"Bunga yang cantik, akan kau berikan untuk siapa?" Kudengar suaramu datang dari belakangku.
Hatiku berdegup tak berani berkata yang sesungguhnya. Bagaimana bisa aku membocorkan rencana lamaranku hari ini?
Ini adalah hari yang kutunggu. Yakni saat resepsi pernikahan sahabat karibku. Dan aku akan melakukan tantangan dari sahabatku tersebut, yaitu aku akan langsung melamarmu.
"Aah, ini bukan bungaku!" Kini aku berbalik menatapmu dan menyangkal kepemilikanku atas bunga mawar merah nan cantik ini.
Kamu tampak manggut-manggut tanpa mencurigaiku.
Ingin sekali aku menggandengmu. Menyediakan ruang di lenganku untuk kau pegang dengan erat sambil berjalan di hadapan semua orang. Tapi itu hanya mimpiku. Bahkan hingga saat ini, aku masih belum berani mengungkapkan perasaanku padamu. Dan kamu, masih sama seperti yang dulu, hanya menganggapku sebagai sahabat.
Di atas karpet merah, aku melihat sahabatku berjalan dengan wanitanya menggunakan pakaian serba putih. Seperti itulah mimpiku bersamamu, bisa menggandengmu dan menunjukkan pada dunia bahwa kau milikku, tepat setelah aku mengucap janji di depan orang tuamu dan para saksi.
"Kau ingin aku menangkap bunga itu untukmu?" Aku hanya ingin menggodamu hari ini dengan pertanyaanku. Karena kau selalu cantik.
Pengantin wanita yang berdiri di sana siap hendak melempar bunganya, aku akan memasang badanku untuk itu. Meski aku tidak percaya mitos, bahwa orang yang mendapat bunga itu akan segera menikah. Akan tetapi, sebuah pernikahan adalah impianku, tentu saja itu denganmu.
"Tidak perlu, Ardan! Kau tidak perlu berjubel dengan semua wanita yang sudah tidak tahan ingin menikah itu!" Kamu mencegahku. Aku tidak menyangka jika ini adalah awal mula dari penolakanmu terhadapku.
"Kenapa? Aku akan memberikan bunganya untukmu, agar kau bisa segera menikah, cantik." Aku berharap kau tersipu dengan kalimat rayuanku.
"Hatiku sudah hancur ..." ungkapmu lirih, entah mengapa saat ini aku menjadi tidak siap mendengar kalimatmu yang selanjutnya.
"Daripada menginginkan bunga itu, aku lebih menginginkan posisi pengantin wanita tersebut." Kau menunduk sambil melangkah menjauhi kerumunan. Di sini aku merasa bahwa hatiku ikut hancur.
Aku pulang dari acara resepsi pernikahan sahabatku, tanpa melakukan tantangannya. Sahabatku sempat menagih padaku. Tapi kali ini, aku menjadi benci terhadapnya. Mungkin inilah cemburu.
"Mengapa kau ingkar janji, lamar Cika sekarang juga!" Sahabatku sedikit memaksa padaku.
"Kau tau? Aku bukan orang yang suka diperintah!" Aku menjawab sahabatku dengan nada penuh penekanan.
"Pengecut!" Kini giliran sahabatku yang memaki sekaligus menertawakanku.
Aku tak menggubrisnya dan langsung mengejarmu. Aku yakin, meski kau sedang patah hati, kau tidak akan menolak tumpanganku. Aku hanya bisa berharap, perlahan kau menerimaku.
Menerima? Mengapa kini aku merasa seperti telah ditolak? Padahal aku belum mengutarakan apapun padamu.
Sepanjang perjalanan kamu terus terdiam. Mengapa baru kali ini aku mengetahui jika kamu menyukainya. Setidaknya aku tidak akan egois dan akan membantumu mendapatkan sahabatku.
Di depan sebuah kedai bernuansa alam, kamu memintaku untuk singgah. Aku langsung menghentikan mobilku di tempat yang kamu mau. Ah, memangnya kapan aku pernah menolak keinginanmu?
Seandainya aku harus jadi budakmu, maka akan kulakukan. Aku tidak mengerti dengan dirimu, semua orang mengejarku, semua wanita terobsesi padaku. Hanya dirimu satu-satunya wanita yang tidak pernah menganga ketika melihat seluruh abdomen di perutku, dan hanya kamu yang tidak pernah tertarik pada saldo kartu debitku.
"Aku sudah memutuskan." Kau melepaskan sedotan dari mulutmu. "Sebenarnya ini adalah hari terakhirku berada di Indonesia," ungkapmu sambil mengaduk-ngaduk lemon tea dan membuat suara berisik dari es batu yang beradu dengan gelas kaca.
Aku mengalihkan pandanganku, menatap matamu penuh selidik. "Kau mau pergi kemana?" tanyaku.
"Kau tidak perlu tau." Kamu tersenyum dan menyedot kembali minumanmu.
"Dengan uangmu yang banyak itu, aku takut kau akan mencari dan menyusulku." Kamu terkekeh melihat kekhawatiran di wajahku.
"Kamu patah hati? Itu yang membuat kau pergi?" Aku memicingkan mataku.
Kamu mengangguk.
Sedalam apa dia sudah membuatmu terluka? Hingga kau ingin pergi dari tempat yang sudah menjadi kenangan untuk kita berdua.
Tidak pernahkah kau penasaran mengapa sampai sekarang aku terus melajang dan selalu berada di sisimu? Tidakkah terpikir olehmu alasanku yang selalu memprioritaskan dirimu?
Jika kau pergi karena patah hati, lalu bagaimana dengan aku? Harus pergi juga? Karena lebih dari patah hati, perasaanku seakan sudah luluh lantah.
Tahun pertama kepergianmu, aku hanya mendapatkan surat elektronik dari alamat surelmu. Kau menceritakan kabarmu yang baik-baik saja, dan masih seperti yang dulu, kau melarangku untuk mencarimu. Aku hormati keinginanmu.
Surat elektronik kedua, kudapat tepat setelah tahun kedua kepergianmu. Pertemuan terakhir kita di sebuah kedai kau tulis kembali sebagai isi suratmu. Bahkan aku mengingat kenangan manis itu lebih baik darimu, tapi aku tetap saja menikmati ceritamu.
Aku selalu membalas semua suratmu, tapi kau selalu membalasnya lagi pada tahun berikutnya.
Tahun ketiga, aku yang memutuskan untuk mengirim surat terlebih dahulu. Kau menghilang, tak membalas lagi apapun yang kukirimkan pada alamat surel itu.
Tahun keempat, kelima, keenam dan ketujuh. Aku masih setia memeriksa kotak masuk milikku. Namun yang kutemukan hanya beberapa pesan dari kolega bisnis dan sisanya adalah pesan spam.
Tak kutemukan satu surat pun darimu. Hingga aku menggunakan fitur dengan ikon sebuah kaca pembesar hanya untuk memastikan bahwa kamu benar-benar tidak mengirimiku surat lagi.
Meski sudah kupersempit pencarian, NIHIL, aku tidak menemukan surat elektronik darimu lagi.
Tahun kedelapan aku memutuskan untuk mencarimu. Dengan koneksi yang kumiliki, aku memeriksa semua keberangkatan dari bandara 8 tahun yang lalu.
Namun masih nihil. Nama Cika Kireina tidak kutemukan pada keberangkatan manapun, baik domestik maupun luar negeri.
Semua orang terdekatku memintaku untuk menyerah dalam mencarimu. Mereka beranggapan bahwa kamu sudah menemukan kebahagiaanmu di sana. Tapi aku berpendapat bahwa hanya aku yang dapat membahagiakanmu, di sisiku.
Kini sudah sembilan tahun, aku masih melajang karena menyediakan ruang untukmu. Entah sampai kapan aku membiarkan kekosongan ini. Usiaku sudah bukan remaja lagi, bukan juga seorang mahasiswa lagi. Tapi aku masih menjadi lelaki yang menunggu wanitanya pulang.
"Ardan! Istriku kritis!" Sahabatku berkata dengan histeris melalui sebuah telepon.
"Katakan perlahan, apa yang terjadi!" Aku menenangkan sahabatku dari sini, dan memintanya untuk menjelaskan secara gamblang tentang istrinya.
Kini aku berjalan dengan tergopoh-gopoh menyusuri lorong rumah sakit. Istri dari temanku sedang melewati masa kritisnya, dan aku harus segera menjumpai sahabatku ini.
Aku sudah melupakan bagaimana kamu mencintai temanku yang satu ini. Aku melupakan bagaimana aku tersakiti karena kamu meninggalkanku, melihat temanku menikah dengan wanita lain. Aku melupakan semua itu.
Karena pada kenyataannya, sahabatku ini sangat mencintai istrinya. Jadi seharusnya, aku tak perlu cemburu padanya. Ini semua hanya salahku yang terlalu pengecut untuk mengungkapkan cintaku padamu. Bahkan dihari kau berpamitan untuk pergi pun, aku tak berani mencegahmu. Betapa pengecutnya aku!
Aku menyediakan pundak bagi sahabatku yang sedang bersedih. Baru kali ini aku melihatnya menitikkan air mata lagi. Kepergian wanita yang dikasihi ternyata mampu meruntuhkan kekukuhan hati seorang lelaki.
Aku berpakaian serba hitam dan mengantar sahabatku ke pemakaman. Kami berdua adalah orang terakhir yang berada di sana, setelah semua pelayat pergi mengantar jenazah.
Aku membopong sahabatku untuk berdiri dan berjalan meninggalkan gundukan tanah merah yang masih basah itu.
Sesaat kemudian aku kembali, seorang diri. Menatap batu nisan yang baru tertancap 1 jam yang lalu. Harum bunga mawar masih segar di indra penciumanku.
"Hei, aku datang." Entah mengapa aku sedang ingin berbicara sendiri di pekuburan istri sahabatku ini.
"Mengapa wanita selalu pergi seenaknya sendiri? Apa sahabatku memperlakukanmu dengan tidak baik?" Aku tersenyum, tentu saja aku tidak mendapat balasan.
"Kedatanganmu pada kehidupan sahabatku, membuat orang yang kucintai pergi ... tapi ... kini kamu juga malah pergi meninggalkan sahabat terbaikku. Setidaknya, ketika aku terluka, aku masih bisa melihat sahabatku berbahagia. Namun, kamu malah membuatnya bersedih juga. Lalu apa guna wanita bersanding dengan pria jika hanya selalu meninggalkan seperti ini?" Aku menarik rambutku sendiri karena frustasi.
Aku berdiri hendak meninggalkan kuburan istri sahabatku itu. Kemudian aku berbalik arah. Dan, aku menemukan wajah yang selalu kurindukan. Wajah yang selalu kuingat senyumnya selama sembilan tahun terakhir. Dan kini senyum itu kembali menguar di hadapanku, begitu nyata. Sangat cantik.
"Ardan?" sapamu begitu melihatku.
Aku tersenyum ingin memelukmu, namun kuurungkan niatku.
"Apakah dia sudah mati?" Kau bertanya tentang kematian istri sahabatku, seakan itu adalah kabar bahagia untukmu.
Aku mengangguk dan menunjuk pada batu nisan itu. Berharap kau membaca sendiri nama jasad yang terkubur di bawahnya.
Kamu tertawa girang sambil memelukku.
"Apa kamu bahagia?"
Kamu mengangguk memberi jawaban untukku.
"Keji," ucapku berbisik.
Aku berjalan melewatimu, dan tak ingin lagi melihat wajahmu. Bagaimana bisa kamu bahagia di atas penderitaan orang yang kamu cintai.
Pantas saja sembilan tahun kau tidak memikirkan aku yang dengan tulus menunggumu, karena kau tidak punya empati. Dan kini kau kembali setelah mendengar kematian rivalmu. Sungguh keji.
Aku tidak menyangka jika aku mencintai wanita sekeji dirimu. 20 tahun aku mencintai wanita yang tidak punya simpati, bahkan pada orang yang sangat dicintai. Sekali lagi, kau sungguh keji!
Aku mendengar kau meneriakkan namaku. Tapi maaf, aku tidak akan berbalik lagi.
Aku, tidak akan mencintaimu lagi.
Aku, akan memulai cerita baruku.
Aku, menyesal mempertahankan cintaku.
Aku, mundur!