Malam itu suasana pedesaan yang sepi terlihat sangat menakutkan setelah desas-desus berita yang sudah menghangat seminggu ini.
Sinta, gadis belia yatim piatu datang dari kota memutuskan tinggal disebuah desa yang bernama Desa Rintih malam.
Menurutnya penduduk disana ramah, walaupun baru tinggal dua hari, hampir seluruh penduduk disana bersikap ramah padanya.
Seperti sorevini, Sinta yang baru saja pulang dari sungai bertemu Ari dan rombongannya, Pemuda yang digilai para gadis desa.
Ari dikenal playboy dan sering bertingkah kurang senonoh dengan banyak wanita, ditambah ayahnya seorang saudagar kaya membuatnya lebih berkuasa.
"wah baru pulang, Ta?" sapa pria itu ramah.
"iya,mas. Sinta duluan ya, soalnya belum masak. Mari semua" Sinta berjalan cepat karna merasa risih ditatap tak senonoh oleh teman-teman Ari.
"body nya bro, manteppp" Para pria itu kemudian melanjutkan langkahnya diiringi pembicaraan yang sedikit tidak mengenakkan hati.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sinta yang sedang menikmati kegiatan memasaknya dikejutkan dengan alunan merdu dari belakang rumah kecilnya.
Karena tidak memiliki banyak uang, Sinta hanya bisa membeli rumah kecil di ujung desa, dan dibelakang rumah itu terdapat hutan yang sangat lebat.
Langkah mungilnya diarahkan kearah pintu kayu yang menghadap kearah hutan.
"Siapa?" diedarkan pandangannya keseluruh penjuru namun tidak menemukan seorangpun disana.
Namun alunan itu kian terdengar tajam, dan berubah seperti jeritan seorang gadis yang seolah meminta tolong.
'to-to-tolongggggggggg' bunyi alunan itu terdengar tajam dan perih.
"Si-siapa disana?" dengan takut dilangkahkan kakinya keluar dan mencari sumber suara itu.
"Sinta?" panggil seseorang dari belakangnya.
"ya ampun!!!" Sinta berbalik cepat karna terlonjak kaget.
"Aduh kamu kenapa sih Sin, buat kaget mbok aja kamu" seorang wanita paruh baya terlihat berdiri sambil memegang kain merah digenggamannya.
"Mpok sih ngagetin Sinta aja, tadi itu Sinta denger suara minta tolong dari arah sini" Sinta kembali mengedarkan pandangannya keseluruh tempat itu.
"Ini udah sore Ta, sebaiknya kamu masuk kerumah. Tidak baik seorang gadis berdiri diluar selarut ini" ucap wanita itu kemudian berjalan pergi kearah hutan.
"Mpok,mpok. Bilangnya gak baik, sendirinya malah kesana. Huhhh dasar Mpok Sri" Dengan perasaan heran Sinta pun berlalu masuk dan melanjutkan kegiatan memasaknya.
.............................................................................
Suasana desa pagi itu sangat dingin dan berkabut karna malam tadi hujan turun dengan derasnya.
Sinta yang bekerja disebuah warung makan terpaksa harus memakai baju tebal diseluruh tubuh mungil nan rampingnya.
"Halo neng Sinta, mau kemana?" sapa seseorang dengan ramahnya.
"Eh Mas Bayu, ini mau ketempat kerja. Mas mau kemana sepagi ini?" mata Sinta berhenti kearah gerobak dorong pria itu.
"Ini mau kepasar, seperti biasa dagang is my kerjaan" Bayu berpose ala pria tampan membuat Sinta terkekeh pelan.
"Mas Bayu bisa aja, oh iya ini uda agak telat. Mas, Sinta brangkat kerja dulu ya, bye bye" dengan sedikit berlari Sinta melambai hingga menjauh dan hilang dipersimpangan.
Bayu hanya tersenyum kecil dan kembali melanjutkan perjalanannya yang sedikit tertunda.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Sinta duduk termenung disamping tempat pencucian piring tempatnya bekerja.
"Kamu kenapa, Sin. Kalau ada masalah cerita sama ibu, siapa tau ibu bisa bantu" Si ibu pemilik warung duduk disamping Sinta dengan ramahnya.
"Entahlah bu, sulit dijelaskan" helaan nafas Sinta seolah mencerminkan kegundahannya.
"Ibu sudah lebih 40 tahun tinggal disini, pasti sulit beradaptasi ditempat yang baru kamu kenal" dielusnya pundak Sinta lembut.
"Bu Nin, sebenarnya aku mendengar Jeritan gadis kemarin sore dibelakang rumah" semakin lama suara Sinta semakin mengecil.
"Tapi mungkin itu hanya halusinasiku saja, mungkin juga karna kurang beristirahat" dengan cepat digelengkan kepalanya mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
"Sin, dengarkan ini. Jangan pernah menghiraukan suara itu, kalaupun dia terdengar lagi cobalah untuk tidak menanggapinya. Ini demi kebaikan mu" wajah keriput wanita itu terlihat serius dalam perkataannya.
"Ada apa sebenarnya?" Sinta menatap wanita itu dengan serius seolah mencoba mengintrogasi.
"ssttt, mendekatlah kemari. Ingat jangan pernah membahasnya disini. Mengerti?" ditariknya tubuh Sinta mendekat dan mulai berbicara.
"Sebulan yang lalu, Ari si anak saudagar kaya itu akan dijodohkan dengan Irma. Banyak yang kurang setuju, karna Irma berasal dari keluarga miskin. Irma gadis yang sangat cantik,baik,pintar dan banyak orang menyenanginya. Tapi Irma menolak karena dia sudah memiliki kekasih. Setelah itu Seminggu yang lalu, Irma ditemukan meninggal dihutan, diujung desa ini. Menurut keterangan polisi, dia diperkosa dan dibunuh ditempat--" obrolan itu terpaksa berhenti ketika dua orang pelanggan datang memesan makanan.
"Mungkinkah.....?" batinya bergejolak seolah ingin mencari taunya sendiri.
Setelah selesai bekerja, Sinta bergegas pulang dan ingin memastikan sesuatu.
Namun ditengah perjalanan, Ari mencegatnya pulang dan mengajak Sinta makan diwarung.
"Bu, nasi goreng udang dua sama Teh manisnya dua" Setelah memesan, Ari menarik tangan Sinta duduk dimeja ujung.
"Lepas" Sinta segera menarik tangannya dan menunduk takut.
"Santai, Ta. Kamu pikir aku ini orang jahat apa?" Ari mendengus dan menatap Sinta dalam.
"Sin, sebenarnya aku suka sama kamu. Kamu mau jadi pacar aku gak?" tangan kekarnya mengggenggam erat jemari lentik Sinta.
"Gila ya, lepasin" dengan takut dihempaskannya tangan Ari keras.
"Ma-maaf, aku gak bermaksud buat kamu gak nyaman. Ya udah, Ta. Nasinya dibungkus aja biar kamu gak risih lagi" Ari berdiri dan berlalu, kemudian membawa dua bungkus nasi ditangannya.
"Maaf ya, Ta. Sumpah gak sengaja tadi, nih nasinya jangan dibuang ya, maaf gak bisa nganterin kamu pulang, aku ada urusan di kampung sebelah. Aku pergi dulu, bye" Ari pun berlalu pergi dengan Motor sport biru miliknya.
"Menyebalkan" Sinta hanya mendengus sebal dan berjalan pulang.
Ditengah langkah kakinya yang kecil, Sinta berpapasan dengan Bayu.
"Eh, Mas Bayu darimana?" sapa Sinta ramah.
"baru pulang dari rumah teman, kamu sendiri darimana selarut ini?"
"Ini beli nasi goreng dari warung Bu Surti" diangkatnya bungkusan itu tingi.
"bukannya itu lumayan jauh?" Bayu mengangkat alisnya tinggi.
"Mas Ari yang beliin, hadeh untung dia ada kerjaan dikampung sebelah. Jadinya aku bisa pulang sendiri" wajahnya berbinar dan seketika terkejut saat melihat wajah Bayu yang tegang.
"Sin, dia itu pembunuh jangan mendekatinya lagi. Mengerti?!!" Bayu menatap Sinta tajam dan berlalu pergi dengan masih berceloteh kecil.
"Apa memang dia?" pertanyaan itu seolah menekan batinnya sendiri.
'Sial, ini udah jam 8 dan aku belum berhasil pulang sedari tadi' Sinta hanya menghela nafas dan berlalu secepat yang dia bisa.
'karena Sinta baru saja mendengarkan suara itu lagi dan lagi'
............................................................................
Sejak percakapan itu, Sinta berusaha menghindari Ari yang selalu mencoba menghampiri dan mencarinya.
Dan suara itu juga semakin gencar mengikutinya, bahkan mimpi buruk sering ia alami akhir-akhir ini.
"Aku bisa gila" keluh Sinta lelah.
Sebuah pijatan kecil dikepalanya seketika membuatnya menegang.
'hantu kah?' wajahnya memucat ketika melihat wajah sang empunya tangan.
'Ini sih lebih menyeramkan dari hantu' Jeritnya dalam hati.
"A-ari?" Sinta menegang karena gugup.
"Ck, berhentilah menatapku seolah aku ini adalah hantu" Ari menghela nafas kesal.
"Dan jawab, kenapa mengghindariku beberapa hari ini?" lanjutnya kesal.
"Ti-tidak, itu hanya perasaanmu saja" dengan cepat disanggahnya ucapan pria itu.
"Bodoh" Ari kemudian berdiri dan berlalu darisana tanpa menoleh sedikitpun.
"Kenapa pulang, apa kau marah?" Sinta berlari kecil mengejar Ari yang memasang wajah masam.
"terserah" Ari membuang wajahnya kesamping karena kesal.
"Aku akan bicara, jadi kumohon jangan marah" wajah Sinta memerah karena kesal bercampur malu.
"hm..." gumaman Ari membuat Sinta melanjutkan penjelasannya.
"Bayu bilang kamu pembunuh" singkat dan jelas penjelasan Sinta membuat Ari tertawa terbahak-bahak.
"pffft, apa hahahaha. Hahaha perutku tolonggg" Ari mengelus perutnya karena sakit.
"Apanya yang lucu" Sinta menatap Ari aneh.
'dasar pria gila' oloknya dalam hati.
"Minggu depan, datanglah ke pasar pukul 6 sore. Pakailah baju merah yang ada dilemarimu, kau akan tau semuanya" Ari menepuk kepala Sinta lembut dan mencium keningnya mesra.
"pengantinku" setelah itu Ari secepat kilat tak terlihat lagi.
"Pengantin matamu, dasar pria idiot, gila, mesum" Sinta manggut-manggut karena merasa dongkol.
.............................................................................
Sinta terlihat bersinar dibawah balutan baju merah darah ditubuhnya, seolah gaun itu memang dibuat khusus untuknya.
"Sebenarnya kenapa sih, tiba-tiba saja semua orang lebih pendiam dari biasanya" Sinta berjalan keluar dari rumanya dan disambut dengan suara jeritan itu lagi.
Tapi bedanya Suara itu seolah membawanya kesuatu tempat.
"Aku harus menemukannya" langkahnya terus bergerak kearah Utara, yang berarti kearah Pasar.
Matanya membulat kaget ketika sampai ditengah pasar.
Suasana yang seharusnya sepi itu kini dipenuhi orang-orang berbaju merah.
Semua berwarna merah seolah melambangkan sesuatu.
"Akhirnya kau datang, pengantinku sayang" sebuah suara segera menyadarkannya yang sedang berdiri tegang ditengah kerumunan.
"Kemarilah" Pria dengan balutan Merah datang mendekatinya.
Secara perlahan Sinta berjalan mundur, dia benar-benar syok dan terkejut.
"Pergi, kalian bukan manusia. Kalian pasti hantu" Sinta yang mencoba kabur seketika dikagetkan dengan kedatangan Bayu disana.
"Mas Bayu, tolong Sinta. Tolong tolongggggggggg" Sinta menjerit saat sebuah lengan kokoh menariknya ketengah kerumunan.
"Sinta, dari awal kita semua memang sudah menjadi penghuni Desa ini" ungkap Ari dan memeluk tubuhnya lembut.
"Kau hanya belum terima akan kematianmu, itulah knapa rohmu selalu menjerit disetiap malam" Tangan ari memeluk pinggang Sinta mesra.
"Aku dengan setianya selalu menunjukkannya lewat ingatan masa lalumu, agar kamu bisa tau betapa tulusnya aku mencintaimu" Pelukan itu terurai saat Sinta tiba-tiba pingsan membuat kerumunan riuh.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
"Selamat Tuan Ari, kandungan Nona sudah 3 bulan"
Enddd~~~~~~