Beribu heran tak cukup untuk mengungkapkan keresahanku terhadapnya. Beribu tanda tanya tak cukup pula menggambarkan kegalauan ini. Betapa dia tercipta amat sangat sempurna hatinya dan begitu lembut perangainya. Matanya yang mengisyaratkan kedamaian hati dan kasih sayang. Begitu sabarnya hingga kupikir hatinya sedingin es. Tetapi sungguh dia amat hangat.
“Aku tahu selama ini kau menginginkanku.” Tutur suatu suara.
Kusempatkan diriku untuk berhenti dan mengintip diluar tirai jendela ruang kesenian. Sungguh pemandangan yang langka, melihat Dara dan Rayu bersama. Berduaan sepulang sekolah di tempat yang sepi ini? Apakah mereka punya hubungan yang perlu disembunyikan?
Rasa penasaran membuatku penajamkan pendengaran dan penglihatanku. Cowok bernama Rayu yang terkenal playboy itu mendekati Dara intens.
“Kau tak perlu malu, tak ada siapapun disini kecuali kita berdua.” Kata Rayu meyakinkan cewek di hadapannya.
Aku ada disini, batinku. Kulihat Rayu hendak menjamah Dara dan langsung ditepis oleh Dara. Hah! Lihat kelakuan playboy itu.
Rayu tersenyum mengejek, “Tak usah sok suci dan jual mahal, kau akan rugi. Ayolah, kita nikmati saja.”
Kembali tangan Rayu meraba dan kembali pula ditepis oleh Dara. Ku kepalkan tinjuku, berharap aku punya keberanian untuk masuk ke sana dan memukul cowok playboy itu. Setidaknya satu kali, tepat di wajah!
“Inikah yang kau lakukan pada gadis-gadis lainnya? Sungguh pun benar, maka aku tidaklah sama seperti gadis-gadis yang pernah kau nodai.” kata Dara, masih berusaha bersikap ramah.
Aku salut pada pemilihan katanya yang tetap halus meskipun saat ini aku ingin sekali mengumpati cowok itu. Brengsek!
“Hehh, aku sudah dengar kalimat itu berkali-kali, tapi buktinya mereka tetap mau melakukannya denganku!” Bangga Rayu sembari membentangkan kedua tangannya dengan angkuh.
Mata Dara menyipit, “Kau mungkin salah paham, selama ini tak terbersit niat untuk menjadi milikmu!”
“Aku tak peduli karena aku menginginkanmu!”
“Tapi aku tidak. Kau bukan cowok yang bertanggung jawab. Aku tahu yang kau lakukan hingga mengambil kesucian seorang gadis. Harusnya kau berterima kasih karena aku masih memperingatimu!”
“Benarkah?” nada suara Rayu terdengar mengejek.
Dara berkata dengan dingin, “Tidakkah kau tahu Sona sedang mengandung anakmu?”
Perkataan Dara memaku gerakan Rayu, menyumbat tenggorokannya. Melemaskan otot-ototnya. Lalu, Dara pergi meninggalkannya begitu saja. Aku langsung bersembunyi saat melihat Dara hendak keluar ruang kesenian.
Jantungku berdebar. Tidak hanya Rayu, bahkan aku pun kaget mendengar pernyataan itu. Sona hamil?! Adik sepupuku?!
Saat sosok Dara sudah tidak terlihat lagi, aku memasuki ruang kesenian itu. Menutup pintunya. Rayu terkejut melihat kehadiranku. Mungkin akan lebih terkejut dengan niatku. Aku langsung menghampirinya, mencengkeram kerah seragamnya, memukulnya sekuat tenagaku. Tanpa memberinya jeda untuk bicara.
“Brengsek kau!” umpatku kesal.
# # #
Seminggu kemudian gosib tentang Dara dan Rayu menyebar luas di sekolah. Gosib yang mengatakan bahwa Rayu menghamili Dara, bukan Sona. Di dalam kelas, kuamati Dara masih bersikap tenang meski ribuan pertanyaan menghujaninya.
Padahal amarahku sudah menumpuk. Bahkan setelah kulampiaskan waktu itu tidaklah cukup. Rayu dengan percaya diri tetap masuk ke sekolah seakan tidak terjadi apa-apa. Sementara Dara bersikap masa bodoh dengan semua gosib tentang mereka.
Sona sendiri juga tidak terlalu peduli. Ketika aku menemuinya dan bertanya, dia hanya tersenyum sembari berkata bahwa dia yang akan membesarkan anaknya sendiri.
Kenapa mereka malah menganggap enteng masalah ini? Lalu bagaimana denganku yang memendam amarah? Apakah perasaanku tidak berarti?
“Kalian percaya?” Tanya balik Dara saat teman-teman sekelas mengerumuni mejanya dan bertanya.
“Bagiku mustahil Rayu menjamahmu,” tutur Lana yang langsung disetujui oleh yang lain. “Seperti tidak ada cewek lainnya saja, bukan berarti kau jelek. Tapi, ayolah... kau bahkan tidak pernah bicara dengannya!”
Teman yang lain menimpali, “Kau selalu bersama kami, bagaimana kami bisa percaya gosib murahan itu.”
Dara mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu juga bagaimana gosib itu bisa tersebar. “Kau benar. Kalau ada yang ingin menjatuhkanku, maka orang itu perlu mengarang cerita yang lebih bagus dari ini.” Katanya.
Lalu bubarlah gerombolan itu musnahlah kabar itu. Dalam sekejap semua kembali normal. Tidak ada yang percaya dengan gosib itu, karena pada dasarnya memang mustahil. Sekalipun Dara di panggil ke ruang kepsek, tidak ada skorsing yang diterimanya.
Tapi haruskah aku tidak percaya juga, sedangkan aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Walau kebenaran yang kutahu bukan mengenai Dara, melainkan Sona. Rayu sudah menghamili Sona.
# # #
Pulang sekolah kujumpai Dara berdiam diri di bawah pohon asem. Sendirian menatap langit yang kebiru-biruan. Kudekati dia seraya mengambil tempat disebelahnya. Dia menoleh sedikit padaku, lalu tersenyum.
“Tentang gosib itu,” agak ragu aku mengatakannya.
“Kau percaya?” Tanyanya.
Kutautkan jemariku, “Aku melihatnya sendiri.”
“Tidak baik mencuri dengar pembicaraan orang lain walau tidak disengaja,” tuturnya lembut.
“Maksudku soal Sona, kenapa kau tidak membela dirimu dengan mengatakan yang sebenarnya?” Tanyaku penasaran. “Kau cukup beruntung kepsek tidak memberimu skorsing, meskipun aku juga berterima kasih karena kau sudah melindungi Sona.”
Dara menatapku, “Ah, kau sudah tahu?”
Aku mengangguk.
“Lalu?”
“Aku sudah menemui Sona. Dia bilang akan membesarkan anaknya sendiri. Keluarganya sudah lama membuangnya, jadi tidak ada gunanya mengadu pada mereka.” Terangku. “Aku juga pasti akan membantunya.”
“Aku rasa dia bisa memutuskan sendiri,” kata Dara.
Kupandangi dia dalam-dalam. Kurasakan hatiku berdesir. Bagaimana bisa ada cewek sebaik ini? Membuatku ingin memilikinya dalam genggamanku. Inikah yang dirasakan Rayu saat itu? Perasaan asing yang memabukkan ini.
“Jika aku memintanya, apa kau juga akan menolakku?” Keluar juga kata-kata yang kusimpan dihati. Begitu mulus tanpa retakan. Selayaknya cowok brengsek lain.
Dara tertawa kecil. “Tergantung. Kau sungguh mencintaiku, apa hanya memanfaatkanku.” Jawabnya.
Aku merasa masih memiliki harapan, “Rayu memilih yang ke dua?”
Dia tersenyum lembut. “Menurutmu?”
“Kalau kuberi tahu bahwa aku mencintaimu,” Kutatap matanya. “Kau mau menerimaku?” tanyaku lagi.
Sekali lagi Dara tersenyum. Tak acuh dia mengalihkan pandang ke langit. Kurasa dia perlu waktu untuk berpikir. Lama aku menunggu, hingga merasa bosan. Masih tidak ada jawaban darinya. Kucoba menelusuri pandangannya, dan disana, diantara pepohonan yang menjulang tinggi. Kulihat dua pasang sayap yang mengepak indah dari sepasang burung dara yang saling berpisah.
Inilah jawaban atas pertanyaanku. Aku sudah ditolak.
Aku tersenyum kecut, “Aku mengerti. Maaf sudah bertanya,” dengan berat kulangkahkan kaki dari tempat itu. Meninggalkan perasaanku disana. Walau dalam hati aku sedikit memuji keberanian Rayu yang mencoba memaksanya.
“Ah, aku sama brengseknya dengan cowok itu.” Lirihku.
Ya. Hanya keberanianku saja yang kurang darinya. Hahaha.
# # #
“Di tembak lagi?”
Suara sosok lain yang menghampiri Dara setelah kepergian cowok yang tadi menembaknya. Dara tersenyum ke sosok yang langsung memeluknya itu. Mengecup pipinya mesra.
“Aku suka kalau kau cemburu,” kata Dara.
Sosok lelaki itu balik mengecupnya, “Kau tahu aku akan bersikap kasar kalau sedang cemburu,” tantangnya.
“Ayolah, apa kau akan men-skorsing ku?” goda Dara, “Kepala sekolah yang dermawan,”
Lelaki itu langsung termakan godaan Dara. Di bawah pohon asem, mereka berdua saling memadu kasih. Disaat tidak ada seorangpun di sekitar, keduanya malah ber.cum.bu.
Ah, ralat!
Seorang cowok melihat adegan keduanya dari sisi taman. Cowok yang tadi baru saja menembak Dara dan ditolak olehnya. Cowok yang memutar balik langkahnya menuju cewek yang disukainya itu dengan maksud brengsek. Malah sudah keduluan oleh orang yang tidak terduga. Melihat rahasia besar yang tidak sekalipun terbersit di benaknya.
“Hah, aku memang bodoh.” Maki cowok itu ke dirinya sendiri.
Dia pun menggelengkan kepala. Sosok cewek yang dianggapnya sempurna hati dan perangainya berubah menjadi murahan. Dia merasa benar-benar dipermainkan. Akan jadi apa perasannya sekarang. Keresahan yang semakin menumpuk di hatinya.
Dia hanya terdiam disana. Tidak sanggup menggerakkan kakinya selangkahpun. Dengan bodohnya, merutuki diri sendiri.
“Sialan.”
# # # #
TAMAT.