“Ka, kalau seandainya ini rebahan emak yang terakhir.” Suara emak menembus gendang telingaku, meskipun mata sudah tengah terpejam dan kesadaran sudah mulai menjauh.
“Terakhir gimana Mak?” tanyaku, antara kesadaran dan kantuk yang menyerang.
“Emak tidur untuk selama-lamanya.” Aku kembali fokus mendengarkan emak.
Karena lelah setelah menghabiskan pesanan kue kering, aku dan emak istirahat dengan berbaring. Emak sebelah kanan lebih dekat dengan televisi yang baru saja kunyalakan atas permintaan emak. Aku sendiri lebih memilih dekat tembok agar lebih cepat tertidur. Tapi, ucapan emak membuat kantukku seratus persen menghilang.
“Aku tidak mengerti.” Sahutku akhirnya.
“Masa ini kematian terasa dekat Ka,” Emak memang biasa memanggilku Lika atau Ka saja daripada Alika seperti panggilan teman-teman dan keluarga yang lain.
“Lihatlah, dalam sehari begitu banyak yang dihampiri Izroil.” Sambungnya, menunjuk pada kabar sore yang sedang menunjukkan korban covid_19 yang sedang membooming.
“Itukan di kota besar Mak, NTB aja baru seminggu ini ditutup. Itu artinya wilayah kita masih relatif aman.” Kilahku, sebenarnya di hati sudah tidak karuan. Aku akui di samping status pandemi yang sudah disiarkan, usia emak sudah terbilang lanjut untuk tetap bertahan. Sebagai anak aku ingin egois meminta emak bertahan lama, tapi lagi-lagi bukankah takdir adalah perjanjian yang tidak bisa kita ingkari.
“Emak sudah tua Ka, waktu yang Allah berikan sudah banyak. Emak tidak mungkin meminta lebih banyak waktu lagi. Emak hanya ingin melihat anak bungsu emak memakai Toganya.” Balas emak dengan suara lebih kecil pada kalimat terakhir.
Aku tertohok. Ini tahun kelima aku berstatus mahasiswi, seharusnya seperti teman-teman yang lain tahun kemarin aku sudah melepas status ini. Nyatanya, sudah lebih setahun tanda tangan acc belum juga terisi pada lembar kontrak bimbinganku.
Aku sudah berusaha sangat keras, sungguh. Melawan rasa malas dan godaan mendapat pengalaman di luar kampus menjadi cobaan terbesarku. Mencoba dunia baru menjadi obsesi yang mengalahkan keinginanku untuk lebih dulu menyelesaikan tugas akhir.
Terlebih saat ini, kampus sudah ditutup, dosen menjadi semakin sulit dihubungi. Hal yang membuatku semakin nyenyak untuk rebahan menarik selimut lalu bermain ponsel, setelah itu kembali memejamkan mata. Sampai saat kalimat emak yang langsung menancap dalam jiwa.
Bagaimanapun, kondisi saat ini tidak memberi ruang bebas untuk konsultasi dan melanjutkan penelitianku. Aku dilema dengan rasa bersalah yang mendera, rasa bersalah pada emak dan bapak. Karena, jika diminta jujur. Aku sendiri tidak terobsesi untuk cepat menyelesaikan kuliahku.
Menikmati suasana kampus masih bisa menghiburku, tidak dengan emak dan bapak.
Sayangnya, memang sejak bulan lalu aku selalu sensitif membahas tentang tugas akhirku. Emak tidak tahu sekeras apa aku mencoba fokus. Emak juga tidak tahu, sudah seminggu ini aku tiak tidur untuk mengejar revisi yang sempat tertunda karena aku meninggalkannya. Emak juga tidak tahu, aku sudah menghubungi dosen pembimbingku untuk konsultasi. Aku memang tidak cerita tentang itu, karena enggan membahas tugasku dengan siapapun.
Aku bangkit lalu meninggalkan emak masuk ke kamar, lalu menutup pintu dengan sedikit keras. Bukan membanting, tetapi cukup menggambarkan ketidak sukaanku membahas hal itu. Tidak lupa, pintu kamar kukunci rapat. Laptop yang menganga di atas meja seakan ikut menguras emosiku.
“Ka,,,” samar-samar kudengar suara emak dari belakang pintu.
Aku bergeming, tidak sedikitpun mengubah cara dudukku yang sedang menatap nanar pada laptop. Tiga kali memanggil emak sepertinya meninggalkanku karena tidak kunjung mendapat sahutan. Rasanya ingin menangis, tapi airmataku terlalu sombong untuk menetes. Hanya menatap pilu pada laptop tanpa niat untuk menekan tombol on.
***
Sudah dua aku tidak keluar kamar, ah tidak aku hanya keluar mandi sekalian wudhu dua kali sehari. Di hari ketiga, rasa lapar mencemoohku. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, kuambil tas punggung yang sudah lama menggantung. Tidak pamit atau menyapa siapapun yang kutemui, dengan langkah mantap aku keluar rumah.
Tujuan ke mana? Aku butuh asupan lambung, jadi tujuan utama supermarket terdekat juga sekalian mencuci mata. Aku bukan seorang yang betah dengan pengapnya ruangan, waktu tiga hari benar-benar menyiksaku. Kuputuskan sedikit menghibur diri dan mencari motivasi yang mungkin tercecer di jalan.
Seharian menelusuri jalan tidak membawaku menemukan semangat dan motivasi yang hilang. Lalu, ketika akan mauk ke dusun seorang teman yang biasa menemaniku mencari jalan baru, portal menutup akses jalan menuju rumahnya. Aku ingat minggu lalu aku ke sini masih belum ada penutupan jalan. Tetapi, hari ini baru saja mendekati portal aku dihadang beberapa orang dari balik portal.
“Kemana Al?” tanya Arif. Aku memang banyak mengenal warga sini, karena kami masih dusun tetangga.
“Mau ke rumah Mba Oya Rif, kok ditutup?” tanyaku balik.
“Kamu tidak tahu?” Arif menatapku heran, aku hanya mengangkat alis tidak mengerti.
“Sejak ada yang positif kemarin kai sudah menutup jalan.” Aku melongo.
“Positif?” ulangku memastikan pendengaranku.
“Kamu sungguh tidak tahu? Sudah tiga hari lo.” Ucapnya menyakinkanku.
“Aku balik Rif.” Pamitku langsung meninggalkannya.
Aku melajukan motor langsung menuju rumah. Otakku berputar tidak karuan memikirkan banyak hal. Tiga hari yang lalu aku mengurung diri tidak juga berhubungan dengan dunia luar hanya mengisi waktu dengan rebahan sepanjang jalan. Aku jadi tidak tahu berita terbaru dari tetangga rumah apalagi tetangga dusun. Aku jadi teringat alasanku mengurung diri.
“Kekhawatiran emak sangat beralasan.” Bisik hati kecilku dan aku dengan keegoisan tingkat tinggi mengacuhkannya. Emak hanya ingin aku menyelesaikan tugas akhirku, tetapi aku melunjak dengan tidak tahu diri.
Aku tanpa rasa salah dan sesal menikmati rebahan sepanjang hari. Ah, tidak terasa airmataku mengalir deras ketika sesal menggeranyangi benakku. Rasa salah yang menamparku tanpa ampun.
Sampai di rumah aku tidak menemukan siapa-siapa. Pintu yang tertutup rapat tidak bisa menjelaskan kemana perginya semua orang. Dan sikapku sejak tiga hari lalu membuat tidak seorangpun yang memberitahuku kemana perginya mereka.
Aku nelangsa, dengan langkah pelan masuk ke kamarku. Menatap sekeliling tatanan kamar yang tidak berubah sejak setahun lalu karena terlalu malas untuk sekedar menata ulang. Kali ini aku bertekad kuat, bukan karena motivasi yang sudah kutemukan.
Tetapi, aku harus memaksakan diri untuk menuntaskan keinginan emak. Aku berharap belum terlambat. Masih ada waktu untuk bangkit, bukankah lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Sudah cukup waktu rebahanku, biarlah tiga hari kemarin menjadi rebahan terakhirku.
***
Seminggu aku berkutat dengan laptop dan lembaran-lembaran yang menghias tempat tidurku. Untungnya, dosen mengizinkanku bimbingan secara online. Meskipun sedikit lebih ribet dan butuh kesabaran tingkat tinggi, di minggu kedua aku sudah menyelesaikan banyak hal. Tapi satu yang belum sebelum benar-benar tuntas di bab pembahasan. Aku harus cross chek lapangan.
Ke lapangan bukan menjadi hal yang berat untuk ku jalani. Aku bahkan mengambil penelitianku karena ada cek lapangan. Itu cerita dulu ketika baru mulai menyusul proposal, kali ini ceritaku harus dibumbui oleh peraturan penutupan beberapa desa yang warganya ada terkena positif. Terlebih, wilayah yang harus kukunjungi termasuk zona merah dan ditutup untuk umum. Tapi, aku butuh segera data lapangan itu untuk merampungkan revisiku.
Dilema untuk patuh pada anjuran pemerintah untuk menjadi pahlawan di rumah saja atau sedikit memberontak menyusup ke luar menjadi anak berbakti dan menyelesaikan tugasku. Dilemaku berlanjut hingga minggu setelahnya. Lalu dengan tekad baja, bukan untuk melawan anjuran pemerintah tetapi menjadi seorang anak yang bertanggung jawab dan berbakti. Aku melangkah. Sebuah langkah panjang untuk menemukan teman dan mencari jalan tikus lain yang tidak dijaga rapat. Hari ini aku menunaikan tugas.
***
Setelah dua minggu sejak kampus mulai menerima kedatangan mahasiswa, kedua dosen pembimbing menanda tangani kontrak bimbinganku sebagai bentuk izin untuk lanjut ke tahap sidang akhir. Selang satu minggu kemudian aku mendapat kabar untuk sidang pertanggung-jawabanku. Aku tidak khawatir tentang itu, toh tugas akhirku benar-benar kukerjakan sendiri. Juga, aku tidak terlalu gugup untuk bicara di depan dosen. Ini bukan kali pertama.
Hanya saja, hal yang membuatku harap-harap cemas juga ketakutan setengah mati. Emak, dua hari lalu mau tidak mau diharuskan opname di puskesmas. Bukan tidak ada yang menemani beliau, kakak-kakakku sudah siap bergantian menemani emak. Aku sendiri disuruh pulang, tidak sekalipun diizinkan menjaga emak.
“Setelah ujian baru kamu nginaps jaga emak.” Ucap kakak keduaku ketika aku merengek untuk ikut menginap.
“Ujiannya masih tiga hari lagi kak. Aku udah persiapan jauh-jauh hari, izinkan aku sekali ini saja.” Pintaku memelas.
“Tidak, lagian yang jaga Cuma dikasih satu orang. Kamu diam di rumah saja, belajar yang rajin.”
“Dasar Corona.” Cebikku kesal. Tentu saja peraturan ini dibuat gara-gara kunjungan corona terlalu lama.