'Perjodohan’ mungkin tidak ada kata itu di dalam kamus hidup seorang Felisya Almaira. Bak putri dari negeri dongeng hidupnya begitu sempurna. Putri tunggal seorang Menteri perdagangan, dan memiliki kekasih bak pangeran yang sangat mencintainya.
Namun, kehidupannya yang sempurna itu seketika luluh lantah saat orangtuanya tiba-tiba saja menerima lamaran seorang pria bernama Gutama Prawira.
“Tunggu Pa, bukankah dia sepupu Skala?”
Nyalang Felisya menatap sang papa, sementara mamanya hanya bisa menunjukkan ekspresi kesedihan. Hera-Ibunda Felisya itu tahu bahwa hubungan putrinya dengan sang kekasih yang bernama Skala sudah hampir menuju jenjang yang lebih serius, bahkan sebagai bukti cintanya, pria itu sudah memberikan sebuah cincin yang melingkar di jari manis Felisya.
“Papa tahu Fel, tapi Skala hanya anak yatim piatu di keluarga Prawira, sementara Tama dia jelas memiliki papanya sebagai penyokong. Hidupmu akan lebih terjamin jika menikah dengan Tama ketimbang Skala."
“Dari mana papa bisa menyimpulkannya seperti itu?” Felisya berdiri dari kursinya, untuk kali pertama dalam hidupnya, gadis itu membantah permintaan papanya.
"Papa terlibat suatu masalah Fel dan Maher Prawira membantu papa menyelesaikannya."
"A-pa?" Felisya yang sudah berjalan pergi menghentikan langkahnya. Ia berbalik dengan mata yang mulai menggenang.
"Papa mohon! Pak Maher meminta imbalan dengan menikahkanmu dengan putra tunggalnya-Tama."
"Papa pikir aku uang? sampai papa memberikan 'ku kepada mereka sebagai imbalan?" air mata Felisya menetes. Hatinya terasa ngilu.
"Bu-kan, bu-kan begitu maksud Papa Fel-" Hera mencoba menenangkan sang putri. Namun, tangannya yang hampir menyentuh lengan Felisya, ditangkis sedikit kasar oleh anaknya itu.
"Mama dan Papa jahat, bagaimana bisa kalian tega berbuat seperti ini padaku?"
Felisya pergi ke kamarnya dan langsung menghambur ke arah ranjangnya. Dipeluknya erat bantal, Ia meledakkan tangisnya di sana.
***
"Apa aku tidak salah dengar? dia kekasih Skala kan Ma?"
Tama bak disambar petir di siang bolong, persetujuannya untuk menikah dengan cara dijodohkan dipelintir oleh rangtuanya.
"Gadis mana pun terserah mama dan papa tapi jangan kekasih Skala, dia sudah cukup membenci 'ku selama ini Ma, hubungan kami renggang. Apa lagi kalau-" Tama tercekat. "Aku menikahi kelasihnya."
Wajah Tama memerah, emosinya sudah mencapai ubun kepalanya. Jika saja lawan bicaranya sekarang bukan lah wanita yang melahirkannya, Ia pasti sudah akan berkata kasar dan mengeluarkan umpatan.
"Bisakah kamu berhenti memikirkan adik sepupumu itu?" Viona ibunda Tama itu sedikit membentak. "Dia sudah mendapat banyak hal yang seharusnya menjadi milikmu selama ini," tandasnya.
"Apa maksud Mama? apa Mama pikir aku iri dengan Skala? Ma, Jangan membuat hubungan persaudaran kami yang sudah tidak baik ini menjadi semakin memburuk." Rahang Tama sudah mengeras, pria itu emosi.
"Tama! coba kamu lihat! karena dia kakek mengabaikan dirimu, dia menomor satukan Skala di atas segalanya, padahal kalian sama-sama cucunya."
"Tidak, aku tidak merasa diabaikan oleh kakek!" elak Tama.
"Jangan membohongi dirimu sendiri, selama ini mama tahu bahwa kamu membenci adik sepupumu itu karena merampas semua perhatian kakekmu."
Berlalu pergi tanpa permisi, Tama mengguyar rambutnya kasar. Ia melonggarkan dasinya karena dadanya terasa sesak. Bagaimana mungkin dia menikah dengan gadis yang merupakan kekasih adik sepupunya sendiri.
Hati Tama dirundung gelisah, bagaimana tidak? menikahi gadis bernama Felisya Almaira itu sama dengan menusuk Skala dari depan. Adik sepupunya itu pasti akan semakin membencinya karena merebut gadis yang sangat dicintainya. Terlebih, alasan pernikahan itu benar-benar didasari atas sebuah kesepakatan antara Ayahnya dan Ayah Felisya. Jika Skala tahu, hubungan mereka akan benar-benar selesai.
Sebagai cucu yang sama dari Klan Prawira, Tama sadar banyak yang membanding-bandingkan dirinya dan sang sepupu. Bahkan sejak kecil Viona-mamanya selalu menanamkan bahwa Skala adalah musuhnya. Namun, Tama bukan tipikal orang yang dengan mudah menelan mentah-mentah perkataan orang lain, meskipun itu adalah orangtuanya. Baginya, Skala adalah saudara dan seharusnya tidak ada kata bermusuhan diantara saudara.
Tama menatap zebracross disebrang tempatnya menunggu kedatangan Felisya. Hari itu, ia mengikuti keinginan orangtuanya untuk bertemu dengan gadis itu. Dari jendela kaca yang memperlihatkan jelas pemandangan luar, Tama melihat sosok gadis turun dari taksi. Gaun peach bermotif bunga berwarna pink di bawah lutut serta rambut panjang yang dibiarkan tergerai, menunjukkan betapa anggunnya Felisya. Ya, kekasih adik sepupunya. Selera Skala memang tidak bisa diragukan, Tama tahu sepupunya itu menyukai gadis feminim.
Tama terlihat menegakkan badannya karena berpikir Felisya akan masuk ke dalam kafe, tapi seketika ia melipat dahi karena gadis itu malah terlihat berjalan ke arah zebracross. Heran, akhirnya Tama tahu apa yang sedang dilakukan gadis itu, Felisya mensejajari seorang nenek yang nampak berjalan lambat, tujuannya sudah jelas, agar mobil-mobil yang melintas sedikit bersabar. Setelah memastikan Nenek itu selamat sampai ke seberang, Felisya berjalan cepat kembali ke tempat semula.
“Gadis itu!” Tama tersenyum sambil terus melihat gerak-gerik Felisya yang datang menuju Kafe dimana dirinya sedang berada.
“Maaf!”
Kalimat yang pertama kali diucapkan Felisya itu membuat Tama heran. Ia pun dengan sopan meminta gadis itu duduk dan memesan minuman.
“Maaf, bisakah anda berkata kepada Tuan Maher untuk tidak melanjutkan perjodohan kita?”
Belum juga Tama menjawab, Felisya lebih dulu mengeluarkan semua yang ada di dalam pikirannya.
"Anda tidak mungkin tidak tahu bahwa saya adalah kekasih Skala,adik sepupu anda.”
Mendengar nama Skala diucapkan oleh gadis di hadapannya, rasa pensaran pun muncul di dalam hati Tama.
“Bukankah hubungan anda dan Skala tidak baik? Apa anda tidak berpikir kalau perjodohan ini malah akan membuat hubungan kalian merenggang,” ucap Felisya lagi.
“Apa Skala yang bercerita?” tanya Tama penasaran.
Felisya mengangguk menanggapi pertanyaan pria di depannya itu. “Apa keuntungan yang anda dapat jika sampai pernikahan kita terjadi? Kita bahkan tidak saling mengenal satu sama lain, bukankah kita akan hanya akan menyakiti satu sama lain? Pernikahan harus dilandasi rasa kasih sayang dan rasa ingin memiliki, saya yakin kita tidak akan bahagia dengan pernikahan seperti ini nantinya.”
Tama hanya bisa mendengar setiap ucapan yang keluar dari bibir Felisya sambil tersenyum. Ia sandarkan punggungnya sambil menatap keluar jendela Kafe sebelum kembali menoleh ke arah gadis yang sedang berusaha membujuknya itu.
“Apa kalian benar-benar saling mencintai?”
“Aku dan Skala saling mencintai, kami bahkan berencana akan menikah,” ucap Felisya tegas, ia berharap Tama bisa menolak perjodohan yang sangat tidak masuk akal baginya ini.
“Baiklah, aku akan mencoba bicara ke orangtua ‘ku, lagi pula menikah juga belum menjadi prioritas hidup ‘ku saat ini.” Tama menutup percakapaannya dengan sebuah kalimat yang tidak pernah dia lakukan.
***
Tama berjalan masuk ke istana tempatnya tinggalnya selama ini. Masih lekat diingatannya bahwa sang kakek awalnya tidak pernah membedakkannya dengan Skala. Namun, setelah peristiwa kecelakaan yang menewaskan orangtua Skala dan bahkan hampir merenggut nyawa adik sepupunya itu, kakeknya-Prawira berubah sikap.Pria itu menjadi sedikit tak acuh padanya.
Melangkahkan kaki menuju kamarnya yang kebetulan dekat dengan ruang kerja kakeknya, Tama berhenti karena pintu ruangan itu tak tertutup rapat. Tidak berniat mendengarkan apa yang sedang dibicarakan sang kakek, tapi Tama terlanjur mendengarnya.
“Skala memang lebih bisa diandalkan, jika seperti ini terus aku tidak akan segan memberikan PG Group ke dia sesegera mungkin.”
Ucapan Prawira ke sekretarisnya yang Tama dengar hari itu menyulut rasa benci Tama. Perasaan iri yang seharusnya tidak ia pupuk tiba-tiba menyala bak api yang disiram bensin.
Sedikit merasakan penderitaan karena aku merebut kekasihmu tidak menjadi masalah kan? Toh kamu sudah mendapat semuanya.
Tama tersenyum pilu dan melangkahkan kakinya menuju kamar.
***
“Apa?”
Felisya berdiri dari kursinya, sendok dan garpu ditangannya pun jatuh karena ia melepaskannya begitu saja. Gadis itu syok karena papanya baru saja berkata bahwa orangtua Tama akan secara resmi melamarnya akhir minggu ini.
Bukankah dia berkata akan berbicara kepada orangtuanya untuk membatalkan perjodohan ini?
Hati Felisya tiba-tiba dilingkupi rasa benci ke pria bernama lengkap Gutama Prawira itu. Awalnya ia berpikir Tama berhati baik, tapi nyatanya pria itu hanya bersikap manis di depan dan menusuk di belakang.
“Fel, putuskan Skala atau papa yang akan menemuinya sendiri!”
Ancaman sang papa semakin membuat Felisya marah, ia meremas bagian samping bajunya erat-erat.
"Katakan apa yang tidak dimiliki Skala tapi dimiliki oleh pria bernama Tama itu!?" Felisya berteriak. Kali pertama di dalam hidupnya gadis itu membentak sang Papa.
"Feli!" Hera pun terkejut dengan kelakuan sang putri.
"Keluarga, dia tidak memiliki orang tua."
"Apa papa tidak bisa memberiku alasan yang lebih masuk akal? apa papa tega mengorbankan kebahagiaan 'ku?" Felisya meneteskan air mata, Ia ingin beranjak pergi dari sana. Namun, langkahnya tertahan oleh ucapan sang Papa.
“Sebenarnya papa melakukan kesalahan, Papa terjebak dalam sebuah kasus korupsi, dan Maher Prawira membantu papa keluar dari masalah itu.”
“Apa?”
“Menikahkan ‘mu dengan anaknya adalah imbalan yang istrinya inginkan.” Menatap sang putri dengan pandangan sedih, mata Papa Felisya nampak berkaca-kaca.
“Papa juga tidak menyetujuinya begitu saja Fel, tapi papa yakin kamu akan bahagia menikah dengan Tama.”
Felisya menghela napasnya sambil menyeka air mata yang terus menetes di pipinya, ia masih tidak bisa menerima perjodohan ini begitu saja. Apakah ia bisa mencintai Tama nantinya? Hati Felisya benar-benar seperti ditimpa batu besar, apa yang harus dikatakannya ke sang pujaan hati nantinya?
Pergulatan batin pun Felisya alami, jika sampai papanya masuk penjara dan nama baik keluarganya tercoreng, ia berpikir Skala bisa saja akan meninggalkannya di kemudian hari. Apalagi kakek kekasihnya itu terkenal sebagai sosok yang tegas, mendapat besan mantan narapidana, Felisya tidak bisa membayangkan hal itu.
Keesokan paginya, Felisya meminta bertemu dengan Tama. Meskipun ia benci ke pria itu karena tak menepati janjinya, tapi ia masih ingin mencoba membujuk agar Tama mau membatalkan perjodohan ini.
Namun, Felisya harus kecewa karena kali ini pria itu menolak mentah-mentah permintaannya.
“Untuk apa aku menolak perjodohan jika menguntungkan keluargaku?”
“Keuntungan apa yang akan anda dapat? Anda tidak tahu apa papaku masih akan terus menjabat atau tidak, situasi politik saat ini tidak menentu.” Felisya masih tidak habis pikir kenapa Tama bersikeras melanjutkan perjodohan di antara mereka.
“Membuat seseorang tidak mendapatkan apa yang dia inginkan,”gumam Tama.
“Apa?” Felisya menajamkan matanya mendengar kalimat Tama, ia bahkan meminta Pria yang tengah duduk santai di hadapannya itu untuk mengulangi ucapannya.
“Intinya aku tidak memiliki masalah dengan perjodohan ini, urus saja urusanmu dengan Skala. Apa kamu tidak ingin segera mengatakan kepadanya kalau kamu dijodohkan denganku? Sepupunya.” Tama meraih cangkir kopi di atas meja, dengan tatapan dan senyum smirk ia memandang ke arah Felisya.
“Aku benar-benar membencimu Tuan Gutama Prawira,” ucap Felisya sambil menatap kesal ke arah pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya itu.
***
“Kenapa? kamu terlihat sangat sedih.”
Skala mengusap pipi Felisya yang duduk di sebelahnya. Pria itu benar-benar sangat mencintai kekasihnya, menjalin kisah asmara setelah pendekatan selama satu tahun membuat Skala merasa bahwa Felisya adalah gadis baik yang tidak mudah memberikan hatinya dan menerima perasaan pria.
Namun, hari itu apa yang selama ini ada dipikiran Skala sepertinya salah. Felisya tiba-tiba meminta berpisah darinya dengan alasan yang tidak jelas.
“Putus? apa maksudmu?” Skala menggenggam erat kedua tangan kekasihnya, sedangkan Felisya hanya bisa menunduk. Ia tak berani memandang mata Skala.
“Aku ingin kita berpisah Ska.”
“Apa alasannya? Kenapa tiba-tiba seperti ini?” masih tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, Skala yang syok sampai mengguncang kedua lengan Felisya.
“Aku butuh pria yang sempurna Ska,” lirih Felisya.
“Sempurna? Apa kekuranganku?”
Felisya menatap wajah pria yang benar-benar dicintainya itu, “Ska- aku benar-benar ingin kita berpisah.”
“Tidak! sebelum kamu memberikan alasan yang jelas.”
Skala yang terlihat marah langsung berdiri dari kursinya, meninggalkan Felisya yang terdiam menunduk dan mengguyar rambut panjangnya.
_
_
_
_
Catalan : cerita ini terbit version Novel di aplikasi K B M
terima kasih