Title: Pintu Pagar
Author: Nurwahidah Bi
Genre:
Horor-Misteri
***
Adzan subuh sudah berkumandang.
Suami dan anak semata wayang pun sudah pergi ke masjid tadi, tepat sebelum adzan berkumandang. Sebagai istri, ibu dan perempuan, aku hanya bisa menunggu di rumah karena sedang mendapat surat kontrak dari Yang Maha Kuasa. Surat izin bertanda merah, si tamu bulanan.
Aku menunggu suami dan anak di dapur, sambil menyiapkan susu dan roti panggang kesukaan mereka berdua. Jam enam pagi nanti, mereka harus pergi pulang ke kampung, karena ibu mertuaku sedang sakit. Suami dan anakku yang akan pergi lebih dulu ke sana. Karena hari ini, aku masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor.
Ciiit.
Bunyi pintu depan.
Aku pun mencoba untuk memeriksanya. Aneh. Pintu depan rumahku masih tertutup. Bunyi apa tadi?
Ya sudah, kuputuskan untuk membuka pintunya saja. Dari kejauhan aku bisa melihat suami dan anakku berjalan..
Praang!
Sesuati terjatuh di dapur. Aku bergegas dan menemukan panci yang digunakan untuk merebus sisa sup semalam, telah bercecer di lantai. Cairan mendidih itu, kini memenuhi lantai dapur.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" jawabku saat mendengar suara salam ayah dan anak itu di depan rumah. Ya, masjid cukup dekat dari rumah kami. Berjalan lima menit saja sudah sampai.
Setelah bersih-bersih, aku tak mendengar ada suara suami maupun anakku lagi di dalam rumah. Aneh.
"Assalamualaikum?" Suara anakku terdengar kesal.
Aku bergegas ke depan.
Pintu sudah tertutup. Oh, bukankah tadi kubiarkan terbuka karena sudah melihat keduanya mendekati rumah?
"Ma?" Anakku memanggil.
"Ya?" Aku segera membukakan pintu. "Kok nggak masuk?" tanyaku bingung sendiri menatap pintu.
"Terkunci," jawab suamiku melengos masuk.
"Tadi, aku buka loh pintunya," ujarku mengekori suami. Dia menatap anakku. Lalu, keduanya tampak kebingungan.
"Kita datang pintunya udah tertutup kok. Malah pas mau dibuka, eh malahan dikunci dari dalam."
"Nggak dikunci kok! Beneran, tadi aku bukanya langsung gitu aja. Karena liat kalian udah dekat rumah, jadi pintunya aku buka. Terus aku ke dapur, bersihin tumpahan sup dulu," jelasku penuh keyakinan.
"Kita baru sampai kok, Ma!" Anak berusia tujuh tahun itu meyakinkanku.
"Terus yang di depan rumah tadi siapa dong?" tanyaku menatap mereka berdua.
"Dduh, jangan aneh-aneh deh. Aku jadi takut. Matahari belum muncul tuh!" jawab suamiku bergegas ke kamar mandi. Sedangkan, anakku memilih pergi ke kamarnya.
Aku berbalik, menyingkap gorden di jendela. Pagi masih berembun, sepertinya aku hanya berhalusinasi saja. Aku putuskan segera menutup pintu rumah dan kembali ke dapur.
***
Usai sarapan singkat, suami dan anakku akhirnya pergi. Motor di garasi pun sudah berangkat ke kampung. Aku mendadak enggan untuk pulang besok.
"Apa aku nyusul hari ini aja ya?" ucapku sembarang. Lalu, melangkah masuk meninggalkan teras kecil ini.
Ddiiitt!
Suara berderit menghentikan langkahku. Bunyi apa itu?
Ah, bodo amat!
***
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Sia-sia jika memilih untuk menyusul sekarang. Mau tidak mau, aku harus tinggal sendirian di rumah baru ini. Sepertinya, memang harus menunggu besok sajalah.
Aku sedang duduk sendirian di ruang keluarga, usai memasak keripik pisang dan makan malam ringan. Lalu, dengan santai menikmati lawakan ringan dari tv ber-volume kecil.
Kapan lagi bisa duduk bersantai-santai seperti ini, seolah anak gadis dulu.
Di luar, aku bisa mendengar suara pepohonan tertiup oleh angin yang kencang.
Bunyi berderit dari luar menghentikan kunyahanku pada keripik pisang. Kuputar kepala ke arah jendela samping. Memiringkin kepala mencoba menggapai suara apa yang barusan terdengar
Ciiit ....
Kembali bersuara lagi.
Apa itu?
Aku meletakkan toples berisi camilan manis itu. Berjalan perlahan menuju pintu depan. Mendadak aku susah untuk menelan, tenggorokanku terasa seret. Sepertinya keripik yang kutelan tadi naik kembali ke kerongkongan dan memasuki tenggorokan.
Aku batuk.
Uhukk!
Siapa? Mataku membelalak. Batinku bertanya.
Aku batuk di dalam rumah, lantas suara batuk siapa yang ada di luar sana?
Tirai jendela berwarna cokelat muda, terjepit di sisi kiri. Aku ingin mengintip, ada siapa di depan sana?
Ciiit....
Uhuk!
Suara berdecit itu kembali terdengar ditemani suara batuk kecil yang semakin lama suaranya semakin keras.
Praakk!
Suara pintu. Itu jelas sebuah suara pintu yang ditutup. Pintu apa? Kukelilingi rumah dan menatap semua pintu yang terlihat oleh netra.
Aku beranikan diri mengintip. Kabur, tak jelas, perlahan angin mereda. Sesosok makhluk bertubuh besar berada di luar pagar. Tak begitu kentara, karena bersembunyi di balik pintu pagar.
Sial*n.
Punggung hingga kepalaku terasa dingin dan terasa semakin membesar. Tangan dan kakiku beku. Aku pun mendadak mual.
Sial*n. Batinku memaki tak keruan.
Ada di mana aku? Bukankah rumah ini tak punya pintu pagar? Pintu pagarnya rusak empat bulan lalu, saat pertama kali pindah ke tempat ini.
Pintu pagar siapa itu? Aku di mana?
TOLONG!
Mataku berpapasan dengan mata sosok aneh di luar pagar itu. Rumahku tak punya pagar, bagaimana bisa ada pintu pagar di sana? Tolong aku!
***
TAMAT
***
Selamat membaca guys.
Kalau mau baca cerpen horor lainnya bisa ke novelku ya, judulnya The Midnight Cursed.
Suka cerita bersetting Korea? Roman picisan dan baper-baperan? Mampir ke Love Sign yuuk.
Ada juga YOU OR YOU? sebuah novel di mana kamu dan kita semua bisa bernostalgia masa-masa SMA. Bertemu kembali dengan cinta pertama dan cinta terakhir? Siapa takut!
***
Terima kasih sudah mampir, semoga suka ya. Komen dan like-nya ya.