tidak pantas masuk dalam peringkat 5 besar. Bukan berarti aku meremehkannya atau memandangnya sebagai seorang yang bodoh, tapi seseorang yang bahkan mendapatkan peringkat 8 yang seharusnya lebih cocok masuk ke dalam 5 besar setelah melihat bagaimana adu dalam hal intelegen, lagipula bukan hanya aku yang merasa aneh dengan penentuan peringkat ini tapi sahabatku juga beberapa temanku yang ada di sini.
Jam istirahat sudah selesai, aku bisa menarik sebuah kesimpulan walaupun ini masih pendapat sementara, aku tidak ingin terlalu menuduh seseorang. Kalau memang benar nilaiku tertukar dengan beberapa orang yang berada di kelas yang sama padaku dulu. Sekarang pelajaran IPS mata pelajaran wali kelasku. Pelajaran berjalan dengan baik hari ini, lalu sebelum pulang wali kelasku berbicara denganku.
“Bapak tahu ini hal yang sama sekali tidak adil untukmu, tapi mengenai hal tentang nilai yang tertukar, sebenarnya kamu masuk ke dalam daftar salah satunya, seharusnya kamu masih berada di dalam kelas unggulan.” Kalimat ini seketika membuatku merasa memang tidak adil, aku hanya bisa menerimanya. Aku juga tidak bisa langsung seenaknya kembali ke kelas unggulan, pelajaran, jadwal, dan kegiatan kelas unggulan dan kelasku berbeda.
Pulang sekolah, aku memberitahu apa yang terjadi di sekolah ke Mamaku. Mamaku hanya bereaksi tertawa dan tidak menyalahkan siapapun. Aku juga tidak akan mempermasalahkan ini lagi, lagipula bukan aku yang salah karena tidak belajar walaupun hanya ada kekeliruan dalam pengisian nilai rapor. Biarlah ini menjadi hal yang membuatku sadar, semuanya memiliki keuntungan. Aku yang berada di kelasku yang sekarang merasa senang mendapatkan wali kelas yang sangat baik, lagipula aku tidak perlu naik tangga lagi jika ingin ke kelas, hanya kelas unggulan yang berada di lantai dua.
***
Ulangan semester datang, ada hal yang selalu mengangguku saat ulangan, yaitu aku yang tidak terbiasa melihat seseorang mencontek dalam ulangan. Aku yang masih tidak terlalu tahu bagaimana sikap dari kelas ini kalau ada ulangan, yang jelas kelas unggulan tempatku sebelumnya sama sekali tidak ada suara saat ada ulangan.
Hari pertama ulangan sudah ada yang mencontek dengan kertas yang seakan-akan itu adalah cakaran. Aku tidak terima kalau aku yang sudah bekerja keras belajar mati-matian untuk ulangan semester dikalahkan oleh seseorang yang sama sekali tidak pernah belajar, bahkan saat istirahat mereka tidak membuka buku sama sekali.
Lalu melihat sudah hari ketiga ulangan tetap saja seperti itu, aku lalu mencatat siapa saja yang aku lihat mencontek saat ulangan, aku juga bekerja sama dengan teman yang selalu aku ajak belajar untuk membantuku melihat siapa saja yang mencontek saat ulangan. Perasaan lega tentu saja ada, aku yang hanya memikirkan diriku sendiri merasa senang. Pulang sekolah aku ke ruang guru dan memberikan nama yang mencontek kepada guru maple sesuai dengan ulangan yang ada. Aku melakukannya bersama dengan teman kepercayaanku selama sisa hari ulangan yang tersisa.
Tidak cukup sehari setelah semester selesai, aku mendengarkan teman kelasku yang marah-marah karena mendengar kalau kelas kami ada yang mencontek. Mereka yang tahu mereka mencontek saat ulangan marah-marah, dengan menyuruh seseorang untuk mengaku siapa yang mengadukan mereka kepada guru. Aku awalnya merasa ketakutan kalau aku akan ketahuan, lagipula mereka adalah orang terkenal di sekolah, bisa gawat kalau aku bermasalah dengan mereka, aku masih mau hidup normal dan menghindari masalah. Aku melewati masa-masa mereka marah dengan tenang dengan tidak berkata apapun.
***
Setiap tahu porseni selalu diadakan di sekolah setelah waktu semester terlewat dan juga selagi menunggu guru menyusun rapor dan nilai untuk satu semester yang terlewati. Aku mengikuti perlombaan yang tidak ada hubungannya dengan olahraga, karena aku benar-benar buruk dalam olahraga, mencetak satu poin saja saat permainan basket aku tidak bisa, aku tentu tahu kemampuanku, jadi aku mengikuti lomba cipta puisi dan juga lomba cipta cerpen. Dalam lomba cipta puisi aku bersaing dengan temanku yang berasal dari kelas unggulan. Aku menulis dengan puisi yang sudah aku siapkan dengan sudah melihat tema yang disediakan panitia, sebelum mengumpulkan puisiku aku memperlihatkan puisiku kepada temanku yang tadi karena hanya ingin saling memuji karya satu sama lain.
Setelah lomba puisi selesai, hanya menunggu hasil sejam dan keluar pemenangnya. Aku mendapatkan juara pertama dalam lomba cipta puisi, dan temanku mendapat juara kedua. Beberapa saat kemudian aku mendengarkan kalau ada yang membicarakanku dari belakang, yang tidak lain adalah temanku sendiri, aku mendengar dengan jelas, katanya aku bisa menang karena mengambil puisi yang ada di internet. Ini penghinaan, padahal aku percaya padanya sebagai temanku tidak akan membicarakanku seperti itu. Aku kesal tapi tidak memperlihatkannya, aku tahu bagaimana perasaan seseorang yang bertekad tapi kalah, aku tahu kenapa dia melakukan itu, tidak ingin malu dengan dirinya sendiri. Biarkan saja, aku tidak peduli, aku menganggap aku tidak pernah mendengar apa yang dia katakan saat aku bertemu dengannya.
Seminggu porseni berlangsung, dan sekarang penerimaan rapor sekaligus pemberian hadiah bagi yang menang. Aku menunggu sangat lama untuk penerimaan rapor, karena sekarang sudah jam 9 pagi tapi wali kelasku masih belum datang begitu juga dengan teman kelasku yang lain, mereka menunggu. Lalu karena terlalu lama, satu per satu dari mereka keluar untuk makan, berbicara, atau apapun yang ingin mereka lakukan. Aku tidak memiliki teman yang benar-benar akrab, aku hanya memiliki teman belajar tapi tidak untuk teman bermain. Sekarang tinggal tiga orang yang ada di dalam kelas, aku hanya membaca novel dan dua orang lainnya sibuk dengan handphone, membawa handphone ke sekolah adalah pelanggaran, tapi mereka menyembunyikannya.
Aku masih menunggu, sekarang sudah hampir jam 10 dan wali kelasku masih belum saja datang. Saat aku serius membaca novelku, aku mendengar suara tangisan dari pojok ruang kelas, aku langsung menoleh mencari asal suara tangisan dan melihat ada bayangan hitam dari pojok kelas tepat di samping lemari, dan ternyata bukan hanya aku yang mendengarnya, tapi dua orang yang ada di kelas sama kagetnya dengan diriku. Perasaanku menjadi merinding tapi tetap saja, aku tidak bisa memastikan bayangan apa itu. Sangat tidak baik untuk berada di dalam kelas ini sendirian, apalagi dengan jumlah orang yang sedikit, apalagi dengan kejadian mistik yang dimana dulu ada temanku yang selalu kesurupan di sini. Sudahlah tidak perlu dibahas terlalu lanjut, lagipula sekarang sudah tidak lagi.
Pukul 10.30 wali kelas kami sudah datang, diikuti dengan teman-temanku yang mengikut di belakang wali kelas, merasa senang dengan rapor yang dibawa wali kelas di tangannya. Wali kelas menyebutkan nama dari peringkat 10, lalu sudah sampai peringkat 5 namaku masih belum saja disebutkan, aku khawatir apakah aku sama sekali tidak masuk dalam peringkat 10 besar. Aku masih bisa menunggu, lalu untuk peringkat pertama, aku tidak percaya kalau aku mendapatkannya, aku si peringkat pertama di kelas ini. Senang bisa mendengar kata pertama dari mulut seorang wali kelas yang mengumumkan peringkat. Aku berjalan kea rah wali kelas yang membagikan rapor, aku yang melihat nilaiku sangat tinggi sangat senang dengan semua ini. Seluruh kelas bertepuk tangan dan aku hanya tersenyum sangat lebar.
“Bagaimana usaha tidak akan mengkhianati hasil. Ada permintaan Bapak, Bapak harap kamu tidak kembali pindah ke kelas unggulan, Bapak suka dengan caramu membantu teman-temanmu dalam belajar, juga setidaknya Bapak memiliki satu murid berprestasi di dalam kelas.” Ini adalah permintaan agar aku tidak kembali ke kelas unggulan, memang awalnya aku berniat seperti itu, tapi setelah melewati satu semester di sini, aku menyukai posisiku sekarang yang menjadi murid kesayangan wali kelas. Aku menjawab untuk membantuku mempertahankanku tetap di kelas ini sampai aku tamat, dan wali kelasku senang dengan apa yang aku katakan. Aku juga mendapatkan hadiah dari menang lomba cipta puisi dan juga lomba cipta cerpen, walaupun kalau cipta cerpen aku hanya mendapatkan juara ketiga, tapi hal yang membuatku lebih senang daripada kelas lain, wali kelasku ini sangat murah hati, memberikanku amplop dengan isi uang karena menang atas nama kelasku. Aku bahkan sangat menyukai wali kelasku yang sekarang daripada yang dulu, bahkan sangat senang juga dengan mata pelajarannya.
Aku pulang membawa kabar gembira ke orang tuaku, dan mereka juga merasa bangga dengan apa yang aku dapatkan hari ini, hadiah dari porseni buku yang jumlahnya lebih dari lima setiap isinya, apalagi aku mendapatkan dua hadiah, lalu hadiah tambahan dari wali kelasku. Pepatah selalu tepat sasaran memberikan kejelasannya, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.
Sekarang aku tahu hidup memang biasanya sangat tidak adil, bahkan sangat menyakitkan untuk terus diingat selalu, tapi walaupun begitu, aku tetap tidak bisa melupakan apa yang sudah terjadi, ini bukan mimpi yang akan sangat cepat menghilang tapi nilai hidup yang sama sekali berharga pada waktunya. Lalu bagaimana dengan diriku sekarang? Aku mendapatkan kebahagiaan masa SMA dengan teman-teman yang sangat berbeda dengan teman-temanku saat SMP, temanku yang sekarang lebih memahami pertemanan tanpa memanfaatkan seseorang dari tugas atau pelajaran.