Namaku Aysila Nindia Putri atau bisa di panggil Sila. Umurku 17 tahun dan aku kelas 3 SMA. Aku bersekolah di SMA Harapan Bangsa.
Aku merupakan anak satu-satunya di keluargaku atau bisa di bilang anak tunggal. Tidak mempunyai kakak dan tidak mempunyai adik tapi aku mempunyai seorang teman kecil.
Temanku bernama Melya, ia sering memanggilku dengan sebutan shi-shi. Ia berteman denganku saat usiaku 5 tahun, saat itu aku pindah ke rumah baru yang ternyata terdapat Melya di sana. Aku mengajaknya bermain karena ku lihat ia seperti sedih duduk di tangga sendirian karena dulu aku tidak tahu kalau dia itu hantu maka dari itu aku mengajaknya bermain mungkin karena dulu yang aku pikirkan hanyalah aku mempunyai teman bermain.
Seiring berjalannya waktu barulah aku mengetahui siapa dia. Melya adalah sosok hantu yang ceria dan baik hati, mama Aysila pun mengetahui hal itu namun tidak pernah melarangnya justru ia merasa jika Aysila akan aman saat bersama Melya.
Pagi ini Aysila akan pergi ke sekolah dan tentunya bersama Meyla si hantu kecil yang baik hati, Sebelum berangkat mama Aysila menyuruh Aysila untuk sarapan terlebih dahulu.
"Sila sayang ayo sarapan dulu," teriaknya.
"Iya ma," jawab Aysila tidak kalah kencang.
Setelah selesai sarapan aku berpamitan kepada Papa dan Mamaku, ku cium tangan mereka dan mereka balas mencium kening dan kepalaku.
"Daa sayang," ucap mamaku melambaikan tangan ke arahku yang ku balas lambaian tangan juga.
Aku duduk di kursi belakang mobil dengan Melya sedangkan yang membawa mobil merupakan supir pribadiku. Suasana pagi masih terlihat, jalan-jalan belum terlalu ramai sehingga Aysila dan Melya bisa bebas menikmati keindahan alam yang di ciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
"Shi-shi," ucap Melya.
"Apa?"
"Aku mau berkeliling di sini, tidak apa bukan?" tanyanya.
"Baiklah aku masuk ke kelas dulu, jangan pergi terlalu jauh oke!" ucap Aysila.
"Oke Shi-shi," jawab Melya.
Aysila masuk ke dalam kelas mengikuti pelajaran seperti biasanya, sedangkan Melya pergi berkeliling seperti biasa di SMA Harapan Bangsa. Asysila pun tidak perlu khawatir dengan Melya karena anak kecil itu memang sering ikut dirinya ke sekolah.
"Shi-shi," ucap Melya yang saat ini duduk di samping Aysila.
"Kamu ngapain di sini," ucap Aysila.
"Temenin kamu," jawab Melya sambil tersenyum.
"Aysila!" teriak guru yang mengajar.
"Ya buk?"
"Keluar kamu dari kelas saya! bukannya memperhatikan malah sibuk dengan urusanmu sendiri," ucap guru yang memang terkenal killer.
"Siap buk," ucap Aysila dengan senang.
Para murid yang sedari tadi melihat hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat reaksi yang di tunjukkan oleh Aysila. Mereka sudah tidak heran dengan perempuan yang tidak mempunyai teman itu.
"Shi-shi maafkan aku," ucap Meyla dengan wajah tertunduk sedih.
"Kenapa minta maaf La? Kamu tidak salah," ucap Aysila sambil berjalan menuju ke sebuah batang besar di belakang sekolah.
"Shi-shi tadi aku jalan-jalan di sini,"
"Oh ya?"
"Iya, tadi aku ketemu sama hantu perempuan yang gede itu terus di tengahnya bolong," ucap Melya.
"Emm... Wewe gombel?" tanya Aysila.
"Shi-shi apa itu wewe gombel?" tanya polos Meyla.
"Emm bukan apa-apa,"
Bukannya Aysila tidak ingin menjelaskan tapi nanti Meyla akan terus bertanya jika belum paham.
"Tapi aku ingin tahu," paksa Melya.
"Dia itu hantu yang menyukai anak-anak Ly," ucap Aysila.
"Ah ya ya aku pernah bertemu dengan hantu besar dan hitam di dekat pohon mangga di depan gang," jelas Melya.